Solo Traveler or Not

Solo Traveler or Not

Ketika saya menceritakan perjalanan terakhir saya kepada seorang teman, saya kemudian tahu bahwa konsep menjadi solo traveler atau pejalan tunggal atau pelancong sendirian bagi seorang perempuan itu bukan ide yang menarik baginya. Teman saya seorang perempuan, pendaki gunung yang tangguh yang bisa disejajarkan kekuatannya dengan pendaki pria, ia perempuan pertama yang mencapai puncak Egon di timur Indonesia dan beberapa kali pernah melancong sendirian ke daerah yang lumayan “berat” kondisi keamanannya untuk perempuan, selain itu ia adalah seseorang yang sangat realistis. Jadi pasti ia punya alasan tersendiri. Kemudian saya ketahui faktor keamanan menjadi alasan kuat mengapa ia tak terlalu menyukai ide solo traveler bagi perempuan.

Jika sudah membicarakan subyek ini mau tak mau jadi bias gender. Memang tidak dipungkiri seorang perempuan, pejalan tunggal bakal sangat sulit melakukan perjalanan seperti seorang Agustinus Wibowo yang bisa berbaur sedemikian rupa dengan masyarakat lokal di daerah yang didatanginya sehingga perjalanan Agustinus tak sekadar perjalanan ala turis biasa, yang dimulai dengan perburuan tiket, akomodasi, keliling lokasi seperlunya, ambil beberapa foto dan kemudian dengan bungah memamerkan foto-foto tersebut yang biar beda gambarnya tapi sama bunyinya,”I was here.”

Saya sendiri baru menyadari lebih sering bepergian sendiri ketika seorang kawan beberapa bulan yang lalu mengingatkan saya untuk bersyukur sebab saya memiliki kesempatan keliling Nusantara setidaknya dalam kurun waktu sepuluh tahun sejak bergabung dengan perusahaan yang lama dan sebagian besar diantaranya adalah business trip — tugas saya dulu salah satunya “jalan-jalan”.  Dalam business trip, keamanan dan kenyamanan sebagai solo traveler lebih terjamin karena ada sponsor atau ada backing perusahaan yang menugaskan. Namun tetap saja ada  ”kebocoran”  misalnya yang paling rendah adalah kalimat-kalimat yang nakal. Tahu kan maksud saya.

Di luar tugas mandatory dari kantor yang menyebabkan saya mau tak mau harus bepergian sendirian (saya sih mau melulu, belum pernah menolak biar sedang sakit juga karena memang demen), saya juga kerap bepergian sendirian. Daerah tujuannya terkadang kota besar, seringkali di daerah terpencil, tak jarang masih hutan perawan. Bisa dikira-kira ragam transportasi yang pernah saya gunakan. Pokoknya asyik aja. :D

Selain adanya sponsor dan sifat “jalan-jalannya”, sebenarnya relatif tidak ada perbedaan mendasar lainnya antara perjalanan bisnis dan perjalanan pribadi sebagai solo traveler. Dan sebenarnya saat menjadi solo traveler pun kita akan selalu berinteraksi dengan orang lain yang jasanya kita manfaatkan sehingga sejatinya enggak benar-benar sendirian dalam perjalanan. Yang membedakannya dengan adanya travel mate adalah adanya orang yang engage total dengan perjalanan (ya iyalah kan perjalanan bersama), keputusan yang diambil adalah keputusan bersama bukan keputusan sendiri dan bisa sharing biaya jika memungkinkan. Dua-duanya pernah saya alami dan punya travel mate itu sedikit ribet tapi asyik.

Bagaimana menyiasati masalah keamanan sebagai pejalan perempuan? Yang bisa saya lakukan hanya memperkecil faktor resiko dan mengendalikannya semaksimal mungkin. Langkah-langkahnya standar, misalnya: mempelajari daerah yang akan dituju semaksimal mungkin dengan meluangkan waktu untuk riset dan bertanya pada narasumber yang sudah pernah berada di lokasi tujuan. Menyiapkan itinerary yang matang dan jelas.

Ketika telah tiba di tujuan tetap waspada dan melakukan observasi terus menerus, jika saya merasa tak nyaman di suatu tempat meski terang benderang, lebih baik saya segera pergi ke tempat lain.

Menggunakan jasa perusahaan yang bisa dipercaya — tahunya dari riset, biar pun agak mahal sedikit, meski tak menjamin keselamatan dan keamanan 100% tapi saya sudah berusaha meminimalisir resiko.

Sebagai pejalan tunggal, segala hal lebih mudah diatasi kalau kondisi kesehatan kita prima. Dengan riset yang memadai kita akan tahu tindakan preventif apa yang mesti dijalankan sebelum, selama dan sesudah bepergiaan. Cek vaksin yang harus diambil atau obat-obat yang harus diminum sebelum bepergian terutama jika akan memasuki daerah endemi penyakit tertentu.

Mempersiapkan asuransi kesehatan yang baik. Asuransi perjalanan tak perlu, sebab jika sampai sakit atau mengalami kecelakaan (moga-moga tidak pernah) pada akhirnya yang paling dibutuhkan adalah biaya perawatan, mengenai penggantian barang hilang dan kerugian pembatalan penerbangan tidak sepenting kesehatan kita lagipula dalam perjalanan saya jarang membawa barang yang berharga dan pembatalan penerbangan akan mendapat kompesansi dari perusahaan penerbangan tersebut.

Punya anchor entah apa istilah yang umum,  yaitu orang yang dipercaya yang selalu diupdate tentang posisi terakhir saya dan kepadanya saya meninggalkan catatan-catatan penting jika diperlukan — sebenarnya saya kerap lupa, kadang malah nggak menyiapkan anchor sebab memang pengen “menghilang” satu dua hari. :D

Tidak meng-update kondisi saya secara real di media internet selama diperjalanan. Bahaya. Setidaknya saya akan menyebut misalnya with five others jika suatu ketika iseng up date status dan sebetulnya itu enggak bohong karena dalam satu mobil carteran biasanya ramai-ramai meski belum tentu kenal semuanya. ;)

Satu lagi pepatah Minang, di mana Bumi dipijak di situ langit dijunjung itu benar sesuai untuk pejalan dan perantau. Saya percaya hukum aksi reaksi itu nyata, segalanya kembali berpulang pada masing-masing pejalan, aksi apa yang ditanam itulah yang akan dituai.  Dan “benih” yang baik berasal dari sikap dan pandangan yang positif.

Menjadi solo traveler adalah sebuah pilihan, bagi saya pilihan itu dulu berlaku karena keharusan dan karena keinginan sendiri. Jika kemudian kerap menjadi solo traveler untuk perjalanan pribadi maka itu biasanya karena kepraktisan dan kebiasaan bepergian sendiri. Hmm lagipula… saya tipe pejalan yang kerap bepergian mendadak. Impulsive? Mungkin.

Y.A.

8 Responses »

  1. Sesuatu yang tak bisa kupungkiri selalu membuatku iri adalah pada ‘kesendirian’ itu… pada ‘solo’ itu…

    Maksimalkanlah ke-sendiri-an sebelum lantas kamu menempuh takdir untuk tak sendiri lagi *eh :)

  2. Semua kembali ke masing-masing individu saja. Mau pergi beramai-ramai, berdua dengan pasangan, atau traveling seorang diri, semua asyik-asyik saja. Yang penting bisa menikmati dan tahu tujuan kita melakukan traveling.

  3. Saya termasuk perempuan ‘pejalan sendiri’, meski belum sejauh ke tempat2 yg ‘berbahaya’. It’s ok perempuan jadi solo traveler, cuma niat aja yg dibutuhkan dan duit tentunya.. :)
    Pergi dg teman yg cocok pasti menyenangkan, tapi kalau terlalu banyak jg malah bisa bikin bete karena selera bisa beda. Jangan takut jadi solo traveler, yg penting sedikitnya kita tau dan punya informasi ttg tempat tujuan kita.

  4. Pasa akhirnya …kita memang berdiri diatas kaki sendiri…
    Keberhasilan seseorang adalah karena kemandiriannya…
    Diperlukan perencanaan dan persiapan, agar perjalanan nyaman….juga yang ditinggalkan di rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s