Memori itu bermula dari secangkir teh yang dicelup sebatang kayu manis dan dihirup perlahan, sesekali ada bunyi sruup… ketika aku menghirupnya dengan sepenuh hati. Tak cukup dihirup aromanya, tak cukup dirasakan hangatnya ketika mengalir di kerongkongan, aku juga perlu mengelus cangkirnya yang terasa hangat di tanganku.
Labirin di otakku terbuka. Aku tiba-tiba berada di sebuah sungai berbatu di lereng gunung Welirang. Aku melihat kembali rombongan kecil kami, aku, adikku dan sepupu-sepupuku sedang menyusuri sungai berbatu itu. Aku masih anak-anak, bukan yang paling muda. Sungai itu bukan bagian dari tempat wisata, masih perawan, meski kami bisa mencapai salah satu sisinya dengan berjalan kaki sekitar dua puluh menit dari jalan umum.
Saat itu kemarau, airnya sedang dangkal, yang paling dalam sepertinya hanya 50cm. Banyak batu-batu besar sebesar gajah bertebaran. Lebarnya hanya dua meteran, hampir diseluruh bagian yang kami jelajahi, tidak ada batas yang jelas antara daratan dan sungai itu sendiri. Di beberapa bagian ada riam kecil, ada batu yang terbentuk seperti seluncuran, rasanya asyik juga meluncurkan diri, tapi aku ngeri, air yang relatif diam mendadak sangat deras di seluncuran itu. Aku membayangkan seandainya nekat meluncur tanpa perlengkapan apa-apa. Kepalaku tak sekeras batu.
Kami berjalan perlahan, sebab dasar sungai licin, berlumut. Selain itu perjalanan kami menuju hulu, elevasinya makin naik. Di sepanjang perjalanan kami tak henti berdecak kagum, seumur-umur baru kali itu kami bertemu capung yang Read the rest of this entry
