Category Archives: The Flat Stories

Bisa jadi rekaan, rasakan dengan hati! Idenya adalah kehidupan disekitar flat yang saya tempati sekarang. Ah, flat juga bermakna datar, jadi jangan heran jika sesekali cerita yang disajikan datar.

Lantak

Lantak

Adakah perdamaian sejati tanpa banyak cing cong dan nyaris tanpa gesekan? Jika kau jawab, “Ada!”, maka tempat itu ada di sini. Tempat aku, saudara-saudaraku, orang tua, kakek nenek dan seluruh keluarga besarku tinggal. Aku dan keluargaku selalu berdamai, kami tak pernah bertengkar, tak pernah berebut apa pun. Keluarga kami, makin lama, makin banyak, beranak pinak dan menghalalkan perkawinan antar saudara. Ruang yang kami tempati tak pernah bertambah, meski begitu kami tak pernah merasa sesak, apalagi berebut pangan. Rejeki selalu ada, kami tak mengenal kata kurus, kering kerontang. Mungkin kau bertanya, bagaimana dengan privacy? Aku katakan saja padamu, itu persoalan yang sepele. Hidup ditengah keluarga besar, dan terkadang ada sanak kadang yang berkunjung atau bahkan menetap,  membuat kami memiliki ceruk rahasia masing-masing, ditempat yang tak terduga. Aku sendiri punya ceruk itu. Tempat di mana aku bisa mengawasi seluruh pergerakan di rumah kami, termasuk gerak-gerik seseorang yang istimewa, yang menjadikan kalimat di awal paragraf ini ada.

Ia tergolong istimewa, entah berasal dari mana, tak seorang pun tahu. Ia diam saja, tak pernah berkata apa-apa pada kami. Ia datang suatu siang, di hari pertama tahun baru, kira-kira dua tahun lalu. Awalnya ia berdua, dengan adiknya. Itu dugaanku semata, karena mereka nyaris mirip satu sama lain, tapi tak mirip sungguh. Aku hanya menduga, karena aku tak pernah bertanya, keluargaku juga tak pernah bertanya, karena rumah kami terbuka untuk siapa saja yang membutuhkan, prinsip kami sangat sederhana, rumah ini rejeki dariNya, tak secuilpun kami merasa memilikinya. Kalaupun diambil kembali olehNya, kami tak akan bersedu sedan, karena kami bisa melanjutkan hidup kami di tempat yang baru, dan lagi-lagi itu akan terjadi atas kebaikanNya. Oleh karena itu, kami tak pernah mengeluh dan terganggu dengan kehadiran siapa pun yang sebenarnya hanya mempersempit ruang gerak kami, termasuk dia. Read the rest of this entry

Memiliki dan Dimiliki

Memiliki dan Dimiliki

senduu-w

Nggak sekali ini, waktu terasa seperti terbang melayang dan terasa tak sabar menunggu aku yang sedang tertatih-tatih, berusaha menyelesaikan semua agenda. Tahu-tahu sudah Minggu. Tahunya, setelah aku panik karena bangun kesiangan dan merasa kemarin itu Senin. Setelah diam sesaat, baru ngeh kalau masih Minggu. Terus tidur lagi? Nggak sih, setelahnya aku memilih berbaring diam. Meneruskan moment of silent, sambil memperhatikan cahaya matahari yang menerobos dari celah jendela. Menikmati berisik-berisik didepan flat yang makin hari kerap terdengar, sejalan dengan pembangunan rumah di lahan kosong depan flat. Mengingat-ingat, kapan terakhir kali suara biola dari rumah sebelah terdengar. Rasanya sudah lama, dan itu karena aku yang jarang berada di flat pada jam latihan biola tersebut. Read the rest of this entry

Ia Mengajarkan Keberanian Untuk Terus Melangkah

Ia Mengajarkan Keberanian Untuk Terus Melangkah

kisah-langit-merah_ya_w

Hidup bukan hanya untuk diratapi! Hidup untuk dijalani, seberapa pun besarnya tantangan menghadang, seberapa pun besarnya perjuangan harus ditempuh! Hidup bukan tentang apa yang kau inginkan dan apa yang tidak kau inginkan!

- Bubin Lantang, Kisah Langit Merah Keberanian Untuk Terus Melangkah-

 

Kisah Langit Merah telah menjadi buku favoritku sejak aku membacanya bulan lalu. Buku ini penanda kembalinya Bubin Lantang, seorang penulis yang kukenal tahunan lampau dari tidur panjangnya. Mungkin kalian pernah mengenal serial Anak-Anak Mama Alin, nah Kisah Langit Merah ditulis oleh orang yang sama.

Kisah Langit Merah, menceritakan seorang pemuda bernama Langit Merah. Suka duka dan prinsip hidupnya sarat dengan hal-hal yang kukenal dekat dan belum lagi menjauh dari hidupku sendiri, yang tak tahu akan mengalir kemana. Tak pelak, isi buku ini membekas dalam dan pipiku basah begitu saja pada penghujung buku.

Sebagaimana ia, aku pun merasa hidup memang indah, tetapi tak mudah dalam arti yang sebenar-benarnya. Kalimat-kalimatnya membungkam mulutku rapat, mengunci lidah hingga kelu, menyodok rongga dada hingga sesak tak bersisa. Menyentil dan membuatku merinding, bagaimana tidak, aku, aku begitu mengenal kalimat ini, kalimat yang kucamkan bertahun-tahun didalam kepala dan hatiku, jauh  sebelum aku membacanya di novel ini; bahwa hidup mesti dijalani dengan apa yang ada, bukan dengan apa yang seharusnya ada. Itu nasehat seorang Ibu pada anaknya, aku, yang dipandangnya kerap menuntut pada hidupku sendiri. Barangkali Ibuku telah lupa, tetapi ucapan beliau telah menyelamatkanku berkali-kali. Betapa kelindan ini menyesakkan, menyodorkan realita hidup dimasa lalu yang membayangi petualanganku, dan membuka wacana  tentang sungai kehidupan yang telah menghanyutkanku hingga tiba pada saat ini, detik ini ketika aku menuliskan kalimat ini. Read the rest of this entry

Komitmen

Komitmen

Aku benar-benar tak mengerti apa yang ada di dalam benak dua wanita yang tergopoh-gopoh mendatangi flatku tadi pagi, tepat jam tujuh lima belas pagi, mengetuk pintu dan berteriak mengucap salam dan memanggilku. Nada suaranya tak terdengar gawat, jadi aku tenang saja meneruskan ritual pagi di kamar mandi. Tapi tak urung aku merasa terusik juga. Aku yang sedang begitu moody pagi ini, sebenarnya seperempat hati beranjak, bersiap ke kantor. Ingin rasanya ijin dan melanglang sepuasku hari ini, atau diam dan tak bicara dengan siapa pun hingga esok tiba lagi. Hanya karena tiga minggu mendatang aku akan akan jarang, bahkan barangkali tak akan menginjak kantor sama sekali. Hanya karena setiap jumat pagi aku telah berkomitmen menghadiri weekly meeting, sehingga kalau pun sedang bertugas keluar kota, selalu kuusahakan jumat pagi telah tiba kembali di kantor, dan hanya karena aku ingat, aku sudah teken kontrak pada perusahaan ini, menyewakan tenaga dan pikiranku dari jam lima sampai jam delapan, senin sampai jumat titik. Komitmen!

Aku tak pernah menyadari beratnya suatu komitmen sebelum tiba pada saat-saat seperti ini. Saat kata yang berbunyi komitmen berdentang-dentang dikepalaku, bukan seperti genderang perang, lebih tepatnya seperti palu godam. Moody, sama sekali bukan alasan profesional dan bisa termaafkan bagiku. Meski yang namanya moody mungkin alami tapi justru palu godam yang memantek kepalaku lebih menyakitkan, ketimbang alasan yang lebih gawat.

Entah bagaimana denganmu. Bagiku komitmen itu penting. Janji adalah dewa dan raja di Bumi dan di surga. Satu-satunya yang membebaskan adalah force majeure dan kehendak penguasa Bumi dan surga dan bersyukurlah ada kalimat InshaAllah yang berarti, jika Tuhan menghendaki. Ingkar janji bukan berarti komitmen jadi bebas dan menguap mengabar ke angkasa raya, bagiku ingkar janji itu hanyalah tindakan memalukan yang tertunda penagihannya, kecuali pintu ikhlas dibukakan. Dan kau akan lihat, bola mataku akan berputar gelisah, jika aku tak mampu memenuhi janjiku. Read the rest of this entry

Ramuan Yang Disebut Kesenangan

Ramuan Yang Disebut Kesenangan

Perjalanan pagi tadi dimulai dengan usaha melawan dingin, lelah, dan kantuk. Week end-ku baru berakhir jam 1 dini hari tadi, sejak kumulai pada jam 19.30 Jumat malam Sabtu. Kehidupan khas urban, yang kadang malas kuikuti, kadang butuh, kadang menerimanya juga tanpa syarat, kadang tersisih, kadang menyisih, kadang….

Yang kusukai adalah, kebahagiaanku diantara teman. Yang tak kusukai adalah begitu aku menyisih dari hiruk pikuk dan kembali sendiri, aku telah menambah kedalaman palung kesepian di hatiku. Kadang aku berpikir, betapa hidup ini begitu menuntutku. Seolah dukun tua yang memberikan ramuan kesenangan dan menuntut imbalan. Setiap tetes mesti kubayar dengan sekerat kesepian dari pundinya di hatiku, yang makin lama makin menggelisahkan.

***

Semalam, sebelum hari berganti. Aku lirik, karibku. Ia menyudahi akhir pekan kemarin dengan seulas senyum dan wajah berseri. Kami nyaris tiba bersamaan. Ia tiba di rumah dengan wajah berbinar cerah. Sambil berbaring di tempat tidur, ia menghubungkan dirinya dengan dunia maya. Tersenyum cerah dan berguman, ah Mbak Imel telah mengerjakan PR-nya dengan baik. Ia sibuk menekan-nekan tuts. Lantas tersenyum puas.

Rupanya seharian tadi ia menemui sahabat-sahabat yang dijumpainya di alam maya. Aku tahu ia kerap menulis di sebuah blog, dan terkadang ia menulis tentang aku, meski disitu namaku digantinya. Demi privacy-mu, katanya. Aku manggut-manggut saja, menyetujui. Kadang ia meminta ijin padaku jika ingin membagi kisahku, kadang ia kurang ajar juga.

Tapi aku tak pernah bisa marah padanya, sama halnya dengan dirinya. Ia pun tak pernah bisa marah padaku. Kami sudah terlalu lekat dan akrab. Meski begitu, dalam kondisi begini, aku lebih baik menyimpan rapat-rapat isi hatiku darinya. Aku tak ingin merusak kebahagiaannya.

Sialnya, ia selalu tahu, meski ia diam, tak bertanya, tapi matanya tahu. Seperti baru saja, kudapati ia memandangku dengan prihatin. Hanya dua detik, tapi dua detik itu cukup memberikan segala informasi yang ia butuhkan. Aku menghela nafas dan tersenyum. Baru ia membuka obrolan dengan menceritakan film yang baru ditontonnya.

“Jadi akhirnya, kau tonton juga Slumdog Millionaire?” Read the rest of this entry

Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi

Hark! Dengarkan Pesta di Tengah Sepi

A million footsteps, this left foot drags behind my right
But I keep walking, from daybreak ’til the falling night
And as days turn into weeks and years
And years turn into lifetimes
I just keep walking, like I’ve been walking for a thousand years

Walk away in emptiness, walk away in sorrow,
Walk away from yesterday, walk away tomorrow,
Walk away in anger, walk away in pain
Walk away from life itself, walk into the rain

All this wandering has led me to this place
Inside the well of my memory, sweet rain of forgiveness
I’m just hanging here in space

….

Disinilah saya, dua tahun satu bulan, disebuah flat mungil yang hanya berisi sepuluh unit. Teman saya bilang saya “ngumpet”. Nggak sepenuhnya benar, karena saya nggak sedang menghindari siapa-siapa, yang saya hindari hanya high cost economy, yang bisa mengganggu stabilitas kantong, kemacetan, penuaan di jalan, keramaian dan udara busuk yang penuh polusi.

Tak banyak yang saya undang mengunjungi exile place ini, sepuluh jari pun tak habis untuk menghitung yang pernah bertandang kemari, semata hanya ingin menjaga kenyamanan . Saat ini,  saya lebih memilih bertemu teman atau kolega di luar rumah.

Tempat ini benar-benar sunyi, cocok dengan saya. Satu-satunya keramaian adalah kesunyian itu sendiri. Benar-benar tempat yang tepat untuk beristirahat dan menyempurnakan kegiatan meski tak dipungkiri, saat sunyi begini, makhluk yang bernama kesepian, kerap menyapa, tiba-tiba muncul di kepala dalam bentuk ambiguitas pemikiran dan mengetuk hati dalam bentuk kegelisahan yang melolong-lolong. Berlebihan?

Sabtu minggu kemarin, hujan dan mendung datang silih berganti. Membuat saya enggan beranjak ke tengah kota. Jauh lebih nikmat, berdiam di rumah: menuntaskan beberapa buku, terinspirasi menonton ulang The Sound of Music karena postingan keren KD aka Kang Daniel, menonton ulang Italian Job, hanya karena ingin melihat klangenan saya, minicoopers, mendengarkan album Sting – Labyrinth yang berisi musik dan pembacaan naskah jaman Elizabeth, dan tiba-tiba: Read the rest of this entry

Kena Pikat Cipelat

Kena Pikat Cipelat

Apa sih Cipelat? Saya juga baru kenalan, setelah ketemu, baru ngeh kalau Cipelat itu mirip sama Rapiah. Atau Cipelat itu Rapiah ya? Rapiah? Iya, bangsa rambutan (Nephelium lappaceum) tentu saja. Jadi ceritanya sekarang sedang musim rambutan. Setiap musim buah atau bunga, selalu perasaan saya sama, muncul kekaguman pada penciptanya, kok bisa menyetting kode genetik yang gak pernah salah waktu. Coba bayangkan, kalau sudah waktunya berbuah, maka rambutan seluruh dunia umumnya akan patuh berbuah pada waktu yang sama. Begitu juga rambutan di lingkungan tempat tinggal saya.

Di depan rumah ada tanah kosong, di situ ada beraneka tanaman, termasuk rambutan. Pohonnya sendiri tak terlalu tinggi, tujuh meter saja, buahnya kecil-kecil, bulunya jarang, belum sampai terlihat merah, biasanya sudah amblas. Nah, jenis rambutan yang bulunya jarang ini yang disebut rambutan Cipelat. Meski masih hijau, tapi rasanya manis tak terkira.

Disamping kanan rumah, tanah kosong juga, disitu ada pohon rambutan yang sudah tinggi, sepuluh meter lebih. Yang ini biasanya baru dijarah kalau buahnya sudah ranum, memerah. Buahnya lebih besar dan rambutnya lebih lebat, nah jenis ini yang dikenal sebagai rambutan Aceh, ada istilah Betawi-nya, tapi saya lupa apa, kalau tak salah tetangga saya pernah bilang, namanya rambutan Cipedak. Entahlah.

Yang jelas, nyaris dua tahun tinggal disini, saya belum sekalipun ikut menyicipi hasil jarahan. Mengapa? Bisa jadi karena batang hidung saya jarang nampak, jadi nggak kebagian, atau juga sudah habis dijarah oleh anak-anak. Seperti yang terjadi minggu lalu.

Pagi pagi, dua anak ini terlihat duduk manis, menikmati Cipelat. Lihat, kapan manjatnya, tahu-tahu sudah dapat satu kresek.

Yang asyik makan Cipelat

Yang asyik makan Cipelat

Sekitar jam dua siang, ketika sedang asyik membaca, diluar terdengar hura hara pasukan Gurkha. Terlalu hiperbola, yang benar, terdengar suara “anak monyet”, ramai, memekik-mekik.

Pohon rambutan!

Benar saja. Anak-anak ini terpikat Cipelat. Sementara Rambutan Aceh yang ranum diabaikan.

)

Huiii.... sibuk :)

D

Kabur! Penjaga flat yang saya tinggali pura-pura ngejar mereka... :D

Selain anak-anak ini, dan manusia jenis lainnya, musuh utama rambutan adalah kalong, tupai, ulat pengerat batang, daun, dan buah, yang komunitasnya di lingkungan ini, banyak banget, juga penyakit, semisal bercak daun dan akar putih.

Dengan begitu banyaknya daftar “musuh” yang terpikat pada Cipelat, rasanya makin tipis harapan saya untuk ikut menikmati Cipelat depan rumah. Hmm, Kapan-kapan, kayaknya mesti kerjasama dengan anak-anak nih. ;)

Rasa

Rasa

green part of one of Lempicka'sRasanya baru tersadar 80% ketika aku mulai mengunci pintu depan, dan seseorang menyapa dari sebelah kanan, unit 23. “Ya ampun, kemana saja? Atau aku yang kemana saja selama ini?” Rasanya sudah berabad-abad tak bertemu. Senyumnya menyejukkan hati.

Ia meminta rekomendasi tempat makan enak di Makasar, karena akan ke sana. “Ya, ya nanti ya via YM” jawabku. Aneh juga, kami bertetangga, aku masih bisa mendengar bunyi air ketika ia atau suaminya menggunakan kamar mandi mereka. Tapi kami lebih kerap berkomunikasi via handphone, atau internet. Tentu ada bagian hatiku yang jadi tergelitik, menimbulkan rasa. Read the rest of this entry

Dia

Dia

ga-eye

Dia tinggal sendirian di unit no 22. Itu berarti, ia menempati sebuah unit di lantai 2. Dari bawah terlihat balkonnya penuh tanaman, ada satu jemuran pakaian yang terlihat paling baik di blok ini, tapi selalu terlihat kosong. Ia pioner dengan tanamannya, hampir dua tahun ia tinggal disini baru penghuni yang lain tergerak berbuat yang sama.

Tiap pagi, sebelum jam delapan, aku selalu menanti ritual ini, pertama tapak langkahnya terdengar menuruni tangga besi, kedua, jika ia mengenakan sepatu coklat tanpa hak itu, suara tapaknya makin keras, ia akan bergegas, mula-mula mengambil koran diatas pagar BRC, lantas ia menuju tempat sampah, setelah itu ia akan berjalan perlahan, melewati jalan yang sedikit mendaki sambil membaca koran. Terkadang kulihat ia berjalan saja sambil menunduk. Aku mulai mengitung, pada hitunganku ke-lima biasanya sosoknya yang tak bisa disebut langsing, sudah tak tampak lagi. Aku selalu saja memburu sosoknya tanpa ia pernah merasa, tiap pagi, entah apa kata penghuni lainnya. Aku tak peduli. Read the rest of this entry