Monthly Archives: July 2009

Lantak

Lantak

Adakah perdamaian sejati tanpa banyak cing cong dan nyaris tanpa gesekan? Jika kau jawab, “Ada!”, maka tempat itu ada di sini. Tempat aku, saudara-saudaraku, orang tua, kakek nenek dan seluruh keluarga besarku tinggal. Aku dan keluargaku selalu berdamai, kami tak pernah bertengkar, tak pernah berebut apa pun. Keluarga kami, makin lama, makin banyak, beranak pinak dan menghalalkan perkawinan antar saudara. Ruang yang kami tempati tak pernah bertambah, meski begitu kami tak pernah merasa sesak, apalagi berebut pangan. Rejeki selalu ada, kami tak mengenal kata kurus, kering kerontang. Mungkin kau bertanya, bagaimana dengan privacy? Aku katakan saja padamu, itu persoalan yang sepele. Hidup ditengah keluarga besar, dan terkadang ada sanak kadang yang berkunjung atau bahkan menetap,  membuat kami memiliki ceruk rahasia masing-masing, ditempat yang tak terduga. Aku sendiri punya ceruk itu. Tempat di mana aku bisa mengawasi seluruh pergerakan di rumah kami, termasuk gerak-gerik seseorang yang istimewa, yang menjadikan kalimat di awal paragraf ini ada.

Ia tergolong istimewa, entah berasal dari mana, tak seorang pun tahu. Ia diam saja, tak pernah berkata apa-apa pada kami. Ia datang suatu siang, di hari pertama tahun baru, kira-kira dua tahun lalu. Awalnya ia berdua, dengan adiknya. Itu dugaanku semata, karena mereka nyaris mirip satu sama lain, tapi tak mirip sungguh. Aku hanya menduga, karena aku tak pernah bertanya, keluargaku juga tak pernah bertanya, karena rumah kami terbuka untuk siapa saja yang membutuhkan, prinsip kami sangat sederhana, rumah ini rejeki dariNya, tak secuilpun kami merasa memilikinya. Kalaupun diambil kembali olehNya, kami tak akan bersedu sedan, karena kami bisa melanjutkan hidup kami di tempat yang baru, dan lagi-lagi itu akan terjadi atas kebaikanNya. Oleh karena itu, kami tak pernah mengeluh dan terganggu dengan kehadiran siapa pun yang sebenarnya hanya mempersempit ruang gerak kami, termasuk dia. Read the rest of this entry

Uneg-Uneg Belaka

Uneg-Uneg Belaka

Entah mengapa saya hanya bisa merasa kasihan dengan orang-orang yang physical oriented. Maksudnya orang-orang ini pintar, bisa mengaitkan segala sesuatu yang ujung-ujungnya jadi membahas kondisi fisik. Contohnya nih, ketika enak-enak ngobrol tentang buku, tiba-tiba gak ada angin gak ada hujan, tau-tau aja jadi membahas body teman diskusinya yang kerempeng kayak papan tripleks, atau lagi bahas gambar tiba-tiba terdistraksi dengan mengomentari jari jemari lawan bicaranya yang montok-montok misalnya. Ujung-ujungnya gampang diduga, cela mencela.

Barangkali kaum ini melupakan bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, sementara bawah sadar mereka terus menerus mencari manusia yang secara fisik sempurna mempesona. Perlu diingatkan kalau pencarian mereka bakal sia-sia. Katakan secara fisik nampaknya mempesona, tapi apakah penglihatan mereka bisa menembus setiap jengkal otot, daging, pembuluh darah dan organ-organ di dalam wadah yang cantik atau rupawan itu? Apakah penglihatan mereka bisa melihat hati yang cantik, atau pemikiran cemerlang di dalam wadag yang akhirnya sama-sama menjadi debu? Hmm.. rupanya bagi orang-orang yang phyisical oriented,  wadah, sampul, lebih jadi prioritas mereka alih-alih content-nya. Meski naif kalau menyamaratakan, setidaknya ini adalah kecenderungan yang paling gampang diamati.

Entah ini menarik atau tidak faktanya, bagian tubuh yang paling sering dikomentari adalah wajah, perut, kaki, lengan dan  resam tubuh secara keseluruhan, ini berlaku untuk wanita, sebaliknya resam tubuh pria secara keseluruhan, perut rata dan dada bidang jauh lebih menarik bagi kaum hawa. Seorang gadis yang gemuk akan “termaafkan” jika berwajah cantik. Seorang pria dengan resam tubuh yang menarik akan termaafkan, jika wajahnya pas-pasan. Tentu ini sangat subyektif dan hanya hasil dari diskusi-diskusi ringan di sela jedah dengan teman-teman di sekitar saya, tanpa didukung riset serius, apalagi melibatkan sponsor. Anda boleh berpendapat yang lain. Read the rest of this entry