Entah mengapa saya hanya bisa merasa kasihan dengan orang-orang yang physical oriented. Maksudnya orang-orang ini pintar, bisa mengaitkan segala sesuatu yang ujung-ujungnya jadi membahas kondisi fisik. Contohnya nih, ketika enak-enak ngobrol tentang buku, tiba-tiba gak ada angin gak ada hujan, tau-tau aja jadi membahas body teman diskusinya yang kerempeng kayak papan tripleks, atau lagi bahas gambar tiba-tiba terdistraksi dengan mengomentari jari jemari lawan bicaranya yang montok-montok misalnya. Ujung-ujungnya gampang diduga, cela mencela.
Barangkali kaum ini melupakan bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, sementara bawah sadar mereka terus menerus mencari manusia yang secara fisik sempurna mempesona. Perlu diingatkan kalau pencarian mereka bakal sia-sia. Katakan secara fisik nampaknya mempesona, tapi apakah penglihatan mereka bisa menembus setiap jengkal otot, daging, pembuluh darah dan organ-organ di dalam wadah yang cantik atau rupawan itu? Apakah penglihatan mereka bisa melihat hati yang cantik, atau pemikiran cemerlang di dalam wadag yang akhirnya sama-sama menjadi debu? Hmm.. rupanya bagi orang-orang yang phyisical oriented, wadah, sampul, lebih jadi prioritas mereka alih-alih content-nya. Meski naif kalau menyamaratakan, setidaknya ini adalah kecenderungan yang paling gampang diamati.
Entah ini menarik atau tidak faktanya, bagian tubuh yang paling sering dikomentari adalah wajah, perut, kaki, lengan dan resam tubuh secara keseluruhan, ini berlaku untuk wanita, sebaliknya resam tubuh pria secara keseluruhan, perut rata dan dada bidang jauh lebih menarik bagi kaum hawa. Seorang gadis yang gemuk akan “termaafkan” jika berwajah cantik. Seorang pria dengan resam tubuh yang menarik akan termaafkan, jika wajahnya pas-pasan. Tentu ini sangat subyektif dan hanya hasil dari diskusi-diskusi ringan di sela jedah dengan teman-teman di sekitar saya, tanpa didukung riset serius, apalagi melibatkan sponsor. Anda boleh berpendapat yang lain.
Positifnya, celaan atau diperhalus sebagai koreksi bisa dianggap warning, sehingga bisa melakukan koreksi secepat mungkin, negatifnya kalau pihak yang dikoreksi sampai merasa didzalimi. Saya sendiri seringkali dikoreksi sampai yang mengkoreksi lama-lama gak ingin ngoreksi lagi, bukan karena capek tapi nampaknya beliau jera dan sawang sinawang. Entah mengapa, mungkin karena sedang sakit, jadi takut berkomentar, mungkin kalau sudah sembuh akan giat mengkoreksi saya lagi, entahlah. Ada juga tukang koreksi yang nggak pernah jenuh, kadang saya merasa terdzalimi juga, tapi kemudian saya berusaha meredamnya dengan berpikir positif dan ujung-ujungnya malah merasa kasihan dengan orang yang mengkoreksi saya, sebab nampaknya itu sudah menjadi kebiasaan yang otomatis keluar terhadap siapa pun di sekelilingnya.
Mungkin ada teori-teori psikologi yang membahas hal ini, mestinya ada, tapi saya tak tahu. Mungkin ada bahasa-bahasa ilmiah yang bisa menjelaskan fenomena ini. Yang saya tahu, guru yoga saya pernah mengucapkan bahwasanya seseorang memiliki keseimbangannya masing-masing. Keseimbangan bukan berarti langsing, tinggi, dan sempurna, keseimbangan bisa jadi gendut, pendek, atau sangat kurus, atau proporsional, tidak langsing, tidak gemuk, dan kelenturan tidak dipengaruhi oleh ukuran anggota tubuh. Kelenturan lebih kepada elastisitas otot dan sendi-sendi gerak. Tolong dikoreksi kalau tidak tepat. Inilah yang saya yakini. Banyak yogini yang gendut tapi sehat, bahagia, dan lentur, banyak pula yogini yang kurus, langsing seperti tulang berbalut kulit tetapi tetap sehat dan energik, meski ia tak lentur misalnya.
Lantas dari semua penjelasan ini, saya hanya ingin menyampaikan adalah wajar bercermin pada segala sesuatu yang sempurna, jiwa dan raga yang sempurna, hati dan akal yang prima, tetapi tidak ada manusia yang sempurna, maka bercerminlah pada yang maha mencipta. Manusia, satu sama lain diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan dengan tujuan untuk menjadi penyempurna, pelengkap yang lain. Mungkin seseorang terpaksa menaikkan berat badannya hingga sulit memiliki penampilan yang sempurna karena sedang menjalani pengobatan atau terapi tertentu, pandanglah itu sebagai suatu kebutuhan bukan karena keteledorannya dalam menjaga penampilan. Dan lebih bijak dalam mengucap, sebab toh yang berucap tak lebih sama derajatnya di mata Allah YME, meski secara fisik nampak lebih sempurna. Satu lagi, kesempurnaan (resam) tubuh adalah relatif pada pandangan manusia yang hidup di jaman tertentu dan hal ini menumbuhkan stereotype tentang tubuh. Kesempurnaan fisik bisa berubah-ubah, tak perlu menjadi seperti Lady Diana, jika bukan wadag seperti itu yang diperlukan untuk mencapai keseimbangan anda. Lantas, jangan mudah tertegun dengan keindahan dan kesempurnaan relatif, sebab dibalik itu ada yang maha luar biasa yang menciptakannya, pun sebaliknya jika melihat ketidaksempurnaan, itu semua adalah hasil karyaNya dan apakah masih berani mencela hasil karya sang Maestro?
Yog, orang yg kayak gitu menandakan mentalitasnya belum dewasa.
Atau, setidaknya, ketika muda dulu, ia terlalu sibuk dengan hal lainnya sehingga skrg baru ‘bisa’ berlaku cela-mencela seperti itu
Kalau ia wanita, biarkan ia bertemuku, pasti tidak akan mencelaku (bukan krn gw ganteng tp karena gw tampol duluan hahahahahha)
fisik ya?
aduuuh aku ngabur deh… bisa jadi obyek akunya
hihihi
aku ngga pernah mempermasalahkan fisik,
yang penting
wajahHATI…(+otak deh) tsah….EM
Saya setuju fisik adalah karya maestro, raga ini hanya sementara..
Tubuh merupakan amanah,jadi wajib dirawat dan dijaga..
Jangan sampe makan sembarangan sampe obesitas atau diet awur-awuran (bolemia).
Orang yg merawat dan menjaga tubuh berarti menghargai karya sang maestro.
So kalau niatnya mengingatkan untuk menjaga kesehatan gak ada salahnya..
banyak kemakan iklan dan media massa juga kali ya mbak.. emang ampuh banget tuh untuk membangun opini. makanya saya ngenes liat iklan susu untuk anak2 yang menjatuhkan anak yang bertubuh kurang tinggi (lupa nama produknya, pokonya yang disuruh masang mata di tubuh boneka2an jerapah).
ngomong2 komentar fisik, tergantung caranya kali ya.. klo disampaikan dengan baik bakal jadi masukan yang baik juga. tapi klo caranya salah, malah jadi melecehkan, dan ini menyebalkan sekali.. saya sendiri pecinta keindahan mbak (halah, berasa bahasanya Bung Karno :p), klo disuruh milih antara cowo yang cakep atau yang pinter dan baik hati, tentu saya pilih.. yang punya ketiganya, hehe.. *pokk, dilempar sepatu sama mbak Yoga :p
Mengkritik seseorang ada caranya, dan tak mudah. Kritik yang baik akan menjadi masukan positif, tapi kalau salah malah kontra produktif.
Kalau soal fisik sih, seharusnya yang bagian memberi saran adalah orang2 yang ahli, seerti di kantor saya, dulu setiap asisten manager ke atas dikursuskan di “John Robert Power”…dan mereka memberi pelatihan, serta menyarankan, jika wajah dan bentuk badan seperti saya, sebaiknya pakaian seperti apa, model kaca mata, rambut seperti apa. Dilatih pula jalan, yang anggun tapi bisa jalan cepat…Mereka menyarankan pula bagaimana merawat wajah dan rambut….dan sebetulnya kalau kita rajin berhasil juga kok..penampilan teman2 memang membaik.
Saya dulu malas pakai pakaian nasional yang harus pake sanggul, tapi bos besar suka memberi pengarahan, dan kami para manager ke atas suka di oleh2 i …hasilnya saat ada acara di kantor semua menjadi berdandan cantik, dan beliau tak segan memuji (lha iya…dandan di salon..bagian dandan sendiri….ga bakat)
Hasilnya? hahaha…tak satupun nyantol…..dasar nggak bakat….
Tapi Yog…yang penting menjadi diri sendiri, santun dan menghormati orang lain…
Haaaa….. ini topik yang cukup menarik buat saya!
Kalau menurut yang saya tahu, ketertarikan fisik memang sudah ada sejak zaman purba dulu. Tapi apakah ini sesuatu yang buruk?? Hmmm…. sepertinya tidak mudah bisa dijawab. Saya percaya, Allah menciptakan sesuatu pasti ada manfaatnya. Kebagusan fisik sebenarnya sama saja dimensinya dengan kebagusan otak, kebagusan hati dan juga kalau laki2 ditambah kekuatan fisik. Apalagi jikalau kebagusan fisik tersebut dikaitkan dengan definisi kesehatan tidak semata2 dikaitkan dengan definisi kosmetik belaka (walaupun tentu saja yang berfisik bagus belum tentu sehat 100% juga). Yang terlalu kurus atau yang perutnya mancung tentu saja bisa mengindikasikan BISA JADI ia kurang fit walaupun bisa saja ia sehat. Untuk menentukan apakah ia sehat atau tidak tentu tidak bisa ditentukan hanya dengan ‘kelihatannya sehat’, ‘kelihatannya lentur’, ‘kelihatannya energik’ dsb…. Untuk menentukan orang benar2 sehat atau tidak, prosesnya cukup complicated.
Yang jelas tidak ada orang yang seratus persen sempurna. Masing2 pasti ada kekurangannya, yang penting adalah mari memanfaatkan kelebihan masing2 untuk hal2 yang baik dan berguna. Mengenai orang yang sering ‘mencela’?? Ya… mungkin kelebihan dia adalah ‘mencela’, mudah2an bisa dimanfaatkan dengan baik jika ada kelompok lain yang mencela kelompoknya! Huehuehuehuehue…..