Rasa tentang keindahan bukan hanya monopoli mereka yang tak terasing dari peradaban. Naluri itu tumbuh dengan tumbuhnya akal, berkembangnya pemikiran dan yang terpenting naluri untuk mencari penghiburan. Katakan pendapat ini salah, namun jika menemukan keindahan tenun-tenunan di sebuah pelosok yang terpencil, di Sumba, tempat dimana sulit membayangkan, orang leluasa memikirkan keindahan di saat pergulatan panjang dengan alam yang tak ramah dan didera kekurangan bertubi-tubi, apakah mesti diperdebatkan?
This slideshow requires JavaScript.
Karena indah itu soal rasa, ia tak terbatasi, tak guna pula diperdebatkan..
Yup! Sepakat.
wah mau komentar tapi liat komentarnya mbak tanti….tidak bisa tdak menyetujuinya.
Ada seorang sahabat keluarga juga dari Sumba yang memperkenalkan tenunan Sumba pada kami.Indah!
EM
Hahahaha itulah ragam kain Nusantara, indah-indah.
Jika melihat hasil tenunan itu, terbayang nggak betapa mereka menenun dengan hati….setiap hari…memerlukan waktu minimal 2-3 bulan?
Keindahan milik semua orang, bahkan sampai dipelosok pun kita melihat keindahan itu.
Tadinya berharap Yoga berpose pake kain tenun itu….seperti mas Iman Br saat di NTT
pose pakai kain tenun? Nggak kepikir waktu itu, Bu.