Bukan Sedang Galau

Bukan Sedang Galau

Sungguh kacau time management saya belakangan ini, hasilnya saya ketinggalan satu agenda penting yang sudah lama saya nantikan hanya karena lupa. Dan konyolnya lagi saya hanya mengandalkan insting, ingat-ingat-lupa kapan hari H itu tapi tak pernah mengecek jadwal untuk memastikan. Untungnya masih punya kesempatan mengikuti jadwal kegiatan berikutnya yang jaraknya tiga minggu kemudian. Mendadak saya jadi punya waktu luang. Voila! Tahu-tahu saya sudah asyik menyusuri kota Medan, menghabiskan hari sendirian sebelum esok, pagi-pagi buta usai subuh bertemu dengan teman-teman penggemar fotografi dari Indonesia dan Malaysia di Bandar Udara Polonia. Kami akan terbang bersama-sama menuju pulau Nias.  Pulau yang dianggap masih “menyeramkan” bagi sebagian warga Medan — beberapa orang yang saya jumpai bertanya, apa tidak seram ke Nias? Seharusnya-kan mereka bisa mengatakan sungguh n-i-c-e pergi ke N-i-a-s (wow maksa). Rupanya bencana gempa dan tsunami yang pernah melanda Nias masih menyisakan trauma.

Singkat kata, saya akhirnya berlibur. Usai hunting foto di Nias selama empat hari, saya kembali berpisah dari teman-teman fotografer. Berpisah di Bandar Udara Polonia sebelum tengah hari. Bandara, seperti halnya stasiun dan pelabuhan adalah tempat yang kaya akan cerita pertemuan dan perpisahan. Untungnya mereka tak bisa berbicara sehingga kita tak perlu mendengar  kisah-kisah mengharukan saat berpisah atau kisah bahagia pertemuan dari orang-orang yang pernah singgah di dalamnya. Jika sampai terjadi, alangkah berisiknya (maksa lagi).  Kita toh tak ingin dijejali dengan semua kisah itu.

Saya kemudian melanjutkan perjalanan seorang diri, well meski tak sepenuhnya sendiri karena pada akhirnya saya selalu bertemu dengan teman baru baik penduduk setempat atau pejalan dari manca negara. Meski begitu esensi dari pejalan tunggal atau bahasa Madura-nya solo traveler, tetap saya rasakan. Dalam kesendirian, justru banyak hal yang jadi obyek perenungan, banyak sudut yang tadinya tak terekam menjadi singgah di kepala bahkan berdiam di sana. Seperti misalnya tentang kematian, jarak dan sinkronisasi atas “kebetulan-kebetulan” yang saya jumpai dalam perjalanan. Maka kemudian malam ini saya berkicau di twitter:

Di jalan utama Nias, tiap lewat depan rumah mau tak mau ingat mati. Sebab setidaknya ada sepetak kubur leluhur di samping pintu. #life

Begitu juga di Samosir, tiap 5m akan teringat mati sebab itulah kira-kira jarak antar kubur di sana. #life

Namun jika kita lebih lama tinggal, bahkan hidup berdampingan dengan kubur, apakah kematian jadi istimewa? #life

Jangan-jangan kita malah lupa, setelah hidup ada kematian. #life

Kita perlu jarak untuk segala hal, agar tak kehilangan makna. #life

Begitu juga dengan Tuhan, meski lebih dekat dari nadi, Dia dan kita tetap berjarak. #life

Saya bukan sedang galau, ini semacam renungan sebelum tidur yang tersisa dari perjalanan 4 jam di suatu daerah tanpa aspal ditambah 2 jam di jalanan beraspal, lepas mengejar senja di pantai Sirombu — setelah seorang etek* yang baik budi memberi segelas kopi hitam kental cuma-cuma kepada saya dan 10 jam perjalanan–beberapa hari kemudian,  di atas motor ditemani penduduk lokal di suatu daerah di Sumatra Utara yang dekat sekali dengan daerah-daerah penghasil kopi istimewa dan secangkir kopi di sana hanya tiga ribu rupiah (kopi lagi).

Kemudian apa kira-kira maksud Tuhan, ketika dalam perjalanan itu saya bertemu teman-teman baru yang siapa nyana memiliki “irisan-irisan” dengan kampung masa kecil saya, teman-teman masa lalu, kolega, bahkan mantan big-big boss di kantor lama meski secara geografis kami berjarak bahkan sampai saat ini. Begitu sempitnya Indonesia.

Malam!

Y.A.

*etek : tante/bibi

3 Responses »

  1. Pingback: Bertemu Minah di Leuser « Amalia (on Earth)'s Notes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s