Adakah perdamaian sejati tanpa banyak cing cong dan nyaris tanpa gesekan? Jika kau jawab, “Ada!”, maka tempat itu ada di sini. Tempat aku, saudara-saudaraku, orang tua, kakek nenek dan seluruh keluarga besarku tinggal. Aku dan keluargaku selalu berdamai, kami tak pernah bertengkar, tak pernah berebut apa pun. Keluarga kami, makin lama, makin banyak, beranak pinak dan menghalalkan perkawinan antar saudara. Ruang yang kami tempati tak pernah bertambah, meski begitu kami tak pernah merasa sesak, apalagi berebut pangan. Rejeki selalu ada, kami tak mengenal kata kurus, kering kerontang. Mungkin kau bertanya, bagaimana dengan privacy? Aku katakan saja padamu, itu persoalan yang sepele. Hidup ditengah keluarga besar, dan terkadang ada sanak kadang yang berkunjung atau bahkan menetap, membuat kami memiliki ceruk rahasia masing-masing, ditempat yang tak terduga. Aku sendiri punya ceruk itu. Tempat di mana aku bisa mengawasi seluruh pergerakan di rumah kami, termasuk gerak-gerik seseorang yang istimewa, yang menjadikan kalimat di awal paragraf ini ada.
Ia tergolong istimewa, entah berasal dari mana, tak seorang pun tahu. Ia diam saja, tak pernah berkata apa-apa pada kami. Ia datang suatu siang, di hari pertama tahun baru, kira-kira dua tahun lalu. Awalnya ia berdua, dengan adiknya. Itu dugaanku semata, karena mereka nyaris mirip satu sama lain, tapi tak mirip sungguh. Aku hanya menduga, karena aku tak pernah bertanya, keluargaku juga tak pernah bertanya, karena rumah kami terbuka untuk siapa saja yang membutuhkan, prinsip kami sangat sederhana, rumah ini rejeki dariNya, tak secuilpun kami merasa memilikinya. Kalaupun diambil kembali olehNya, kami tak akan bersedu sedan, karena kami bisa melanjutkan hidup kami di tempat yang baru, dan lagi-lagi itu akan terjadi atas kebaikanNya. Oleh karena itu, kami tak pernah mengeluh dan terganggu dengan kehadiran siapa pun yang sebenarnya hanya mempersempit ruang gerak kami, termasuk dia.
Sebetulnya kalau dibilang aku tak pernah bercakap dengannya, tak benar juga. Aku pernah mencoba, sekali dua. Tapi ia tak pernah mengerti maksudku. Terkadang ia mengeluarkan suara, tapi bahasanya sama sekali tak kumengerti. Kesenjangan ini, membuat kami saling menjaga jarak. Sepanjang siang ia jarang berkeliaran di rumah. Ketika hari gelap ia dengan wajah letihnya (tetapi lebih banyak tanpa ekspresi), kembali ke rumah. Membuka pintu-pintu dan menyalakan lampu-lampu. Aku yang tadinya tengah berdansa dan berjalan berkeliling, ehm, ini kebiasaanku setelah senja, akan cepat-cepat kembali ke kamarku. Aku malas berpapasan dengannya. Perasaanku mengatakan ia menghindariku dan seluruh keluargaku, tetapi ia menyukai tinggal di sini. Betapa aneh, betapa kami begitu percaya padanya, meski bahasa kami tak sama. Betapa kami begitu naif, merasa tenang, padahal bisa saja ia bermaksud buruk dan mencelakai seluruh keluargaku. Hal itu mungkin saja terjadi, sendirian ia bisa saja membantai kami, badannya lebih besar dari kami dan ia terampil menggunakan peralatan dari logam, yang berkilau dan tajam.
Barangkali, keyakinan kami timbul karena kerap kami melihatnya, duduk dan bersedih. Sorot matanya sungguh mengibakan. Gerak-geriknya membangkitkan aura yang menyebarkan rasa sepi, sunyi, dan membungkam mulut-mulut kami, bahkan terasa seperti mengunci sendi-sendi kami. Nampak sekali ia kesepian. Sunyi yang kemudian datang mengendap-endap seperti bayangan, menyergapnya. Aku termanggu tak bisa memperingatkan dia, pun memberikan kata penghiburan yang menenangkannya. Kadang setitik air mata nampak disudut matanya, berkilau seperti sebutir permata. Seluruh keluarga kami menyaksikan dari tempat kami masing-masing, tapi tak satu pun diantara kami bisa berkata-kata.
Sampai suatu ketika, aku tak tahan lagi menyaksikan dan sesak merasakan aura kesedihannya. Aku harus menghiburnya, seperti seorang adik pada kakak, atau mungkin seperti seorang sahabat, atau bahkan kekasih, karena, oh baiklah, kukatakan saja padamu, sejujurnya aku mulai mengasihinya dan berdebar setiap menatapnya. Ia tak pernah tahu, karena aku memaknainya dalam diamku. Aku bergerak, menghambur begitu saja, instingku yang menggerakkanku, menghilangkan segala keraguan. Aku hanya ingin mendekat, diam, disebelahnya, agar ia merasa tak sendiri. Diam-diam aku beringsut mendekatinya tanpa suara, sampai ia menyadari keberadaanku. Mata kami saling bertatapan. Senyumku mengembang, ia begitu terkejut melihatku dan spontan mengucapkan sebuah kata yang tak kumengerti: “CICAK!”
–Jaman, tak pernah kemana-mana–
Tulisanmu sangatttt menarik!
Aku jadi teringat bagaimana Dee melukiskan diri sebagai kecoa di Filosofi Kopinya.
Tapi aku tak bermaksud membandingkan, kamu punya tersendiri di sini, tak perlu banyak kata seperti siapapun juga, pembaca (khususnya aku) bisa sangat terkesiap
Cicak! Cicak! Dingdingding
Senang membacanya, Yog.
Eh kenapa CICAK?
Ada hubungannya dengan istilah yg lagi ngetrend: CICAK vs BUAYA?
(gw fikir beneran ceritanya, ternyata… hihihi…)
Ahh…di dunia ini kita memang harus berbagi tempat…dan hidup akrab, walau kadang tak saling memahami.
Bahkan terkadang, antara anak manusia pun sulit memahami.
Namun, entah kenapa, binatang sangat memahami bahasa manusia…dalam arti dia tahu kalau manusia menyayanginya. Lihatlah binatang peliharaan kita, seperti kucing, ayam, kelinci..bahkan cicak dan tokek.
Mbak Yoga..ini sebuah cerita keren..
*
Putri kira awalnya sama2 manusia…he..he…*kecele
Mirip ama salah satu kisah RL.STine versi Teen namun dalam pembahasaan yang berbeda…
wahhh bagus bgt niy…