Bertemu Sunyi di Tana Beru

Bertemu Sunyi di Tana Beru

Kalau kamu menyebut tulisan ini lanjutan dari tulisan yang ini, boleh-boleh saja. Aku ingin membuat catatan ketika singgah di Tana Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan meski hanya sekejap. Benar-benar sekejap sebab tak habis sepeminuman kopi ketika berada di sana tepat di hari kedua Januari 2011.

Pagi itu dengan sedikit tergesa aku, Rina dan pak Asdar yang membawa mobil bergegas dari Tanjung Bira ke Tana Beru. Tujuanku untuk mendapatkan foto matahari terbit di sana. Di perjalanan aku teringat adalah Ijul aka Yulia Widiati yang memberiku ide untuk singgah ke kedua tempat itu. Ia hanya memberikan kata kunci: Bira dan Tana Beru, selebihnya aku bertanya-tanya dan googling. Ia pernah singgah di Bira sebab kapten kapal yang membawanya berlayar ketika masih menjalankan tugas sebagai dokter dulu berasal dari Bira dan pernah tinggal beberapa hari di Tana Beru di rumah temannya. Bira dan Beru jika dilafalkan seperti seirama selaras dan kenyataannya memang demikian. Bira adalah tempat pelaut-pelaut tangguh dilahirkan dan Beru adalah tempat di mana kapal-kapal yang kuat dibangun, Pinisi–yang kemudian hari ditulis sebagai Phinisi untuk memudahkan lidah yang terbiasa berbicara dalam bahasa Inggris melafalkannya sebelum kapal Phinisi Nusantara berlayar menuju Vancouver tahun 1986. 

Sekitar pukul enam pagi waktu setempat kami tiba. Tidak sulit menemukan lokasi pembuatan kapal-kapal Phinisi. Sepagi itu pantai sepi, galangan kapal sederhana yang berserak sepanjang pantai juga sunyi, tidak ada aktivitas pembuatan kapal. Beberapa pria berselimut sarung khas Bugis sedang berdiri di pinggir pantai, seperti sedang menggenapkan nyawa untuk memulai hari.

Seekor anjing kampung berkeliaran membuat jejak-jejaknya terbaca jelas di pantai hitam yang basah karena ombak.  Sepasang suami istri terlihat di sebelah barat sedang berusaha menyeret perahu kecilnya ke laut dan seorang kakek nampak jongkok di ujung pantai, rupanya sedang buang hajat. Ah di sini bebas toh, pikirku sambil nyengir sendiri.

Aku mencari sudut-sudut yang bisa kufoto meski cahaya pagi itu kurang terang, Rina berjalan sendiri menyusuri pantai dengan diam sambil mendekap pasminanya erat agar tak diterbangkan angin, selain itu pagi itu cukup dingin. Udara di sana sangat segar.  Pak Asdar, setelah memarkir mobil dengan baik, turut turun ke pantai dan bercakap dengan seorang Bapak-Bapak. Awalnya sebelum mulai berburu foto aku sempat nimbrung basa-basi, sedikit menyesal karena enggak bisa ngobrol lebih lama.  Padahal dalam perjalanan salah satu hal yang kusukai adalah berbincang-bincang dengan orang-orang yang kujumpai. Teman-teman yang tahu adatku ini sering menjadikannya sebagai bahan becandaan, aku sih kalem aja.

Aku mendekat ke salah satu galangan kapal jangan dibayangkan modern dan terbuat dari baja. Tidak ada penutup permanen, mereka hanya memanfaatkan kayu sebagai penyokong kapal dan rangka atap sederhana untuk menahan sinar matahari yang pasti terik di siang hari tanpa awan. Daun-daun kelapa kering yang jadi penutup atapnya.  Kapal Phinisi dengan panjang kira-kira 18,5 meter dan lebar 4 meter yang kulihat pagi itu setahuku di pasaran bisa dihargai hingga Euro 175,000 atau sekitar 2M rupiah dalam kondisi sudah jadi dan lengkap dengan peralatan navigasi cukup murah untuk sebuah kapal yang kekuatannya telah teruji berabad-abad, yang telah berkelana ke antero Bumi. Dari Makasar hingga Madagaskar dari Jakarta hingga San Diego.

Aku menyesal tidak memiliki waktu yang cukup untuk bisa berinteraksi dengan penduduk Tana Beru. Banyak pertanyaan yang tak terjawab dan terpaksa kuendapkan saja hingga kini, seperti apakah benar mereka melakukan upacara-upacara khusus dalam pembuatan kapal? Seperti apakah itu? Berapa harga yang diberikan oleh para insinyur alami di Tana Beru?  Apakah mereka mendapatkan margin yang memadai dan adil? Apakah mereka memang sengaja hidup sederhana, sesederhana teknologi yang mereka pakai untuk membuat sebuah Phinisi? Pertanyaan ini muncul demi melihat masih banyak rumah-rumah asli yang sangat sederhana, terbuat dari kayu, dikepung sampah limbah domestik yang tak dikelola dengan baik (lagi-lagi menimbulkan pertanyaan, apakah ini benar sampah penduduk setempat atau “hadiah” dari laut?). Hanya sedikit bangunan permanen yang kulihat terbuat dari bata yang kulihat, namun jalanan kecil yang membelah Beru terbilang sangat baik dan mulus, bahkan ada sebuah plank besi yang bagus menunjukkan lokasi pembuatan kapal. Ini mungkin upaya pemerintah setempat yang sadar Tana Beru adalah obyek wisata yang perlu diangkat.

Asyik bermain-main dengan view finder, sehingga butuh waktu agak lama untuk menyadari seorang gadis kecil membuntutiku sejak aku menginjakkan kaki di pasir. Jika aku berhenti memotret di suatu tempat cukup lama, ia berhenti  pula lantas sibuk bermain-main sendiri. Suatu ketika aku lihat ia mulai menggambar di atas pasir, sebuah rumah sederhana. Lantas kami sempat bercakap sebentar, sayang aku lupa mencatat namanya.

Kehadirannya membuat pikiranku terusik. Tiap kali memandang anak kecil di pedesaan selalu muncul kekhawatiran mereka tak memperoleh pendidikan yang layak sehingga mendorong keinginan untuk membagi sesuatu,  menyesal sekali saat itu aku enggak membawa apa-apa, kelak dalam tiap perjalanan aku berusaha membawa sesuatu untuk anak-anak di daerah yang kutuju terutama jika lokasinya lumayan remote, jauh dari mana-mana. Entah anak siapa yang kujumpai enggak penting. Sesuatu itu enggak harus mahal. Bisa berwujud buku cerita atau bola untuk bermain. Aku enggak bermaksud pamer, aku cuma bermimpi kamu bisa berbuat lebih baik dari contoh yang kuceritakan.

Kunjungan ke Tana Beru kami akhiri tanpa secuil foto matahari terbit seperti tujuanku semula, kurang beruntung entah karena awan menutupi mentari dan sudah terlalu siang saat itu untuk sebuah foto sunrise atau karena lokasi Tana Beru yang kurang pas untuk mencari sebuah sunrise, aku enggak cek arah mata angin dan enggak dapat informasi jam berapa kira-kira mentari terbit di Tana Beru. Belakangan aku menemukan website yang bisa membantu kita untuk menjawab pertanyaan ini, tentu bermanfaat sekali untuk mereka yang emang niat mencari foto sunset sunrise. Yah victory loves preparation,  next time better.

Y.A.

Catatan:

Foto-foto ini juga bisa ditemukan di flickr.

Aku rindu Bira dan Beru, sila cek video Dua Tiang Tujuh Layar  http://vimeo.com/24596773

2 Responses »

  1. mendengar kata Bira dan Beru aku selalu teringat ketika membaca artikel tentang daerah ini di majalah remaja jaman dulu
    “Jumma dan Uppa pembuat perahu di Bira”, nggak ada hubungannya ya… he..he…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s