Monthly Archives: November 2009

Curhat Tentang Buku

Curhat Tentang Buku

Dulu ketika masih kecil, aku sering sekali berangan-angan untuk memiliki perpustakaan sendiri kelak ketika sudah besar, ketika sudah memiliki penghasilan sendiri yang bisa ku-share dengan siapa saja yang ingin membaca koleksiku. Tentu itu didasari oleh rasa cinta pada buku yang sudah tumbuh saat itu. Rasa cinta yang tumbuh karena melalui buku, kakiku bisa melangkah kemana-mana, dengan buku penglihatanku bisa memandang kepenjuru dunia bahkan terbukalah jendela semesta, jadi bagiku buku adalah jendela dan pintu ke semesta, bahkan mesin waktu yang siap membawaku berkelana ke masa lalu maupun menerawang ke masa yang akan datang dan aku ingin orang lain juga merasakannya.

Barangkali rasa cinta itulah yang kemudian tanpa sadar membawaku pada situasi yang kualami sekarang. Dimana aku aktif dalam beberapa kegiatan yang tanpa kusadari tidak jauh-jauh dari buku. Setelah kegiatan komunitas 1N3B  mendirikan Rumah Baca dan pengenalan sains di alam terbuka, di desa Madobag, Mentawai beberapa waktu lalu. Lagi-lagi aku menemukan aku terlibat di kegiatan yang nyaris serupa meski tujuan utama kegiatan kali ini adalah trauma healing, pasca gempa Jawa Barat.

Kali ini dengan beberapa anggota komunitas 1N3B bekerja sama dengan komunitas 1001 Buku dan beberapa komunitas lainnya (termasuk didalamnya ibu rumah tangga, pekerja sosial, traveller, penggemar photography dan sebagainya) yang menyebut komunitas baru ini sebagai komunitas Merah Putih, aku turut mempersiapkan pendirian Pojok Belajar dan kegiatan utamanya sendiri berupa trauma healing yang kebanyakan kegiatannya berupa kegiatan gerak dan bermain. Ketika mempersiapkan Pojok Belajar itulah, aku dan beberapa teman yang juga terlibat di kegiatan sebelumnya di Madobag, makin menyadari betapa kami sangat menikmati kegiatan kami seputar penyortiran buku, pembelian buku-buku baru, penyampulan, pencatatan dan packing buku-buku untuk anak-anak Sekolah Dasar tersebut. Betapa tidak, kami kerap menemukan buku-buku, komik-komik yang kami akrabi di masa lalu yang bisa membuat kami histeris. Memang sih beberapa buku atau komik masih bisa ditemukan di toko buku bekas, tapi ketika menemukannya di antara tumpukan buku sumbangan yang berdebu dan berbau apek disaat persiapan yang biasanya dekat dengan hari H, maka spontan itulah reaksi kami. Read the rest of this entry

Sate Klopo

Sate Klopo

7021_1229847219243_1020967295_737603_611081_n

Menurut Suparto Brata, seorang penulis dari Surabaya, istilah “Ondomohen” tidak memiliki padanan kata dalam bahasa Belanda atau pun Bahasa Jawa. Jika kau bertanya pada Google, dalam beberapa detik akan muncul beberapa kata yang terkait dengan “Ondomohen”. Kata yang paling kerap adalah “sate klopo” atau sate kelapa, selanjutnya “Jalan Walikota Mustajab”.

Yang pertama adalah sate daging sapi berbalut parutan kelapa berbumbu gurih yang dijual Ibu Asih di mulut gang Ondomohen Magersari II, Surabaya. Yang kedua, adalah nama lain dari Ondomohen, ya Ondomohen adalah sebuah jalan di Surabaya, jalan ini sangat teduh karena pohon besar yang tumbuh di kanan kirinya.

Oke, tentang sate klopo aka sate Ondomohen, sate ini empuk, karena diolah dulu sebelum dibakar. Racikan saus kacang dan bumbu kelapanya sungguh pas membuat rasanya bertahan lama dilidah dan memorimu akan terus mengingat kelezatannya. Selain sate daging sapi, kalau kau termasuk pemberani, tak ada salahnya mencoba sate sumsum, usus, hingga ginjal sapi. Mmmm….

Jangan khawatir akan kerusakan pada kantongmu, sebab satu tusuk sate daging sapi hanya Rp. 1.400,00 dan sedikit lebih mahal untuk sate sumsum.

Satu yang kau perlu tahu, tempat kuliner ini sangatlah sederhana, di atas trotoar Ondomohen. Bu Asih tak menyediakan kursi dan meja yang cantik, cukup bangku kayu seadanya, di samping antrian pembeli yang terlihat berjubel diantara asap pembakaran. Pengalaman ini makin menambah nikmat dan membuatmu kembali dan kembali lagi, untuk sebuah alternatif menu sarapan di kota Hiu dan Buaya.

Sementara ini, selamat menikmati fotonya dulu Cak dan Ning* yang terhormat. :)

-Surabaya, 27 September 2009-

*Cak dan Ning panggilan khas di Surabaya, seperti Abang dan None di Jakarta.