Adalah adikku awalnya yang menelponku suatu pagi, bertanya kapan aku akan ke Surabaya, ia ingin menunjukkan perkebunan yang dikelola secara profesional di daerah Pasuruan dalihnya ia ingin mengajak kami sekeluarga makan durian di kebunnya langsung. Tentu saja ajakan ini tak kutolak, meski tak bisa langsung kupenuhi.
Singkat cerita beberapa minggu kemudian aku menyetir mobil yang meluncur tenang menuju Pasuruan. Dari Surabaya lewat tol sampai sekitar Porong. Jalan tol yang dulu mulus membentang antara Surabaya dan Gempol, terputus di Porong karena munculnya “Kuala Lumpur” di Porong. Tiba di Porong untuk menuju daerah Malang atau Pasuruan jika melewati jalan yang biasa mesti belok kanan, namun kali ini aku belok kiri terus belok ke kanan, masuk ke desa yang masih bagian dari Tanggulangin untuk mencoba jalan alternatif yang lebih sepi. Jalan ini membawaku keluar di jalan tol yang terpotong, sudah dekat daerah Gempol.
Di persimpangan pasar Pasuruan aku mengarahkan mobil ke kiri, jika ke kanan kita akan menuju kota Malang. Setelah melewati sebuah sekolah kejuruan di kiri jalan, lantas ada pertigaan besar, untuk menuju perkebunan itu aku harus belok kanan. Jalan besar berubah menjadi lebih sempit, volume lalu lintas sedikit berkurang, jalan mulai berkelok dan rasanya makin naik. Di kiri jalan terlihat hamparan sawah dan gunung di kejauhan, entah gunung apa. Sementara di bagian kanan berselang seling bengkel kerja, pabrik kecil dan rumah penduduk. Kira-kira tiga kilometer kemudian terlihat penanda kebun yang kami tuju, tak jauh dari situ ada sebuah gerbang terbuka lebar dan satpam berbaju putih biru yang menjaga. Aku masuk dan parkir. Areal ini terlihat kerontang, tak banyak pohon. Aku diam, menurunkan sedikit ekspetasi-ku. Read the rest of this entry




