Category Archives: Buku

Buku Catatan Perjalanan Yang Kubaca di 2011

Buku Catatan Perjalanan Yang Kubaca di 2011

Dalam beberapa bulan ini enggak sengaja, aku membaca beberapa buku catatan perjalanan. Beberapa diantaranya sudah kutulis catatannya di blog ini, yang lainnya belum sempat. Ini dia list-nya barangkali berguna untukmu:

  1. Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah – Agustinus Wibowo, mengisahkan suka duka perjalanan penulis ke negara-negara yang namanya berakhiran dengan kata “stan”. Perjalanan ini menguak tentang garis batas yang membedakan nasib manusia di negara-negara yang pernah bersentuhan dengan Sovyet dan mengingatkan garis batas yang selalu kita bawa kemana kita pergi yaitu tubuh kita sendiri. Yang menarik Agustinus melakukan perjalanan ala backpacker dan benar-benar berbaur dengan penduduk setempat, sebagai upayanya untuk mengurai garis batas antara dunia yang dibawanya dan dunia baru yang disentuhnya. Jenis petualangan seperti ini selalu mendebarkan bagiku.
  2. Ekspedisi Jejak Peradaban NTT – Laporan Jurnalistik Kompas. Buku ini aku temukan di Toko Buku Uranus, Surabaya, tepat sehari sebelum aku memulai perjalanan menyusuri Flores via overland, dimulai dari Maumere diakhiri di Taman Nasional Komodo. Oleh karena laporan jurnalistik maka informasi yang dibagi, ditulis dalam format seperti yang kau jumpai ketika membaca koran. Informatif dan faktual karena didasarkan data-data. Yang disajikan adalah tentang kekayaan budaya, menumbuhkan intelektualitas, keindahan alam, ekonomi kemasyarakatan, sosok manusia dan foto-foto yang menggambarkan keindahan NTT baik NTT yang di Flores, Sumba, Soe, Alor maupun NTT yang berada di daratan Timor. Satu hal yang jadi catatan penting dalam buku ini adalah masalah kemiskinan dan ketertinggalan propinsi NTT.
  3. Meraba Indonesia Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara – Ahmad Yunus. Penulis buku ini, Ahmad Yunus adalah seorang wartawan, berdua dengan rekannya seorang wartawan senior Farid Gaban mereka menyusuri pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Indonesia dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi. Perjalanan dimulai dari Jakarta pada Juni 2009 dan berakhir di Jakarta pada April 2010. Aku suka cara Ahmad Yunus menuturkan kisah perjalanannya, orang menyebutnya gaya penulisan jurnalisme sastrawi, cerita antara kesenangan dan kegetiran yang mereka alami teranyam elok.
  4. Wind Rider Menyerempet Bahaya Demi Perdamaian Dunia – Jeffrey Polnaja. Buku ini catatan perjalanan Jeffrey Polnaja seorang pengusaha, penggemar motor besar sebagai orang Indonesia pertama yang keliling dunia dengan motor (besar) seorang diri. Perjalanannya ditempuh dalam waktu 2 tahun 7 bulan. Ia berhasil mengunjungi 72 negara di 3 benua dan kembali ke Indonesia dengan selamat. Meski relatif termasuk perjalanan yang lebih mewah dari apa yang dilakukan oleh Agustinus Wibowo, Ahmad Yunus dan Farid Gaban, namun tantangan yang dihadapinya tak kalah menantang. Bagaimana Jeffrey Polnaja mengatasi setiap hambatan dalam perjalanannya menurutku adalah hal yang paling menarik dari buku ini.
  5. Kedai 1001 Mimpi – Valiant Budi. Sebenarnya agak memaksa memasukkan buku ini dalam kategori buku catatan perjalanan, namun aku mengapreasiasi sekali apa yang dilakukan oleh Valiant Budi aka Vabyo yang menuliskan kehidupannya ketika menjadi barista di Arab Saudi. Semua itu berawal dari ambisinya menulis buku travel dari negeri 1001 mimpi namun dengan cara menjalani kehidupan di sana membaur dengan segenap aspek kehidupannya. Kesempatan itu datang ketika ia diterima bekerja di salah satu jaringan kedai kopi internasional kemudian segala ambisi itu berubah menjadi upaya untuk segera kembali ke tanah air.  Read the rest of this entry

Ride for Peace, Petualangan yang Sarat Inspirasi

Ride for Peace, Petualangan yang Sarat Inspirasi

The road may end, but not our spirit of adventure, brotherhood, and peace. — Jeffrey Polnaja

Aku pernah melihat Jeffrey Polnaja saat tampil di Kick Andy (lho nonton TV? Iya pas lagi nggak di rumah), sebelumnya aku udah baca-baca petualangan beliau ini di website-nya dan media massa. Kang JJ — kok JJ bukan JP? Lagian aku sok akrab yeah? Jadi JJ itu nama panggilan, kepanjangan dari Jurig Jalanan, dari namanya pasti sekilat kamu tahu kira-kira manusia macam apa beliau ini, benar, tukang jalanan. Kang JJ adalah orang Indonesia pertama yang keliling dunia dengan motor besar berpetualang selama dua tahun, ke 72 negara melampaui target awal 45 negara.  Hebatnya, petualangan itu dilakukan seorang diri. Dalam beberapa kesempatan selain dapat suguhan pemandangan alam yang indah dan keramahan penduduk setempat, beberapa kali Kang JJ juga mengalami peristiwa mendebarkan yang bisa berujung hilangnya nyawa, namun pada akhirnya ia berhasil menuntaskan perjalanan dan kembali dengan selamat ke Indonesia.

Enggak diragukan, he is somebody (pastinya) dan ada rasa ingin tahu yang belum tuntas, media TV dan media massa nggak menyajikan kisah petualangannya dengan detil. Maka ketika aku menemukan buku petualangan Kang JJ, “Wind Rider Menyerempet Bahaya Demi Perdamaian Dunia” dipajang di salah satu toko Eiger, langsung saja kubeli. Karyawan toko itu langung nyeletuk, “Di Gramedia nggak ada lho, Mbak.” Entah valid atau nggak infonya, aku memang belum pernah lihat buku ini di toko buku lain. Setelah aku cek di FB Wind Rider Story, buku itu juga bisa diperoleh via toko buku on line.

Tentang petualangan selengkapnya silakan dibaca sendiri bisa di bukunya. Di sini aku hanya akan membuat beberapa catatan yang menarik pikiranku tentang perjalanan ‘Ride for Peace” ini. Read the rest of this entry

Kita Akan Tembus Satu Sekat Lagi!

Kita Akan Tembus Satu Sekat Lagi!

Satu lagi proyek sosial bersama komunitas 1N3B. Komunitas yang terbuka bagi siapa saja, bergerak di bidang pendidikan dan kegiatan melek buku untuk anak-anak di kawasan terpencil di Indonesia. Moga-moga teman-teman berkenan menyebarluaskan informasi ini ke jejaring yang dimiliki. Terimakasih sebelumnya.

Salam hormat,

Y.A.

Kegiatan 1N3B di Ds. Ngadulanggi Kab. Sumba Timur

pada tanggal 28 Juli – 1 Agustus 2010

Foto: Ayie

BAGI BUKU | BAGI ILMU | UNTUK ANAK NEGERI 2011

Sahabat 1N3B yang tercinta,

Dari hari kehari secara kasat mata terlihat bahwasanya pendidikan di Indonesia makin ke langit bukan makin ke Bumi. Pendidikan masih tersekat-sekat baik oleh sekat geografis, suku, agama, ras dan sosial. Pendidikan menjadi demikian ekslusifnya lebih-lebih di kawasan yang terpencil.

Padahal pendidikan adalah kunci utama bagi mayoritas rakyat Indonesia agar terbebas dari kemiskinan. Padahal kita belum lagi mengkaitkannya dengan persoalan-persoalan lain yang termasuk dalam lingkaran setan persoalan-persoalan global seperti persoalan energi, air, makanan, lingkungan, terorisme dan perang, penyakit, demokrasi dan populasi.

Ini adalah keprihatinan yang dalam dan keprihatinan ini sudah menjadi keprihatinan kolektif.

Berangkat dari hal ini, kami merasa masih harus bergerak untuk membuka sekat-sekat tersebut sedikit demi sedikit sesuai dengan kekuatan kami, tentu dengan keyakinan bahwa gerakan ini akan selalu didukung dengan sepenuh hati oleh Sahabat-Sahabat 1N3B seperti sebelum-sebelumnya.

Pada tahun 2011 ini, kami berencana membuka satu lagi sekat pendidikan di kawasan terpencil. Tim kecil kami sekarang tengah berusaha menentukan daerah sasaran. Gerakan kami masih bersetia pada gerakan pendidikan dan melek buku. Read the rest of this entry

Problem Solving 101

Problem Solving 101

Ken Watanabe yang telah memiliki karir yang mapan di McKinsey, konsultan kelas dunia yang siapa sih enggak tahu, memutuskan meninggalkan pekerjaannya untuk menulis buku Problem Solving 101. Tujuannya adalah untuk mengajarkan anak-anak Jepang bagaimana berpikir sebagai pemecah masalah, mengambil peran proaktif dalam pendidikan mereka sendiri dan dalam pembentukan kehidupan mereka.

Mengapa pemecahan masalah? Sebab kita semua harus mengambil keputusan. Tak peduli pelajar, orang tua, pebisnis atau presiden. Kita semua menghadapi masalah yang setiap saat harus dipecahkan. Tak peduli masalah itu besar atau kecil, kita semua menetapkan tujuan pribadi, menghadapi tantangan dan berupaya mengatasinya.

Problem Solving 101 ini menunjukkan padaku dan tentu saja pada semua yang membaca, strategi sederhana untuk menangani masalah-masalah yang kita hadapi. Di sini kepandaian Ken terlihat. Ia mampu menyederhanakan teori-teori di kelas MBA agar mudah diaplikasikan oleh anak SD sekali pun. Jadi geregetan, kenapa dulu pas bikin bisnis proses belum kenal buku ini.

Ia sendiri tidak menyangka jika kemudian buku ini menjadi sangat populer, tidak hanya dikalangan anak-anak, namun justru di kalangan pebisnis. Kabarnya buku ini adalah buku bisnis terlaris pada 2007 di Jepang.  Read the rest of this entry

Merapi Omahku

Merapi Omahku

Di posting sebelumnya aku menyinggung sedikit tentang buku Merapi Omahku. Buku ini cukup tipis, hanya berbilang menit mestinya habis dibaca kecuali engkau mengulang-ulang satu bagian tertentu untuk memantapkan pemahamanmu atau mencermati ilustrasi indah yang dibuat oleh Heri Dono, merenungi dan meresapinya untuk mendapatkan makna yang lebih dalam dari mitos Beringin Putih, kisah persahabatan antara manusia dan alam yang diuji lewat godaan dan pengorbanan yang ditulis dengan apik oleh seorang Ibu dari Perancis yang bahasa Indonesianya sangat bagus, Elizabeth D. Inandiak.

Berbicara Merapi tidak mungkin tidak berbicara tentang almarhum Mbah Maridjan. Di dalam buku ini dituliskan insight almarhum yang bisa jadi akan menamparmu. Aku ambil contoh tentang tipu daya mbah Maridjan ketika ia tertawa seperti bocah dan mengucapkan ia bodoh, sejatinya yang ia maksud adalah:

“Kalau orang pinter, diberi satu akan minta dua. Tapi kalau orang bodoh, diberi satu akan disyukuri.” Read the rest of this entry

Kicau Kacau Penulis Galau

Kicau Kacau Penulis Galau

Berkali-kali ke toko buku, tanpa sengaja mata saya selalu melirik buku bersampul kuning ngejreng, bergambar seorang pria bersetelan jas yang mengenakan topi berbentuk kepala burung. Pria itu Indra Herlambang yang setahu saya adalah host acara gosip di TV. D’oh jadi males membuka-buka buku itu meski sekadar ingin tahu isinya apa. Lebih males lagi setelah baca judulnya, Kicau Kacau kedengarannya galau dan ngegosip banget ya. Tapi esoknya pas ke toko buku, buku warna kuning itu muncul lagi. Mau enggak mau tangan saya bergerak mengambilnya, mulai membaca sekilas dan tanpa berpikir panjang saya ke kasir, membayar dan membawa pulang.

Ternyata, saya khilaf, I have judged the book by its cover, by its author yang sudah saya labeli sendiri dengan semena-mena, sempit sekali. Padahal enggak kurang apa, saya mengenal quote don’t judge the book by its cover. Yah, namanya manusia enggak lepas dari khilaf, semoga enggak sering-sering sebab bisa sempit dunia ini. Jadi mengapa saya kemudian tertarik membaca Kicau Kacau? Sudah jelas isinya menarik buat saya. Seorang Indra Herlambang ternyata “dalam”, pencitraan televisi (mungkin ini enggak valid karena saya sudah lama enggak nonton TV) tidak menampakkan “daleman” yang dipakai Indra. Isi Kicau Kacau menunjukkan sosok Indra Herlambang yang sebaliknya. Ia mengajak pembaca melihat persoalan-persoalan yang biasa kita hadapi dari angle-angle yang berbeda. Ini jelas ciri manusia kreatif.

“Ternyata, Indra produk Desain Komunikasi Visual FSRD, ITB.” Read the rest of this entry

Sebelas Menit

Sebelas Menit

For everything there is a season,
And a time for every matter under heaven:
A time to be born, and a time to die;
A time to plant, and a time to pluck up what is planted;
A time to kill, and a time to heal;
A time to break down, and a time to build up;
A time to weep, and a time to laugh;
A time to mourn, and a time to dance;
A time to throw away stones, and a time to gather stones together;
A time to embrace, And a time to refrain from embracing;
A time to seek, and a time to lose;
A time to keep, and a time to throw away;
A time to tear, and a time to sew;
A time to keep silence, and a time to speak;
A time to love, and a time to hate,
A time for war, and a time for peace.

Ecclesiastes 3:1-8

Saya selesai membaca novel Sebelas Menit karya Paulo Coelho kemarin. Ada beberapa kalimat yang saya quote.

- Kita tidak punya apa-apa, semuanya hanya ilusi–baik menyangkut hal-hal yang brsifat materi ataupun spiritual.

- Siapapun yang pernah kehilangan sesuatu yang mereka pikir milik mereka pada akhirnya menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar milik mereka.

- Dan kalau aku tidak memiliki apa pun, berarti buat apa membuang-buang waktu untuk mengurusi hal-hal yang bukan milikku, lebih baik aku bersikap seolah-olah baru hari ini aku hidup (atau ini hari terakhir hidup).

- Dalam perjalanan mencari kebahagiaan, kita semua setara — entah si bankir/musisi, si dokte rgigi/pengarang, si gadis kasir/aktris, ataupun si ibu rumah tangga/model.

- Hidup ini selalu membuat kita berdebar-debar dulu sebelum akhirnya memberikan solusi.

- Untuk bisa menguasai jiwanya, orang juga harus bisa mengendalikan raganya.

- Bahwa yang menjaga kehidupan terus bergulir bukanlah perjuangan manusia dalam mencari kenikmatan melainkan usaha mereka untuk melepaskan segala hal yang mereka anggap penting.

- Pencarian kebahagiaan jauh lebih bermakna ketimbang mengeksplorasi dan mengeksploitasi kepedihan.

- Pada kenyataannya banyak hal yang tak mungkin dibagi. Kita juga tak perlu takut pada samudra tempat kita meleburkan kebebasan jiwa kita, rasa takut akan membuat orang jeri berenang.

- Cintailah orang lain, tapi jangan coba-coba saling menguasai.

Di dalam buku itu, Maria, tokoh utamanya yang seorang pelacur dari Brasil (di Copacabana, kafe ekslusif di Geneva, Swiss) merasa selalu merencanakan hari depan namun tak habis-habisnya dikejutkan oleh kekinian — hal yang umumnya dan wajar sekali menimpa siapa pun bukan? Lewat kemandiriannya, penderitaannya, cinta dan kepedihan, dan cinta yang akhirnya dia temukan kembali,  dia telah berhasil menemukan jati dirinya. Pada saat itu ia mendapati realita: ia membenci pekerjaannya persetan apakah pelacuran itu suci atau hina padahal awalnya ia dengan gagah berani memilih terjun ke dalam profesi tersebut– meski sejatinya ia juga berusaha meyakinkan diri dengan mengucap, siapa pun bisa melakukan kesalahan di masa mudanya.

Bagaimanapun ia menyadari pekerjaannya menghancurkan jiwanya, membuatnya berjarak dari dirinya sejati, mengajari rasa sakit adalah sebuah imbalan dan bahwa uang bisa membeli segalanya dan dijadikan pembenaran untuk apa saja dan pada akhirnya ia ingin melupakan semua dan membutuhkan cinta. Perjumpaannya dengan pelukis, Ralf Hart membawanya pada satu perubahan besar dalam hidupnya. Percintaan mereka yang indah meski hanya sebelas menit—seperti yang dilakukannya dengan semua klien-nya, namun sebelas menit dengan Ralf mampu mengembalikan kesejatian dirinya, ia mendapatkan penyatuan yang sakral sesuatu yang diam-diam diimpikannya selama ini. Ralf sendiri tak kurang bahagianya, ia membacakan Ecclesiastes di awal tulisan ini pada Maria usai percintaan mereka. Sehingga Maria — yang keesokan harinya berencana kembali ke Brasil untuk selamanya, berpikir ini adalah sebuah cara berpisah yang indah.

Paulo Coelho memberikan pembaca ending yang manis. Saya suka quote lain yang dikutip dari film Casablanca, “Kita selalu punya waktu untuk Paris” yang diucapkan Ralf saat menyusul Maria di Paris. Oh Paris, siapa yang tak ingin berkunjung ke kota yang romantis itu?

Nah, apakah anda sudah pernah membaca buku ini? Belum? Baiklah saya bisa merekomendasikan untuk anda, namun catatan ini sama sekali bukan sebuah resensi.

Tepat sebelas menit saya menulisnya. Hastala vista!

:)

Y.A.

Fiksi Untuk Mei 2011 – Up Date

Fiksi Untuk Mei 2011 – Up Date

Praktis buku-buku yang saya baca belakangan ini adalah buku-buku yang menunjang pekerjaan dan study — yang pada akhirnya juga untuk menunjang pekerjaan. Akibatnya koleksi fiksi jarang disentuh. Kalaupun misalnya sudah mulai membaca beberapa lembar, saya tak bisa berjanji kapan bakal menyelesaikan bacaan itu, lebih-lebih kalau bukunya lumayan tebal.

Belakangan saya mulai membiasakan diri menyediakan waktu khusus untuk membaca fiksi, alasan utamanya untuk rekreasi. Hasilnya dari Januari sampai April Mei ada beberapa buku fiksi yang sudah selesai saya baca, seingat saya ini daftarnya:

  1. Bekisar Merah (Ahmad Tohari)
  2. Epitaph (Daniel Mahendra) – baca ulang
  3. of Bees and Mist (Erick Setiawan)
  4. Manjali dan Chakrabirawa (Ayu Utami)
  5. Ranah 3 Warna (Ahmad Fuadi)
  6. 1 Perempuan 14 Laki-Laki (Djenar Mahesa Ayu, dkk)
  7. The Little Prince (Antoine De Saint Exupery) – baca ulang – ini buku favorit saya
  8. Saksi Mata (Seno Gumira Ajidarma)
  9. Jazz, Parfum & Insiden (Seno Gumira Ajidarma)
  10. Persepolis (Marjane Satrapi) – baca ulang
  11. Eleven Minutes (Paulo Coelho)

Lumayan kan, lumayan sedikit dibanding buku non fiksi yang harus saya baca. Dalam sehari rata-rata saya mencicil baca 5-6 buku non fiksi di luar referensi lainnya, sementara dalam empat bulan hanya menyelesaikan 10 buku fiksi. Bulan Mei ini saya punya target untuk menyelesaikan novel:

  1. Arus Balik (Pramoedya Ananta Toer)
  2. Eleven Minutes (Paulo Coelho) selesai
  3. Shogun, jilid 1 – 6 (James Clavell)

Total 3 Judul, 8 buku. Judul yang pertama dan ketiga buku pinjaman, jadi mesti dibaca cepat-cepat supaya bisa segera dikembalikan pada yang punya. :) Cukup itu saja, sebab bulan ini ada sekitar 9 buku non fiksi diluar referensi lain yang harus tuntas. Buat saya jumlah ini banyak, apalagi saya belum bisa membaca cepat.

Selanjutnya, tiap bulan daftar di atas akan diperbarui. Gunanya untuk memotivasi diri sendiri dan siapa tahu ada gunanya juga untuk anda. Barangkali referensi ini masih kurang memuaskan silakan melongok rak buku saya, agoy di www. goodreads.com, walaupun saya sendiri juga tidak terlalu yakin apakah daftar itu mewakili semua buku  yang telah saya baca.

Y.A.

Up date Juni 2011:- I didn’t finish Arus Balik & Shogun yet.

Catatan Kecil Tentang “Goal”

Catatan Kecil Tentang “Goal”

Walk the talk and talk to my self: menulis setiap hari, paling enggak menulis pakai tangan, membaca setiap ada kesempatan dan menciptakan kesempatan untuk membaca. Sayang, beberapa hari kemarin hampir tak sempat menyentuh Blog. Alasan lagi, boleh? Klise, soal skala prioritas. Kabar lainnya saya baru tuntas membaca Ranah 3 Warna (R3W) bagian kedua dari trilogi Negeri 5 Menara, tulisan A. Fuadi dan sekarang sedang membaca beberapa buku lainnya dengan kalem (baca: pelan-pelan) sambil mengerjakan perencanaan seperti biasa.

Ketika menyelesaikan buku R3W, saya merasa seperti memperoleh sebuah kemenangan kecil sebab rasanya belakangan ini saya agak sulit membaca kalimat per kalimat sebuah buku sampai tuntas. Memang sih, ketika membaca sebuah buku sebetulnya tak jadi soal  akan dibaca keseluruhan atau hanya bagian-bagian tertentu yang diperlukan. Namun jika itu menyangkut sebuah novel, maka tak afdol jika tak membacanya dengan tuntas lebih-lebih jika novelnya menarik dan memiliki greget yang membuatmu tergigit.

Adapun tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai sebuah resensi dari buku R3W sebenar-benarnya. Saya hanya bermaksud mencatat beberapa kutipan untuk saya resapi perlahan-lahan, yaitu:-

Jika di buku sebelumnya, Negeri 5 Menara terdapat kalimat man jadda wajada yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan sukses, maka kalimat tersebut digenapkan di R3W menjadi:

Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses

Man shabara zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung

Man sara ala darbi washala, siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan

Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi dengan sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung.

Sedekat apapun “hampir” itu dengan kenyataan, dia tetap saja sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Jadi teringat dalam pertandingan sepak bola piala AFF ketika Indonesia melawan Malaysia di final, berapa kali tim Indonesia dalam kondisi “hampir” menyarangkan gol. Peluang ini jauh lebih banyak dari tim Malaysia. Namun berapa pun peluang itu terjadi, tetap saja pada akhirnya yang dihitung hanya gol yang benar-benar sah terjadi. Demikian halnya dengan goal-goal hidup yang kita rencanakan. Kesimpulannya kita disebut sukses jika kita berhasil menyarangkan goal dalam gawang kehidupan kita. Untuk memenangkan pertandingan itu dengan efektif dan efisien, ada beberapa syarat yang harus kita penuhi yaitu:-

  • Goal atau tujuan itu harus jelas termasuk prioritasnya, goal tidak akan tercipta jika kita tidak tahu goal-nya apa.
  • Menerjemahkan goal menjadi aksi adalah persoalan yang umum, diperlukan strategi dan arahan yang baik agar aksi yang tercipta tepat dan dapat memperkecil “the execution gap“.
  • Memiliki passion yang kuat untuk mencapai goal itu sendiri.
  • Menyediakan waktu lebih banyak untuk mencapai goal tersebut. Dalam kenyataannya kita lebih banyak terganggu untuk hal-hal yang kita anggap mendesak (urgent)  diluar kebutuhan terpenting (important) yaitu mencapai goal yang sudah kita prioritaskan. Untuk membantu mengatasi hal ini, maka kita mesti sering-sering meninjau ulang prioritas berdasarkan urutan important-urgent, important – not urgent, not important – urgent dan not important – not urgent.

Berikut video yang dulu kerap saya putar dihadapan rekan kerja. Saya yakin yang melihatnya akan termotivasi untuk melakukan self-improvement. Silakan menyaksikan bagian pertama video ini, Stephen R. Covey dan Top Goals. Psst, sebenarnya video ini ditujukan untuk sebuah organisasi, kita modifikasi sedikit ya dengan mengibaratkan sebuah organisasi itu adalah sesosok individu.  Selamat pagi. :)

Y.A.

to achieve goals you never achieved before you simply need to start doing things you never done before – Stephen R. Covey

A Job Will Never Love You Back

A Job Will Never Love You Back

Beberapa dari kita mungkin sudah pernah mendengar nama Rene Suhardono,  ayah 4 orang anak, CareerCoach, speaker, trainer penulis, penikmat makanan dan sejarah. Mengawali karir sebagai bankir sebelum akhirnya menemukan passion-nya, dia adalah salah satu Partner di AMROP Indonesia – business advisors & executive search. Penulis buku: Your Job Is Not You Career.

Saya belum membaca buku tersebut, tetapi saya telah mengikuti Rene di twitter untuk mendapatkan insight dan membaca berbagai resensi mengenai buku yang rasanya mesti dibaca oleh eksekutif agar menemukan passion-nya dan sekali menemukan agar menggenggamnya kuat. Rene mengatakan, A job will NEVER love you back. You give your best in your job but look for love from your friends & family. :)

Wah saya jadi tertarik untuk membaca buku itu tuntas. Namun sebelumnya, mari kita baca cuplikan wawancara Rene dan Perspektif Baru berikut ini:  Read the rest of this entry