Category Archives: Go Green!

Ini gerakan hijau ala Amalia (on Earth).

Makin Bodoh

Makin Bodoh

Setiap masuk mall, rasanya kebodohan saya makin bertambah. Bukan bermaksud sok idealis. Setiap kali masuk ke mall otomatis, saya melihat ketimpangan yang tak bersekat bahkan oleh setebal bata dinding pagar mall. Dimensi jaraknya sangat jauh lebih-lebih kalau mengingat teori butterfly effect. Serta merta saya merasa bodoh dan tak berdaya.  Jika rata-rata sebuah mall luasnya 100.000 meter persegi (Grand Indonesia 250.000 m2, Tunjungan Plaza 155.000 m2, Gandaria City 220.000 m2, Mall taman Anggrek 360.000 m2, Central Park 170.000 m2), berapa kiranya energi dan air yang dibutuhkan untuk menahan anda dan keluarga agar tak perlu “keluar-keluar” lagi dari mall? Berapa besar roda ekonomi yang digerakkan oleh belanja energi itu? Berapa besar manfaatnya?

Mengutip pernyataan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Luluk Sumiarso di Detik.com; penggunaan listrik di sebuah mal besar di Jakarta diperkirakan lebih tinggi dari penggunaan listrik di beberapa kota di pelosok pulau Jawa. Bagaimana dengan nasib ribuan, jutaan rumah tangga dan rumah sakit yang tak mendapat pasokan listrik? Sungguh soal yang tak enak karena memikirkan permasalahan ini, malah membangkitkan pikiran tentang permasalahan yang lain.

Ketika sudah sampai pada persoalan konsumsi energi tak pelak kita akan teringat persoalan kerusakan lingkungan. Sedihnya, anda boleh saja hidup sederhana, hemat energi dan ramah lingkungan namun di belahan Bumi yang lain, ada yang menghambur-hamburkan energi. Tak ada keadilan. Bumi yang dirusak hanya satu dan semua orang  hidup di atasnya, tak peduli seberapa besar energi yang dikonsumsi masing-masing. Barulah kemudian kita menemukan adanya persamaan; semua orang yang masih hidup di Bumi ini berpotensi mengidap penyakit akibat kerusakan lingkungan. Semua sama berpotensi terkena kanker kulit ditambah semua sama berpotensi ditenggelamkan  air laut ketika suhu Bumi makin panas. Lima, sepuluh, dua puluh, tahun lagi bagaimana kondisi anak cucu kita? Mungkin anda balas bertanya pada saya, apakah Bumi masih ada? Wallahualam.

Y.A.

Berapa Harga Kenyamananmu?

Berapa Harga Kenyamananmu?

Untuk setiap kenyamanan ada harga yang harus dibayar, bukan hanya senilai intrinsik yang dikeluarkan atas benda itu namun juga opportunity cost dan hidden cost untuk memperolehnya. Hidden cost ini berimbas pada orang lain dan tanpa disadari membebani negara berkembang. Orang barat memiliki istilah yang dikenal dengan singkatan SEP (Somebody Else’s Problem atau Someone Else’s Problem).

Douglas Adams, melalui karakternya Ford Prefect dalam buku ketiga The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy series, Life, the Universe and Everything mencoba memberikan pengertian kira-kira SEP adalah sesuatu yang tidak bisa kita lihat atau tak kita lihat atau otak kita tak membiar kita melihatnya sebab kita berpikir hal ini adalah urusan orang lain, Somebody Else’s Problem. Otak mengeditnya agar keluar, seperti titik buta (blind spot). Ketika engkau melihatnya secara langsung, engkau tetap tidak akan melihatnya kecuali engkau tahu secara persis apa yang dimaksud. Kemungkinan engkau baru melihatnya ketika mengerling dengan menggunakan sudut mata. Read the rest of this entry

Screw It, and Let’s Do It!

Screw It, and Let’s Do It!

Walk the talk, menjalankan apa yang sudah saya tuliskan.  Saat liburan Imlek kemarin saya sempatkan membuka lemari pakaian, mengeluarkan seluruh isinya dan kebingungan sendiri. Seorang teman yang sedang on line jelang tengah malam bertanya, mengapa bingung? Saya bilang, saya bingung karena mengapa bisa begitu banyak jumlah pakaian yang saya miliki –untuk ukuran saya, padahal enggak punya hobi belanja (selain buku) dan pergi ke mall–kata teman yang lain, memangnya kamu beli baju di mall? :D

Kalau dipikir-pikir manusia itu penimbun enggak ada bedanya dengan burung yang tiap kali pulang ke sarangnya membawa sesuatu. Hampir sepuluh tahun yang lalu saya mengawali hidup di kota ini dengan serba minimalis. Hanya membawa sekitar lima eksemplar buku, sebelas lembar baju, beberapa kaset yang saya sukai dan meninggalkan semua sisa baju, buku, kaset, CD dan koleksi lainnya yang saya tekuni sejak di bangku sekolah di kota sebelumnya. Sekarang benda-benda itu berlipat puluhan bahkan ratusan kali. Read the rest of this entry

Berubah

Berubah

Tidak bisa tidak, jika kita telah memilih untuk mengikuti pola hidup yang ramah lingkungan, kita harus mau mengubah beberapa kebiasaan hidup yang tak sejalan. Kalau dulu tiap bepergian bisa melenggang begitu saja, kini setidaknya anda harus ingat untuk membawa kantong sendiri. Kalau dulu bisa seenaknya membuang sampah, sekarang mesti memilah dulu. Kalau dulu seenaknya menggunakan air bersih, listrik, deterjen dan sebagainya, sekarang mesti lebih bijak. Perubahan ini tidak akan bisa terjadi serta merta. Mesti dibiasakan lebih dulu, dilatih, pelan-pelan sampai pada akhirnya kebiasaan yang baru sudah terekam dalam muscle memory, begitu berada dalam situasi tertentu yang serupa, otomatis sudah tahu tindakan apa yang akan dilakukan tanpa butuh waktu lebih lama untuk mengambil keputusan.

Berapa lama kita akan jadi terbiasa? Beberapa teori menyebutkan manusia bisa mempertahankan perubahan yang diprogram padanya dalam 18 hari, 21 hari atau 28 hari. Rata-rata menyebutkan dalam 21 hari perubahan yang dialami lebih permanen, meski sebenarnya setelah itu tetap harus dijaga dengan disiplin. Agar perubahan yang diupayakan dengan susah payah, tak hilang lagi. Read the rest of this entry

10 Menit untuk Essential Things

10 Menit untuk Essential Things

Saya punya waktu sekitar sepuluh menit untuk menulis sebelum bergerak ke agenda berikutnya. Ini masih ada kaitannya dengan gaya hidup minimalis yang saya post kemarin sore. Sebetulnya saya sudah berusaha menerapkan pola hidup ini sejak saya menyadari, saya kerap berpindah tempat dan bepergian. Jadi sebisa mungkin saya hanya membeli benda-benda yang saya butuhkan fungsinya.  Seumpama benda itu tidak bisa saya pakai lagi atau sewaktu-waktu harus saya tinggalkan, saya tidak akan merasa keberatan atau penyesalan yang dalam. Namun khusus untuk buku, saya sadar betul, berat untuk tidak posesif, apalagi kalau buku tersebut sangat saya butuhkan dan punya nilai sejarah yang berarti, lebih-lebih jika ada tulisan tangan penulisnya. Apa boleh buat dalam pola hidup minimalis ini termasuk kelemahan. Ok, pelan-pelan saja memikirkan buku ini.

Begini, ada beberapa benda yang paling kita butuhkan sehari-hari. Kita sebut saja essential things. Kita coba berlatih untuk mengenali benda-benda ini dan seberapa besar sebenarnya kebutuhan kita. Coba kita mulai dari benda-benda paling basic yang kita butuhkan untuk pergi bekerja.

  1. Baju kerja, saya membutuhkan beberapa baju kerja yang bisa digunakan untuk di luar dan di dalam ruangan untuk lima hari kerja, katakanlah butuh dua set maka saya butuh sekitar sepuluh pasang baju kerja, tentu nggak harus ada sepuluh pasang sebab pada dasarnya bisa dipadupadankan. Barangkali saya hanya butuh lima atau tujuh pasang baju kerja.
  2. Sepatu kerja, saya membutuhkan sepatu yang bisa saya pakai untuk ke lapangan itu berarti sebuah boot coklat yang saya miliki sudah cukup, dua sepatu lagi satu berwarna hitam dan satu lagi berwarna coklat atau cream sudah cukup untuk keperluan sehari-hari ke kantor.
  3. Tas kerja, saya membutuhkan tas yang kira-kira matching dengan baju dan sepatu yang saya kenakan. Basically saya hanya membutuhkan dua buah tas dengan warna sesuai dengan sepatu yang saya miliki. Read the rest of this entry

Yang Nyata-Nyata Saja

Yang Nyata-Nyata Saja

Di blog saya yang lain, saya pernah post Tolstoy’s Rules. Tolstoy membuat aturan untuk dirinya sendiri yang menurut saya, beberapa diantaranya cukup bagus untuk dijalankan. Diantara aturan-aturan tersebut, saya paling tertarik dengan aturan yang ini: Always live less expensively than you might. Change nothing in your style of living even if you become ten times richer.

Kurang lebih maksudnya begini, selalu hidup lebih sederhana dari yang anda bisa dan jangan ubah gaya hidupmu walaupun anda sepuluh kali lebih kaya. Nah, ini baru tantangan asyik. Sebab pada dasarnya manusia itu punya sifat serba kurang, tak pernah puas yang bisa jadi pedang makan tuan.

Di satu sisi, bagus jika tujuannya untuk berkarya semaksimal mungkin, di sisi lainnya hal ini merepotkan, sebab menjebak manusia tak pernah puas dengan kenikmatan yang telah digenggam dan menuntut lebih, lebih dan lebih lagi. Paling apes kalau terjebak hidup di dunia lain, seolah-olah telah mencapai gaya hidup tertentu padahal seharusnya belum. Disebut belum sebab gaya hidup itu dicapai dengan menggunakan hutang. Jadi semuanya ilusi yang nyata adalah tagihan tiap bulan. Lagi-lagi kita jadi berbicara tentang persepsi, cara pandang. Read the rest of this entry

Benua Baru?

Benua Baru?

Plastic: made to last forever designed to throw away

Lagi-lagi menyoal plastik, semakin hari plastik jadi bagian kehidupan yang tak terelakkan. Apapun yang kita jumpai biasanya “diplastikin”. Ketika sudah tak terpakai muncul tantangan bagaimana membuangnya dengan benar agar tak mengganggu lingkungan hidup. Yang sudah sadar tentang bahaya sampah plastik biasanya dengan senang hati memilah sendiri agar sampah plastik terpisah dari sampah organik dan sampah jenis lainnya. Yang belum sadar harapannya bakal sadar pelan-pelan nanti, sebab kampanye yang menyuarakan bahaya sampah gencar dilakukan, terus menerus dan menyentuh semua strata sosial (dan moga-moga sampah yang telah dipilah warga ini kemudian nggak mubazir, dicampur lagi di TPA, kita nggak punya pengetahuan ketika sudah sampai di sana).

Namun sampah plastik sudah terlanjur menyerbu kita di seluruh penjuru dunia. Sampah-sampah ini terus tumbuh, memenuhi tanah, memenuhi saluran air, merusakkan ekosistem darat dan perairan, memasuki rantai makanan di laut. Yang tidak kita sadari adalah sampah plastik yang tidak dibuang dengan baik kemudian terbawa arus memasuki wilayah lautan bebas.

Lautan kita memiliki sistem yang dinamis, terbangun dari sirkulasi air dari seluruh penjuru yang kompleks bertemu dengan angin dan rotasi Bumi membentuk gyre, pusaran raksasa, mengalir berputar perlahan dimana sampah plastik terakumulasi, terus menerus bertambah dari waktu ke waktu. Di dalam lautan, ditemukan plastik jenis Polycarbonate, Polystrene, dan PETE tenggelam, sementara plastik jenis LDPE, HDPE, Polypropylene, dan busa terapung dipermukaan. Sinar matahari dan gelombang air mengurai plastik tersebut perlahan-lahan menjadi fragmen-fragmen kecil dan awal mula petaka bagi kehidupan laut dan manusia pada akhirnya.

Gambar di ambil dari Wikipedia Read the rest of this entry

Tentang Global Warming Lagi.

Tentang Global Warming Lagi.

Istilah Global Warming pertama kali dipakai pada 8 Agustus 1975. Adalah Wally Broeker dalam jurnal Science menulis, “are we in the brink of a pronounced global warming?” pernyataannya waktu itu merujuk pada iklim yang berubah dan menghangat. Sejak itulah hingga kini seluruh dunia terintimidasi massal dengan istilah global warming, meski selalu saja ada pro kontra mengenai hal ini. Saya termasuk yang percaya tentang teori global warming. Saya percaya perubahan iklim yang kita rasakan saat ini adalah akibat dari gaya hidup dan upaya manusia untuk survive termasuk ketika menggunakan bahan bakar fosil sehingga bersama-sama menghasilkan gas rumah kaca. Saya termasuk yang mempercayai postulat kesimbangan dan butterfly effect — metafor chaos theory sebagai referensi untuk menjelaskan perubahan-perubahan di Bumi termasuk terhadap cuaca.

Ide butterfly effect kira-kira adalah apakah kepakan sayap kecil seekor kupu-kupu dapat menyebabkan perubahan di atmosfer yang barangkali dapat menyebabkan tornado di belahan Bumi lainnya? Kepakan sayap menggambarkan perubahan kecil dikondisi awal yang menginisiasi rantai kejadian suatu event yang lebih besar lagi. Sederhananya, kepakan sayap kupu-kupu mewakili tindakan-tindakan kecil yang kita lakukan sehari-hari yang tanpa kita sadari telah mengawali suatu kejadian berikutnya yang kerap tidak terduga dampaknya. Siapa yang bakalan tahu, biji jeruk yang anda lemparkan begitu saja ke tanah kemudian tumbuh, ketika ranting-rantingnya mulai kokoh dan mulai mengeluarkan bunga jeruk yang wangi semerbak ia menarik perhatian kupu-kupu. Kupu-kupu menyisip madunya dan meninggalkan telur yang menjadi ulat dan akhirnya membentuk siklus kehidupan yang baru. Itu baru membicarakan satu rantai yang menjadi akibat dari tindakan kecil yang tidak kita sadari, belum lagi membicarakan cabang rantai sistem yang lain, misalnya apa yang kemudian terjadi ketika salah satu daun jeruk gugur dan jatuh ke tanah atau apa yang kemudian terjadi begitu akar-akar pohon jeruk mulai mengokupasi tanah di bawahnya. Subhanallah.  Read the rest of this entry

Carbon Offset, Siapa yang Untung?

Carbon Offset, Siapa yang Untung?

Sederhana saja alasan mengapa saya tidak setuju dengan perdagangan karbon (carbon offfset), pertama dengan melakukan carbon offset negara maju bisa membeli karbon dari hutan-hutan tropis di negara berkembang seperti Indonesia, dengan demikian negara berkembang harus menjaga hutannya sebagai cadangan karbon yang diperjualbelikan, sementara negara maju yang telah membeli karbon dapat terus melakukan kegiatan menghasilkan emisi. Padahal emisi global terbesar dihasilkan oleh mereka.

Kedua, aturan main yang diterapkan dalam carbon offset tidak adil untuk negara berkembang. Mengapa? Karbon yang diperjualbelikan tidak boleh mengalami kebocoran (leakage) yang berdampak pada berkurangnya cadangan karbon di wilayah yang disepakati dalam kontrak. Jika terjadi kebocoran adalah si penjual (negara berkembang) harus mengkompensasi kebocoran tersebut ke pembeli (negara maju), padahal mekanisme perdagangan carbon offset adalah performance based, dan pembayaran dilakukan di akhir periode kontrak. Artinya jika terpantau terjadi kebocoran maka negara berkembang harus membayar kompensasi kebocoran tersebut ke negara maju, meskipun negara berkembang belum menerima pembayaran dari negara maju. Mudah diduga ujungnya akan menyebabkan negara berkembang terperangkap pada jeratan hutang. Bayangkan kebocoran yang bakal terjadi di Indonesia, jika sampai saat ini kita masih menghadapi masalah yang serius dengan illegal logging dan korupsi sistemik di semua sektor. ;) Read the rest of this entry

Tsunami E-Waste

Tsunami E-Waste

Abaikan iklan-iklan tentang benda-benda berteknologi tinggi, dan pikirkan sebaliknya, berapa banyak sampah hitech yang telah terjadi selama ini? Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, sampah elektronik pun tumbuh signifikan. Ambil contoh Amerika, setelah mengendalikan pasar senilai $233 milyar pada 2010, penduduk Amerika sekarang memiliki 3 milyar produk elektronik dengan tingkat turnover sampai 400 juta unit pertahun. Volume penjualan dan tingkat turn over ini berpotensi menciptakan gelombang besar sampah elektronik di dunia. Di Amerika Serikat sendiri EPA (Environmental Protection Agency) memperkirakan pada kurun 2007-2008 ada 372 juta elektronik yang beratnya setara 3,16 juta ton menjadi bagian gelombang sampah tersebut. Hanya 14% yang didaur ulang sisanya tak bisa diapa-apakan atau masuk dalam incinerator. Gosh!

Mari kita baca laporan dari Dēmos (sebuah lembaga non-partisan public policy report dan advocacy yang berpusat di New York) di bawah ini. Laporan ini akan menceritakan konsumsi barang elektronik yang menghasilkan e-waste alias sampah elektronik, tantangan unik pengambil keputusan dalam menghadapi sampah jenis ini dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengontrol permasalahan. Semoga bermanfaat.

sumber: Dēmos

e-waste_FINAL