Category Archives: Aksi

Tentu harapannya, setelah membaca tulisan dengan kategori ini, muncul aksi dari diri anda.

Ngadulanggi, Woka Ngipaajar

Ngadulanggi, Woka Ngipaajar

Nggara ulam! Hai!

Tanggal 28 Juli 2010, saya dan 19 orang lainnya bergerak dari beberapa kota (Jakarta, Denpasar, Malang, dan Waikabubak) menuju kota Waingapu di Sumba Timur, NTT.  Dari sana kami kemudian bergerak menuju desa Ngadulanggi di kecamatan Nggaha Oriangu via jalan darat yang harus ditempuh kurang lebih selama 4 jam. Konturnya yang berbukit-bukit dan minimnya prasarana jalan membuat dua buah truk yang kami tumpangi harus berjalan hati-hati. Walhasil kami tiba di sana sekitar jam 7 malam. Insiden kecil sempat terjadi, salah satu truk kandas di sungai kecil dekat sekolah, SDN Ngadulanggi yang akan menjadi base camp kami selama dua hari tiga malam kedepan.

Tiba di SDN Ngadulanggi, kami langsung disambut tabuhan gong dan tarian selamat datang. Suasana gelap gulita hanya ada beberapa pelita. Memang listrik belum menjangkau ke sana. Menilik kondisinya yang begitu terisolir di antara ratusan bukit, minim air, tanpa listrik, tanpa ketersediaan fasilitas pengobatan dan sulitnya komunikasi selular betul-betul menjadikan daerah ini adalah lokasi sempurna bagi kegiatan komunitas kami. Meski dari awal kami telah mengetahui terisolirnya daerah ini, tak urung ketika melangkah ke sana, terbersit pertanyaan asal muasal adanya manusia yang hidup di lokasi seperti itu. Konon kisahnya daerah tersebut adalah lokasi orang-orang Sumba mengasingkan diri di masa lampau karena telah berbuat kesalahan. Jadi semuanya terasa masuk akal.

Selama dua hari berturut-turut kemudian, kami melaksanakan kegiatan sosial bertajuk, Bagi Buku Bagi Anak Negeri 2010. Kegiatan utama kami ada empat yaitu mendirikan rumah baca Woka Ngiapaajar  (nama ini berarti kebun atau ladang tempat belajar) yang diisi sekitar 2.000 koleksi buku, mengajarkan permainan sains di alam terbuka dan melakukan penyuluhan kesehatan serta pengobatan masal. Pokok kegiatan kami yang terakhir baru dijalankan sepulangnya kami dari sana, yaitu pembangunan bak penampungan air hujan, untuk meringankan beban penduduk desa Ngadulanggi di saat musim kemarau.

Saya merasakan perjalanan ke Ngadulanggi adalah salah satu perjalanan favorit saya, barangkali itu pula yang dirasakan teman seperjalanan sesama volunteer.  Alamnya begitu indah kalau pun diulang tak akan rugi tapi yang lebih penting dari itu adalah rasa syukur menyaksikan kegembiraan warga Ngadulanggi saat kami di sana. Mereka bahkan tak menyangka jika kegiatan yang kami sampaikan niatnya pertama kali pada 19 Maret 2010 itu akhirnya terlaksana. Saya juga melihat antusiasme yang luar biasa dari warga desa Ngadulanggi dan kerap terkesiap dengan kearifan-kearifan yang tanpa sengaja keluar secara intuitif dari mereka selama proses komunikasi kami. Saya pikir barangkali ini hasil pengejawantahan ajaran leluhur mereka yang dilestarikan  seisi desa. Ketika berinteraksi dengan bapak kepala desa setempat, Umbu Karipiwiruhi, saya terkesan dengan kecerdasan dan sense of humor yang luar biasa untuk ukuran daerah yang begitu terpencil. Melihat segala keterbatasan mereka, saya kira rasa humor yang tinggi mutlak dibutuhkan begitu pula dengan rasa ikhlas dan sabar.

Tanpa bermaksud tinggi hati, bisa dikatakan ini adalah perjalanan yang bergizi tinggi. Bagi saya perjalanan itu dimulai sejak awal tahun, disaat kami baru mulai dan perjalanan itu belum selesai. Masih ada remah-remah pekerjaan yang harus kami selesaikan, masih ada kewajiban yang harus kami tunaikan terutama pertanggungan jawab kami kepada para sahabat yang telah berjibaku mendukung kami. Ada Oscar Motuloh, ada Arbain Rambey, ada Ari Malibu, ada puluhan atau mungkin ratusan orang yang terlibat, dan ada berbagai korporasi maupun institusi yang berpartisipasi, ada kedutaan Amerika dan Serbia yang mengirimkan buku-buku untuk penduduk Ngadulanggi dan ada Tuhan YME yang selama ini tak pernah melepaskan kami berjibaku sendirian.

Dan tentu saja, ada room for improvement yang tersisa, kami, eh saya harus membuat gap itu semakin sempit tentunya. Ah, Ngadulanggi memang woka ngiapaajar. Lundu tapa hambur! Sampai bertemu kembali!

This slideshow requires JavaScript.

Ke Tanah Marapu

Ke Tanah Marapu

Hai!

Setelah lama tak punya kesempatan untuk up date, hari ini aku kembali untuk kebaikan (halah!). Ceritanya, lagi-lagi aku menemukan diriku “duduk” diantara teman-temanku di komunitas 1N3B, yang belum tahu apa itu 1N3B, kau bisa cek di sini, atau singkatnya 1N3B adalah singkatan dari 1 Nusa 1 Bangsa 1 Bahasa 1 Bumi, yaitu kumpulan orang-orang seide yang diawali dari teman-teman di milis Pangrango yang bergerak dibidang pendidikan, khususnya untuk membebaskan anak-anak Indonesia di daerah terisolir dari sekat-sekat yang menghalangi mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Di posting sebelum ini, aku udah sempat menuliskan sedikit rencana progam kami di tahun 2010, apalagi kalau bukan ingin mendirikan rumah baca, memperkenalkan pendidikan sains di alam terbuka, menanamkan kecintaan pada lingkungan hidup dan berupaya memperkenalkan hidup sehat serta mengurangi sedikit beban kesehatan masyarakat, hmm… istilah lazimnya adalah bikin penyuluhan kesehatan dan balai pengobatan gratis. :) )

Rencananya, kami, insyaAllah akan menuju tanah Marapu di tengah-tengah savana, daerah semi ringkai tropika (semi arid) yang kekurangan air, sehingga untuk melaksanakan tradisi kami, yaitu belajar mengetahui prinsip roket air mungkin akan sulit dilaksanakan, dan anak-anak mungkin lebih senang belajar termodinamika, misalnya dengan membuat es krim putar… m e s k i p u n juga agak sulit mengingat bahan dasar es putar mungkin sulit ditemukan di sana. Tetapi menurut Fedi, salah satu penggerak 1N3B, “Bayangkan, betapa bahagianya nak-anak yang tinggal di daerah sepanas itu ketika melihat es krim!” .  Bagi kami, senyum anak-anak itu bak oase di tengah gurun pasir yang bermunculan dihati akibat kehidupan kota yang sedemikian kerasnya (beneran ini :) ). Well, tanpa dua permainan itu, masih banyak alternatif untuk permainan dan belajar sains di alam terbuka untuk anak-anak.

Bulan Juli 2010, insyaAllah pada saat itu, volunteer kami siap bergerak ke sana, berbondong-bondong seperti kafilah siap menempuh perjalanan melalui udara dan laut, sebagian besar akan bergerak dari Jakarta menuju Waingapu, sebelum dilanjutkan menuju desa Ngadulanggi, kecamatan Nggaha Oriangu, di Sumba Timur tempat seluruh kegiatan yang aku sebutkan di atas akan dilaksanakan.

Saat ini, kami membuka pintu lebar-lebar untuk sahabat 1N3B yang berminat menjadi volunteer terutama bagi para dokter.  Syaratnya tidak berat, sehat jasmani dan rohani sudah mutlak, memiliki misi dan visi yang sama itu harus, bersedia bekerja keras, itu sudah. Sementara syarat yang lain adalah bersedia membiayai perjalanan masing-masing. Berminat? Layangkan profil dan sedikit “love letter” pada kami melalui email satun3b(at)gmail.com.

Ehm, kalau kau nggak ingin jadi volunteer tapi ingin jadi donatur saja juga bisa kok, silahkan baca tulisan yang ini ya supaya nggak salah, sayangkan kalau sumbanganmu nyasar nggak tentu rimbanya. Bagaimana kalau belum bisa donasi dalam bentuk fisik dan materi? Mudah, doakan saja kami agar berhasil dan selamat. Terimakasih kawan. :)

Hugs!

-Agoy Yoga-

Bagi Buku – Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri – Tempat Penerimaan Buku 2010

Bagi Buku – Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri – Tempat Penerimaan Buku 2010

Sahabat 1N3B yang tercinta,
Tahun lalu ketika kami bertekad mendirikan rumah baca di desa Madobag, Mentawai, kami membuat target untuk mengumpulkan 1.000 buku dalam jangka waktu kurang lebih tiga bulan. Pada awalnya kami cukup was-was karena sampai bulan kedua, jumlah buku yang terkumpul masih jauh dari harapan. Baru pada akhir tenggat waktu yang diberikan, berangsur-angsur buku-buku yang kami perlukan datang. Sungguh lega rasanya.

Pada akhirnya kami berhasil mengumpulkan 1552 buku atau 1401 judul buku untuk rumah baca Tuddukat, demikian nama rumah baca di desa Madobag tersebut Bisa dikatakan sebagian besar buku-buku tersebut adalah sumbangan dari donatur dan hanya 281 buku yang sengaja kami beli, semata untuk melengkapi koleksi agar sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan oleh masyarakat desa Madobag.

Untuk tahun ini sekali lagi, kami sampaikan kriteria buku sumbangan yang dibutuhkan:

  1. Buku pelajaran Sekolah Dasar untuk kelas 1 sampai 6, sesuai kurikulum yang sedang berlaku
  2. Buku pemberdayaan masyarakat ( buku pertanian, peternakan)
  3. Buku pengetahuan umum (kamus, ensiklopedia, buku sejarah umum, buku kesehatan)
  4. Buku agama
  5. Buku ketrampilan untuk anak-anak
  6. Buku ketrampilan untuk ibu-ibu
  7. Buku cerita anak-anak
  8. Buku pendidikan untuk anak usia dini
  9. Atlas

Dan peta dinding yang menggambarkan Indonesia dan dunia.

Kepada sahabat 1N3B yang ingin menyumbangkan buku, disarankan agar menyumbangkannya dalam kondisi sudah disampul dengan menggunakan plastik bening. Hal ini akan sangat membantu kami.

Berikut lokasi drop box buku, ada beberapa tambahan point yang diharap bisa mempermudah sahabat:-

Jakarta Pusat

Sita

Wisma GKBI

Jl. Jend. Sudirman Kav. 28

HP 081389639889

Jakarta Selatan

Susan

Graha Parama Lt. 2

Jl. KH A. Dahlan No. 69a-b

HP 081331002998

Taufan * hanya saat akhir pekan

Jl Warung Silah, GG Haji Sa’aman Rt 003 Rw 04 no 68

Cipedak 12630

HP 0811987944

Anna Oesmani

Komplek Timah no. 1

Jl. RS Fatmawati

Bogor

Adit

Jl. Ardio putran no. 54

Bogor Tengah

Bogor 16124

HP 08561478863

Bekasi

Agli

Jl.P.Kalimantan Raya No.17 Rt.003 Rw.016

Aren Jaya

Bekasi Timur.14111

Jawa barat

HP 08567186745

Bandung

Emma

Jl. Cukang Kawung 210

HP 08156209699

Yogjakarta

Yoyon

Jl. Sawitsari 208, Miliran

HP 081586195707

Jika sahabat kemudian bertanya, jadi berapakah target buku untuk tahun ini? Jawabnya untuk satu rumah baca, targetnya paling sedikit memiliki 1000 buku. Kemudian pertanyaannya adalah, sudahkah sahabat mulai bergerak? Ayo tunggu apalagi?

Curhat Tentang Buku

Curhat Tentang Buku

Dulu ketika masih kecil, aku sering sekali berangan-angan untuk memiliki perpustakaan sendiri kelak ketika sudah besar, ketika sudah memiliki penghasilan sendiri yang bisa ku-share dengan siapa saja yang ingin membaca koleksiku. Tentu itu didasari oleh rasa cinta pada buku yang sudah tumbuh saat itu. Rasa cinta yang tumbuh karena melalui buku, kakiku bisa melangkah kemana-mana, dengan buku penglihatanku bisa memandang kepenjuru dunia bahkan terbukalah jendela semesta, jadi bagiku buku adalah jendela dan pintu ke semesta, bahkan mesin waktu yang siap membawaku berkelana ke masa lalu maupun menerawang ke masa yang akan datang dan aku ingin orang lain juga merasakannya.

Barangkali rasa cinta itulah yang kemudian tanpa sadar membawaku pada situasi yang kualami sekarang. Dimana aku aktif dalam beberapa kegiatan yang tanpa kusadari tidak jauh-jauh dari buku. Setelah kegiatan komunitas 1N3B  mendirikan Rumah Baca dan pengenalan sains di alam terbuka, di desa Madobag, Mentawai beberapa waktu lalu. Lagi-lagi aku menemukan aku terlibat di kegiatan yang nyaris serupa meski tujuan utama kegiatan kali ini adalah trauma healing, pasca gempa Jawa Barat.

Kali ini dengan beberapa anggota komunitas 1N3B bekerja sama dengan komunitas 1001 Buku dan beberapa komunitas lainnya (termasuk didalamnya ibu rumah tangga, pekerja sosial, traveller, penggemar photography dan sebagainya) yang menyebut komunitas baru ini sebagai komunitas Merah Putih, aku turut mempersiapkan pendirian Pojok Belajar dan kegiatan utamanya sendiri berupa trauma healing yang kebanyakan kegiatannya berupa kegiatan gerak dan bermain. Ketika mempersiapkan Pojok Belajar itulah, aku dan beberapa teman yang juga terlibat di kegiatan sebelumnya di Madobag, makin menyadari betapa kami sangat menikmati kegiatan kami seputar penyortiran buku, pembelian buku-buku baru, penyampulan, pencatatan dan packing buku-buku untuk anak-anak Sekolah Dasar tersebut. Betapa tidak, kami kerap menemukan buku-buku, komik-komik yang kami akrabi di masa lalu yang bisa membuat kami histeris. Memang sih beberapa buku atau komik masih bisa ditemukan di toko buku bekas, tapi ketika menemukannya di antara tumpukan buku sumbangan yang berdebu dan berbau apek disaat persiapan yang biasanya dekat dengan hari H, maka spontan itulah reaksi kami. Read the rest of this entry

Sokola Binatang-Binatang

Sokola Binatang-Binatang

Dalam sebuah diskusi singkat disebuah pelatihan, terlontar sebuah metafora “sekolah kebun binatang” untuk menggambarkan betapa buruknya pola pendidikan yang berlaku di Indonesia. Betapa selama ini kebanyakan lembaga pendidikan di Indonesia cenderung lebih menekankan pada pengembangan otak kiri yang dikenal sebagai bagian otak yang berfungsi untuk pemikiran logis. Betapa pendidikan yang mendorong kreativitas terabaikan begitu lama.

Apa sih sekolah binatang-binatang atau sekolah kebun binatang? Sebuah sekolah sama halnya dengan sebuah kebun binatang yang berisi berbagai jenis hewan. Ada “harimau”, “burung”, “ikan”, “itik”, “domba”, dan sebagainya yang bersekolah lantas masak iya sih, pola pendidikan dan target tiap “binatang” bisa disamaratakan? Apa hasilnya kalau ikan dipaksa terbang dan burung dipaksa berenang? Kura-kura dipaksa berlari melawan kuda? Apakah dengan sayapnya yang kokoh seekor elang bisa menyaingi ikan nemo di dalam air? Sebaliknya apakah nemo bisa terbang setinggi elang? Nah, sudah dapat maknanya kan? Silahkan diartikan untuk banyak hal yang terkait dengan bagaimana bangsa kita telah dididik selama ini. ;)

Hmmm.. rambut boleh sama-sama hitam, tapi isi kepala berbeda. Saya jadi mencoba membayangkan apa jadinya seorang Einstein yang begitu jenius dan disebut kejeniusannya tersebut hanya menggunakan kurang dari 10% kapasitas otaknya ketika kecil dipaksa untuk menjadi penyanyi misalnya, atau seorang Affandi dipaksa untuk jadi seorang teknisi, alih-alih memperdalam seni lukis. Mungkin kita tak pernah mengenal nama mereka ya?

Sesungguhnya saya tidak menampik teori yang mengatakan bahwasanya manusia berpotensi mengembangkan kedua belahan otaknya dengan sama baik dan sama hebat, dan mengagumi Leonardo Da Vinci yang terbukti mampu mengembangkan kemampuan logika dan kreatifnya dengan seimbang. Alangkah prihatinnya saya karena hal yang baik ini belumlah nampak diaplikasikan dalam pola pendidikan yang umum di negara kita ini.

Alhamdulillah, ternyata banyak yang merasa prihatin dengan kondisi ini sehingga beliau-beliau yang memiliki kelebihan dan kesempatan yang lebih baik “memberontak” dan memberikan alternatif. Sebutlah sekolah-sekolah khusus seperti sekolah-sekolah alam yang mulai mudah ditemukan, sampai konsep home schooling yang mulai akrab ditelinga kita. Tapiii…(lagi-lagi terpaksa menggunakan kata “tapi”),  sedihnya semua yang saya sebutkan masih eklusif.

Kerisauan ini saya sebutkan di akun Facebook saya. Betapa bahagianya saya ketika beberapa teman menanggapi secara serius, kebanyakan beliau-beliau ini adalah para orang tua yang pernah dilanda kebingungan dalam memikirkan pendidikan yang terbaik bagi putra-putrinya, dan betapa bahagianya ketika salah satu teman optimis akan adanya perubahan yang lebih baik dalam dunia pendidikan dengan mengatakan gerakan alternatif tersebut seperti wombat yang terus menggali…

1000 Buku Bagi Anak Negeri-Up Date Pos Penerimaan Buku

1000 Buku Bagi Anak Negeri-Up Date Pos Penerimaan Buku

Kami tunggu partisipasi Anda dalam rangkaian kegiatan “Bagi Buku – Bagi ilmu – Bagi Anak Negeri” berupa donasi buku baru maupun buku bekas layak baca yang telah diberi sampul plastik. Donatur buku diharapkan membantu biaya pengiriman buku. Sebagai informasi biaya pengiriman buku dari Jakarta ke Mentawai Rp. 20.000 per Kg. Buku ini boleh dibubuhi nama dan tandatangan donatur, beserta deskripsi keperluan donasi. Buku dapat dikirim/diserahkan paling lambat pada tanggal 30 April 2009 ke salah satu dari pos-pos penerimaan berikut ini: Read the rest of this entry

Jangan Tidur!

Jangan Tidur!

Kalau diminta menggambarkan diri saya seperti apa, mungkin yang bakalan terpikir pertama kali adalah, saya lebih suka mengerjakan hal-hal yang nggak wajib lebih dulu daripada hal-hal yang wajib, sama nggak? Jadi nggak heran, kalau dulu saya kerap menggunakan SKS (Sistem Kebut Semalam), ketika menghadapi ujian, atau mengerjakan tugas pokok jelang dead line. Tapi, jawaban paling jujur ini nggak bakal bocor, kalau nggak saya ceritakan. Sebab, begitu menyadari kekurangan saya yang satu itu, saya berusaha mengatasinya dengan segala cara. Herannya, jelang detik-detik yang menegangkan, justru saya bisa mengerjakan tugas lain dengan lebih produktif, sebelum benar-benar mengerjakan kewajiban saya yang utama. Seperti malam ini, kepala saya kok malah ngajak bikin tulisan iseng.

Idenya sudah mengambang dikepala sejak dua tiga hari lalu, ketika salah teman saya memampang satu video dari YouTube. Saya suka banget dengan rekaman itu, maka nggak ragu-ragu saya tekan opsi like di-posting teman tersebut. Isinya rekaman permainan gitar Rama Claproth yang menurut saya, stunning, sangat indah. Dan lagu yang dimainkan adalah Indonesia Raya. Kalau ingin menyaksikan, klik langsung di link ini ya. Saking cantiknya, sampai ada yang bilang, Rama yang asli Indonesia ini bermain bak Jimi Hendrix, dan teman yang post di YouTube bilang ” I bleed for Merah Putih”.

rama-claproth_indonesia-raya-anthem-in-blues-w Read the rest of this entry

Bahkan Peramal Pun Tak Tahu Masa Depannya!

Bahkan Peramal Pun Tak Tahu Masa Depannya!

Don’t tell me the future. I’ve learned, unquestionably, that resilience-not prophecy-is the greatest gift.

(Ralph Shrader — Booz Allen Chairman & CEO*)

Berandai-andai, mana yang bakal saya pilih: punya kemampuan pulih dari keterpurukan (resilience) atau punya kemampuan tahu masa depan (prophecy). Maka saya pilih yang pertama.

Kemampuan pulih dari keterpurukan lebih baik dari bola kristal manapun, lebih lagi ketika berbicara tentang kerja keras dan pengalaman. Ya lebih baik tahu belakangan, daripada tahu kejadian di masa depan sekarang. Sebab, jika nasib, destiny membawa pada posisi yang tak enak, maka dengan resilience, seseorang bisa bangkit, berdiri, dan mulai melangkah lagi-dan terima kasih Tuhan, tak ada bagian tubuh manusia yang terbuat dari kaca.

Prophecy, atau pengetahuan akan masa depan, bisa jadi kutukan bagi dunia kerja. Pengetahuan ini bisa menurunkan motivasi, passion, membatasi potensi diri dan lama-lama, membuat manusia mengenyahkan kata “berjuang” dari perbendaharaan bahasa, atau sebaliknya, mungkin juga, kemampuan ini membuat manusia berlomba-lomba memperbaiki nasib jadi lebih baik demi menghindari nasib buruk, dan mungkin sekali dunia menjadi chaos karenanya seperti digambarkan di serial Heroes dan film Butterly Effects.

Barangkali, keinginan memperbaiki nasib adalah hasrat yang mendorong manusia sejak ribuan, atau barangkali jutaan, tahun yang lalu, untuk mencari tahu tentang nasib di masa depan. Mulai dari urusan remeh temeh, kehidupan sosial, hingga urusan bisnis. Mulai dengan bermodal pengetahuan yang tak bisa dinalar, hingga berbagai metode peramalan modern dengan rumusan yang diciptakan manusia dengan segala keterbatasannya, misalnya business forecasting, ramalan epidemi, dan yang paling umum, adalah ramalan cuaca, yang terbukti bermanfaat bagi umat.

Hmh, diluar urusan yang bisa dilogika, tak pernah secuil pun saya ingin punya prophecy, dengan alasan untuk memperbaiki nasib, meski hanya untuk sekadar iseng, membaca ramalan zodiak misalnya. Untuk urusan kerja keras, saya sependapat dengan Ralph Shrader, saya tak perlu tahu masa depan sekarang, bahkan saya tak yakin seorang peramal pun tahu masa depannya sendiri dengan pasti.

Saya bersyukur bahwasanya manusia dianugerahi resilience, sehingga sebenarnya sudah ada daya dan sarana dari diri sendiri, untuk menghadapi, apapun yang dibawa oleh masa depan, dan hebatnya kemampuan ini bukan semata diturunkan, melainkan bisa diusahakan. Dalam pandangan saya, resilience adalah modal untuk mengatur nasib, dan menghindarkan manusia dari kesia-siaan: berpangku tangan menunggu takdir. Lihat betapa Tuhan sungguh fair pada kita.

Dan terakhir, ijinkan saya mengutip kalimat Ralph yang lain, untuk menutup tulisan ini:

I’m convinced we have more control over our destiny by not knowing it-as long as we strive for excellence and have the resilience to make the best of the way things turn out.

Cerah harimu!

Catatan:

Booz Allen telah di-split menjadi dua perusahaan: Booz Allen Hamilton’s dan Booz & Company’s

Booster!

Booster!

Yang mendebarkan sudah lewat. Apaan sih? Hari ini, saya melakukan presentasi achievement 2008 dan inisiatif progam tahun 2009, di kick off meeting perusahaan kami. Yang saya presentasikan hanya sebagian kecil dari seluruh progam yang akan dijalankan oleh perusahaan, tapi bukan berarti kontribusi yang kecil itu tak ada artinya. Nah, yang terpenting sekarang adalah, bagaimana mencapai goal dan Key Performance Indicator, KPI yang sudah di setting ini dengan baik dan kalau bisa, harus melampaui KPI yang sudah disetujui bersama.

Ini dia bagian terberatnya. Apalagi, satu tahun bukanlah periode yang singkat. Segala sesuatu bisa terjadi, anggota tim bisa mengalami demotivasi, kondisi keuangan global tengah mengalami tsunami yang nampaknya dahsyat, cash is the king, bank-bank kehilangan kepercayaan pada nasabah, pasar tak bisa diprediksi as usual, maka bisnis tak kan seperti biasa.

Tapi dibalik setiap krisis, selalu ada peluang. Di saat kondisi dunia bisnis seperti saat ini, ada peluang untuk melengkapi amunisi, saatnya untuk mengisi ulang “baterai”, belajar lagi, meninjau SOP dan sistem yang diterapkan agar lebih efisien, dan sebagainya. Inilah yang kami sebut dengan preparedness for upturn, ketika saatnya tiba, tinggal start dan lari kencang. Ya, ini hal yang biasa, standar yang dilakukan banyak perusahaan, dalam kondisi seperti sekarang. Jadi saya merasa enak saja ketika menuliskan hal ini, di sini.

Dan, satu hal lagi yang ingin saya bagi untuk anda adalah tayangan berikut ini, video: Are You Going to Finish Strong?, pidato seorang manusia besar. RUGI jika tak menonton. Maaf, tadinya ingin di-up load saja ke postingan ini, tapi ternyata sore ini saya jadi fakir bandwidth. Jadi inilah Booster bagi semua!Buzzzzz….



Tembok Penghalang

Tembok Penghalang

Kalau bisa protes, CD Last Lecture-nya Randy Pausch, pasti sudah teriak, muntab, nyaris muntah, karena diputar lagi, d i p u t a r l a g i, d-i-pu-t-a-r-l-a-g-i. Kalau ingin tahu, silahkan melihat di You Tube.

Dan yang sedang berputar-putar di kepala ini adalah mantra seorang manusia ikhlas, yang menginspirasi jutaan manusia:

Tembok penghalang berdiri di sana karena suatu alasan, bukan untuk menghalangi kita. Tembok itu ada untuk memberi kita kesempatan untuk menunjukkan sekuat apa kita menginginkan sesuatu.

Ide baik untuk memulai tahun ini, untuk merealisasikan mimpi-mimpi yang belum tercapai. Tembok penghalang bisa saja ditembus, asal memiliki kemauan yang kuat. Oh, please jangan menelan mentah-mentah kalimat ini, nikmati saja, pelan-pelan.

Satu lagi, tembok penghalang yang paling tak tertembus, terbuat dari daging, dan tembok itu ada di sana untuk orang-orang lain, yang tak terlalu menginginkan sesuatu.

;)