Keputusan yang Tepat

Keputusan yang Tepat

Catatan Tentang Wirausaha #1

Seorang pengusaha yang sukses yang dikenal tak banyak bicara diwawancarai atas banyak pencapaiannya:

“Tuan, apa yang menjadi kunci sukses, Anda?”

“Keputusan-keputusan yang tepat. “

“Dan apakah kunci dari keputusan-keputusan yang tepat tersebut?”

“Pengalaman.”

“Dan darimana asalnya pengalaman itu, Tuan?”

“Keputusan-keputusan yang salah.”

Alangkah pahitnya jika harus terus menerus mengalami pengambilan keputusan yang salah sebelum akhirnya bisa membuat keputusan yang benar sementara rasanya tidak ada persoalan yang selalu sama. Ini yang kemudian disebut proses pengambilan keputusan by insting. Susah untuk menilai tingkat keberhasilannya namun dalam bisnis hal ini terjadi terus menerus dan kerap dikombinasikan antara keduanya. Juga bisa saja terjadi, pada akhirnya  setelah analisa ilmiah dilakukan, insting pengusaha yang dipupuk oleh lamanya jam terbangya, kemudian yang berbicara, dalihnya expert judgement.  Barangkali hal ini ada kaitannya tentang asal usul seorang entrepreneur. Ada dua pandangan, yaitu yang beranggapan seorang wirausaha itu dilahirkan, ia memiliki bakat itu given dari aslinya, Pandangan lain menyebutkan menjadi wirausaha itu dipupuk melalui pendidikan, di-nurture sehingga jadi.

Saya pribadi tidak melihat diantara dua pandangan di atas salah satunya salah, namun apa pun asal usulnya tetap perlu diasah, dibentuk melalui pendidikan agar mendapatkan ilmu dan ketrampilan yang memadai. Meski sejarah juga memberikan contoh mereka yang pendidikannya rendah juga bisa menjadi tycoon.  Seperti kita tahu gelombang wirausaha Indonesia yang sukses di tahun 1970-an memiliki tingkat pendidikan yang rendah, contohnya Eka Cipta wijaya, Liem Swie Liong dkk, bahkan jauh sebelum itu Oei Tiong Ham, raja gula dari Semarang malah nyaris tidak bersekolah, tidak memiliki pendidikan formal di bidang bisnis. Namun sejarahberubah,  kemudian berangsur-angsur datanglah wirausaha yang telah memiliki pendidikan yang lebih baik dan kita ketahui bisnis mereka lebih sustainable dibanding generasi sebelumnya, seperti misalnya TP Rahmat, Beny Subianto, Arifin Panigoro dan yang sedang naik bintangnya saat ini  Sandiaga Uno, Erwin Aksa dan sebagainya. Rata-rata mereka ini telah menginvestasikan waktu  untuk mengambil pendidikan yang menunjang bisnisnya.

Bagi yang sudah terlanjur terjun dalam dunia wirausaha tanpa bekal ilmu yang memadai sebaiknya segera meluangkan waktu untuk melengkapi pengetahuannya. Sudah tidak kurang contohnya kegagalan usaha karena kesalahan pengambilan keputusan yang disebabkan minimnya pengetahuan misalnya dibidang keuangan terutama dalam pengelolaan cash flow, kegagalan karena tidak mengelola resiko usaha — entrepreneur yang sukses bukan penjudi, mereka berhasil karena memperhitungkan resiko dengan hati-hati, sampai ketidakberhasilan karena persoalan sumber daya manusia. Kalau beralasan tak diperlukan pengetahuan khusus karena usaha yang dikembangkan hanya mikro, jangan salah, bisa dikatakan usaha mikro adalah miniatur dari usaha yang skalanya lebih besar. Selain itu yang juga tak kalah penting adalah penguasaan data dan informasi sebagai alat pengambilan keputusan.

Jalur apakah yang sebaiknya ditempuh? Pendidikan formal jelas memiliki disiplin yang sudah teruji sehingga bisa jadi katalis pencapaian tujuan si entrepreneur,  di sisi lain jaur non-formal juga tak kalah menantangnya apalagi kalau bisa berguru pada seorang praktisi yang sudah teruji. Baik formal maupun non-formal dua-duanya penting sebisa mungkin dijabani dua-duanya, mengapa tidak?

Y.A.

2 Responses »

  1. Pengusaha awal, yang hanya berbekal skill serta bakat…biasanya pendidikan kurang. Namun mereka perlu menyadari, agar perusahaan tetap berjalan, maka perlu mendidik penerusnya untuk mendapat pendidikan yang sesuai. Jika dari keturunan nya tak bisa, harus ambil dari kaum profesional, dan pemilik sebagai pengawas saja (komisaris), sehingga tak mengganggu jalannya usaha.

    Perusahaan yang berpikir untuk jangka panjang menyadari, bahwa lingkungan akan selalu berubah, sedang manusia terkadang sulit mengikuti perubahan apalagi pada usia tertentu, atau mau tetapi tak sanggup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s