Home > 1N3B, Aksi, Buku > Curhat Tentang Buku

Curhat Tentang Buku

Dulu ketika masih kecil, aku sering sekali berangan-angan untuk memiliki perpustakaan sendiri kelak ketika sudah besar, ketika sudah memiliki penghasilan sendiri yang bisa ku-share dengan siapa saja yang ingin membaca koleksiku. Tentu itu didasari oleh rasa cinta pada buku yang sudah tumbuh saat itu. Rasa cinta yang tumbuh karena melalui buku, kakiku bisa melangkah kemana-mana, dengan buku penglihatanku bisa memandang kepenjuru dunia bahkan terbukalah jendela semesta, jadi bagiku buku adalah jendela dan pintu ke semesta, bahkan mesin waktu yang siap membawaku berkelana ke masa lalu maupun menerawang ke masa yang akan datang dan aku ingin orang lain juga merasakannya.

Barangkali rasa cinta itulah yang kemudian tanpa sadar membawaku pada situasi yang kualami sekarang. Dimana aku aktif dalam beberapa kegiatan yang tanpa kusadari tidak jauh-jauh dari buku. Setelah kegiatan komunitas 1N3B  mendirikan Rumah Baca dan pengenalan sains di alam terbuka, di desa Madobag, Mentawai beberapa waktu lalu. Lagi-lagi aku menemukan aku terlibat di kegiatan yang nyaris serupa meski tujuan utama kegiatan kali ini adalah trauma healing, pasca gempa Jawa Barat.

Kali ini dengan beberapa anggota komunitas 1N3B bekerja sama dengan komunitas 1001 Buku dan beberapa komunitas lainnya (termasuk didalamnya ibu rumah tangga, pekerja sosial, traveller, penggemar photography dan sebagainya) yang menyebut komunitas baru ini sebagai komunitas Merah Putih, aku turut mempersiapkan pendirian Pojok Belajar dan kegiatan utamanya sendiri berupa trauma healing yang kebanyakan kegiatannya berupa kegiatan gerak dan bermain. Ketika mempersiapkan Pojok Belajar itulah, aku dan beberapa teman yang juga terlibat di kegiatan sebelumnya di Madobag, makin menyadari betapa kami sangat menikmati kegiatan kami seputar penyortiran buku, pembelian buku-buku baru, penyampulan, pencatatan dan packing buku-buku untuk anak-anak Sekolah Dasar tersebut. Betapa tidak, kami kerap menemukan buku-buku, komik-komik yang kami akrabi di masa lalu yang bisa membuat kami histeris. Memang sih beberapa buku atau komik masih bisa ditemukan di toko buku bekas, tapi ketika menemukannya di antara tumpukan buku sumbangan yang berdebu dan berbau apek disaat persiapan yang biasanya dekat dengan hari H, maka spontan itulah reaksi kami.

Ada yang terharu karena menemukan buku serial Tini, ada yang mendekap erat serial Tanguy et Laverdure yang ditemukan diantara buku-buku pelajaran jadul. Ada yang sontak riang gembira ketika menemukan serial Nina, Tintin dan Lima Sekawan. Ada yang memperlambat irama kerjanya karena menyempatkan diri membaca sekilas buku dari masa lalu yang disukainya sehingga tak ayal ia “didamprat” beramai-ramai. Ada yang “mengemis” memohon agar boleh barter buku karena menemukan buku kesayangannya dari masa lalu, meski sebenarnya ia hanya berpura-pura karena tahu, sumbangan tersebut adalah amanah yang harus disampaikan selama memenuhi persyaratan awal sesuai dengan aturan yang dideklarasikan sebelumnya, jadi kalau buku itu nggak memenuhi persyaratan meski sudah diniatkan untuk disumbangkan, tetap nggak akan lolos sensor kami yang ketat. Coba bayangkan, entah sengaja atau nggak, pernah lho ada yang menyumbangkan buku bacaan porno untuk kegiatan pendirian rumah baca bagi anak SD, belum lagi kadang ada donatur yang memanfaatkan peluang menyumbang untuk acara bersih-bersih gudang. ;)

Kami juga menyadari, barangkali kegiatan-kegiatan yang tak jauh dari perbukuan ini adalah manifestasi dari mimpi masa kecil yang baru terealisasi sekarang. Sambil berjalan menyusuri rak-rak buku bacaan anak di sebuah toko buku, saya dan seorang teman mengungkapkan perasaan exciting itu. Jemari kami menyentuh buku-buku yang makin atraktif dan penuh dengan ilustrasi yang menarik yang nggak kami temukan saat kanak-kanak dulu. Keinginan untuk membuat perpustakaan, mengumpulkan buku-buku yang disukai, membacanya dan membaginya dengan sahabatlah yang menuntun kami ada di situasi ini selain misi ideal kami, untuk membuka cakrawala pengetahuan bagi anak-anak Indonesia sebanyak mungkin.

Ada rasa haru ketika menyadarinya, ternyata bersama teman-temanku ini, aku bisa mewujudkan mimpi masa kanak-kanakku, bonusnya adalah kenyataan bahwasanya bersama-sama kami bisa menghadirkan lebih dari sebuah perpustakaan meskipun skalanya sederhana. Ada rasa bahagia yang hadir. Apalagi ketika menyadari masih banyak peluang untuk mendirikan rumah baca lagi, sebab masih banyak buku yang dibutuhkan oleh sahabat cilik di antero negeri. Aku merasakan jalanku untuk membuat rumah-rumah baca bersama volunteer yang lain masih terbentang luas dan tak salah lagi, jalanku terbangun dari buku-buku itu.

 

  1. DV
    November 23, 2009 at 10:11 pm | #1

    Komen pertamaku adalah: Horeeeee.. Yoga nulis lagi :) )

    Aku pernah punya cita-cita untuk mendirikan perpustakaan dan dulu waktu SD sudah pernah meralisasikannya bersama teman2…
    Setiap buku tak kukutip uang melainkan sampul plastik saja, namun tak berjalan terlalu lama karena rugi bandar: buku yang kupinjamkan tak kunjung dikembalikan!

    Maju terus Yoga, buku adalah hak untuk setiap orang!

  2. November 26, 2009 at 8:47 am | #2

    Wah…. Tintin…. The Famous Five sama Tanguy et Laverdure (nggak semua serinya tapinya :( ). Masih saya simpan sekarang ada yang Bahasa Inggris dan Perancis. Tapi anak2 zaman sekarang kok lebih suka baca komik Jepang ya?? Nggak tahu deh…. mungkin zamannya udah beda!

    Nah, gini dong nulis di blog lagi, moso nulis di FB aja yang komentar2nya cuma ecek2 aja… huehuehue…

  3. December 1, 2009 at 6:26 am | #3

    Sering kalau bebenah, dan membereskan buku, yang niatnya dikasih orang……ehh jadinya malah dibaca lagi.
    Dan menjadi lebih baik nabung, membeli lagi buku yang akan diberikan pada orang lain. Karena buku lama sering sudah tak ada lagi di toko buku, makanya suka sebel kalau ada yang pinjam tak mengembalikan.

  4. December 2, 2009 at 1:43 am | #4

    merasa tersindir juga nih aku baca tulisanmu mbak. hehe. aku suka banget buku anak2. jadi tiap kali melihat drop box utk sumbangan buku, hatiku seperti terbagi. aku ingin memberi, tapi aku juga ingin memiliki. duh gimana ya? sampai sekarang aku masih suka membeli buku anak2 utk koleksi. kalau nemu buku lama yg bagus, aku beli juga. lalu kapan dong ngasih buku ke anak2? biasanya aku memberi kado berupa buku kepada anak2 temanku yg jarang dibelikan buku oleh orang tuanya. tapi rasanya sudah saatnya aku membeli buku dan iklas memasukkan ke drop box.

  5. December 2, 2009 at 2:46 am | #5

    kecintaan YUG terhadap buku bisa aku lihat di akun goodreadsnya… wah deh…
    meskipun aku yakin yang tertulis hanya seperseribunya mungkin.

    Cita-citaku dulu waktu kecil adalah memiliki panti asuhan dan perpustakaan. Tadinya mau punya toko buku, tapi aku tahu pasti ngga laku, karena semuanya dibuka dan dibacain dulu sebelum dijual hihihi.

    Sayang aku terdampar di negeri jauh sehingga sulit untuk aktif dalam kegiatan “membaca” di Indonesia, tapi paling sedikit aku ingin membagi cerita-cerita dari Jepang yang populer di sini.

    EM

  6. Ria
    December 3, 2009 at 3:30 pm | #6

    Mbak…aku dulu tidak mampu membeli buku :)
    karena mama membesarkan 5 anak yg jarak umurnya gak jauh dan semuanya sekolah, jadi gak ada uang extra untuk membeli buku atau majalah. Kalau aku mau membaca aku harus ke perpustakaan sekolah atau minjem…

    sekarang aku bersyukur bahwa aku punya beberapa rak buku yg isinya buku koleksiku dan insyaallah bakalan aku jaga :D sama sepertimu aku pingin punya perpustakaan pribadi dimana satu ruangan di rumahku nanti isinya buku semua…:D

  7. December 3, 2009 at 10:54 pm | #7

    cita-cita yang sama sejak kecil, mbak :)
    kayaknya seru ya punya perpustakaan sendiri, membaca tiap hari, dan berkhayal tiap hari :D

  8. December 28, 2009 at 7:16 pm | #8

    Sayangnya aku tidak cinta buku sama sekali, tapi cinta sekali akan membaca.

  9. January 5, 2010 at 6:44 am | #9

    yang paling penting adalah semangat dan rasa membantu sesama untuk sebuah perubahan, maka niscaya impian akan terwujud…

  10. January 8, 2010 at 3:35 pm | #10

    boleh pinjem online gak? :)

  11. January 8, 2010 at 4:19 pm | #11

    sunggun ironis budaya literasi di negeri ini, mbak yoga, budaya baca belum tumbuh, tapi upaya pelarangan buku dari kejagung makin kenceng juga nih, jadi makin repot.

  12. January 14, 2010 at 9:27 am | #12

    setuju sama pak sawali, bisa2 buku sejarah ntr ngak beredar lagi :D

  13. January 15, 2010 at 12:43 pm | #13

    aku juga punya keinginan yang sama lho. pengen nanti kalo udah punya rumah sendiri punya 1 ruangan yang difungsikan jadi perpustakaan pribadi.

  1. No trackbacks yet.