Catatan tentang wirausaha #3
Bicara tentang usaha, pasti bicara tentang modal. Mau tidak mau.
Dalam bahasa akunting modal atau capital adalah sejumlah uang yang diinvestasikan dalam usaha, sedangkan dalam bahasa marketing, modal menggambarkan value dari perusahaan. Itu adalah terminologi yang umum, walau value atau nilai sesungguhnya dari sebuah perusahaan dibentuk oleh balance sheet dan goodwill. Apa sih goodwill itu? Secara sederhana Goodwill itu ditunjukkan oleh jumlah yang lebih besar atau lebih kecil dari nilai buku yang dibayar ketika perusahaan tersebut diakuisisi untuk mengantisipasi manfaat ekonomi di masa yang akan datang dari sisi pengakuisisi.
Kembali bicara tentang modal. Untuk memudahkan, kita pisahkan saja modal menjadi yang berwujud (tangible) dan yang tak berwujud (intangible).
Modal yang berwujud dalam hal ini yang dimaksud adalah modal ekonomi, bisa berupa dana maupun fisik seperti fixed assets berupa tanah, bangunan atau mesin-mesin produksi, baik yang tersedia kini maupun baru berupa potensi yang bisa dibangkitkan dari modal lainnya (penjelasannya di bawah).
Sedangkan modal yang tak berwujud diantaranya adalah modal sosial, berupa kepercayaan, kemudahan akses terhadap informasi, sumber daya, peluang, perijinan dan sebagainya. Pada umumnya modal ini berasal dari hubungan yang erat dengan jejaring yang dimiliki dan pembuat keputusan. Dan antara satu bisnis dan lainnya, berbeda. Tiap bisnis memiliki kekhasan tersendiri.
Misalnya modal sosial untuk bisnis restoran akan berbeda dengan bisnis properti, sehingga tidak semua entreprenuer bisa sukses berbisnis dalam banyak lini. Misalnya kisah sukses Frank Carney ketika mendirikan Pizza Hut tidak terulang ketika mencoba berbisnis properti. Namun jika menguasai kekhasan sesuai dengan bidang usaha yang dituju, tidak menutup kemungkinan sukses di berbagai lini usaha meski core business-nya berbeda. Sudah banyak contohnya, seperti group Djarum, bisnis rokok dan propertinya sama-sama sukses, atau McDonald’s, dengan bisnis properti dan waralaba.
Ngomong-ngomong soal McDonald’s, apa sebenarnya backbone McDonald’s? Waralaba resto ayam goreng? Awalnya sih iya, namun hal ini berubah pada tahun 1958 ketika Harry Sonneborn mulai diminta Ray Kroch untuk bergabung. Sonneborn berhasil meyakinkan Kroch the real money adalah di real estate business. Jadilah McDonald’s yang sekarang.
Kembali bicara: modal.
Modal intangible yang lainnya adalah modal sumber daya manusia berupa kompetensi dan komitmen individu terkait, ada pula yang menambahkan attitude sebagai unsur ketiga dan modal pengetahuan atas industri yang disasar.
Mana yang lebih penting?
Berbicara tentang modal sosial. Kepercayaan bisa jadi jauh lebih penting dari modal dana atau aset lainnya. Sudah banyak pengusaha besar yang bangkrut dan bangkit kembali dengan modal kepercayaan. Tentu bukan sekadar kepercayaan yang membuatnya bangkit, namun modal ini mampu membangkitkan modal lainnya.
Ketika seorang wirausaha memilih terjun dalam “red ocean” maka modal yang paling penting dalam kondisi ini adalah kemampuan menghasilkan inovasi yang melampaui para pesaing sebab jika tidak, anda akan berdarah-darah dalam lautan yang sudah merah itu. Sekali lagi, dalam hal ini kemampuan men-generate ide inovasi akan membangkitkan modal lain.
Jadi mana yang lebih penting relatif tergantung pada kondisi yang dihadapi.
Jangan lupa secara keseluruhan kegiatan wirausaha adalah proses untuk menciptakan value. Untuk meningkatkan value ini, ada satu modal penting yang belum disebutkan, yaitu waktu, tepatnya investasi waktu untuk belajar terus menerus untuk menyempurnakan bisnis anda.
Y.A.