Masih lanjutan jurnal foto perjalanan disekitar sungai Wain Besar tanggal 4 Desember 2008.
Ketika sore hari, usai mengunjungi sebuah proyek di daerah Batakan, saya memutuskan kembali ke tepian Wain Besar, untuk mengamati lebih jauh bagaimana kondisi struktur bngunan yang mungkin masih bisa dimanfaatkan.
Saat tiba di sana kembali, ternyata, sungai telah surut. Bagian daratan yang sengaja disiapkan sebagai pond, tampak tanahnya. Akar-akar bakau bermunculan. Sempat bertanya-tanya, kemana belut yang tadi pagi saya lihat, menyelamatkan dirinya?

Pond yang surut
Alam disekitar saya sunyi, meski dari kejauhan, beberapa pekerja terlihat sibuk memotong-motong besi. Tetap sunyi tak terusik, karena luasnya lahan yang saya kitari seorang diri ini. Sesekali kesunyian terganggu, ketika sebuah kapal kecil lewat, meski suaranya tak terlalu berisik, tapi keberadaan kapal itu sendiri menimbulkan sebuah nuansa yang berbeda.

Terusik sesaat
Kemudian mendung datang lagi. Kali ini perasaan saya jadi terbawa suasana. Pandangan saya beralih pada bakau yang hijau segar, sambil merenungi sang Pencipta. Pemilik segala keindahan di dunia ini. Saya jadi merasa lebih nyaman. Entahlah.

Daun bakau yang segar
Beginilah saya mengkombinasikan tugas dan kesenangan. Sambil mengerjakan tugas, saya bersyukur punya kesempatan untuk mengamati lingkungan di sekitar saya. Jika dirasakan, sebenarnya saya tengah menyegarkan diri dan pikiran. Dan kemudian saya dapati, saya tengah memandangi tarian rumput.

Tarian rumput...
Seperti sungai, kehidupan juga ada pasang dan ada surut. Ada pasang surut yang disengaja, ada yang memang sudah semestinya demikian. Ah, maksud kalimat saya itu begini, tak ada pasang surut yang tak disengaja, sebab pada dasarnya pasang surut mengikuti sunatullah.
Demikian juga ketika saya terpaksa “surut” beberapa hari ke depan, karena memang sudah semestinya demikian. Untuk sementara ijinkan saya mengucap hastala vista baby! Sampai ketemu lagi.

Terkadang mesti surut...
*Mencoba menggunakan kamera yang lebih canggih. Nikon D60 10MP