Mencari Sunyi di Tanjung Bira

Mencari Sunyi di Tanjung Bira

Lao Tzu menyebutkan seorang pejalan yang baik tidak memiliki rencana yang pasti dan tidak terlalu memikirkan tujuan akhir perjalanannya. Tanpa bermaksud mengatakan aku adalah seorang pejalan yang baik, namun dalam beberapa perjalanan aku sama sekali tidak memiliki rencana yang benar-benar pasti tentang tujuan-tujuanku, bahkan mengenai waktunya. Semuanya kubiarkan mengalir begitu saja, aku memanjakan otak kananku. Travel-mate-ku lebih parah lagi, ia tidak pernah dipusingkan dengan itinerary ketika berlibur.

Dua tahun lalu kami melakukan perjalanan bersama-sama. Di akhir tahun yang hectic itu, aku menemukan perjalanan bisnisku berakhir di kota Makasar. Aku masih enggan kembali ke Jakarta. Ada libur tahun baru dan tanggal merah karena wiken yang patut dimaksimalkan. Singkat cerita travel-mate-ku, Rina,  menyusul ke Makasar, kami berencana mengeksplor Tanjung Bira yang terletak di salah satu  ”kaki” pulau Sulawesi.

Perjalanan ini samasekali bukan liburan tahun baru. Aku tidak merayakan tahun baru, begitu juga Rina, kami hanya berminat pada perjalanan dan payahnya kami kemudian sadar di akhir tahun seperti itu harga kamar penginapan melonjak berkali lipat seenak perut pemiliknya ketika tiba di sana. :)

***

Perjalanan itu diawali dengan beberapa ketidakpastian yang pelan-pelan berubah menjadi suatu kepastian, seperti halnya perjalanan besar alias kehidupan yang sedang kita jalani. Segala hal diawali dengan ketidakpastian, keputusan dan langkah yang kita ambil satu demi satu menjadikan ketidakpastian itu sebagai sebuah kepastian. Dan jika sebuah kepastian tercapai, maka sekejap kemudian kepastian menjadi sebuah sejarah dan kita disodori lagi ketidakpastian oleh hidup.

Awalnya karena konsep perjalanan kami ala backpacker, kami berencana menggunakan kendaraan umum yang paling ekonomis. Apalagi jika membaca informasi di internet jarak tempuhnya hanya 2-3 jam saja,  informasi tidak akurat yang pertama yang kami tahu, ternyata jaraknya sekitar 5 jam berkendara dari Makasar dengan kendaraan pribadi. Jalanannya payah terutama selepas Jeneponto. Berlubang di sana sini mirip permukaan bulan. Jika mulus rata sebenarnya enggak mustahil waktu tempuh itu menyusut jadi 3 jam saja. Rencana naik kendaraan umum tidak berjalan dengan baik sebabnya seorang sahabat yang sudah seperti Abangku sendiri langsung meminjamkan mobil dan sopirnya demi mengetahui rencana adiknya ini, benar-benar sebuah kemewahan jika konsepnya backpacker. Oke lupakan backpacker.

Ia juga mengkhawatirkan ketidakpastian tempat kami bermalam selama di Tanjung Bira. Semua nomor telepon penginapan yang kami temukan di website tidak bisa dihubungi, sementara koran lokal di Makassar menyebutkan penginapan di Bira telah habis dipesan orang-orang untuk merayakan malam pergantian tahun. Sebagai pejalan, hal ini tidak menyurutkan niat kami sedikit pun. Kami yakin setidaknya ada satu kamar yang bisa kami tempati malam itu. Nekat atau bodoh, terserah apa pendapatmu.

Rupanya keberuntungan kembali menghampiri kami. Entah sudah diatur oleh Big Brother dengan bantuan sopir pribadinya atau tidak, begitu tiba di Bira, mobil diarahkan dengan penuh keyakinan ke salah satu penginapan yang tepat berada di tepi pantai dan mendadak ketidakpastian tempat kami bermalam lenyap. Kebetulan ada satu pondok  yang kosong dan telah dipesan untuk kami dari siang hari oleh teman pak Sopir, tetangganya yang kebetulan sedang berlibur ke Bira bersama keluarga. Kebetulan?

Karena kami perempuan-perempuan, Ibu pemilik penginapan berkeras memilihkan pondok yang berada di depan pondoknya. Kami lebih melihatnya sebagai tidak ada alternatif. Semua sudah berpenghuni, rata-rata keluarga atau serombongan anak muda dari Makassar. Sewanya lebih mahal hampir tiga kali lipat dibanding hari biasa padahal fasilitasnya sangat sederhana dan lokasinya sangat ramai, orang-orang bersiap main petasan di depan pondok kami persis. Apa boleh buat. Berangkat pukul setengah dua siang, kami tiba antara pukul tujuh atau delapan malam, Pak Sopir langsung kembali ke Makasar karena ada acara keluarga dan kembali lagi esok siangnya.

Jalan utama Bira sesak dengan orang-orang yang akan merayakan tahun baru.  Satu hal yang diluar perkiraan, kami tak menyangka Bira begitu sesak malam itu. Kami sengaja jauh-jauh ke sana untuk mencari pantai yang sepi. Kami malas menjelajah Bira malam itu juga demi mencari sebuah kamar yang lebih nyaman sebab petasan di mana-mana. Kami tidak memiliki kriteria khusus tentang fasilitas, apa yang bisa diharapkan disebuah daerah yang masih belum disentuh maksimal oleh kapitalis (dan itu sebabnya kami datang)?  Yang kami harap hanya suasana sepi jauh dari keramaian, yang kami yakin masih bisa kami temukan jika dicari. Sepanjang malam dinding pondokan yang dari papan bergetar berkali-kali,  tapi kami memaklumi karena malam pergantian tahun, kami tertidur juga meski keributan tak kunjung reda.

Setelah hari lebih terang keesokannya, kami mulai menjelajah Bira yang serupa gadis lugu. Jalan yang kami tempuh kebanyakan bukan jalan biasa. Menyenangkan sekali. Banyak hal yang tak terlihat di malam hari dan menjadi benderang saat itu. Pagi hari air laut masih keruh, kami berjalan menyusuri pantai terus hingga menemukan lokasi yang lebih sepi dari pengunjung. Kami duduk lama di sana sampai air laut menjelma biru seperti warna langit yang makin cerah. Usai menyusuri pantai, kami memutuskan kembali ke arah jalan utama namun kami tak ingin menggunakan rute yang sama. Melalui halaman sebuah vila yang tak terurus, kami menemukan jalan alternatif di antara pepohonan besar-besar. Tak lama nampak rumah-rumah penduduk, yang ketika didekati membuat kami sadar. Kami berada di sisi lain Tanjung Bira yang mengakomodasi kebutuhan penikmat dunia malam remang-remang. Dialektika. Seketika Bira tak nampak lugu lagi di mataku.

Cukup jauh kami berjalan kaki, tanpa kompas tanpa petunjuk jalan, kami menebak-nebak jalan kembali. Rupanya tebakan kami tepat. Tak lama kami kembali ke jalan utama. Di salah satu penginapan yang bernuansa etnik kami berhenti untuk minum kopi dan sarapan. Kopi adalah salah satu poin penting dalam perjalanan-perjalanan kami, sebabnya tentu saja karena kopi itu enak dan kami sudah addict. Ibu-ibu yang melayani kami, memandang dengan heran ketika kami kompak memesan kopi tubruk tanpa gula. Ia nekat menyediakan gula di meja.  Tentu saja kami tak menyentuh gula itu sedikit pun. Ini bukan bermaksud sok-sokan, hanya karena selera. Sederhana saja.
Usai ngopi dan sarapan, kami kembali ke penginapan untuk persiapan berenang. Saat itu sedang musim angin barat. Angin ini menjelajah perairan dan daratan terutama malam hari.  Saudara pemilik penginapan yang sehari-hari tinggal di situ mewanti-wanti kami tentang sifat laut pada musim itu. Menurutnya pergerakan arus tidak bisa diprediksi dan cukup berbahaya. Diam-diam aku agak menyesal juga, kenapa enggak berusaha mencari tahu secara ilmiah sebelumnya tentang hal ini  sehingga kami bisa mencapai pantai-pantai yang tak disentuh pengunjung pada umumnya dengan aman. Alih-alih mengurungkan niat untuk mencari pantai yang lebih sepi, kami memutuskan tetap dengan niat semula.

Kami menentukan satu titik yang jika ditempuh dengan sepeda motor butuh waktu sekitar 30 menit, sewanya sangat mahal dibanding ojek di Jakarta sebab tidak ada jalan dan alasan kedua karena tahun baru. Malas berdebat, kami menawar seperlunya. Ternyata sesudahnya agak ribet, mesti menunggu agak lama sebab pengemudi dan motornya harus dijemput dulu. Kami memutuskan untuk menuju titik itu dengan berjalan atau berenang menyusuri garis pantai tergantung dengan sikon yang akan kami hadapi. Keberanian kami saat itu tetap didasarkan perhitungan logis dan insting yang bisa saja salah. Susah jika disuruh menjelaskan detail. Paling gampang enggak usah ditiru sebab beresiko. Laut memiliki jiwa tersendiri yang tidak bisa dihadapi dengan congkak dan asal. Jika salah perhitungan bisa-bisa yang pulang tinggal nama. Singkat cerita kami berhasil mencapai lokasi tersebut. Menyenangkan sekali, seolah-olah ada di kolam pribadi. Cukup lama kami berdua saja berenang dan berjemur di pantai itu, tak lama kemudian beberapa orang meniru cara kami dan tiba di sana.

Belakangan kami bercakap-cakap dengan mereka, rombongan empat orang mahasiswa Universitas Hasanudin Makassar yang meminta berkenalan dengan kami.  Salah seorang sempat bertanya, apakah kami kerap ke Bira sebab cara kami mencapai tempat itu seperti kami sudah biasa. Aku dan Rina hanya ketawa kecil sebelum menjawab yang sebenarnya. Ketika kami sudah bosan, dan memutuskan kembali dengan jalan yang sama, mereka buru-buru mengikuti kami pergi.

Usai berenang kami membayar penginapan dan pindah menempati salah satu rumah panggung di tempat kami ngopi tadi. Rumah panggung itu berisi dua tempat tidur mungil, kamar mandi dan balkon yang bisa dibuat bermalas-malasan. Luasnya lumayan, kalau cuma sepuluh orang saja bisalah masuk semua. Hampir semua komponen rumah panggung itu terbuat dari kayu. Lebih nyaman dari penginapan sebelumnya meski tidak tepat berada di tepi pantai dan tentu saja harganya lebih murah karena tahun baru sudah lewat. Tidak bisa memandang laut, tidak jadi soal bagi kami, karena kami hanya butuh tempat bermalam belaka. Belakangan kami bersyukur, malam itu angin barat bertiup kencang sekali. Meski rumah panggung kami terlindungi oleh rumah panggung yang lain, tetap saja terasa rumah panggung itu seperti akan terbang. Jika masih di pinggir pantai tentu situasinya lebih menegangkan.

Menjelang senja kami singgah ke pelabuhan Bira yang sangat jernih–yang bikin aku was-was dengan nasib perairan itu kelak, demi melihat kapal motor yang sandar, aku membayangkan lambat laun perairan itu bakal keruh seperti perairan di sekitar Jakarta.  Aku sengaja meminta singgah ke sana sebab aku ingin hunting foto. Dan aku senang sekali, momennya yang bikin aku senang. Momen itu jiwa dari sebuah foto, bukan teknik atau hasil akhirnya yang sangat tajam. Itu menurutku sih. Kegiatan berburu foto bagiku serupa reminder tentang waktu yang terbang dan tak pernah kembali. Aku rasa yang paling banyak mengamini kalimat seize the day adalah para photographer. Meski perjalanan ke Bira tanpa itinerary yang pasti, namun aku rasa saat itu kami sudah memaksimalkan waktu yang kami miliki dengan baik sekali dan tentu saja pikiran dan badan jadi segar.

Adalah secarik kertas yang bernama tiket yang memberitahu kami kapan harus kembali ke Jakarta.  Sebelum matahari benar-benar terbit, kami ngebut menuju lokasi pembuatan kapal Phinisi, Tana Beru di Bulukumba. Pukul enam pagi, Tana Beru masih sangat sunyi, tidak ada aktivitas pembuatan kapal. Aku mengambil beberapa foto dan menikmatinya sekali meski pencahayaan sangat kurang. Setelahnya kami bergegas ke Makasar dan tiba kembali di Makasar sekitar pukul satu siang  sebelum terbang dengan flight masing-masing ke Jakarta.

Seandainya bisa mengambil cuti lebih lama, mungkin kami akan tinggal lebih lama, mencoba penginapan di atas bukit untuk mendapatkan point of view yang berbeda dan tentu saja pengalaman yang berbeda. Dan bisa jadi kami menjelajah pulau-pulau di seberang Bira, ke Selayar terus melipir hingga ke taman nasional Taka Bone Rate. Enggak ada salahnya memasukkan tujuan-tujuan itu dalam wish list 1001 places to visit before I die.  Moga-moga kelak terwujud.  I wish and I pray!

Y.A.

Catatan:

Perlu diperhatikan jika engkau berniat pergi ke Tanjung Bira;- informasi di website lokal kebanyakan tidak akurat. Lagi-lagi terpaksa mengandalkan catatan bangsa lain seperti Lonely Planet.

3 Responses »

  1. Pingback: Bertemu Sunyi di Tana Beru « Amalia (on Earth)'s Notes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s