I work, therefore I am…
Most of us will say, we work to make a living. Actually working is not only survival game. It can improve ones dignity by self realization (identity). It shapes who we are and the way we are perceived by others, yet most of all, the ‘rules’ of our work do have a powerful impact on the way we understand and give meaning to events shaping our lives and the lives of others.
For Moslem, talking about working is not only related to “dunya” or about living in the world but it is also about the day after (akhirah). It is emphasized to keep working, while one is over then start with another job. Working is a way to achieve the God’s love and this is a way to ”jannah” (heaven). It only happens if we are professional, “ikhlas” (it is only for God), to be honest and objective in every way, highly ethic, and obey the “syariah” (the Moslem rule*…in simple way*).
Labora Ergo Sum reflects a Moslem way… Let’s start our work today with a simple pray to God…Bismillahirrahmannirrahiim…
***
Prolog di atas itu adalah tulisan lawas, yang pernah saya up load di blog yang ini. Pikiran dan hati saya sedang dirasuki tema tentang “bekerja” sejak beberapa hari yang lalu. Tentu kemudian saya jadi ingat dengan tulisan ini. Entah karena keseringan memvisualisasikan saya dan pekerjaan, hingga tanpa disadari pagi ini saya terdiam, menyaksikan orang-orang yang mengawali hari dengan bekerja, lebih pagi dari saya, lebih pagi dari kebanyakan orang. Ibu-ibu penjual sayur yang dipagi buta telah pergi ke pasar, sopir-sopir angkot yang berlomba mengais rejeki, menjadi sopir antar jemput bagi ibu-ibu ini. Ketika mentari baru naik dilangit, angkot-angkot ini digeber, melaju, membelah jalanan pagi untuk mengantar pekerja dan pelajar menuju tempatnya masing-masing.
Ketika matahari agak tergelincir ke barat, sementara saya baru bergegas menuju kantor, saya menyaksikan pemahat prasasti dan asistennya tekun bekerja di bengkel pinggir jalan mereka. Tampak telaten, memahat pualam, menorehkan kalimat demi kalimat, mengingatkan saya pada Obelix dan Asterix, meski secara fisik mereka tidaklah seperti itu. Beberapa meter dari situ, saya saksikan beberapa montir telah mengenakan pakaian kerja mereka yang berwarna abu-abu muda, mereka tengah mengamati mesin sebuah Corolla DX tua sambil berdiskusi. Rupanya saya baru saja melewati sebuah bengkel khusus untuk mobil-mobil Corolla DX. Aih, saya belumlah lagi menjejak kaki dikantor, sementara mereka telah memulai pekerjaannya lebih pagi dari saya. Begitu seterusnya pemandangan yang saya saksikan, satu demi satu hingga tiba di kantor.
Orang-orang tua mengatakan, bangunlah pagi atau rejekimu hilang dipatuk ayam. Sepertinya perumpamaan yang terlampau berlebihan dan nampaknya perlu direvisi. Bukannya masing-masing telah memiliki rejeki masing-masing? Meski saya sepakat semakin pagi mengawali hari, semakin mudah bagi kita mengisi hari tersebut dengan efektif, reward akan datang kemudian secara langsung ataupun tak langsung. Sementara itu juga tak bisa memungkiri bahwasanya ada sebagian diantara kita yang memang rejekinya datang di malam hari. Bukannya Tuhan juga memberikan contoh dari kehidupan kelelawar yang justru mendapatkan rezekinya dimalam hari?
Hm, banyak cara menjadikan hidup lebih bermakna, bekerja termasuk cara yang paling mudah untuk meraih tujuan itu. Entah dilakukan pada saat matahari benderang seperti kebanyakan orang atau disaat bulan yang muncul, atau bahkan disaat gulita tanpa kehadirannya, sebaiknya dipastikan saja, setelah usai dari satu pekerjaan segera melakukan pekerjaan yang lain dan ketika lelah menghampiri, segera beristirahat.
Bekerja menjadikan kita ada, dan berarti setidaknya untuk diri sendiri, itulah sebabnya saya menyukai plesetan cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada menjadi labora ergo sum, aku bekerja maka aku ada. Tentu tidak semua sepaham dengan saya dan itu berpulang pada masing-masing. Selamat bekerja!
Kerja adalah cinta yang mengejawantah, kata Kahlil yang lalu dipake Katon dan KLa dalam lagu “Sahabat”
Mari bekerja! Singsingkan lengan baju
Aku bekerja karena suka mba Yogaaaa
Hidup adalah untuk bekerja…
Untuk kepuasan diri sendiri, untuk membantu orang lain, ataupun untuk membuat semangat dalam menikmati kehidupan itu sendiri.
Dengan mencintai pekerjaan, maka kita akan termotivasi untuk terus bekerja lebih baik….
aku sering merasa malu kalau melihat orang2 kecil lebih semangat bekerja ketimbang aku…
sebagian orang memang menjadikan pekerjaan sebagai tanda dia eksis di dunia. aku tidak tahu ini baik atau buruk, benar atau salah. tapi kalau pekerjaan membuat seseorang terus menerus sibuk dan tak punya waktu untuk orang2 di sekelilingnya, kok aku jadi merasa kasihan ya?
“bangunlah pagi atau rejekimu hilang dipatuk ayam ”
Nasihat itu tentu tidak harus diartikan seperti apa adanya donk. Intinya rajinlah bekerja. Rejeki memang sudah diatur tetapi tidak dikirim langsung ke alamat masing-masing. Rejeki harus dijemput. Bagaimana menjemputnya ? ya dengan keahlian dan kepandaian, apapun.
Didesa saya ada anak bisu, tetapi dia tetap bekerja sebagai tukang cukur. Dia menjemput rejeki dengan keahliannya yaitu mencukur walau dia bisu.Tak seperti orang yang dijalan-jalan itu, mengemis padahal badannya masih sehat.Itu bukan karena terpaksa tetapi karena ingin dapat uang dengan cara cepat tanpa kerja keras.
Salam dari Surabaya.
karena bekerja menjadikanku ada menjadi “seseorang”
and to be someone is nice…
suka banget sama postingan ini mbak…yang jelas bekerja dengan niat iklash akan membawa faedah yang banyak dalam hidup yang penting bisa jadi seorang “work harder” tanpa harus “Workaholic”
Apa Kabar mbak Yoga?