Nggara ulam! Hai!
Tanggal 28 Juli 2010, saya dan 19 orang lainnya bergerak dari beberapa kota (Jakarta, Denpasar, Malang, dan Waikabubak) menuju kota Waingapu di Sumba Timur, NTT. Dari sana kami kemudian bergerak menuju desa Ngadulanggi di kecamatan Nggaha Oriangu via jalan darat yang harus ditempuh kurang lebih selama 4 jam. Konturnya yang berbukit-bukit dan minimnya prasarana jalan membuat dua buah truk yang kami tumpangi harus berjalan hati-hati. Walhasil kami tiba di sana sekitar jam 7 malam. Insiden kecil sempat terjadi, salah satu truk kandas di sungai kecil dekat sekolah, SDN Ngadulanggi yang akan menjadi base camp kami selama dua hari tiga malam kedepan.
Tiba di SDN Ngadulanggi, kami langsung disambut tabuhan gong dan tarian selamat datang. Suasana gelap gulita hanya ada beberapa pelita. Memang listrik belum menjangkau ke sana. Menilik kondisinya yang begitu terisolir di antara ratusan bukit, minim air, tanpa listrik, tanpa ketersediaan fasilitas pengobatan dan sulitnya komunikasi selular betul-betul menjadikan daerah ini adalah lokasi sempurna bagi kegiatan komunitas kami. Meski dari awal kami telah mengetahui terisolirnya daerah ini, tak urung ketika melangkah ke sana, terbersit pertanyaan asal muasal adanya manusia yang hidup di lokasi seperti itu. Konon kisahnya daerah tersebut adalah lokasi orang-orang Sumba mengasingkan diri di masa lampau karena telah berbuat kesalahan. Jadi semuanya terasa masuk akal.
Selama dua hari berturut-turut kemudian, kami melaksanakan kegiatan sosial bertajuk, Bagi Buku Bagi Anak Negeri 2010. Kegiatan utama kami ada empat yaitu mendirikan rumah baca Woka Ngiapaajar (nama ini berarti kebun atau ladang tempat belajar) yang diisi sekitar 2.000 koleksi buku, mengajarkan permainan sains di alam terbuka dan melakukan penyuluhan kesehatan serta pengobatan masal. Pokok kegiatan kami yang terakhir baru dijalankan sepulangnya kami dari sana, yaitu pembangunan bak penampungan air hujan, untuk meringankan beban penduduk desa Ngadulanggi di saat musim kemarau.
Saya merasakan perjalanan ke Ngadulanggi adalah salah satu perjalanan favorit saya, barangkali itu pula yang dirasakan teman seperjalanan sesama volunteer. Alamnya begitu indah kalau pun diulang tak akan rugi tapi yang lebih penting dari itu adalah rasa syukur menyaksikan kegembiraan warga Ngadulanggi saat kami di sana. Mereka bahkan tak menyangka jika kegiatan yang kami sampaikan niatnya pertama kali pada 19 Maret 2010 itu akhirnya terlaksana. Saya juga melihat antusiasme yang luar biasa dari warga desa Ngadulanggi dan kerap terkesiap dengan kearifan-kearifan yang tanpa sengaja keluar secara intuitif dari mereka selama proses komunikasi kami. Saya pikir barangkali ini hasil pengejawantahan ajaran leluhur mereka yang dilestarikan seisi desa. Ketika berinteraksi dengan bapak kepala desa setempat, Umbu Karipiwiruhi, saya terkesan dengan kecerdasan dan sense of humor yang luar biasa untuk ukuran daerah yang begitu terpencil. Melihat segala keterbatasan mereka, saya kira rasa humor yang tinggi mutlak dibutuhkan begitu pula dengan rasa ikhlas dan sabar.
Tanpa bermaksud tinggi hati, bisa dikatakan ini adalah perjalanan yang bergizi tinggi. Bagi saya perjalanan itu dimulai sejak awal tahun, disaat kami baru mulai dan perjalanan itu belum selesai. Masih ada remah-remah pekerjaan yang harus kami selesaikan, masih ada kewajiban yang harus kami tunaikan terutama pertanggungan jawab kami kepada para sahabat yang telah berjibaku mendukung kami. Ada Oscar Motuloh, ada Arbain Rambey, ada Ari Malibu, ada puluhan atau mungkin ratusan orang yang terlibat, dan ada berbagai korporasi maupun institusi yang berpartisipasi, ada kedutaan Amerika dan Serbia yang mengirimkan buku-buku untuk penduduk Ngadulanggi dan ada Tuhan YME yang selama ini tak pernah melepaskan kami berjibaku sendirian.
Dan tentu saja, ada room for improvement yang tersisa, kami, eh saya harus membuat gap itu semakin sempit tentunya. Ah, Ngadulanggi memang woka ngiapaajar. Lundu tapa hambur! Sampai bertemu kembali!
This slideshow requires JavaScript.