Category Archives: Jalan-Jalan

Rekaman jalan-jalan ke tempat yang pernah saya kunjungi.

Capung Bersayap Biru Metalik

Capung Bersayap Biru Metalik

Memori itu bermula dari secangkir teh yang dicelup sebatang kayu manis dan dihirup perlahan, sesekali ada bunyi sruup… ketika aku menghirupnya dengan sepenuh hati. Tak cukup dihirup aromanya, tak cukup dirasakan hangatnya ketika mengalir di kerongkongan, aku juga perlu mengelus cangkirnya yang terasa hangat di tanganku.

Labirin di otakku terbuka. Aku tiba-tiba berada di sebuah sungai berbatu di lereng gunung Welirang. Aku melihat kembali rombongan kecil kami, aku, adikku dan sepupu-sepupuku sedang menyusuri sungai berbatu itu. Aku masih anak-anak, bukan yang paling muda. Sungai itu bukan bagian dari tempat wisata, masih perawan, meski kami bisa mencapai salah satu sisinya dengan berjalan kaki sekitar dua puluh menit dari jalan umum.

Saat itu kemarau, airnya sedang dangkal, yang paling dalam sepertinya hanya 50cm. Banyak batu-batu besar sebesar gajah bertebaran. Lebarnya hanya dua meteran, hampir diseluruh bagian yang kami jelajahi, tidak ada batas yang jelas antara daratan dan sungai itu sendiri.  Di beberapa bagian ada riam kecil, ada batu yang terbentuk seperti seluncuran, rasanya asyik juga meluncurkan diri, tapi aku ngeri, air yang relatif diam mendadak sangat deras di seluncuran itu. Aku membayangkan seandainya nekat meluncur tanpa perlengkapan apa-apa. Kepalaku tak sekeras batu.

Kami berjalan perlahan, sebab dasar sungai licin, berlumut. Selain itu perjalanan kami menuju hulu, elevasinya makin naik. Di sepanjang perjalanan kami tak henti berdecak kagum, seumur-umur baru kali itu kami bertemu capung yang Read the rest of this entry

Ke Timika dengan Mulas

Ke Timika dengan Mulas

2002*

Kantorku (yang lama) menugaskan aku ke Timika. Kurang dari tiga hari berangkat ada kejadian yang membuatku agak kurang semangat buat beraktivitas, stress jadinya dan saat itu aku juga sedang kecapekan. Akibatnya langsung diterjemahkan tubuhku menjadi sakit perut yang enggak bisa sehari sembuh. Konon kecemasan dan stress bisa membuat Escherichia coli jadi bekerja giat dan lebih rajin dari biasanya. Dalam kondisi lemas akibat BAB terus menerus, aku jadi malas makan dan minum, karena apa pun yang masuk segera dikeluarkan lagi, namun aku berusaha minum terus sebab aku enggak mau dehidrasi, been there that way dan enggak enak. Mulut terasa pahit. Kebiasaanku jika sedang diare aku enggak mau minum obat apa pun, biasanya cuma minum air putih atau teh pahit saja sampai seluruh “racun” keluar dan aku insyaallah sembuh.

Kurang dua hari dari perjalanan ke Timika, sakitku enggak kunjung sembuh. Gimana mau sembuh kalau pangkalnya di pikiran dan hati yang sedang enggak pas. Mengingat penerbangan ke sana bakal cukup lama mengapung di udara plus tugas yang mesti kujalankan di sana, aku berpikir keras agar  segera sehat, aku butuh energi untuk melakukan semua kegiatan yang direncanakan di sana, tidak bisa lemas seperti sekarang. Maka diluar kebiasaanku aku pergi ke dokter.  Ini kali kedua karena diarea aku pergi ke dokter, yang pertama mesti ke ICU segala karena keracunan kerang dan itu sudah ribuan tahun yang lalu.

Dokter L yang memeriksaku memberiku beberapa jenis obat, mulai dari untuk memampetkan diarea sampai untuk mengatasi muntah dan kembung. Ada empat jenis yang mesti ditebus. Demi perjalanan ke Timika, aku tebus semua (lagian dibayar kantor ini) dan aku minum sesuai anjurannya. Hasilnya di hari berikutnya persis ketika malamnya aku akan terbang, aku makin lemas, kaki dan tanganku rasanya dingin. Aku rasa lama kelamaan obat-obatan itu malah akan membunuhku. Read the rest of this entry

Bertemu Minah di Leuser

Bertemu Minah di Leuser

Mei 2011.

Selepas dari Nias,  aku dan teman-teman fotografer berpisah di bandara Polonia. Ada yang kembali ke Jakarta langsung, ada yang masih akan hunting kuliner di Medan, ada yang kembali ke Kuala Lumpur, Padang dan sebagainya. Kami berpisah setelah perjalanan yang membuat kami semakin dekat. Aku sendiri bergegas ke counter hendak mencari tiket untuk beberapa hari mendatang karena aku masih hendak melanjutkan perjalananku sendiri ke Bukit Lawang dan Samosir.

Namun rupanya seorang teman yang penasaran dengan ceritaku tentang Bukit Lawang ingin mengikutiku. Ia berencana akan tinggal semalam, hanya ingin tahu seperti apa Bukit Lawang, jadi ia tidak jadi balik ke Jakarta hari itu. Ia beli tiket untuk besok siang. Ada untungnya, aku bisa sharing ongkos sewa mobil dari Medan ke Bukit Lawang, tak lupa aku kontak Wawan, pemilik On The Rock untuk bertanya apakah ada satu lagi kamar yang bisa kami booking untuk temanku itu.

Sebuah panther tua membawa kami melewati kota-kota kecil sebelum pemandangan berubah menjadi kebun sawit di kanan kiri sampai akhirnya pengemudi yang belakangan aku tahu seorang mantan dosen di sebuah akademi pariwisata, pemandu wisata dan mantan penyelundup imigran,  memberi tahu kami akan segera memasuki kawasan Bukit Lawang di salah satu sudut Taman Nasional Gunung Leuser. Di tempat parkir umum, kami sudah dinanti salah satu anak buah Wawan. Aku nggak kaget yang jemput kami bukan seperti petugas hotel yang kikuk dengan seragamnya, ia pakai jeans bolong yang dilipat dikit ujungnya, T-Shirt putih lusuh dan pakai sendal jepit,  sangat bersahaja, kesannya seperti pulang ke rumah saja.  ”Mbak Yoga?” sapanya. Read the rest of this entry

Memori yang Meleleh di Aceh

Memori yang Meleleh di Aceh

Banda Aceh mengalami gempa besar lagi dan berpotensi tsunami hanya beberapa hari yang lalu dan saat ini gempa susulan masih kerap terjadi dengan intensitas yang lebih kecil. Aku baru mengetahui kabar itu  kira-kira empat jam setelahnya. Awalnya pesan singkat dari sepupuku yang bertanya dimana posisiku, apakah masih di Banda Aceh? Kelak aku bersyukur saat itu aku enggak menjawab dengan lelucon atau becanda hanya merasa aneh tiba-tiba dicek seperti itu. Kejanggalan kedua, sebuah pesan dari kolegaku yang bertanya apakah Pak Fulan, vendor kami di Aceh baik-baik saja. Seketika kuhubungi Pak Fulan namun tidak berhasil.  Aku berpaling ke teman-teman yang duduk di belakangku dan barulah semuanya terjawab. Ada gempa besar lagi di Aceh. Duh.

Aku memang belum lama kembali dari Banda Aceh.  Seperti biasa hanya sedikit yang tahu kemana aku pergi dan lebih sedikit lagi yang tahu aku udah balik atau belum. Bukan, bukan karena enggak mau berbagi oleh-oleh seperti lazimnya orang Indonesia, hanya karena menganggapnya enggak penting aja buat orang-orang untuk menerima informasi kemana, dengan siapa atau kapan pergi, kapan pulang ketika aku travelling. Buatku paling penting ngasih tahu keluarga inti saja. Dulu aku lebih santai, mau pergi, pergi saja, enggak kasih tau siapa-siapa. Saat itu bisa saja semua orang berpikir aku tenang-tenang di Jakarta misalnya, padahal aku lagi di negeri jiran selama beberapa hari dan enggak ada yang tahu. Namun seiring dengan semakin seringnya perjalanan terutama karena pekerjaan, rasanya enggak fair juga kalau enggak ngasih tahu keluarga inti karena aku bagian tanggung jawab mereka. Maka pesan dari sepupu yang mengkhawatirkanku tadi terjadi sebab Read the rest of this entry

Want-to-Go 2012

Want-to-Go 2012

Orang-orang bermimpi namun hanya beberapa yang kemudian terjaga dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Kalimat ini terjemahan bebas dari versi aslinya yang berbahasa Inggris. Jika engkau merasa tertampar, Itu artinya engkau masih bermimpi, masih tidur. Berbicara tentang mimpi, aku menemukan artikel di The New York Times yang memberikan rekomendasi pada pembacanya 45 tujuan untuk pejalan di 2012. Sayangnya sama sekali enggak menyebutkan Indonesia. Padahal Indonesia punya banyak tempat yang cantik. Kalau ingat gencarnya kampanye Komodo dan rekomendasi NYT ini kira-kira apa yang terpikir olehmu? Ah sudahlah. Sudah bukan rahasia lagi kalau banyak hal-hal yang kurang tepat di negeri ini lagipula rekomendasi NYT bukan berarti harus jadi patokan mutlak biarpun NYT tergolong media yang banyak dibaca orang.

Kalau dulu aku pernah menulis sekilas tentang 1001 Places to Visit Before I Die dan kemudian iseng-iseng aku kaitkan dengan mimpi jalan-jalan di 2012, huh aku jadi rada galau. Bukan, aku enggak bermaksud membatasi mimpi dan membatasi diri namun kenyataannya di 2012 ini kosentrasiku mesti dijauhkan sedikit dari jalanan. Tapiii… mimpi saja bolehlah, sambil bermimpi sambil bersiap-siap menghadapi mimpi yang jadi kenyataan. Jadi kalau ditanya apa daftar want-to-go-ku di tahun 2012, dengan ringan aku akan menyebut…. (aku sudah menyebutnya dalam hati). Kira-kira apa hayo? ;)

Aku menyebutkan dua-tiga kota, Read the rest of this entry

Bertemu Sunyi di Tana Beru

Bertemu Sunyi di Tana Beru

Kalau kamu menyebut tulisan ini lanjutan dari tulisan yang ini, boleh-boleh saja. Aku ingin membuat catatan ketika singgah di Tana Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan meski hanya sekejap. Benar-benar sekejap sebab tak habis sepeminuman kopi ketika berada di sana tepat di hari kedua Januari 2011.

Pagi itu dengan sedikit tergesa aku, Rina dan pak Asdar yang membawa mobil bergegas dari Tanjung Bira ke Tana Beru. Tujuanku untuk mendapatkan foto matahari terbit di sana. Di perjalanan aku teringat adalah Ijul aka Yulia Widiati yang memberiku ide untuk singgah ke kedua tempat itu. Ia hanya memberikan kata kunci: Bira dan Tana Beru, selebihnya aku bertanya-tanya dan googling. Ia pernah singgah di Bira sebab kapten kapal yang membawanya berlayar ketika masih menjalankan tugas sebagai dokter dulu berasal dari Bira dan pernah tinggal beberapa hari di Tana Beru di rumah temannya. Bira dan Beru jika dilafalkan seperti seirama selaras dan kenyataannya memang demikian. Bira adalah tempat pelaut-pelaut tangguh dilahirkan dan Beru adalah tempat di mana kapal-kapal yang kuat dibangun, Pinisi–yang kemudian hari ditulis sebagai Phinisi untuk memudahkan lidah yang terbiasa berbicara dalam bahasa Inggris melafalkannya sebelum kapal Phinisi Nusantara berlayar menuju Vancouver tahun 1986.  Read the rest of this entry

Mencari Sunyi di Tanjung Bira

Mencari Sunyi di Tanjung Bira

Lao Tzu menyebutkan seorang pejalan yang baik tidak memiliki rencana yang pasti dan tidak terlalu memikirkan tujuan akhir perjalanannya. Tanpa bermaksud mengatakan aku adalah seorang pejalan yang baik, namun dalam beberapa perjalanan aku sama sekali tidak memiliki rencana yang benar-benar pasti tentang tujuan-tujuanku, bahkan mengenai waktunya. Semuanya kubiarkan mengalir begitu saja, aku memanjakan otak kananku. Travel-mate-ku lebih parah lagi, ia tidak pernah dipusingkan dengan itinerary ketika berlibur.

Dua tahun lalu kami melakukan perjalanan bersama-sama. Di akhir tahun yang hectic itu, aku menemukan perjalanan bisnisku berakhir di kota Makasar. Aku masih enggan kembali ke Jakarta. Ada libur tahun baru dan tanggal merah karena wiken yang patut dimaksimalkan. Singkat cerita travel-mate-ku, Rina,  menyusul ke Makasar, kami berencana mengeksplor Tanjung Bira yang terletak di salah satu  ”kaki” pulau Sulawesi.

Perjalanan ini samasekali bukan liburan tahun baru. Aku tidak merayakan tahun baru, begitu juga Rina, kami hanya berminat pada perjalanan dan payahnya kami kemudian sadar di akhir tahun seperti itu harga kamar penginapan melonjak berkali lipat seenak perut pemiliknya ketika tiba di sana. :)

***

Read the rest of this entry

Traveler’s Luck

Traveler’s Luck

Mei 1997.

Ketika ferry yang kutumpangi mulai bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan Lembar, aku mulai beringsut ke dek atas. Kulihat orang-orang mulai menggelar tikar menutupi lantai yang terkena tumpahan minyak lantas rebah di atasnya dan bersiap-siap tidur, sebagian yang lain masih bercakap-cakap menikmati kesuksesan mereka mengokupasi kursi-kursi kapal yang jumlahnya tak sebanding dengan jumlah penumpang. Mungkin saja kapal ini overload, tapi apa daya aku sudah di tengah lautan ketika menyadarinya.

Angin malam yang bertiup, menyodorkan beraneka bau, bau baju yang apek, bau minyak yang khas, bau tembakau terbakar, entah bau apalagi dan bau pesing! Tak satu pun yang bergeming. Olala sungguh kuat hidung manusia-manusia itu. Terasa getir. Aku memutuskan berjalan ke arah haluan, meneliti sambil lalu, mencari kemungkinan di mana aku bisa meletakkan setidaknya pantatku saja sampai subuh. Oh ya, malam itu aku dalam perjalanan menyeberangi Selat Lombok dengan tujuan pelabuhan Padang Bai di Bali.

Di haluan kapal ternyata setali tiga uang, baunya juga sama. Di lantai, di kursi penumpang, semua tempat sudah diokupasi. Ada secuil lantai yang berminyak yang kosong, sayangnya aku tak punya secuil alas untuk sekadar duduk di situ. Aku putuskan berjalan ke sisi kiri kapal, agak gelap dan kosong! Aku seorang diri saja di sana.  Agak janggal tapi seorang diri di situ rasanya lebih nyaman, udaranya lebih segar dan yang lebih penting ada tempat duduk kosong. Aku enggak hanya bisa meletakkan pantatku, tapi bisa berbaring kalau mau.

Memandangi laut yang nampak hanya hitam di mana-mana, langit juga sedang tak berbintang, agak mendung. Angin agak kencang dan mulai dingin.  Aku menaikkan kerah jaket menyembunyikan leherku dari terpaan angin, merasa agak menyesal tak membawa scarf kesayangan untuk penutup kepala, aku belum berhijab waktu itu. Kemudian ketika aku mulai menikmati situasiku,  satu-satunya bunyi yang kudengar hanya suara mesin kapal. Aku memutuskan menulis jurnal perjalananku hari itu. Read the rest of this entry

Ride for Peace, Petualangan yang Sarat Inspirasi

Ride for Peace, Petualangan yang Sarat Inspirasi

The road may end, but not our spirit of adventure, brotherhood, and peace. — Jeffrey Polnaja

Aku pernah melihat Jeffrey Polnaja saat tampil di Kick Andy (lho nonton TV? Iya pas lagi nggak di rumah), sebelumnya aku udah baca-baca petualangan beliau ini di website-nya dan media massa. Kang JJ — kok JJ bukan JP? Lagian aku sok akrab yeah? Jadi JJ itu nama panggilan, kepanjangan dari Jurig Jalanan, dari namanya pasti sekilat kamu tahu kira-kira manusia macam apa beliau ini, benar, tukang jalanan. Kang JJ adalah orang Indonesia pertama yang keliling dunia dengan motor besar berpetualang selama dua tahun, ke 72 negara melampaui target awal 45 negara.  Hebatnya, petualangan itu dilakukan seorang diri. Dalam beberapa kesempatan selain dapat suguhan pemandangan alam yang indah dan keramahan penduduk setempat, beberapa kali Kang JJ juga mengalami peristiwa mendebarkan yang bisa berujung hilangnya nyawa, namun pada akhirnya ia berhasil menuntaskan perjalanan dan kembali dengan selamat ke Indonesia.

Enggak diragukan, he is somebody (pastinya) dan ada rasa ingin tahu yang belum tuntas, media TV dan media massa nggak menyajikan kisah petualangannya dengan detil. Maka ketika aku menemukan buku petualangan Kang JJ, “Wind Rider Menyerempet Bahaya Demi Perdamaian Dunia” dipajang di salah satu toko Eiger, langsung saja kubeli. Karyawan toko itu langung nyeletuk, “Di Gramedia nggak ada lho, Mbak.” Entah valid atau nggak infonya, aku memang belum pernah lihat buku ini di toko buku lain. Setelah aku cek di FB Wind Rider Story, buku itu juga bisa diperoleh via toko buku on line.

Tentang petualangan selengkapnya silakan dibaca sendiri bisa di bukunya. Di sini aku hanya akan membuat beberapa catatan yang menarik pikiranku tentang perjalanan ‘Ride for Peace” ini. Read the rest of this entry

Unessential Things: Traveler’s Life Cycle

Unessential Things: Traveler’s Life Cycle

Berkeliling dunia dengan motor bukan hal yang asing di telingaku. Bukan berarti aku seorang rider yang sudah melakukan petualangan seru dengan motor, tidak. Aku punya kolega asal UK berkewarganegaraan Amerika yang telah melakukannya bertahun-tahun, jumlah negara yang dijelajahi melampaui angka seratus, semuanya menggunakan sebuah motor HD.  Sekarang ia pensiun sebagai pejalan.

Ia memutuskan memusatkan perhatiannya untuk membangun keluarga baru di Indonesia. Membeli beberapa properti di Bali dan di Bandung untuk mengembangkan bisnis hotel kecil-kecilan, bisnis yang enggak jauh-jauh dari kegemarannya: melakukan perjalanan. Saat ini, sehari-hari ia masih bekerja di sebuah world class company milik orang Indonesia asli, sambil menunggu masa pensiunnya yang tinggal beberapa tahun lagi.

Di dalam The Alchemist, Santiago berhenti berkelana ketika sudah menemukan harta karunnya. Kurasa ia pun sudah menemukan harta karunnya seperti Santiago. Pertanyaanku, apakah untuk selamanya?

*** Read the rest of this entry