Category Archives: Buku

Catatan Kecil Tentang “Goal”

Catatan Kecil Tentang “Goal”

Walk the talk and talk to my self: menulis setiap hari, paling enggak menulis pakai tangan, membaca setiap ada kesempatan dan menciptakan kesempatan untuk membaca. Sayang, beberapa hari kemarin hampir tak sempat menyentuh Blog. Alasan lagi, boleh? Klise, soal skala prioritas. Kabar lainnya saya baru tuntas membaca Ranah 3 Warna (R3W) bagian kedua dari trilogi Negeri 5 Menara, tulisan A. Fuadi dan sekarang sedang membaca beberapa buku lainnya dengan kalem (baca: pelan-pelan) sambil mengerjakan perencanaan seperti biasa.

Ketika menyelesaikan buku R3W, saya merasa seperti memperoleh sebuah kemenangan kecil sebab rasanya belakangan ini saya agak sulit membaca kalimat per kalimat sebuah buku sampai tuntas. Memang sih, ketika membaca sebuah buku sebetulnya tak jadi soal  akan dibaca keseluruhan atau hanya bagian-bagian tertentu yang diperlukan. Namun jika itu menyangkut sebuah novel, maka tak afdol jika tak membacanya dengan tuntas lebih-lebih jika novelnya menarik dan memiliki greget yang membuatmu tergigit.

Adapun tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai sebuah resensi dari buku R3W sebenar-benarnya. Saya hanya bermaksud mencatat beberapa kutipan untuk saya resapi perlahan-lahan, yaitu:-

Jika di buku sebelumnya, Negeri 5 Menara terdapat kalimat man jadda wajada yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan sukses, maka kalimat tersebut digenapkan di R3W menjadi:

Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses

Man shabara zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung

Man sara ala darbi washala, siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan

Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi dengan sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung.

Sedekat apapun “hampir” itu dengan kenyataan, dia tetap saja sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Jadi teringat dalam pertandingan sepak bola piala AFF ketika Indonesia melawan Malaysia di final, berapa kali tim Indonesia dalam kondisi “hampir” menyarangkan gol. Peluang ini jauh lebih banyak dari tim Malaysia. Namun berapa pun peluang itu terjadi, tetap saja pada akhirnya yang dihitung hanya gol yang benar-benar sah terjadi. Demikian halnya dengan goal-goal hidup yang kita rencanakan. Kesimpulannya kita disebut sukses jika kita berhasil menyarangkan goal dalam gawang kehidupan kita. Untuk memenangkan pertandingan itu dengan efektif dan efisien, ada beberapa syarat yang harus kita penuhi yaitu:-

  • Goal atau tujuan itu harus jelas termasuk prioritasnya, goal tidak akan tercipta jika kita tidak tahu goal-nya apa.
  • Menerjemahkan goal menjadi aksi adalah persoalan yang umum, diperlukan strategi dan arahan yang baik agar aksi yang tercipta tepat dan dapat memperkecil “the execution gap“.
  • Memiliki passion yang kuat untuk mencapai goal itu sendiri.
  • Menyediakan waktu lebih banyak untuk mencapai goal tersebut. Dalam kenyataannya kita lebih banyak terganggu untuk hal-hal yang kita anggap mendesak (urgent)  diluar kebutuhan terpenting (important) yaitu mencapai goal yang sudah kita prioritaskan. Untuk membantu mengatasi hal ini, maka kita mesti sering-sering meninjau ulang prioritas berdasarkan urutan important-urgent, important – not urgent, not important – urgent dan not important – not urgent.

Berikut video yang dulu kerap saya putar dihadapan rekan kerja. Saya yakin yang melihatnya akan termotivasi untuk melakukan self-improvement. Silakan menyaksikan bagian pertama video ini, Stephen R. Covey dan Top Goals. Psst, sebenarnya video ini ditujukan untuk sebuah organisasi, kita modifikasi sedikit ya dengan mengibaratkan sebuah organisasi itu adalah sesosok individu.  Selamat pagi. :)

Y.A.

to achieve goals you never achieved before you simply need to start doing things you never done before – Stephen R. Covey

A Job Will Never Love You Back

A Job Will Never Love You Back

Beberapa dari kita mungkin sudah pernah mendengar nama Rene Suhardono,  ayah 4 orang anak, CareerCoach, speaker, trainer penulis, penikmat makanan dan sejarah. Mengawali karir sebagai bankir sebelum akhirnya menemukan passion-nya, dia adalah salah satu Partner di AMROP Indonesia – business advisors & executive search. Penulis buku: Your Job Is Not You Career.

Saya belum membaca buku tersebut, tetapi saya telah mengikuti Rene di twitter untuk mendapatkan insight dan membaca berbagai resensi mengenai buku yang rasanya mesti dibaca oleh eksekutif agar menemukan passion-nya dan sekali menemukan agar menggenggamnya kuat. Rene mengatakan, A job will NEVER love you back. You give your best in your job but look for love from your friends & family. :)

Wah saya jadi tertarik untuk membaca buku itu tuntas. Namun sebelumnya, mari kita baca cuplikan wawancara Rene dan Perspektif Baru berikut ini:  Read the rest of this entry

Mencari Jejak

Mencari Jejak

Tahun lalu ketika singgah ke gallery House of Sampoerna, Surabaya, saya melihat pameran foto ekspedisi Napak Tilas Hayam Wuruk oleh Hadi Sidomulyo aka Nigel Bullough, seorang budayawan yang berasal dari Inggris.

Hari itu juga, saya mendapatkan sekeping CD dan buku yang berjudul Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca. Dari situlah muncul keinginan untuk sebisa mungkin mengunjungi satu demi satu obyek yang disebutkan oleh Hadi Sidomulyo.

Satu langkah kecil untuk mulai mewujudkan keinginan itu dengan mengunjungi beberapa situs di sekitar Trowulan yang terakhir  saya kunjungi belasan tahun yang lalu.

tambening kahawan winarnna ri Japan kuthi kuthi hana candhi sak rebah (17:I0a)

mula-mula melalui Japan, dengan biaranya serta runtuhan candi….

This slideshow requires JavaScript.

Siapakah Engkau, Siddharta atau Govinda?

Siapakah Engkau, Siddharta atau Govinda?

Daun Sukun, by Yoga - 2010

Suatu kali teman saya bercerita, ia baru saja usai membaca buku Siddharta: The Prince Who Became Buddha karya Herman Hesse. Saya bertanya, insight apa yang bisa kau bagi, sambil mulai mencari versi e-book buku ini di Gutenberg Project. Ia tak lantas bercerita panjang lebar karena sedang sibuk, namun ia memberikan beberapa kata kunci dan sebuah case yang menarik.

.

Siddharta dalam kisah ini bukan Siddharta Buddha Gautama, namun nama tokoh utama dalam cerita ini adalah putra seorang Brahman yang digambarkan tampan, cerdas, keras pendiriannya dan hidup pada jaman yang sama dengan Buddha, ia memiliki seorang sahabat yang setia mengikutinya kemanapun ia pergi, Govinda, putra seorang Brahman juga. Dalam pencarian spiritualnya, Siddharta, ia tak lagi menemukan kebahagiaan dari cinta yang diberikan oleh Ayah, Ibu dan sahabatnya Govinda. Ia tak menemukan kesenangan lagi, ia merasa haus, jiwanya tak tenang dan tak berisi. ia merasa orang tua, sahabat dan guru-gurunya yang selama ini memberinya ilmu hanyalah air yang tidak bisa membasuh dosa-dosanya, tidak bisa menghilangkan jiwanya yang dahaga dan ketakutan di hatinya. Upacara-upacara penyembahan yang mereka lakukan terasa baik, kitab-kitab suci yang dibaca terasa baik, tetapi tetap tak memberikan arti baginya. Siddharta memutuskan untuk mengikuti para samana, petapa yang berkelana, pada Ayahnya ia mengutarakan maksud. Awalnya sang Ayah menolak, namun demi melihat keteguhan Siddharta yang tak bergerak seinchi pun, sehari semalam, dari tempatnya memohon, akhirnya sang Ayah mengatakan, ia akan pergi ke hutan dan mengikuti para samana untuk mencari kebahagiaan, jika ia menemukannya, ayahnya berpesan agar ia kembali untuk mengajarkan kebahagiaan, jika tidak ia meminta agar sang anak tetap kembali.

“You will go into the forest and be a Samana. When you’ll have found blissfulness in the forest, then come back and teach me to be blissful. If you’ll find disappointment, then return and let us once again make offerings to the gods together. Go now and kiss your mother, tell her where you are going to…” Read the rest of this entry

Bagi Buku – Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri – Tempat Penerimaan Buku 2010

Bagi Buku – Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri – Tempat Penerimaan Buku 2010

Sahabat 1N3B yang tercinta,
Tahun lalu ketika kami bertekad mendirikan rumah baca di desa Madobag, Mentawai, kami membuat target untuk mengumpulkan 1.000 buku dalam jangka waktu kurang lebih tiga bulan. Pada awalnya kami cukup was-was karena sampai bulan kedua, jumlah buku yang terkumpul masih jauh dari harapan. Baru pada akhir tenggat waktu yang diberikan, berangsur-angsur buku-buku yang kami perlukan datang. Sungguh lega rasanya.

Pada akhirnya kami berhasil mengumpulkan 1552 buku atau 1401 judul buku untuk rumah baca Tuddukat, demikian nama rumah baca di desa Madobag tersebut Bisa dikatakan sebagian besar buku-buku tersebut adalah sumbangan dari donatur dan hanya 281 buku yang sengaja kami beli, semata untuk melengkapi koleksi agar sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan oleh masyarakat desa Madobag.

Untuk tahun ini sekali lagi, kami sampaikan kriteria buku sumbangan yang dibutuhkan:

  1. Buku pelajaran Sekolah Dasar untuk kelas 1 sampai 6, sesuai kurikulum yang sedang berlaku
  2. Buku pemberdayaan masyarakat ( buku pertanian, peternakan)
  3. Buku pengetahuan umum (kamus, ensiklopedia, buku sejarah umum, buku kesehatan)
  4. Buku agama
  5. Buku ketrampilan untuk anak-anak
  6. Buku ketrampilan untuk ibu-ibu
  7. Buku cerita anak-anak
  8. Buku pendidikan untuk anak usia dini
  9. Atlas

Dan peta dinding yang menggambarkan Indonesia dan dunia.

Kepada sahabat 1N3B yang ingin menyumbangkan buku, disarankan agar menyumbangkannya dalam kondisi sudah disampul dengan menggunakan plastik bening. Hal ini akan sangat membantu kami.

Berikut lokasi drop box buku, ada beberapa tambahan point yang diharap bisa mempermudah sahabat:-

Jakarta Pusat

Sita

Wisma GKBI

Jl. Jend. Sudirman Kav. 28

HP 081389639889

Jakarta Selatan

Susan

Graha Parama Lt. 2

Jl. KH A. Dahlan No. 69a-b

HP 081331002998

Taufan * hanya saat akhir pekan

Jl Warung Silah, GG Haji Sa’aman Rt 003 Rw 04 no 68

Cipedak 12630

HP 0811987944

Anna Oesmani

Komplek Timah no. 1

Jl. RS Fatmawati

Bogor

Adit

Jl. Ardio putran no. 54

Bogor Tengah

Bogor 16124

HP 08561478863

Bekasi

Agli

Jl.P.Kalimantan Raya No.17 Rt.003 Rw.016

Aren Jaya

Bekasi Timur.14111

Jawa barat

HP 08567186745

Bandung

Emma

Jl. Cukang Kawung 210

HP 08156209699

Yogjakarta

Yoyon

Jl. Sawitsari 208, Miliran

HP 081586195707

Jika sahabat kemudian bertanya, jadi berapakah target buku untuk tahun ini? Jawabnya untuk satu rumah baca, targetnya paling sedikit memiliki 1000 buku. Kemudian pertanyaannya adalah, sudahkah sahabat mulai bergerak? Ayo tunggu apalagi?

Curhat Tentang Buku

Curhat Tentang Buku

Dulu ketika masih kecil, aku sering sekali berangan-angan untuk memiliki perpustakaan sendiri kelak ketika sudah besar, ketika sudah memiliki penghasilan sendiri yang bisa ku-share dengan siapa saja yang ingin membaca koleksiku. Tentu itu didasari oleh rasa cinta pada buku yang sudah tumbuh saat itu. Rasa cinta yang tumbuh karena melalui buku, kakiku bisa melangkah kemana-mana, dengan buku penglihatanku bisa memandang kepenjuru dunia bahkan terbukalah jendela semesta, jadi bagiku buku adalah jendela dan pintu ke semesta, bahkan mesin waktu yang siap membawaku berkelana ke masa lalu maupun menerawang ke masa yang akan datang dan aku ingin orang lain juga merasakannya.

Barangkali rasa cinta itulah yang kemudian tanpa sadar membawaku pada situasi yang kualami sekarang. Dimana aku aktif dalam beberapa kegiatan yang tanpa kusadari tidak jauh-jauh dari buku. Setelah kegiatan komunitas 1N3B  mendirikan Rumah Baca dan pengenalan sains di alam terbuka, di desa Madobag, Mentawai beberapa waktu lalu. Lagi-lagi aku menemukan aku terlibat di kegiatan yang nyaris serupa meski tujuan utama kegiatan kali ini adalah trauma healing, pasca gempa Jawa Barat.

Kali ini dengan beberapa anggota komunitas 1N3B bekerja sama dengan komunitas 1001 Buku dan beberapa komunitas lainnya (termasuk didalamnya ibu rumah tangga, pekerja sosial, traveller, penggemar photography dan sebagainya) yang menyebut komunitas baru ini sebagai komunitas Merah Putih, aku turut mempersiapkan pendirian Pojok Belajar dan kegiatan utamanya sendiri berupa trauma healing yang kebanyakan kegiatannya berupa kegiatan gerak dan bermain. Ketika mempersiapkan Pojok Belajar itulah, aku dan beberapa teman yang juga terlibat di kegiatan sebelumnya di Madobag, makin menyadari betapa kami sangat menikmati kegiatan kami seputar penyortiran buku, pembelian buku-buku baru, penyampulan, pencatatan dan packing buku-buku untuk anak-anak Sekolah Dasar tersebut. Betapa tidak, kami kerap menemukan buku-buku, komik-komik yang kami akrabi di masa lalu yang bisa membuat kami histeris. Memang sih beberapa buku atau komik masih bisa ditemukan di toko buku bekas, tapi ketika menemukannya di antara tumpukan buku sumbangan yang berdebu dan berbau apek disaat persiapan yang biasanya dekat dengan hari H, maka spontan itulah reaksi kami. Read the rest of this entry

Ia Mengajarkan Keberanian Untuk Terus Melangkah

Ia Mengajarkan Keberanian Untuk Terus Melangkah

kisah-langit-merah_ya_w

Hidup bukan hanya untuk diratapi! Hidup untuk dijalani, seberapa pun besarnya tantangan menghadang, seberapa pun besarnya perjuangan harus ditempuh! Hidup bukan tentang apa yang kau inginkan dan apa yang tidak kau inginkan!

- Bubin Lantang, Kisah Langit Merah Keberanian Untuk Terus Melangkah-

 

Kisah Langit Merah telah menjadi buku favoritku sejak aku membacanya bulan lalu. Buku ini penanda kembalinya Bubin Lantang, seorang penulis yang kukenal tahunan lampau dari tidur panjangnya. Mungkin kalian pernah mengenal serial Anak-Anak Mama Alin, nah Kisah Langit Merah ditulis oleh orang yang sama.

Kisah Langit Merah, menceritakan seorang pemuda bernama Langit Merah. Suka duka dan prinsip hidupnya sarat dengan hal-hal yang kukenal dekat dan belum lagi menjauh dari hidupku sendiri, yang tak tahu akan mengalir kemana. Tak pelak, isi buku ini membekas dalam dan pipiku basah begitu saja pada penghujung buku.

Sebagaimana ia, aku pun merasa hidup memang indah, tetapi tak mudah dalam arti yang sebenar-benarnya. Kalimat-kalimatnya membungkam mulutku rapat, mengunci lidah hingga kelu, menyodok rongga dada hingga sesak tak bersisa. Menyentil dan membuatku merinding, bagaimana tidak, aku, aku begitu mengenal kalimat ini, kalimat yang kucamkan bertahun-tahun didalam kepala dan hatiku, jauh  sebelum aku membacanya di novel ini; bahwa hidup mesti dijalani dengan apa yang ada, bukan dengan apa yang seharusnya ada. Itu nasehat seorang Ibu pada anaknya, aku, yang dipandangnya kerap menuntut pada hidupku sendiri. Barangkali Ibuku telah lupa, tetapi ucapan beliau telah menyelamatkanku berkali-kali. Betapa kelindan ini menyesakkan, menyodorkan realita hidup dimasa lalu yang membayangi petualanganku, dan membuka wacana  tentang sungai kehidupan yang telah menghanyutkanku hingga tiba pada saat ini, detik ini ketika aku menuliskan kalimat ini. Read the rest of this entry

Seperti Apa Jodoh Anda?

Seperti Apa Jodoh Anda?

Words are the only jewel I possess

Words are the only food that sustain my life

Words are the only wealth I distribute among people

 Sant Tukaram

Kata-kata yang diikat dalam bentuk tulisan tak akan lekang mengikuti usia perawinya. Untaian kalimat itu, akan jadi legacy yang akan mewarnai pemikiran pembacanya dari berbagai kurun waktu, bahkan yang mungkin tak terbayangkan oleh penulisnya.

Penulis dan pembaca, buku, blog, dan berbagai media lain, semuanya menghirup atmosfer yang sama. Yang dijalin oleh satu hal yang sama, yaitu kata-kata. Pada saat menuliskan ini, dikepala saya langsung tervisualisasi, seorang manusia yang tengah berdiri, setengah limbung, dalam sebuah bola kosong, bulat sempurna yang dindingnya adalah kata-kata. Kubah itu berputar, berpendar, dalam setiap detik, kata-kata yang terbaca berganti-ganti. Hujan informasi yang membingungkan!

Begitu derasnya pergantian kata itu, hingga limbunglah sosok di dalam bola. Tak lama, seluruh kata-kata itu berbaris rapi, teratur, melesat cepat, di serap sebuah buku raksasa, lantas wajah manusia tadi jadi lebih sumringah dan cerah. Buku tadi telah menolongnya. Read the rest of this entry

Barangkali

Barangkali

Barangkali orang Indonesia lebih memilih menonton TV daripada mendengar radio atau membaca. Barangkali yang suka memilih menonton TV lebih dari 85%, barangkali prosentase sisanya mesti dibagi tak adil antara mendengarkan radio dan membaca, sebab dalam berkomunikasi orang cenderung untuk mendengar daripada membaca dan berbicara.

Barangkali pula, yang lebih memilih membaca tak sampai sepuluh persen. Kalau barangkali-barangkali tadi benar, bodoh-bodohan, saya simpulkan saja, ada orang yang dalam sehari belum tentu membaca, setidaknya koran apalagi sebuah buku, dan mungkin tak cuma sehari, setahun tanpa buku, bisa saja terjadi. Read the rest of this entry

Aku, Si Kutu Buku

Aku, Si Kutu Buku

When I close a book I open life.
I hear faltering cries among harbours.
Copper ingots slide down sand-pits to Tocopilla.
Night time. Among the islands our ocean throbs with fish, touches the feet, the thighs, the chalk ribs of my country.
The whole of night clings to its shores, by dawn it wakes up singing as if it had excited a guitar….*

Mari berbincang tentang buku. Saya si kutu buku yang tidak bisa tidak keluar rumah tanpa menenteng (seperti sepatu saja), setidaknya satu buku. Tanpa buku rasanya seperti berjalan tanpa baju, seperti si buta tanpa tongkat. Berlebih-lebihan? Nyatanya itu yang saya rasakan, bagaimana denganmu?

Beberapa bulan belakangan, saya telah membaca beberapa buku. Tidak ada keharusan untuk benar-benar menyelesaikan satu buku dari awal hingga akhir. Kadang saya cuma membaca bab yang saya butuhkan, lantas dikembalikan lagi ke rak, kelak jika butuh referensi buku itu akan saya baca lagi. Otomatis sebenarnya saya sekarang tidak pernah kehabisan bahan bacaan, tidak seperti jaman SD dulu. Ketika semua bacaan habis disikat, saya cari buku telpon, saya baca halaman perhalaman mulai depan hingga akhir termasuk covernya, freak! hehehe apalagi tahu sendiri Buku Telpon di tempat asal saya bisa dibilang bukan cuma tebal tapi tuebal! Nanti ketika bacaan sudah habis lagi, saya baca lagi. Aneh kan?  Eh kapan ya terakhir saya baca buku telpon?  Read the rest of this entry