Category Archives: Jalan-Jalan

Rekaman jalan-jalan ke tempat yang pernah saya kunjungi.

Incip-Incip Melon di Bhakti Alam

Incip-Incip Melon di Bhakti Alam

Adalah adikku awalnya yang menelponku suatu pagi, bertanya kapan aku akan ke Surabaya, ia ingin menunjukkan perkebunan yang dikelola secara profesional di daerah Pasuruan dalihnya ia ingin mengajak kami sekeluarga makan durian di kebunnya langsung. Tentu saja ajakan ini tak kutolak, meski tak bisa langsung kupenuhi.

Singkat cerita beberapa minggu kemudian aku menyetir mobil yang meluncur tenang menuju Pasuruan. Dari Surabaya lewat tol sampai sekitar Porong. Jalan tol yang dulu mulus membentang antara Surabaya dan Gempol, terputus di Porong karena munculnya “Kuala Lumpur” di Porong. Tiba di Porong untuk menuju daerah Malang atau Pasuruan jika melewati jalan yang biasa mesti belok kanan, namun kali ini aku belok kiri terus belok ke kanan, masuk ke desa yang masih bagian dari Tanggulangin untuk mencoba jalan alternatif yang lebih sepi. Jalan ini membawaku keluar di jalan tol yang terpotong, sudah dekat daerah Gempol.

Di persimpangan pasar Pasuruan aku mengarahkan mobil ke kiri, jika ke kanan kita akan menuju kota Malang. Setelah melewati sebuah sekolah kejuruan di kiri jalan, lantas ada pertigaan besar, untuk menuju perkebunan itu aku harus belok kanan. Jalan besar berubah menjadi lebih sempit, volume lalu lintas sedikit berkurang, jalan mulai berkelok dan rasanya makin naik. Di kiri jalan terlihat hamparan sawah dan gunung di kejauhan, entah gunung apa. Sementara di bagian kanan berselang seling bengkel kerja, pabrik kecil dan rumah penduduk. Kira-kira tiga kilometer kemudian terlihat penanda kebun yang kami tuju, tak jauh dari situ ada sebuah gerbang terbuka lebar dan satpam berbaju putih biru yang menjaga. Aku masuk dan parkir. Areal ini terlihat kerontang, tak banyak pohon. Aku diam, menurunkan sedikit ekspetasi-ku. Read the rest of this entry

Berkelindan

Berkelindan

Entah mengapa dalam setiap perjalanan, selalu saja ada hal yang membuat aku berkelindan dengan tempat atau orang yang kujumpai di perjalanan tersebut. Seperti misalnya belum lama ini aku melewati kota Ende di Flores. Bisa dikatakan aku hanya sepeminuman teh di sana, mengelilingi kota ini sebentar sambil mencari rumah makan untuk makan siang.

Yang membedakan kota ini dengan kota lain di Flores yang aku singgahi adalah jumlah masjid yang relatif banyak, bahkan ada satu jalan yang dinamai jalan Masjid, tidak jauh dari jalan itu, ada sebuah rumah yang dulu pernah ditempati oleh Bung Karno saat diasingkan ke sana pada 1934-1938.

Setelah makan siang, aku menyempatkan mampir ke rumah kuno tersebut. Aku berkeliling sendiri di situs yang tak terlalu luas itu, mengamati arsitekturnya. Satu-satunya penjaga di sana adalah seorang pemuda yang kira-kira berusia 30 tahun. Aku lupa mencatat namanya, dalam perjalanan kali ini salah satu hal yang agak kusesali adalah soal catat mencatat. Banyak orang baru yang aku jumpai sebagian besar aku catat namanya, sebagian aku hafal, dan sisanya lupa. Aku juga tak sempat bertanya banyak soal rumah ini dan sejarahnya, sebab ia sedang sibuk memandu tiga tamu dari Surabaya yang datang lebih dulu.

Saat aku usai berkeliling dan hendak numpang sholat, ia malah menyarankan agar aku sholat di mushola dekat situ sebab ia harus bergegas pulang untuk urusan keluarga jadi rumah itu akan ia kunci. Padahal hari masih siang, senja masih berjam-jam lagi, bisa jadi ada pengunjung lain yang datang dari jauh sepertiku dan mungkin ia kecewa. Read the rest of this entry

Get Lost

Get Lost

Hoah! Tulisan ini dibuat untuk mengalihkan perhatian dari hawa dingin. Yup,  saat menuliskan ini, saya sedang berada di sebuah kota di timur Indonesia yang terletak di ketinggian sekitar 1.200 m dari permukaan laut. Entah berapa derajat suhu saat ini,  saya enggak tahu (rasanya lebih dingin dari AC yang diset 18 Celcius), GPS saya sedang tidak berfungsi dan tak berminat mencari tahu sebab tujuannya adalah get loss lost! And tonight I am totally lost, enggak nemu tempat makan yang secara teknis bisa mengakomodasi kebutuhan saya. Bahasa lainnya, enggak nemu resto yang memasak makanan halal minimal sea food misalnya. Ya iyalah kota ini di pegunungan.

Well, untung masih ada kopi tubruk, biskuit marie dan popmie (penulisan diurut berdasarkan skala prioritas) untuk mengganjal perut, sebelum matahari muncul besok jadi saya bisa mencari restoran Padang. Hayah, kalau diingat-ingat “dari Sabang sampai Merauke” makannya: nasi Padang. Aman. ;)

Tadinya saya sudah masuk ke sebuah resto kecil milik penduduk setempat. Ada sepasang bule duduk di meja dekat jendela. Selisih satu meja dari mereka duduk beberapa pria. Kalau dari wajah, kulit, rambut dan bahasa yang mereka pakai, bisa dipastikan mereka penduduk pulau ini. Satu atau dua orang, wajahnya tampak familiar, belakangan saya ingat, kami bertemu pagi hari tadi di sebuah desa yang saya kunjungi. Ia guide pasangan bule yang duduk di meja dekat jendela itu. Orangnya ramah ia menyapa saya duluan. Tak lama kemudian, seorang Nona (begitu kata ganti untuk kakak perempuan di sini) meletakkan menu di depan saya. Halaman awal isinya melulu tentang minuman. Saya tahu pasti minuman apa yang bakal saya pesan.

Kemudian saya mulai membuka halaman berikutnya, langsung terbaca: pork. Hayah. Kelihatannya saya tak bisa makan di situ. Sepintas saya baca ada menu sayur-mayur, tapi ketika saya tanyakan pada si Nona, apakah alat masak yang digunakan untuk memasak dipisah antara menu halal dan tidak, ternyata jawabannya tidak. Jadi akhirnya saya hanya memesan kopi tubruk segelas. Tanpa gula, pastinya.

Sambil menikmati kopi itu, saya teringat pengalaman tahun lalu ketika akan ke desa Ngadulanggi – Sumba bersama teman-teman di komunitas 1N3B. Read the rest of this entry

Biz Meets Pleasure, Kerja Sambil Jalan-Jalan.

Biz Meets Pleasure, Kerja Sambil Jalan-Jalan.

Salah satu penghambat untuk travelling (selain dana) adalah pekerjaan yang tak bisa seenak perut ditinggalkan. Maka bersyukurlah bagi siapa yang memiliki pekerjaan yang memungkinkan untuk bepergian dan tidak monoton tinggal di kantor melulu sehingga mendapatkan business and pleasure sekaligus.

Ada beberapa profesi yang umum di Indonesia yang bisa mengakomodasi mereka yang punya hobi travelling;-

Flight Attendant dan Pilot, enggak hanya bepergian antar kota di dalam negeri, dua profesi ini bisa membawa mereka ke luar negeri. Meski ada beberapa maskapai yang agak “pelit” pada karyawannya sehingga enggak memberi kesempatan pramugari atau pramugara untuk menjelajah kota yang disinggahi, tapi tetap saja stempel di paspor mereka bertambah. Profesi yang nyaris sejenis dengan flight attendant dan pilot adalah nahkoda kapal dan ABK-nya, sopir dan kenek bus antar kota atau sopir truk dan keneknya yang mengirim barang antar kota atau  antar pulau, sopir mobil travel antar kota dan yang paling wah, adalah mereka yang bekerja di kapal pesiar karena sudah pasti melewati rute-rute plesiran.

Guide dan penerjemah atau kadang guide yang memiliki kemampuan berbahasa tertentu sudah pasti melakukan perjalanan dan mendapat bayaran yang relevan dengan pelayanan yang mereka berikan. Kadang diperjalanan saya menemukan guru atau dosen sekolah perhotelan atau pariwisata yang merangkap menjadi sopir, guide dan penerjemah sekaligus tapi bayarannya sih cuma satu. :)

Karyawan NGO,  volunteer, UN dsb, karena proyek-proyek mereka lebih banyak di daerah pelosok atau daerah yang sedang mengalami bencana tak ayal mereka mengirimkan staff atau tenaga volunteer ke lokasi-lokasi tersebut. Mereka bisa tinggal dalam hitungan hari hingga tahunan dengan cuti secara periodik. Kebanyakan daerah pelosok memiliki situasi yang menarik dan alam yang khas jadi kalau yang bisa menikmati bakal merasa seperti berlibur saja. Demikian halnya dengan yang bekerja di pertambangan. Malah rata-rata karyawan di oil and gas company memiliki jadwal dua minggu kerja dan dua minggu libur, yang mana memberi kesempatan luas mereka untuk melihat-lihat daerah lain, beruntung lagi yang cuti dibayar dan bebas menentukan liburan sekali setahun dan dibayari oleh kantor. Hmm….

Beberapa profesi kantoran (swasta maupun PNS) seperti business development, konsultan, auditor, spesialis tertentu (dokter PTT, penyelam, film maker, fotografer, penulis perjalanan) dan sebagainya juga berkesempatan bepergian untuk bisnis dan dibayar atau menerima bayaran atas jasa mereka dan biasanya end up dengan sedikit keluhan tentang nombok untuk beli oleh-oleh.

Selain itu ada juga mereka yang memilih profesi atau bisnis yang memungkinkan mereka bepergian sambil bekerja. Pada umumnya mereka telah memiliki bisnis sendiri yang relatif telah mapan atau bisnis mereka bisa diakses dari mana saja. Biasanya internet memiliki peranan penting. Sebutan kerennya untuk tipe ini adalah Digital Nomad. Menarik.

Selain profesi-profesi tersebut di atas, ada lagi satu  profesi yang memungkinkan jalan-jalan dan mendapat bayaran ruarrr biasa. Mau? Jadilah anggota DPR. :) )

Ok deh, selamat subuh!

Y.A.

Pejalan, Berjalanlah

Pejalan, Berjalanlah

Senang sekali ketika menemukan situs Zamrud Khatulistiwa, yang berisi cerita perjalanan dua wartawan; Farid Gaban dan Ahmad Yunus mengelilingi Indonesia dengan cara sederhana, naik motor tua yang dimodifikasi dan menikmati perjalanan dengan membumi. Mereka menyebut perjalanan ala fakir miskin namun sesungguhnya petualangan ini tak ternilai dan tak akan terulang momennya.

Saya juga merasa senang ketika menemukan situs milik Barry Kusuma, Exotic Indonesia yang juga menceritakan keindahan Indonesia. Sama halnya dengan situs Zamrud Khatulistiwa, keduanya memuat foto dan video yang bercerita dengan apik, sehingga rasanya seolah-olah kita juga telah menjejakkan kaki di tempat-tempat yang mereka datangi. Indah. Namun rasanya tidak cukup melahap isi situs mereka. Supaya lebih afdol rasanya mesti mengunjungi tempat-tempat itu sendiri. Mendapatkan sendiri moment of truth-nya.

Perjalanan adalah perjalanan. Bukan tujuan akhirnya yang memburu kita untuk pergi, namun perjalanan itu sendiri yang memberikan warna dan mengajarkan hidup pada yang menjalani. Setidaknya setiap manusia adalah pejalan, bahkan dalam tiap ajaran agama senantiasa kita jumpai anjuran atau bahkan kewajiban untuk melakukan perjalanan spiritual. Sementara kehidupan sendiri adalah sebuah perjalanan antara kelahiran dan kematian.

Ada yang mengatakan perjalanan terberat adalah perjalanan ke dalam hati. Ada cara untuk meringankan perjalanan ke dalam hati itu, yaitu dengan melakukan perjalanan fisik. Percayalah, dalam tiap perjalanan ada masanya kita kembali pada hati masing-masing untuk merenung tentang asal usul dan diri kita sejati. Maka selagi mampu mengapa kita tidak melakukan perjalanan kemanapun hati mengajak. Syukur-syukur di negeri sendiri — biar kata lebih mahal jalan-jalan di Indonesia timbang ke manca negara, yah? ;)

Selamat pagi!

Y.A.

catatan:-

1. Zamrud Khatulistiwa:  http://zamrud-khatulistiwa.or.id

2. Exotic Indonesia: http://alambudaya.blogspot.com

Bukan Sedang Galau

Bukan Sedang Galau

Sungguh kacau time management saya belakangan ini, hasilnya saya ketinggalan satu agenda penting yang sudah lama saya nantikan hanya karena lupa. Dan konyolnya lagi saya hanya mengandalkan insting, ingat-ingat-lupa kapan hari H itu tapi tak pernah mengecek jadwal untuk memastikan. Untungnya masih punya kesempatan mengikuti jadwal kegiatan berikutnya yang jaraknya tiga minggu kemudian. Mendadak saya jadi punya waktu luang. Voila! Tahu-tahu saya sudah asyik menyusuri kota Medan, menghabiskan hari sendirian sebelum esok, pagi-pagi buta usai subuh bertemu dengan teman-teman penggemar fotografi dari Indonesia dan Malaysia di Bandar Udara Polonia. Kami akan terbang bersama-sama menuju pulau Nias.  Pulau yang dianggap masih “menyeramkan” bagi sebagian warga Medan — beberapa orang yang saya jumpai bertanya, apa tidak seram ke Nias? Seharusnya-kan mereka bisa mengatakan sungguh n-i-c-e pergi ke N-i-a-s (wow maksa). Rupanya bencana gempa dan tsunami yang pernah melanda Nias masih menyisakan trauma. Read the rest of this entry

Solo Traveler or Not

Solo Traveler or Not

Ketika saya menceritakan perjalanan terakhir saya kepada seorang teman, saya kemudian tahu bahwa konsep menjadi solo traveler atau pejalan tunggal atau pelancong sendirian bagi seorang perempuan itu bukan ide yang menarik baginya. Teman saya seorang perempuan, pendaki gunung yang tangguh yang bisa disejajarkan kekuatannya dengan pendaki pria, ia perempuan pertama yang mencapai puncak Egon di timur Indonesia dan beberapa kali pernah melancong sendirian ke daerah yang lumayan “berat” kondisi keamanannya untuk perempuan, selain itu ia adalah seseorang yang sangat realistis. Jadi pasti ia punya alasan tersendiri. Kemudian saya ketahui faktor keamanan menjadi alasan kuat mengapa ia tak terlalu menyukai ide solo traveler bagi perempuan.

Jika sudah membicarakan subyek ini mau tak mau jadi bias gender. Memang tidak dipungkiri seorang perempuan, pejalan tunggal bakal sangat sulit melakukan perjalanan seperti seorang Agustinus Wibowo yang bisa berbaur sedemikian rupa dengan masyarakat lokal di daerah yang didatanginya sehingga perjalanan Agustinus tak sekadar perjalanan ala turis biasa, yang dimulai dengan perburuan tiket, akomodasi, keliling lokasi seperlunya, ambil beberapa foto dan kemudian dengan bungah memamerkan foto-foto tersebut yang biar beda gambarnya tapi sama bunyinya,”I was here.” Read the rest of this entry

Banua Patra Yang Berdetak

Banua Patra Yang Berdetak

Banua Patra atau Balikpapan, sebuah kota di Kalimantan Timur yang senantiasa berdetak.  Perdagangan tumbuh dengan marak seiring dengan kegiatan eksplorasi minyak di sekitarnya. Ada beberapa versi tentang asal usul kota Balikpapan, salah satunya adalah adanya sepuluh keping papan yang kembali ke Jenebora dari 1.000 keping yang diminta oleh Sultan Kutai sebagai sumbangan bahan bangunan untuk Pembangunan Istana Baru Kutai Lama. Ke sepuluh papan yang balik tersebut disebut oleh orang Kutai Balikpapan Tu. Sehingga wilayah sepanjang Teluk Balikpapan tersebut, tepatnya di Jenebora disebut Balikpapan. Hari lahir Balikpapan ditetapkan pada tanggal 10 Februari 1897 dimana saat itu ditepatkan dengan peristiwa pengeboran minyak pertama kali dilakukan oleh perusahaan Mathilda sebagai realisasi kerjasama antara J.H. Menten dengan Mr. Adams dari Firma Samuel dan Co.

Kini Balikpapan adalah melting pot raksasa, dimana nyaris seluruh bangsa di dunia terwakilkan di sana. Detak dan geliatnya nampak dari pesatnya pembangunan fisik, maraknya bisnis property dan hidupnya bisnis perhotelan di sana. Memang sebagian besar pejalan tersebut hanya singgah sesaat di Balikpapan sebelum melanjutkan perjalanan ke kota-kota kecil tempat pertambangan yang sebenarnya berada atau untuk melanjutkan perjalanan ke Samarinda, ibukota Kalimantan Timur yang dapat ditempuh melalui jalan darat sekitar 2,5 – 3 jam berkendara. Saya sendiri telah beberapa kali menjejakkan langkah di sana, kesemuanya untuk urusan pekerjaan. Kerap  saya mesti berangkat dini hari dari rumah agar dapat tiba di Balikpapan sebelum siang. Tak jarang ketika sore tiba, saya telah kembali duduk di pesawat untuk terbang kembali ke kota asal.  Jika waktu agak luang, tentu saya tak menyia-menyiakannya untuk berburu foto, menyempatkan makan kepiting di resto Kepiting Kenari atau sekedar mencari kerajinan tangan di Pasar Kebun Sayur.

This slideshow requires JavaScript.

Mencari Jejak

Mencari Jejak

Tahun lalu ketika singgah ke gallery House of Sampoerna, Surabaya, saya melihat pameran foto ekspedisi Napak Tilas Hayam Wuruk oleh Hadi Sidomulyo aka Nigel Bullough, seorang budayawan yang berasal dari Inggris.

Hari itu juga, saya mendapatkan sekeping CD dan buku yang berjudul Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca. Dari situlah muncul keinginan untuk sebisa mungkin mengunjungi satu demi satu obyek yang disebutkan oleh Hadi Sidomulyo.

Satu langkah kecil untuk mulai mewujudkan keinginan itu dengan mengunjungi beberapa situs di sekitar Trowulan yang terakhir  saya kunjungi belasan tahun yang lalu.

tambening kahawan winarnna ri Japan kuthi kuthi hana candhi sak rebah (17:I0a)

mula-mula melalui Japan, dengan biaranya serta runtuhan candi….

This slideshow requires JavaScript.

Penghiburan

Penghiburan

Rasa tentang keindahan bukan hanya monopoli mereka yang tak terasing dari peradaban. Naluri itu tumbuh dengan tumbuhnya akal, berkembangnya pemikiran dan yang terpenting naluri untuk mencari penghiburan. Katakan pendapat ini salah, namun jika menemukan keindahan tenun-tenunan di sebuah pelosok yang terpencil, di Sumba, tempat dimana sulit membayangkan, orang leluasa memikirkan keindahan di saat pergulatan panjang dengan alam yang tak ramah dan didera kekurangan bertubi-tubi, apakah mesti diperdebatkan?

This slideshow requires JavaScript.