Peringatan: Ini sama sekali bukan resensi buku. :p
Berkali-kali aku lihat di socmed atamerica (Pusat Kebudayaan Amerika) ada banyak acara yang menarik di sana. Seperti yang lain-lain, berkali-kali aku enggak bisa hadir meski ada juga acara yang melibatkan kampusku. Sampai suatu ketika temanku yang dulunya salah satu pengajar di Sokola bertanya apakah aku mau turut hadir mendengarkan presentasi Kak Butet (begitu ia memanggil Butet Manurung) sekaligus launching buku The Jungle School. Saat itu aku belum berani janji apa-apa, dan enggak tahu kalau acaranya bakal diadakan di atamerica. Namun beberapa hari kemudian aku pastikan aku akan hadir.
Itulah pertama kalinya aku menginjak atamerica di Pacific Place, SCBD Sudirman. Di kawasan perkantoran, hotel dan pertokoan mewah. Sungguh aku bukan penggemar mall, meski begitu aku bukan alien di PP karena sering ke sana untuk meeting. Itu saja, belum pernah aku sengaja ke sana untuk shopping, barang-barangnya aku suka, harganya yang enggak aku suka.
Itulah pertama kalinya aku melihat Butet Manurung, sosok yang selama ini sudah kudengar dan kubaca dan kukagumi keberhasilannya mendirikan (tahun 2003) dan mengelola Sokola (Sekolah) Rimba secara konsisten, persisten malah, bertahun-tahun sampai sekarang. Bukanlah hal yang mudah ketika Butet Manurung muda memutuskan masuk ke rimba dan memulai mengajari orang rimba membaca dan berhitung, Butet muda adalah orang kota, orang Jakarta dengan segala kemudahannya pada berbagai fasilitas untuk belajar, hiburan dan sebagainya. Dan tentu enggak mudah mengubah life style yang serba modern menjadi serba minimalis karena situasi hutan. Itu sebabnya aku ingin tahu sendiri, apakah pradugaku itu benar?
Itulah pertama kalinya aku dengar sendiri dari Butet, segala dugaanku itu benar. Dengan santainya ia menceritakan itu semua tanpa kesan melebih-lebihkan kesulitan hidup di rimba. Butet membuat hal-hal besar yang ia lakukan seolah-olah sederhana saja, benar-benar pribadi yang besar. Apalagi saat hadir itu dia sama sekali enggak menyinggung kehilangan besar yang baru dialami seminggu sebelumnya, jauh dari keluh kesah.
Malam itu (13 Maret 2012) selain pengalaman Butet yang akhirnya mengantarkan ia ke Australia dan Harvard untuk menambah ilmu, ada beberapa pembacaan buku dan book-signing di toko buku Aksara di lantai atas. Semuanya ini bagian dari acara Bringing Literacy to Indigenous Indonesia: Butet Manurung’s Journey from Jungle to Harvard. Biar atamerica yang mengadakan, tapi malam itu malamnya Butet.
Aku membeli sebuah buku untukku dan sebuah lagi untuk temanku. Beruntung mendapatkan tandatangan Butet di dalamnya. Aku kutipkan secuil bagian buku itu ya, random saja.
p.188
I am especially bothered by the children’s innocent yet fundamental questions. ” Ibu guru, why is the rainforest still disappearing? I thought if we went to school, there would be no need for logging or palm plantations or transmigration projects. I thought education would help us overcome all these problems.” I see parallel to my brother questioning my mother, “Ma, why is there murder and robbery? I thought if people believe in God and practiced their religion, they would not do these bad things.”
Orang-orang rimba dengan pertanyaannya yang mendasar jadi seperti mengingatkan orang-orang kota ini bahwa banyak hal mendasar yang kita lupakan. Apakah karena kita selama ini hanya berlomba-lomba untuk memuliakan diri kita masing-masing? Menurutmu? Read the rest of this entry






