Monthly Archives: August 2009

Pulang

Pulang
Dalam Quran ada pertanyaan sederhana, fa aina tadzhabun, kalian ini mau berangkat ke mana? Ibrahim, menjawab, inni dzahibun ila rabbi sayahdin, aku sedang pergi menuju Tuhanku, pastilah Ia memberikan petunjuk kepadaku. Dan Rasulullah Muhammad, Saw memberikan sekerat peta, mutu qabla antamutu, matilah kamu sebelum mati.
Apa daya, safar yang nampaknya mudah dan sangat jelas arahannya, ternyata tak semudah itu ditempuh. Ketika hendak berangkat, ada rumah kita yang paling berat kita tinggalkan, berupa ego. Kepentingan-kepentingan keakuan kita, nampak jelas, meski dalam konteks beribadah, bahkan dalam berdoa, kerap tanpa disadari menggunakan kata perintah. Dan siapakah yang diperintah?
Pun ketika telah lolos dari rumah ego, tak berarti ia lenyap selamanya. Ego akan senantiasa menyergap, menelikung, terutama disaat paling rawan dalam hidup, di titik nadir, kehadirannya akan sangat jelas, mencemooh sekaligus menggoda dan bagaimana bisa berjumpa denganNya? Bagaimana bisa pulang? Akankah kematian tinggal kematian jasmani belaka, al mawt al thabi’i, kembali padaNya secara terpaksa, suka atau tidak suka dan bukan al mawt al iradiy, sebagaimana halnya bunyi sekerat peta Rasulullah Saw, yang mengisyaratkan dua kematian dalam kehidupan, mati dalam keinginan dan mati secara fisik.
Dalam Quran ada pertanyaan sederhana, fa aina tadzhabûn, kalian ini mau berangkat ke mana? Ibrahim, menjawab, innî dzâhibun ilâ rabbî sayahdîn, aku sedang pergi menuju Tuhanku, pastilah Ia memberikan petunjuk kepadaku. Dan Rasulullah Muhammad, Saw memberikan sekerat peta pada kami, mûtû qabla antamûtû, matilah kamu sebelum mati.
Apa daya, safar yang nampaknya mudah dan sangat jelas arahannya, ternyata tak semudah itu ditempuh. Ketika hendak berangkat, ada rumah kita yang paling berat kita tinggalkan, berupa ego. Kepentingan-kepentingan keakuan kita, nampak jelas, meski dalam konteks beribadah, bahkan dalam berdoa, kerap tanpa disadari menggunakan kata perintah. Dan siapakah yang diperintah?
Pun ketika telah lolos dari rumah ego, tak berarti ia lenyap selamanya. Ego akan senantiasa menyergap, menelikung, terutama disaat paling rawan dalam hidup, di titik nadir, kehadirannya akan sangat jelas, mencemooh sekaligus menggoda dan bagaimana bisa berjumpa denganNya? Bagaimana bisa pulang? Akankah kematian tinggal kematian jasmani belaka, al mawt al thâbi’i, kembali padaNya secara terpaksa, suka atau tidak suka dan bukan al mawt al irâdiy, sebagaimana halnya bunyi sekerat peta Rasulullah Saw, yang mengisyaratkan dua kematian dalam kehidupan, mati dalam keinginan dan mati secara fisik.
-Y.A., Jakarta, 23 Agustus 2009-

Aku Bekerja Maka Aku Ada

Aku Bekerja Maka Aku Ada

I work, therefore I am…

Most of us will say, we work to make a living. Actually working is not only survival game. It can improve ones dignity by self realization (identity). It shapes who we are and the way we are perceived by others, yet most of all, the ‘rules’ of our work do have a powerful impact on the way we understand and give meaning to events shaping our lives and the lives of others.
For Moslem, talking about working is not only related to “dunya” or about living in the world  but it is also about the day after (akhirah). It is emphasized to keep working, while one is over then start with another job. Working is a way to achieve the God’s love and this is a way to ”jannah” (heaven). It only happens if we are professional, “ikhlas” (it is only for God), to be honest and objective in every way, highly ethic, and obey the “syariah” (the Moslem rule*…in simple way*).
Labora Ergo Sum reflects a Moslem way… Let’s start our work today with a simple pray to God…Bismillahirrahmannirrahiim…

Read the rest of this entry