Taksi #1: Andalan

dan tentang Jakarta (Lagi)

.

Seorang teman yang bertahun-tahun tinggal di luar negeri akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia dan menetap di Jakarta sejak dua tahun lalu. Ia pernah berkata demikian;

“Senjataku ada dua, Say.”

“Ojek dan Tolak Angin”

“Lho, kok?”

“Iya, ojek buat kemana-mana, terus balik ke rumah masuk angin kan, langsung minum Tolak Angin deh.”

“Hahaha..!”

Pilihannya benar. Di Jakarta yang rawan macet, paling masuk akal bepergian naik ojek. Ojek sampai saat ini memang yang tercepat. Pilihan lainnya Trans Jakarta karena punya jalur sendiri, tapi hanya melayani rute terbatas dan enggak seluwes ojek. Kalau mau lebih private dan nyaman silahkan mengarungi kemacetan Jakarta dengan naik kendaraan sendiri yang ber-ac atau naik taksi. Andalan saya adalah taksi warna putih yang harganya kompetitif melawan taksi biru. Yang warna biru hanya saya pakai untuk menempuh rute pendek atau menuju bandara. Lebih mahal, namun tidak membuat saya berjudi dengan waktu.

Ngomong-ngomong, saya jadi sadar, saya lebih sering kemana-mana naik taksi terus naik Trans Jakarta terus naik ojek (tanpa minum Tolak Angin), penyebabnya: Jakarta makin macet, angkutan umum yang lainnya kurang memadai. Keseringan naik taksi sebetulnya enggak bagus untuk kesehatan. Iya betul, untuk kesehatan kantong. Namun karena memerlukan kenyamanan dan keamanannya, bagaimana lagi? Ada harga ada jasa. Dan saya belum memiliki rencana untuk pindah dari Jakarta dalam waktu dekat ini.

Berdua dengan pengemudi dalam taksi mau enggak mau mesti berkomunikasi, paling minim saat menyebutkan tujuan dan ketika meminta berhenti diakhir perjalanan dan paling sering jadi sasaran curcol mereka. Banyak cerita seru dari yang saru sampai yang seram. Profesi unik yang nampaknya tidak membosankan sebab selalu bertemu orang baru nyaris sepanjang hari hampir setiap hari. Bayangkan potensi kekuatan yang dimiliki pengemudi taksi untuk menyebarkan pesan dan membangun jejaring. Situs http://www.ted.com pernah membuat eksperimen komunikasi dengan melibatkan sejumlah pengemudi taksi di Brazil. Idenya untuk menyebarluaskan informasi tentang ide yang dibawa situs tersebut kepada warga Buenos Aires  dan sukses. Di Indonesia tak jarang pengemudi taksi merangkap jadi agen asuransi misalnya dan jangan-jangan mereka juga membawa pesan berbayar seperti yang kerap kita jumpai di twitter. We never know.

Pagi!

Y.A.

About these ads
6 comments
  1. aku dulu waktu single sering naik taxi dan yes,… memang aku sering belajar dari tukang taksi yang cerewet, bahkan tentang hukum!
    Dulu sih pengemudi taksi sudah bisa mempunyai rumah sendiri di luar kota Tokyo, skr belum tentu karena semakin banyak jumlahnya padahal penggunanya menurun.

    EM

    • Mbak EM, kayaknya lebih nyaman naik taksi di Tokyo kali ya…. diluar konteks biaya. :)

  2. DV said:

    Taksi memang ter-aman di Jakarta.. Kalau aku ada di Jakarta, aku memilih untuk ngga pergi ke mana-mana kalau ngga ada taksi, Yog. Itupun taksi-taksi tertentu …

  3. Ya maklumlah, apalagi sekarang sudah ada buntutnya bukan? :)

  4. edratna said:

    Aku masih mau naik bis (trans Jakarta)…atau jika diniati..bawa uang seperlunya, simpan KK dan ATM di rumah, berpakaian sederhana, perhiasan anting saja…dan nikmatilah mengelilingi Jakarta.

    • dan tak lupa membawa sunglasses kalau saya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 428 other followers

%d bloggers like this: