Category Archives: agoy|yoga

Capung Bersayap Biru Metalik

Capung Bersayap Biru Metalik

Memori itu bermula dari secangkir teh yang dicelup sebatang kayu manis dan dihirup perlahan, sesekali ada bunyi sruup… ketika aku menghirupnya dengan sepenuh hati. Tak cukup dihirup aromanya, tak cukup dirasakan hangatnya ketika mengalir di kerongkongan, aku juga perlu mengelus cangkirnya yang terasa hangat di tanganku.

Labirin di otakku terbuka. Aku tiba-tiba berada di sebuah sungai berbatu di lereng gunung Welirang. Aku melihat kembali rombongan kecil kami, aku, adikku dan sepupu-sepupuku sedang menyusuri sungai berbatu itu. Aku masih anak-anak, bukan yang paling muda. Sungai itu bukan bagian dari tempat wisata, masih perawan, meski kami bisa mencapai salah satu sisinya dengan berjalan kaki sekitar dua puluh menit dari jalan umum.

Saat itu kemarau, airnya sedang dangkal, yang paling dalam sepertinya hanya 50cm. Banyak batu-batu besar sebesar gajah bertebaran. Lebarnya hanya dua meteran, hampir diseluruh bagian yang kami jelajahi, tidak ada batas yang jelas antara daratan dan sungai itu sendiri.  Di beberapa bagian ada riam kecil, ada batu yang terbentuk seperti seluncuran, rasanya asyik juga meluncurkan diri, tapi aku ngeri, air yang relatif diam mendadak sangat deras di seluncuran itu. Aku membayangkan seandainya nekat meluncur tanpa perlengkapan apa-apa. Kepalaku tak sekeras batu.

Kami berjalan perlahan, sebab dasar sungai licin, berlumut. Selain itu perjalanan kami menuju hulu, elevasinya makin naik. Di sepanjang perjalanan kami tak henti berdecak kagum, seumur-umur baru kali itu kami bertemu capung yang Read the rest of this entry

Dari Rimba ke Harvard

Dari Rimba ke Harvard

Peringatan: Ini sama sekali bukan resensi buku. :p

Berkali-kali aku lihat di socmed atamerica (Pusat Kebudayaan Amerika) ada banyak acara yang menarik di sana. Seperti yang lain-lain, berkali-kali aku enggak bisa hadir meski ada juga acara yang melibatkan kampusku. Sampai suatu ketika temanku yang dulunya salah satu pengajar di Sokola bertanya apakah aku mau turut hadir mendengarkan presentasi Kak Butet (begitu ia memanggil Butet Manurung) sekaligus launching buku The Jungle School. Saat itu aku belum berani janji apa-apa, dan enggak tahu kalau acaranya bakal diadakan di atamerica. Namun beberapa hari kemudian aku pastikan aku akan hadir.

Itulah pertama kalinya aku menginjak atamerica di Pacific Place, SCBD Sudirman. Di kawasan perkantoran, hotel dan pertokoan mewah. Sungguh aku bukan penggemar mall, meski begitu aku bukan alien di PP karena sering ke sana untuk meeting. Itu saja, belum pernah aku sengaja ke sana untuk shopping, barang-barangnya aku suka, harganya yang enggak aku suka. ;)

Itulah pertama kalinya aku melihat Butet Manurung, sosok yang selama ini sudah kudengar dan kubaca dan kukagumi keberhasilannya mendirikan (tahun 2003) dan mengelola Sokola (Sekolah) Rimba secara konsisten, persisten malah, bertahun-tahun sampai sekarang. Bukanlah hal yang mudah ketika Butet Manurung muda memutuskan masuk ke rimba dan memulai mengajari orang rimba membaca dan berhitung, Butet muda adalah orang kota, orang Jakarta dengan segala kemudahannya pada berbagai fasilitas untuk belajar, hiburan dan sebagainya. Dan tentu enggak mudah mengubah life style yang serba modern menjadi serba minimalis karena situasi hutan. Itu sebabnya aku ingin tahu sendiri, apakah pradugaku itu benar?

Itulah pertama kalinya aku dengar sendiri dari Butet, segala dugaanku itu benar. Dengan santainya ia menceritakan itu semua tanpa kesan melebih-lebihkan kesulitan hidup di rimba. Butet membuat hal-hal besar yang ia lakukan seolah-olah sederhana saja, benar-benar pribadi yang besar. Apalagi saat hadir itu dia sama sekali enggak menyinggung kehilangan besar yang baru dialami seminggu sebelumnya, jauh dari keluh kesah.

Malam itu (13 Maret 2012) selain pengalaman Butet yang akhirnya mengantarkan ia ke Australia dan Harvard untuk menambah ilmu, ada beberapa pembacaan buku dan book-signing di toko buku Aksara di lantai atas. Semuanya ini bagian dari acara Bringing Literacy to Indigenous Indonesia: Butet Manurung’s Journey from Jungle to Harvard. Biar atamerica yang mengadakan, tapi malam itu malamnya Butet.

Aku membeli sebuah buku untukku dan sebuah lagi untuk temanku. Beruntung mendapatkan tandatangan Butet di dalamnya. Aku kutipkan secuil bagian buku itu ya, random saja.

p.188

I am especially bothered by the children’s innocent yet fundamental questions. ” Ibu guru, why is the rainforest still disappearing? I thought if we went to school, there would be no need for logging or palm plantations or transmigration projects. I thought education would help us overcome all these problems.” I see parallel to my brother questioning my mother, “Ma, why is there murder and robbery? I thought if people believe in God and practiced their religion, they would not do these bad things.”

Orang-orang rimba dengan pertanyaannya yang mendasar  jadi seperti mengingatkan orang-orang kota ini bahwa banyak hal mendasar yang kita lupakan. Apakah karena kita selama ini hanya berlomba-lomba untuk memuliakan diri kita masing-masing?  Menurutmu? Read the rest of this entry

Ke Timika dengan Mulas

Ke Timika dengan Mulas

2002*

Kantorku (yang lama) menugaskan aku ke Timika. Kurang dari tiga hari berangkat ada kejadian yang membuatku agak kurang semangat buat beraktivitas, stress jadinya dan saat itu aku juga sedang kecapekan. Akibatnya langsung diterjemahkan tubuhku menjadi sakit perut yang enggak bisa sehari sembuh. Konon kecemasan dan stress bisa membuat Escherichia coli jadi bekerja giat dan lebih rajin dari biasanya. Dalam kondisi lemas akibat BAB terus menerus, aku jadi malas makan dan minum, karena apa pun yang masuk segera dikeluarkan lagi, namun aku berusaha minum terus sebab aku enggak mau dehidrasi, been there that way dan enggak enak. Mulut terasa pahit. Kebiasaanku jika sedang diare aku enggak mau minum obat apa pun, biasanya cuma minum air putih atau teh pahit saja sampai seluruh “racun” keluar dan aku insyaallah sembuh.

Kurang dua hari dari perjalanan ke Timika, sakitku enggak kunjung sembuh. Gimana mau sembuh kalau pangkalnya di pikiran dan hati yang sedang enggak pas. Mengingat penerbangan ke sana bakal cukup lama mengapung di udara plus tugas yang mesti kujalankan di sana, aku berpikir keras agar  segera sehat, aku butuh energi untuk melakukan semua kegiatan yang direncanakan di sana, tidak bisa lemas seperti sekarang. Maka diluar kebiasaanku aku pergi ke dokter.  Ini kali kedua karena diarea aku pergi ke dokter, yang pertama mesti ke ICU segala karena keracunan kerang dan itu sudah ribuan tahun yang lalu.

Dokter L yang memeriksaku memberiku beberapa jenis obat, mulai dari untuk memampetkan diarea sampai untuk mengatasi muntah dan kembung. Ada empat jenis yang mesti ditebus. Demi perjalanan ke Timika, aku tebus semua (lagian dibayar kantor ini) dan aku minum sesuai anjurannya. Hasilnya di hari berikutnya persis ketika malamnya aku akan terbang, aku makin lemas, kaki dan tanganku rasanya dingin. Aku rasa lama kelamaan obat-obatan itu malah akan membunuhku. Read the rest of this entry

Bertemu Minah di Leuser

Bertemu Minah di Leuser

Mei 2011.

Selepas dari Nias,  aku dan teman-teman fotografer berpisah di bandara Polonia. Ada yang kembali ke Jakarta langsung, ada yang masih akan hunting kuliner di Medan, ada yang kembali ke Kuala Lumpur, Padang dan sebagainya. Kami berpisah setelah perjalanan yang membuat kami semakin dekat. Aku sendiri bergegas ke counter hendak mencari tiket untuk beberapa hari mendatang karena aku masih hendak melanjutkan perjalananku sendiri ke Bukit Lawang dan Samosir.

Namun rupanya seorang teman yang penasaran dengan ceritaku tentang Bukit Lawang ingin mengikutiku. Ia berencana akan tinggal semalam, hanya ingin tahu seperti apa Bukit Lawang, jadi ia tidak jadi balik ke Jakarta hari itu. Ia beli tiket untuk besok siang. Ada untungnya, aku bisa sharing ongkos sewa mobil dari Medan ke Bukit Lawang, tak lupa aku kontak Wawan, pemilik On The Rock untuk bertanya apakah ada satu lagi kamar yang bisa kami booking untuk temanku itu.

Sebuah panther tua membawa kami melewati kota-kota kecil sebelum pemandangan berubah menjadi kebun sawit di kanan kiri sampai akhirnya pengemudi yang belakangan aku tahu seorang mantan dosen di sebuah akademi pariwisata, pemandu wisata dan mantan penyelundup imigran,  memberi tahu kami akan segera memasuki kawasan Bukit Lawang di salah satu sudut Taman Nasional Gunung Leuser. Di tempat parkir umum, kami sudah dinanti salah satu anak buah Wawan. Aku nggak kaget yang jemput kami bukan seperti petugas hotel yang kikuk dengan seragamnya, ia pakai jeans bolong yang dilipat dikit ujungnya, T-Shirt putih lusuh dan pakai sendal jepit,  sangat bersahaja, kesannya seperti pulang ke rumah saja.  ”Mbak Yoga?” sapanya. Read the rest of this entry

Siap-Siap Bagi Buku Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri 2012

Siap-Siap Bagi Buku Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri 2012

Siap-siap BAGI BUKU BAGI ILMU Bagi Anak Negeri 2012 yuks!

Alhamdulillah setelah sukses dengan kegiatan mendirikan rumah baca dan mengajak 64  anak-anak dan 8 guru sekolah dasar negeri 06 Pinang Belapis, desa Sungai Lisai, kecamatan Rebong, Bengkulu bermain dengan sains di alam terbuka, maka komunitas kami 1N3B bersiap-siap untuk mendirikan atau membantu rumah baca lagi di tahun 2012 ini.

This slideshow requires JavaScript.

Kegiatan ini adalah komitmen kami untuk menjawab persoalan pendidikan dan akses ilmu pengetahuan yang masih bersekat-sekat di negeri ini. Menurut kami sudah selayaknya pendidikan harus bebas sekat, baik sekat geografis, agama, ras,  dan golongan sosial bahkan jika perlu semestinya bebas sekat biaya juga.

Kami mengakomodasi siapa pun yang memiliki persamaan visi dan misi dengan kami. Jika sahabat tertarik, silakan berpartisipasi dalam kegiatan 1N3B.  Di tahun 2012 ini kami akan bergerak kembali. Sambil mempersiapkan lokasi target, kami mulai menyiapkan buku-buku yang akan jadi pengisi rumah baca. Setiap rumah baca setidaknya akan menerima 1000 buku dari 1N3B.

Nah, sahabat 1N3B yang akan menyumbang buku silakan menyiapkan buku bacaan anak usia TK-SMP dan buku-buku ketrampilan dan pengetahuan untuk orang dewasa.

Posko penerimaan buku @1N3B_ID 2012:
Fahri | Jalan Anggrek IV no. 15 Kav. Pedongkelan – Cengkareng Indah Jakarta 11720 | HP 085717356666

Donasi bisa disampaikan ke BCA Cabang Menara Bidakara ACC 45000 84311 a/nYuniarti Purwandini e: miss.oengoe@gmail.com | HP 085697702970

Untuk informasi yang lebih detail silakan kontak Sandrina 0816876060 atau sila langsung tanya di site ini. Aku dengan senang hati akan menjawabnya.

email: satun3b@gmail.com
ikuti kami di twitter: @1N3B_ID
facebook: http://on.fb.me/HzJX1e
website: http://1n3b.org/

Berilah aku pendidikan & kami akan bangkit sebagai bangsa yang memiliki cita-cita.~RA. Kartini

Salam 1N3B!

Teaser:-

Petualangan volunteer kami ketika akan mendirikan rumah baca di desa Sungai Lisai, Bengkulu.

Memori yang Meleleh di Aceh

Memori yang Meleleh di Aceh

Banda Aceh mengalami gempa besar lagi dan berpotensi tsunami hanya beberapa hari yang lalu dan saat ini gempa susulan masih kerap terjadi dengan intensitas yang lebih kecil. Aku baru mengetahui kabar itu  kira-kira empat jam setelahnya. Awalnya pesan singkat dari sepupuku yang bertanya dimana posisiku, apakah masih di Banda Aceh? Kelak aku bersyukur saat itu aku enggak menjawab dengan lelucon atau becanda hanya merasa aneh tiba-tiba dicek seperti itu. Kejanggalan kedua, sebuah pesan dari kolegaku yang bertanya apakah Pak Fulan, vendor kami di Aceh baik-baik saja. Seketika kuhubungi Pak Fulan namun tidak berhasil.  Aku berpaling ke teman-teman yang duduk di belakangku dan barulah semuanya terjawab. Ada gempa besar lagi di Aceh. Duh.

Aku memang belum lama kembali dari Banda Aceh.  Seperti biasa hanya sedikit yang tahu kemana aku pergi dan lebih sedikit lagi yang tahu aku udah balik atau belum. Bukan, bukan karena enggak mau berbagi oleh-oleh seperti lazimnya orang Indonesia, hanya karena menganggapnya enggak penting aja buat orang-orang untuk menerima informasi kemana, dengan siapa atau kapan pergi, kapan pulang ketika aku travelling. Buatku paling penting ngasih tahu keluarga inti saja. Dulu aku lebih santai, mau pergi, pergi saja, enggak kasih tau siapa-siapa. Saat itu bisa saja semua orang berpikir aku tenang-tenang di Jakarta misalnya, padahal aku lagi di negeri jiran selama beberapa hari dan enggak ada yang tahu. Namun seiring dengan semakin seringnya perjalanan terutama karena pekerjaan, rasanya enggak fair juga kalau enggak ngasih tahu keluarga inti karena aku bagian tanggung jawab mereka. Maka pesan dari sepupu yang mengkhawatirkanku tadi terjadi sebab Read the rest of this entry

Back to Basic

Back to Basic

Pada saat menuliskan ini sesungguhnya aku sedang kelimpungan sendiri, memikirkan “rationale” atas tema yang akan kami usulkan untuk brand activation suatu produk. Tema ini mesti menjadi benang merah dan bisa dikomunikasikan ke target dengan enak. Mengapa kelimpungan sendirian? Diskusi dengan semua pihak yang terkait usai dilakukan ini jadi ini sekarang bagianku memang, mengubah ide lisan agar menjelma menjadi tulisan dan ini bukan pekerjaan semalam. Ngomong-ngomong tentang semalam, malah menggiring ingatanku pada Cinderella, aku berharap apa yang kami hasilkan ini kelak nggak cuma jadi seperti “pesta semalam” dan keesokannya semua kembali pada realita sehari-hari, harapannya justru jadi bagian dari realita itu, lekat pada keseharian.  Dan bukankah hal seperti ini yang memang diharapkan dalam komunikasi merk? Menjadikan customer kembali dan kembali, loyal dan setia seperti loyal dan setianya kita pada udara dan air.

Dan kalau sudah kelimpungan seperti ini,  aku merasa harus berhenti, tarik nafas dan mencari “bunyi-bunyian” yang cocok untuk membuatku lebih fokus dan terarah. Beneran udah jadi “audio slaves”,  hampir tiap saat ada musik yang diputar kecuali pas aku benar-benar ingin “diam” dan mendengarkan bunyi-bunyi alami di sekitarku. Saat menulis ini “Home”-nya Michael Bubble sudah diulang dua-tiga kali (entah berapa kali sebenarnya), aku jadi teringat ada suatu masa aku mendengarkan lagu ini dengan sangat khusyu sampai nggak terasa menangis meski enggak sampai terisak. Saat itu seorang dokter memberikan diagnosa yang rada mengejutkan. Secara sadar aku santai dan realistis menyikapi diagnosa tersebut, namun rupanya alam bawah sadarku memberi statement yang berbeda. Keluarnya air mata itu adalah buktinya. Read the rest of this entry

I Pray for You!

I Pray for You!

Kangen menulis, menulis apa saja seperti kecerobohan seseorang yang menumpahkan beras di hari hujan sehingga jejaknya terbaca olehku, atau kabut yang sedang menyelimuti tempat tinggalku saat ini, sehingga menyisakan pemandangan serupa misteri, bulan purnama, kabut dan rumah yang terpencil, atau menulis memori kecil seperti ini;  seseorang di pinggir terminal keberangkatan internasional yang berseru padaku, “I’ll be back, take care!” dan sampai kini aku enggak tahu kapan ia akan datang kembali, dan sayangnya itu bukan adegan sepasang kekasih. Sebab jika sepasang kekasih, yang berseru tak akan sambil berlari dan yang diseru enggak cuma meringis sambil bergegas kembali ke tengah kota sebelum disergap kemacetan yang khas, yah maksudku barangkali adegannya lebih heboh lagi dan aku nggak akan cerita di halaman ini haha.

Atau memori kecil lainnya, seseorang yang berjanji akan menemukanku di Facebook sebagai ungkapan entah apa, mungkin karena ia telah merasa aku bantu dan ingin tetap terhubung meski koordinat kami bergeser terus, ketika pada akhirnya aku yang “menemukannya”, sengaja aku menyisakan ruang baginya untuk minta di-add, praktis seperti ia yang menemukanku seperti janjinya dulu. Permintaan yang agak istimewa mengingat, sebenarnya ia tidak seperti manusia lain yang sering buka aplikasi itu, namun ya begitulah Facebook menyediakan dirinya sebagai benang agar kami tetap terhubung setidaknya untuk menyambung silaturahmi, dulu kami kolega kini kami berteman, lebih personal.

Hal-hal kecil seperti itu, sesungguhnya sukses membuatku merasa bahagia. Bahagia kecil-kecilan dan kalau lagi senang dengan royal akan kubagi pada kalian lewat tulisan. Kelak pas lagi “bener” mungkin nyesal, ih nulis apa sih dulu haha… Intinya gini, mungkin aku ini lebih sensitif atau memang sudah selayaknya demikian jika mengalami hal-hal seperti itu atau enaknya ditulis ketika tersentuh, enak gila, hadeh apaan sih haha.. Banyak hal-hal kecil yang seringkali terjadi begitu saja pas aku jalan dengan teman, kolega atau sekadar kenalan yang barangkali luput dari mereka, enggak disengaja tapi berbekas di hati.  Aku rasa semua juga pernah mengalaminya.

Hal-hal seperti itu biasanya kuendapkan dalam hati, dan ada masanya tiba-tiba teringat, seperti misalnya saat adzan magrib ditengah kemacetan otomatis akan mengingatkan aku pada kejadian kecil akhir tahun lalu di Jakarta. Saat itu aku dan kolegaku, seorang warganegara Jepang sedang terjebak macet parah,  rasanya kami sudah stuck satu jam lebih namun masih jauh dari tujuan berikutnya. Mendadak ia membuka jendela mobil. Ia berkata, “Dimana suara yang biasanya terdengar jam segini.” Read the rest of this entry

Selamat Pagi!

Selamat Pagi!

Selamat pagi hujan!

Yang tiba berganti-gantian sedari jam 3 dini hari tadi. Yang dengan halus mempersilahkanku berdiam di rumah alih-alih menikmati bersepeda pagi bersama seorang teman sehingga aku absen mendengar celotehnya yang selalu riang minggu ini.

Selamat pagi kabut!

Yang menari gemulai, merengkuh sisa rintik hujan bersama angin yang dingin. Yang menghalangi sinar mentari hingga waktu serasa berhenti di pukul enam pagi.

Selamat pagi kawan!

Yang telah menorehkan jejak dalam hati, yang memberi pengertian hidup tak selamanya sama. Yang menerbitkan rindu di dalam hati, yang memompakan semangat meski kadang jalan yang kita tempuh mendaki dan kerap kita saling bertanya dalam bisu, mengapa jalan susah ini yang kita tempuh? Asketik? Aku hanya bisa tersenyum, tak bisa menegaskannya dengan kalimat secuil pun, tak bisa selugas Alicia pada Nash*: Ini yang disebut hidup, John, kegiatan tersedia, hanya tambahkan makna!

Selamat pagi semuanya!

Yang telah menemukan rasa syukur, setidaknya atas dua hal: hari ini matahari masih terbit dari timur, dan Tuhan mengajak kita merayakan Redite ini dengan bersahaja.

Tabik!

Y.A.

 

 

*It’s called “life,” John. Activities available; just add meaning ~ Alicia to John Nash in Beautiful Mind, movie.

Redite : hari minggu.

Want-to-Go 2012

Want-to-Go 2012

Orang-orang bermimpi namun hanya beberapa yang kemudian terjaga dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Kalimat ini terjemahan bebas dari versi aslinya yang berbahasa Inggris. Jika engkau merasa tertampar, Itu artinya engkau masih bermimpi, masih tidur. Berbicara tentang mimpi, aku menemukan artikel di The New York Times yang memberikan rekomendasi pada pembacanya 45 tujuan untuk pejalan di 2012. Sayangnya sama sekali enggak menyebutkan Indonesia. Padahal Indonesia punya banyak tempat yang cantik. Kalau ingat gencarnya kampanye Komodo dan rekomendasi NYT ini kira-kira apa yang terpikir olehmu? Ah sudahlah. Sudah bukan rahasia lagi kalau banyak hal-hal yang kurang tepat di negeri ini lagipula rekomendasi NYT bukan berarti harus jadi patokan mutlak biarpun NYT tergolong media yang banyak dibaca orang.

Kalau dulu aku pernah menulis sekilas tentang 1001 Places to Visit Before I Die dan kemudian iseng-iseng aku kaitkan dengan mimpi jalan-jalan di 2012, huh aku jadi rada galau. Bukan, aku enggak bermaksud membatasi mimpi dan membatasi diri namun kenyataannya di 2012 ini kosentrasiku mesti dijauhkan sedikit dari jalanan. Tapiii… mimpi saja bolehlah, sambil bermimpi sambil bersiap-siap menghadapi mimpi yang jadi kenyataan. Jadi kalau ditanya apa daftar want-to-go-ku di tahun 2012, dengan ringan aku akan menyebut…. (aku sudah menyebutnya dalam hati). Kira-kira apa hayo? ;)

Aku menyebutkan dua-tiga kota, Read the rest of this entry