Kewirausahaan Sosial Tak Bisa Dianggap Kecil

Catatan tentang Wirausaha #2

Hubungan entrepreneur dengan alam dari dulu hingga sekarang belum seimbang, lebih ke arah hubungan yang negatif. Sumber daya alam yang melimpah telah dikuras oleh kegiatan entrepreneur, sebaliknya alam tidak merasakan dampak positif dari kegiatan ini. Isu tentang rusaknya lingkungan hidup dewasa ini mau tidak mau memaksa entrepreneur untuk memberikan perhatian khusus. Mereka yang ingin sukses dalam berwirausaha di masa yang akan datang adalah mereka yang juga peduli tentang masalah lingkungan hidup. Peran tersebut dikemukakan oleh John Elkington dalam istilah triple bottom line atau yang dikenal sebagai the three pillars: people, planet, profit. Jadi ada sentuhan terhadap sosial kemasyarakatan disamping planet atau usaha pelestarian lingkungan hidup.

Entrepreneur tidak dapat menutup diri dengan mengeruk laba sebesar-besarnya saja tanpa memperhatikan people dan planet. Dengan mengeluarkan usaha untuk people dan planet diharapkan usaha ekonomi yang dijalankan wirausahawan ini lestari. Peranan inilah yang memunculkan kebutuhan jenis entrepreneur baru yang disebut ecopreneurs atau sustainability entrepreneurship.

Wirausaha juga dapat tumbuh di dalam perusahaan atau organisasi, ini disebut intrapreneur. Para pelakunya menghasilkan berbagai inovasi baik produk maupun proses baru dalam iklim organisasi yang berkewirausahaan. Dengan semangat yang terdapat pada paragraf di atas, muncullah yang disebut sociopreneur, yaitu orang yang memimpin organisasi nirlaba yang mungkin bermisi sosial, kesehatan dan pelestarian lingkungan. Gunanya adalah agar permasalahan yang ada dapat diselesaikan dengan cara yang inovatif.  Mungkin anda telah mendengar beberapa lembaga yang didirikan untuk mendukung kegiatan para sociopreneur ini, misalnya adalah Ashoka, Schwab Foundation for Social Entrepreneurs, Kauffmann Foundation dan lain sebagainya.

Bagaimana lembaga-lembaga ini memberikan dukungan pada socioepreneur? Secara umum lembaga ini memberikan recognition, penghargaan, suntikan dana dan dalam scope yang lebih kecil misalnya memberikan pendidikan seperti yang dijalin antara Kauffmann Foundation dan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC). Lantas siapa sajakah yang dimaksud dengan sociopreneur itu, sosok tak asing yang bisa dicontohkan adalah Muhammad Yunus dengan Bank Grameen-nya, dibidang pembiayaan mikro di Indonesia kita mengenal Bambang Ismawan yang mendirikan Usaha Keuangan Mikro Bina Swadaya pada tahun 1967. Usaha ini sebenarnya lebih tua dari Grameen Bank yang dirintis Muhammad Yunus pada 1976. Apa itu Bina Swadaya? Jika saya sebutkan majalah Trubus barangkali anda akan langsung klik, Trubus adalah salah satu bidang usaha dari Bina Swadaya, siapa nyana asal muasalnya adalah kegiatan wirausaha sosial atau sociopreneur.

Mengutip Muhammad Yunus, “Ketika terjadi kemiskinan yang marak dan ketidakadilan sosial, kewirausahaan sosial adalah jawabannya.” Dan ungkapan ini tidak main-main. Bina Swadaya mengelola dana sebesar 33juta USD pertahun, sedang Grameen Bank jauh lebih besar lagi dalam laporan bulan Mei 2011 kemarin disebutkan akumulasi dana yang dikelola sekitar 10.758, 43juta USD. Sehingga tak mengherankan jika sekarang banyak pengusaha besar di Indonesia yang terjun dalam bisnis micro financing ini. Yang micro bisa men-generate yang macro. Begitu son….

Y.A.

About these ads
9 comments
  1. Kewirausahaan yang cocok dengan Indonesia memang ini, kita kan termasuk bangsa dengan rasa so(k)sial yang tinggi namun jiwa wirausaha yang standar.. :)

    • Kalau begitu mesti dibekali ilmu-nya dulu yang benar supaya enggak melenceng lebih banyak untuk kemaslahatan diri sendiri.

  2. edratna said:

    Sekarang makin banyak perusahaan yang menyadari perlunya kewirausahaan sosial (social business) ini.
    Jika dulu mereka melakukan CSR bekerja sama dengan orang lain, sekarang banyak yang melakukan sendiri, sekaligus mengedukasi masyarakat dan menaikkan value perusahaan tsb. Misal: Danamon Simpan Pinjam dengan pasar bersihnya, Sampurna dengan PSF nya…juga Perbankan.

    • yang micro-micro itu yang biasanya lebih sustain dan secara kolektif ternyata lumayan besar juga total omzet usaha micro, cmiiw, Bu.

  3. Saya salut dengan Muhammad Yunus dengan greemen bank nya tersebut. Membuat usaha sosial di tengah2 bidang usaha yang cenderung bisnis only. Hal ini justru membuat usaha awalnya justru terkuatkan karena ada dukungan pula dari lingkungan sekitar. Seperti juga ketika kita membangun keluarga, tapi juga ikut membangun orang2 di sekitar kita, entah tetangga, lingkungan kerja, dll. semoga ini jadi renungan u kita semua…salam saya

    • Ya saya sepakat dengan anda dalam ini. Thanks sudah share. :)

  4. mau tanya kak, untuk kewirausahaan sosial yang berorientasi mungkin lebih pada sumber daya manusia dan lingkungan, tp klo terkait produk apa itu bisa termasuk kewirausahaan sosial?? atau kah, sebenarnya bukan masalah pada adanya produk atau tidak, tp merajuk ke tujuan usahanya pada dunia sosial??
    trim’s ya kak,, ^_^

    • sorry udah lama gak buka artikel ini jadi pertanyaan Si Han tak terjawab. Ada satu definisi yang menarik tentang socio-entrepreneur yaitu kegiataan kewirausahaan yang dimaksudkan untuk menjawab persoalan-persoalan sosial dengan kemampuan yang dimiliki si wirausaha. Jadi jawaban tersebut bisa dalam bentuk pelayanan atau produk berbentuk benda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 420 other followers

%d bloggers like this: