Malu Mengeluh

Anak Kampung Tarung, Sumba - 2001Hari menjelang pagi ketika saya mulai berbaring, sambil lalu saya melirik telpon genggam dan terkaget-kaget karena jadwal meeting 7 jam 30 menit lagi telah terpampang, padahal belum lagi beristirahat. Oh my Lord, life is a joke. Hidup serasa seperti sebuah lelucon. Dikejar-kejar waktu yang terus bergulir, berputar dan sesekali menghempaskan saya pada kenyataan. Banyak, banyak hal-hal yang direncanakan tapi tak kunjung tercapai. Ibaratnya pejalan, belum lagi mencapai tujuan malah terdampar entah di mana. Saya ingat seorang kawan yang bijak mengatakan bukan tujuan akhir dari perjalanan itu yang terpenting. “Nah, lantas apa?” sergah saya. Ia melanjutkan, “Justru yang terpenting perjalanannya, bukankah kita kerap memperoleh banyak hal ketika dalam perjalanan bukan saat mencapai tujuannya dan kadang tersesat akan membuat kita lebih memahami arti perjalanan itu sendiri.”

Saya diam sejenak dan merasa seperti tersiram air es dari kepala hingga ke hati. Kiranya pengertian ini yang mencerahkan dan menyelamatkan sisa hari yang saya miliki saat itu. Setelah sempat terhempas, datanglah gelombang yang mengangkat balik mengarahkan biduk yang saya tumpangi ke lautan yang lebih tenang, mengalir dan memberikan harapan. Sejatinya setiap yang menghargai hidup tentu tak kan lepas dari harapan. Barangkali beberapa di antara kita sudah tak berani bermimpi, tapi tetaplah menjaga harapan sekecil apa pun sebab itu wujud dari penghargaan atas hidup itu sendiri, kalau pun masih takut untuk memupuk harapan, saran saya hanya satu, lakukan apa yang harus engkau lakukan sebaik mungkin demi Dzat Allah yang menciptakanmu, kerjakan segalanya sebaik yang bisa engkau kerjakan. Selebihnya serahkan pada Yang Maha Kuasa.  Ia tak pernah tidur. 

Sekarang jadwal meeting itu semakin dekat. Mata dan pikiran masih belum berkompromi sementara badan sudah panas kelelahan dipakai beraktivitas sepanjang hari. Lagi-lagi kawan saya yang bijak itu menyarankan untuk menuliskan pikiran-pikiran saya di notes sebagaimana halnya kawan-kawannya menyarankan padanya. Ah ini gunanya berteman dengan sesama nokturnal yang kerap terjebak dalam kondisi ini, setidaknya kami bisa berbagi ide dan saling menghibur ketika yang lain telah terlelap, sementara kami masih gelisah dengan pemikiran-pemikiran kami.

Saya, seharian mendengarkan Michael Jackson menembangkan The Lost Children. Oh betapa tiap kali mendengar liriknya yang dashyat (MJ memang maestro, pintar membuat lirik), terbitlah air mata ini karena teringat anak-anak korban trafficking di seluruh dunia. Betapa tidak sedih, tiap tahun 1,2 juta anak menjadi korban. Betapa rentannya mereka. Sampai-sampai sempat terbersit betapa tidak fair-nya pada tahun-tahun ini melahirkan seorang bayi ketika banyak hal di dunia ini tidak berpihak pada mereka. Ok, saya pernah becanda mengatakan betapa banyak yang dikorbankan seorang perempuan ketika memutuskan untuk hamil dan melahirkan sehingga saya menjadi “takut”. Tapi sesungguhnya bukan hal itu yang ada di benak saya, kerusakan lingkungan hidup (membayangkan anak-anak kelak kepanasan dan tak bisa hidup tanpa mesin pembersih udara), trafficking, tantangan sosial dan banyak hal yang makin tak bersahabat adalah yang terbersit. Barangkali saya saja yang berlebihan, barangkali benar adanya teori yang mengatakan manusia adalah makhluk yang paling andal menyesuaikan diri dan bertahan dan bagaimana pun kehadiran setiap bayi adalah anugerah tak terkira.

Semoga catatan ini bukan keluhan semata. Malu rasanya mengeluh, setelah malam tadi saya dibenturkan pada ingatan tentang anak-anak yang hilang, orang-orang yang dihilangkan dan kenangan pada almarhum Munir yang berjuang membela orang-orang yang dianiaya haknya. Saya kutip kalimat Goenawan Mohammad di timeline-nya malam tadi, “ Mereka yang pernah mengalami yang terpahit tak menghabiskan waktu untuk mengeluh. Gelap tetap dikutuk, tapi lilin harus dinyalakan.”

Selamat pagi kawan. Selamat beribadah dan berjuang, untuk menanam budi baik.

Hastala vista!

***

Foto hanya untuk ilustrasi, koleksi pribadi.


About these ads
7 comments
  1. ya gelap selalu ada sampai kapanpun
    selalu dikutuk
    dan cahaya selalu ada
    meskipun temaram
    tinggal kita yang harus berusaha
    yang menentukan seberapa kuatnya lilin itu menerangi sekelilingnya.

    Saya tidak mau mengeluh, tapi memang pemikiran-pemikiran itu bagaikan tak berujung. Teman dekat yang kehilangan pekerjaan, menghadapi kematian dan kesendirian…… Apalagi jika memikirkan masa depan anak-anak kita sendiri yang harus hidup dalam ketidakpastian. Tapi bukankah dari dulu pun demikian? Dan saat itu aku berterima kasih pada orang tua dan pendahulu kita yang telah berjuang, semampu mereka.

    Jadi, jam berapa meeting pagi ini? Berapa jam bisa tidur?
    Suatu permintaan yang tak akan berubah: Jaga kesehatannya ya….

    EM

    • agoyyoga said:

      Mbak benar, barangkali dulu orang tua dan pendahulu kita juga punya kekhawatiran yang sama tapi mereka berani untuk memperjuangkan (sembari merusak lingkungan walah!) :D
      Makasih Mbak, jaga kesehatanmu juga. :)

  2. DV said:

    Yoga is back! :)
    Tulisanmu yang seperti ini yang kurindukan..
    Ayo selalu mencari ruang untuk menulis tulisan indah begini ini :)

    • agoyyoga said:

      DV is back here :) )
      Don, yang ngasih pencerahan aku itu si Ijul, masih inget kan? Dia lagi di Brisbane sampai Jumat ini dan sempat nonton konser U2 lho… halah malah ngerasani Ijul. :D
      Ehm… tentu aku akan berusaha mencari ruang. Matursuwun atas supportnya. :)

  3. edratna said:

    Betuul….nikmati prosesnya….
    Dalam kesibukan apapun, selalu ada proses yang menyenangkan untuk dinikmati..bahkan saat dikejar deadline, rasanya inspirasi muncul bertubi-tubi…
    Jangan-jangan saya tipe sibuk, semakin sibuk, ide mengalir lancar. Sayangnya sekarang harus berpikir keseimbangan antara fisik dan pikiran…

    Bersyukurlah masih bisa sibuk, sehingga waktu tak terasa berlalu.
    Saya sempat mengalami, saat awal pensiun, penginnya istirahat…tapi ternyata bosen…hehehe….
    Saya lagi sibuk menyiapkan Konferensi Nasional…..asyik juga…

    • agoyyoga said:

      Nah, nggak hilang kan Bu komen-nya ;) )
      Hihihi justru pas hectic banget ide-ide kerap bermunculan. Aneh ya Bu. Konferensi Nasional apa Bu? Kalau mengundang Muhammad Yunus, ajak saya ya Bu. *ngarep dot com*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 421 other followers

%d bloggers like this: