Dalam Quran ada pertanyaan sederhana, fa aina tadzhabun, kalian ini mau berangkat ke mana? Ibrahim, menjawab, inni dzahibun ila rabbi sayahdin, aku sedang pergi menuju Tuhanku, pastilah Ia memberikan petunjuk kepadaku. Dan Rasulullah Muhammad, Saw memberikan sekerat peta, mutu qabla antamutu, matilah kamu sebelum mati.
Apa daya, safar yang nampaknya mudah dan sangat jelas arahannya, ternyata tak semudah itu ditempuh. Ketika hendak berangkat, ada rumah kita yang paling berat kita tinggalkan, berupa ego. Kepentingan-kepentingan keakuan kita, nampak jelas, meski dalam konteks beribadah, bahkan dalam berdoa, kerap tanpa disadari menggunakan kata perintah. Dan siapakah yang diperintah?
Pun ketika telah lolos dari rumah ego, tak berarti ia lenyap selamanya. Ego akan senantiasa menyergap, menelikung, terutama disaat paling rawan dalam hidup, di titik nadir, kehadirannya akan sangat jelas, mencemooh sekaligus menggoda dan bagaimana bisa berjumpa denganNya? Bagaimana bisa pulang? Akankah kematian tinggal kematian jasmani belaka, al mawt al thabi’i, kembali padaNya secara terpaksa, suka atau tidak suka dan bukan al mawt al iradiy, sebagaimana halnya bunyi sekerat peta Rasulullah Saw, yang mengisyaratkan dua kematian dalam kehidupan, mati dalam keinginan dan mati secara fisik.
Dalam Quran ada pertanyaan sederhana, fa aina tadzhabûn, kalian ini mau berangkat ke mana? Ibrahim, menjawab, innî dzâhibun ilâ rabbî sayahdîn, aku sedang pergi menuju Tuhanku, pastilah Ia memberikan petunjuk kepadaku. Dan Rasulullah Muhammad, Saw memberikan sekerat peta pada kami, mûtû qabla antamûtû, matilah kamu sebelum mati.
Apa daya, safar yang nampaknya mudah dan sangat jelas arahannya, ternyata tak semudah itu ditempuh. Ketika hendak berangkat, ada rumah kita yang paling berat kita tinggalkan, berupa ego. Kepentingan-kepentingan keakuan kita, nampak jelas, meski dalam konteks beribadah, bahkan dalam berdoa, kerap tanpa disadari menggunakan kata perintah. Dan siapakah yang diperintah?
Pun ketika telah lolos dari rumah ego, tak berarti ia lenyap selamanya. Ego akan senantiasa menyergap, menelikung, terutama disaat paling rawan dalam hidup, di titik nadir, kehadirannya akan sangat jelas, mencemooh sekaligus menggoda dan bagaimana bisa berjumpa denganNya? Bagaimana bisa pulang? Akankah kematian tinggal kematian jasmani belaka, al mawt al thâbi’i, kembali padaNya secara terpaksa, suka atau tidak suka dan bukan al mawt al irâdiy, sebagaimana halnya bunyi sekerat peta Rasulullah Saw, yang mengisyaratkan dua kematian dalam kehidupan, mati dalam keinginan dan mati secara fisik.
-Y.A., Jakarta, 23 Agustus 2009-
Advertisement
eling mulo buko ne lan elingo tembe mburine
mungkin itu7 juga sepotong pesan yang memngingatkan saya pada bagian bagian makna yang tersirat pada tulisan di atas
selamat berpuasa dan tetep membangun semangat
salam
Dalem…
Selamat berpuasa, sahabatku!
Kuyakin Tuhan mendengar, melihat, berkenan serta menerima amal ibadahmu…
Tulisanmu kok mirip tulisan penenun kata..ehh penganyam kata. Janjian?
Walau berjudul sama, tapi sisi yang dibahas dengan bahasa beda..lha iyalah.
Dan khas Yoga, aku mesti mengernyit dulu….
Dan “ojo lali karo sing gawe urip”….
Siapapun akan selalu ingin pualng, dan kata pulang membawa arti yang sangat luas.
Tanggal postingan ini pas ultah ku nich.
Kita harus bisa memanage ego kita sebelum dia yang memanage kita kan.
Dikaitkan dengan nafsu juga demikian, kita yang harus mengelola nafsu kita agar tak terseret nafsu-nafsu yang merusak.
Salam dari Surabaya
bahasanya bersayap-sayap mbak tapi sarat makna…haru mentautkan alis biar ngerti dulu…
Ikut menyimak tulisan di atas
Termenung…..
Memahami setiap kata
BTW
Selamat Idul Fithri 1430 H
Mohon maaf lahir dan batin
Amalia,
ilmuku terlalu dangkal untuk memahaminya
you are the cutest deeply full-of-thought person i’ve ever met
Mari siapkan diri dengan bekal untuk akhirat nanti.