Aku baru membayar lunas hutang kepenatanku beberapa minggu terakhir ini. Perjalanan tanpa jeda memang menyegarkan jiwa namun tak otomatis mengurangi kepenatan sebab meski perjalanan santai-santai untuk mengisi liburan tetap saja melibatkan “muscle work”, katakanlah berkendara duabelas jam lebih meski tak memegang kendali tetap saja butuh diganjar relaksasi setelahnya atau kegiatan jalan-jalan santai bersama keluarga lima jam lebih tanpa jeda di taman ternyata tetap menuntut istirahat.
Siang ini matahari sedikit meredup, mungkin bersiap-siap menyambut Imlek esok. Di sekitar tempat tinggalku yang terdengar hanya kicau burung, kalau dicermati dari bunyinya rasanya lebih dari lima jenis, seru. Sementara lamat-lamat entah dari masjid atau mushola mana ada suara orang mengaji yang sebentar kemudian selesai dan akhirnya hanya terdengar kicau burung-burung saja.
Sempurna untuk bersantai, meditasi, semedi atau apalah. Jadi aku nyalakan saja lilin dan membakar essential oil beraroma melati dan mulai terbersit keinginan menulis. Aku sedikit terganggu dengan keinginan yang muncul. Di saat tenang begini yang kurang satu, kehadiran orang tuaku. Rasanya bakal lebih asyik jika ada beliau berdua di sekitarku. Tak perlu ditingkah dengan percakapan, cukup hadir, ada, dengan aktivitas masing-masing itu sudah lebih dari cukup. Begitulah manusia, kepalanya tak henti dipenuhi dengan keinginan-keinginan meski hanya secuil. Baiknya dihapus saja keinginan yang satu itu sebelum secara impulsive aku membeli tiket dan terbang ke kediaman orang tuaku.
Hari ini rencananya aku akan menyesatkan diri diantara tiga rencana: membaca buku The Company of Strangers a Natural History of Economic Life tulisan Professor Seabright, menyiapkan sketsa untuk lukisan yang kujanjikan untuk seorang teman atau menulis tentang apa saja sekadar untuk memberikan katup pada pikiran yang kadang menarik pikiran-pikiran lain begitu saja. Seperti misalnya beberapa hari lalu aku bertemu teman baikku yang tergolong nomaden, seorang pejalan yang kerap berjalan di daerah yang tidak biasa. Kami ngobrol apa saja, termasuk isi twitter Daniel Ziv seorang jurnalis yang sedang merayakan pengembaraannya di Asia selama 20 tahun ini dengan berjalan-jalan ke Khasmir salah satunya.
Aku follow @DanielZiv, cuma belakangan aku tak terlalu mencermati linimasa di twitter, hanya sekadar berkicau tanpa membaca linimasa, sehingga luputlah kicauan Daniel Ziv. Temanku tadi memberitahuku kicauan mana yang ia maksud, “Having spent time in Aceh & Sri Lanka & now Kashmir, I wonder why some of the bloodiest conflicts occur in the world’s most beautiful places”. Hal yang juga ada di dalam pemikirannya, aku mengamini, ini kenyataan yang menyedihkan namun begitulah kenyataannya. Banyak tempat indah dan damai di Bumi ini sebelum kemudian dimusnahkan konflik yang bermula dari keinginan manusia. Aku menambahkan Papua dalam daftar itu, tempat di mana perekonomian melahirkan konflik yang menghancurkan keindahan dan keaslian alamnya.
Rupanya pemikiran ini juga milik banyak orang. Semalam aku nonton film yang dinilai jeblok di pasaran, 5 Days of War atau diberi judul 5 Days of August atau City on Fire di beberapa negara lain. Film ini bercerita tentang perang di Ossetia Selatan, antara Rusia dan Georgia dari sudut pandang Thomas Anders, wartawan perang asal Amerika, membuat Rusia nampak bobrok dan memperlihatkan Georgia sebagai malaikat penjaga perdamaian, seperti film pesanan. Entahlah aku enggak mencoba jadi kritikus film, aku cuma ingin menyampaikan sebelum perang pedesaan Ossetia digambarkan sebagai tempat yang damai dan tentram, indah sehingga muncul dialog yang esensinya serupa dengan kalimat Daniel Ziv dan temanku–yang belakangan tersenyum setelah kuberitahu hal ini.
Dan aku rasa otak dibalik setiap peperangan yang meluluhlantakkan tempat-tempat yang indah bukan tidak menyadari hal ini. Tempat yang sudah bobrok tidak akan menyayat hati orang sedemikian rupa dan membangkitkan urgency untuk perlawanan. Lain halnya dengan sesuatu yang dianggap indah, atau suci seperti halnya tempat ibadah. Kekejian diatasnya akan lebih menyakitkan bagi kemanusiaan dan tak akan menunda perlawanan. Keriuhannya jelas lebih terdengar atau didengar. Pesannya jelas.
Dalam gelapnya studio semalam, diam-diam aku melihat kejelasan atas sebuah pemikiran yang selama ini sedang kuendapkan lebih untuk kepentinganku sendiri. Hei jangan protes, bukannya sekali dalam hidupnya seseorang selalu menempatkan semesta berputar mengelilingi dirinya sendiri bukan sebaliknya? Sesekali dalam hidupnya seorang muslim yang (menganggap dirinya) baik pun aku yakin ia pernah meminta semesta thawaf mengelilinginya bukan sebaliknya. Haha sayangnya aku bukan seorang muslim yang baik.
Baiklah aku sudahi saja tulisan ini tepat sampai di sini. Aku akan menyesatkan diri dengan foto-foto perjalanan. Ciao!
Y.A.