Banua Patra atau Balikpapan, sebuah kota di Kalimantan Timur yang senantiasa berdetak. Perdagangan tumbuh dengan marak seiring dengan kegiatan eksplorasi minyak di sekitarnya. Ada beberapa versi tentang asal usul kota Balikpapan, salah satunya adalah adanya sepuluh keping papan yang kembali ke Jenebora dari 1.000 keping yang diminta oleh Sultan Kutai sebagai sumbangan bahan bangunan untuk Pembangunan Istana Baru Kutai Lama. Ke sepuluh papan yang balik tersebut disebut oleh orang Kutai Balikpapan Tu. Sehingga wilayah sepanjang Teluk Balikpapan tersebut, tepatnya di Jenebora disebut Balikpapan. Hari lahir Balikpapan ditetapkan pada tanggal 10 Februari 1897 dimana saat itu ditepatkan dengan peristiwa pengeboran minyak pertama kali dilakukan oleh perusahaan Mathilda sebagai realisasi kerjasama antara J.H. Menten dengan Mr. Adams dari Firma Samuel dan Co.
Kini Balikpapan adalah melting pot raksasa, dimana nyaris seluruh bangsa di dunia terwakilkan di sana. Detak dan geliatnya nampak dari pesatnya pembangunan fisik, maraknya bisnis property dan hidupnya bisnis perhotelan di sana. Memang sebagian besar pejalan tersebut hanya singgah sesaat di Balikpapan sebelum melanjutkan perjalanan ke kota-kota kecil tempat pertambangan yang sebenarnya berada atau untuk melanjutkan perjalanan ke Samarinda, ibukota Kalimantan Timur yang dapat ditempuh melalui jalan darat sekitar 2,5 – 3 jam berkendara. Saya sendiri telah beberapa kali menjejakkan langkah di sana, kesemuanya untuk urusan pekerjaan. Kerap saya mesti berangkat dini hari dari rumah agar dapat tiba di Balikpapan sebelum siang. Tak jarang ketika sore tiba, saya telah kembali duduk di pesawat untuk terbang kembali ke kota asal. Jika waktu agak luang, tentu saya tak menyia-menyiakannya untuk berburu foto, menyempatkan makan kepiting di resto Kepiting Kenari atau sekedar mencari kerajinan tangan di Pasar Kebun Sayur.
This slideshow requires JavaScript.