Capung Bersayap Biru Metalik

Memori itu bermula dari secangkir teh yang dicelup sebatang kayu manis dan dihirup perlahan, sesekali ada bunyi sruup… ketika aku menghirupnya dengan sepenuh hati. Tak cukup dihirup aromanya, tak cukup dirasakan hangatnya ketika mengalir di kerongkongan, aku juga perlu mengelus cangkirnya yang terasa hangat di tanganku.

Labirin di otakku terbuka. Aku tiba-tiba berada di sebuah sungai berbatu di lereng gunung Welirang. Aku melihat kembali rombongan kecil kami, aku, adikku dan sepupu-sepupuku sedang menyusuri sungai berbatu itu. Aku masih anak-anak, bukan yang paling muda. Sungai itu bukan bagian dari tempat wisata, masih perawan, meski kami bisa mencapai salah satu sisinya dengan berjalan kaki sekitar dua puluh menit dari jalan umum.

Saat itu kemarau, airnya sedang dangkal, yang paling dalam sepertinya hanya 50cm. Banyak batu-batu besar sebesar gajah bertebaran. Lebarnya hanya dua meteran, hampir diseluruh bagian yang kami jelajahi, tidak ada batas yang jelas antara daratan dan sungai itu sendiri.  Di beberapa bagian ada riam kecil, ada batu yang terbentuk seperti seluncuran, rasanya asyik juga meluncurkan diri, tapi aku ngeri, air yang relatif diam mendadak sangat deras di seluncuran itu. Aku membayangkan seandainya nekat meluncur tanpa perlengkapan apa-apa. Kepalaku tak sekeras batu.

Kami berjalan perlahan, sebab dasar sungai licin, berlumut. Selain itu perjalanan kami menuju hulu, elevasinya makin naik. Di sepanjang perjalanan kami tak henti berdecak kagum, seumur-umur baru kali itu kami bertemu capung yang elok, memiliki sayap biru metalik. Makin cantik ketika diterpa sinar matahari. Tak cuma satu, banyak, mereka seperti sedang menari. Sekali-sekali ada biawak kecil terlihat terus membalikkan badan. Sinar matahari tak selalu menjangkau sungai itu, sebab di atas kami pepohonan masih lebat, sebagian akarnya ada yang berdiam di sungai. Di sebuah tikungan ada batu besar lebih tinggi dari kami semua, akar beringin menjurai dari tepian di sebelahnya, di bawahnya dingin dan gelap. Batu itu  membuat sungai seperti terbagi dua, aku menyusuri bagian yang gelap, adikku menyusuri bagian yang luar. Adrenalinku makin naik, karena makin jauh penjelajahan ini makin seru. Yang lebih seru lagi sebenarnya sebab kami tidak membekali diri dengan peralatan dan hanya mengandalkan Kakak sepupuku yang menjadi navigator kami dan segenap pengetahuan dan instingnya.

Kakak sepupuku sudah kerap ke sana berkali-kali, kadang-kadang menginap. Entah ia cuma mengarang cerita untuk menakut-nakuti kami, atau memang benar mengalami, menurutnya selepas magrib dari arah sungai kerap terdengar suara orang-orang yang meminta tolong, atau suara-suara orang yang sedang membentak. Area itu dulu adalah tempat pembantaian orang-orang PKI. Di tahun-tahun suram itu, menurut penduduk setempat batu-batu besar itu adalah tempat kepala-kepala manusia ditebas. Sungai bersimbah darah, merah dan penuh badan-badan tanpa kepala, kepalanya bergulir kemana-mana. Bertemu yang seperti itu (harapanku hanya halusinasi), sepertinya sudah biasa buat sepupuku ini, seperti saat ekspedisi menyusuri Mahakam, ia dan teman-temannya diikuti sosok jadi-jadian, siang serupa manusia, malam hari hanya terlihat kepala dan organ dalam. Sejujurnya kami tak peduli kisah-kisahnya yang seperti itu benar atau tidak, yang pasti kami semua suka dongeng-dongengnya setiap kali kami bertemu di rumah besar Nenek (which is I missed that time) dan untuk dongeng PKI ini, aku percaya pembantaian itu nyata.

Si kakak ini mencintai pelajaran biologi. Ia hafal nama-nama latin, sudah biasa jika pergi dengan si Kakak, kami semua dijejali dengan nama-nama latin binatang dan tumbuhan yang kami jumpai, biarpun perginya “enggak kemana-mana”. Semakin besar “penderitaan” kami, ketika ia mulai kuliah di jurusan Biologi. Maka sepanjang kami menjelajahi sungai itu,  ia terus berceloteh tentang tumbuhan dan binatang yang kami temui di sungai itu seperti sedang bercerita isi taman rumahnya. Adalah ceritanya tentang capung bersayap biru metalik itulah yang telah membuat kami penasaran, terutama aku, dan saat itu kalau aku sudah menginginkan sesuatu, biasanya sepupu yang lain termasuk adikku akan mengekor saja.

Enggak cuma capung biru metalik itu yang kami jumpai, selain burung-burung, kupu-kupu, biawak, serangga, ikan-ikan dan udang air tawar, aku juga menemukan pisau belati yang tergeletak di atas batu.  Pisau itu seperti sedang menunggu dipungut. Dengan karat yang membuatnya menjadi hijau, tentu ia sudah menunggu lama di situ. Agak aneh, aku berkhayal macam-macam tentang pemilik pisau itu. Kira-kira apa yang menimpanya hingga ia meninggalkan pisau di situ. Apakah ia ditelan macan Jawa yang saat itu mungkin masih lebih banyak dari sekarang. Entahlah, aku merasa kasihan. Aku timang-timang, tapi tak ingin membawanya, lagipula Kakak sepupuku melarang.

Setelah bertungkus lumus hampir satu jam, aku tak tahu pasti karena aku tak membawa jam tangan dan tak seorang pun membawanya. Sungai yang kami lalui mulai melebar, beberapa diatara kami termasuk aku terpeleset satu-dua kali, setiap kali ada yang jatuh, yang lain segera menolong. Kami tergelak, becanda dan saling mengolok. Adikku agak tegang, tapi maju terus.  Mungkin ia takut kalau tiba-tiba bertemu ular. Aku tenang saja, karena yakin sepupuku bisa mengatasinya. Anjing galak aja kalau sudah dekat dia langsung duduk. Eh tapi itu kan anjing ya. Gini sepupuku itu sering memelihara ular sampai pernah “diusir” Ibunya.

Kami tak bertemu satu orang pun di luar rombongan kami selama perjalanan itu. Bajuku basah gara-gara jatuh dan diciprati air, tapi cepat menjadi kering karena hari itu panas sekali. Kami maju terus. Enggak ada yang minta pulang. Sungai menjadi lebih dalam. Akar-akar pohon masih banyak, lebih banyak malah dan aku mendengar suara air. Rupanya inilah tujuan kami, air terjun kecil, tingginya tiga meter, terjun dari dinding akar begitu dalam pandanganku saat itu karena saking banyaknya akar sampai tak terlihat dinding aslinya. Air terjun kecil ini menjadi tujuan akhir kami, kami tak berniat meneruskan perjalanan dengan memanjat akar-akar yang sebenarnya bisa saja dilakukan, pertimbangannya kami semuanya nyaris masih anak-anak yang masih belum boleh membuat keputusan sendiri — yang selalu memberiku masa sulit dan penuh penyangkalan saat-saat itu, lumayan besar tanggung jawab si Kakak ini kalau sampai terjadi sesuatu pada kami, para sesepuh pasti akan marah besar, belum lagi resiko dimarahi orang tua masing-masing.  Jadi aku harus puas sampai di situ, dan cukup mendengarkan ceritanya tentang air terjun lebih besar lagi di atas sana. Kini samar-samar aku mengingat sepertinya di antara kami saat itu ada Ayah dan Pak De-ku, ayah sepupuku ini, saat itu kami sempat berembug, meminta gambaran lebih jelas sebelum akhirnya dengan suka rela kami memutuskan untuk kembali. Pada titik ini, aku melihat dengan lebih jelas, sebenarnya bukan sungai dan alam yang seperti magnet itu yang membuatku masih ingat perjalanan itu saat ini, bukan juga capung bersayap biru metalik. Tentu saja bukan! Seperti anak panah yang keluar dari busurnya, kami semua saat ini terpencar. Mengertikan, maksudku?

Batang kayu manis di dasar mug-ku sudah terlihat, teh-ku tinggal setegukan setelah itu tandas. Ada tanya, apakah sungai itu masih ada saat ini, masih seperti saat kami dulu menjelajah?

.

Aku akan membuat teh seperti ini sekali lagi. Kali ini aku tidak berniat mengorek memori lama. Realita adalah hidup yang terus maju. Itu berarti aku harus meneruskan apa yang tadi kukerjakan,  yang sengaja kudiamkan dulu beberapa jam tadi untuk mencari pencerahan.

Y.A.

ps. sekarang sepupuku ini menjadi peneliti, pekerjaannya mengharuskan ia kerap keluar masuk hutan, ia sudah memperoleh dream job-nya. :)

4 comments
  1. Menariks……tp msh penasaran dg capungnya, kirain cerita capungnya akan banyak

  2. mer said:

    aih, ternyata ngeblog di sini….. cantik blog baru (yg dah ngga baru sih, tapi baru buatku)-nya…

  3. KKPP said:

    ah, coba, p.s-nya dijadikan ending. bakal lebih keren … , but still cool as usual … like it.

  4. edratna said:

    Yog, betapa senangnya sepupumu itu..bekerja sesuai mimpi masa kecilnya.
    Sungai itu tentunya masih ada, cuma situasinya yang berubah.
    Dalam perjalanan dari Kediri ke Malang lewat Kandangan, daerah yang dulu hutan lebat sudah tak lebat lagi, padahal dulu banyak monyet bergelantungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 421 other followers

%d bloggers like this: