Category Archives: Jalan-Jalan

Rekaman jalan-jalan ke tempat yang pernah saya kunjungi.

Want-to-Go 2012

Want-to-Go 2012

Orang-orang bermimpi namun hanya beberapa yang kemudian terjaga dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Kalimat ini terjemahan bebas dari versi aslinya yang berbahasa Inggris. Jika engkau merasa tertampar, Itu artinya engkau masih bermimpi, masih tidur. Berbicara tentang mimpi, aku menemukan artikel di The New York Times yang memberikan rekomendasi pada pembacanya 45 tujuan untuk pejalan di 2012. Sayangnya sama sekali enggak menyebutkan Indonesia. Padahal Indonesia punya banyak tempat yang cantik. Kalau ingat gencarnya kampanye Komodo dan rekomendasi NYT ini kira-kira apa yang terpikir olehmu? Ah sudahlah. Sudah bukan rahasia lagi kalau banyak hal-hal yang kurang tepat di negeri ini lagipula rekomendasi NYT bukan berarti harus jadi patokan mutlak biarpun NYT tergolong media yang banyak dibaca orang.

Kalau dulu aku pernah menulis sekilas tentang 1001 Places to Visit Before I Die dan kemudian iseng-iseng aku kaitkan dengan mimpi jalan-jalan di 2012, huh aku jadi rada galau. Bukan, aku enggak bermaksud membatasi mimpi dan membatasi diri namun kenyataannya di 2012 ini kosentrasiku mesti dijauhkan sedikit dari jalanan. Tapiii… mimpi saja bolehlah, sambil bermimpi sambil bersiap-siap menghadapi mimpi yang jadi kenyataan. Jadi kalau ditanya apa daftar want-to-go-ku di tahun 2012, dengan ringan aku akan menyebut…. (aku sudah menyebutnya dalam hati). Kira-kira apa hayo? ;)

Aku menyebutkan dua-tiga kota, Read the rest of this entry

Bertemu Sunyi di Tana Beru

Bertemu Sunyi di Tana Beru

Kalau kamu menyebut tulisan ini lanjutan dari tulisan yang ini, boleh-boleh saja. Aku ingin membuat catatan ketika singgah di Tana Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan meski hanya sekejap. Benar-benar sekejap sebab tak habis sepeminuman kopi ketika berada di sana tepat di hari kedua Januari 2011.

Pagi itu dengan sedikit tergesa aku, Rina dan pak Asdar yang membawa mobil bergegas dari Tanjung Bira ke Tana Beru. Tujuanku untuk mendapatkan foto matahari terbit di sana. Di perjalanan aku teringat adalah Ijul aka Yulia Widiati yang memberiku ide untuk singgah ke kedua tempat itu. Ia hanya memberikan kata kunci: Bira dan Tana Beru, selebihnya aku bertanya-tanya dan googling. Ia pernah singgah di Bira sebab kapten kapal yang membawanya berlayar ketika masih menjalankan tugas sebagai dokter dulu berasal dari Bira dan pernah tinggal beberapa hari di Tana Beru di rumah temannya. Bira dan Beru jika dilafalkan seperti seirama selaras dan kenyataannya memang demikian. Bira adalah tempat pelaut-pelaut tangguh dilahirkan dan Beru adalah tempat di mana kapal-kapal yang kuat dibangun, Pinisi–yang kemudian hari ditulis sebagai Phinisi untuk memudahkan lidah yang terbiasa berbicara dalam bahasa Inggris melafalkannya sebelum kapal Phinisi Nusantara berlayar menuju Vancouver tahun 1986.  Read the rest of this entry

Mencari Sunyi di Tanjung Bira

Mencari Sunyi di Tanjung Bira

Lao Tzu menyebutkan seorang pejalan yang baik tidak memiliki rencana yang pasti dan tidak terlalu memikirkan tujuan akhir perjalanannya. Tanpa bermaksud mengatakan aku adalah seorang pejalan yang baik, namun dalam beberapa perjalanan aku sama sekali tidak memiliki rencana yang benar-benar pasti tentang tujuan-tujuanku, bahkan mengenai waktunya. Semuanya kubiarkan mengalir begitu saja, aku memanjakan otak kananku. Travel-mate-ku lebih parah lagi, ia tidak pernah dipusingkan dengan itinerary ketika berlibur.

Dua tahun lalu kami melakukan perjalanan bersama-sama. Di akhir tahun yang hectic itu, aku menemukan perjalanan bisnisku berakhir di kota Makasar. Aku masih enggan kembali ke Jakarta. Ada libur tahun baru dan tanggal merah karena wiken yang patut dimaksimalkan. Singkat cerita travel-mate-ku, Rina,  menyusul ke Makasar, kami berencana mengeksplor Tanjung Bira yang terletak di salah satu  ”kaki” pulau Sulawesi.

Perjalanan ini samasekali bukan liburan tahun baru. Aku tidak merayakan tahun baru, begitu juga Rina, kami hanya berminat pada perjalanan dan payahnya kami kemudian sadar di akhir tahun seperti itu harga kamar penginapan melonjak berkali lipat seenak perut pemiliknya ketika tiba di sana. :)

***

Read the rest of this entry

Traveler’s Luck

Traveler’s Luck

Mei 1997.

Ketika ferry yang kutumpangi mulai bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan Lembar, aku mulai beringsut ke dek atas. Kulihat orang-orang mulai menggelar tikar menutupi lantai yang terkena tumpahan minyak lantas rebah di atasnya dan bersiap-siap tidur, sebagian yang lain masih bercakap-cakap menikmati kesuksesan mereka mengokupasi kursi-kursi kapal yang jumlahnya tak sebanding dengan jumlah penumpang. Mungkin saja kapal ini overload, tapi apa daya aku sudah di tengah lautan ketika menyadarinya.

Angin malam yang bertiup, menyodorkan beraneka bau, bau baju yang apek, bau minyak yang khas, bau tembakau terbakar, entah bau apalagi dan bau pesing! Tak satu pun yang bergeming. Olala sungguh kuat hidung manusia-manusia itu. Terasa getir. Aku memutuskan berjalan ke arah haluan, meneliti sambil lalu, mencari kemungkinan di mana aku bisa meletakkan setidaknya pantatku saja sampai subuh. Oh ya, malam itu aku dalam perjalanan menyeberangi Selat Lombok dengan tujuan pelabuhan Padang Bai di Bali.

Di haluan kapal ternyata setali tiga uang, baunya juga sama. Di lantai, di kursi penumpang, semua tempat sudah diokupasi. Ada secuil lantai yang berminyak yang kosong, sayangnya aku tak punya secuil alas untuk sekadar duduk di situ. Aku putuskan berjalan ke sisi kiri kapal, agak gelap dan kosong! Aku seorang diri saja di sana.  Agak janggal tapi seorang diri di situ rasanya lebih nyaman, udaranya lebih segar dan yang lebih penting ada tempat duduk kosong. Aku enggak hanya bisa meletakkan pantatku, tapi bisa berbaring kalau mau.

Memandangi laut yang nampak hanya hitam di mana-mana, langit juga sedang tak berbintang, agak mendung. Angin agak kencang dan mulai dingin.  Aku menaikkan kerah jaket menyembunyikan leherku dari terpaan angin, merasa agak menyesal tak membawa scarf kesayangan untuk penutup kepala, aku belum berhijab waktu itu. Kemudian ketika aku mulai menikmati situasiku,  satu-satunya bunyi yang kudengar hanya suara mesin kapal. Aku memutuskan menulis jurnal perjalananku hari itu. Read the rest of this entry

Ride for Peace, Petualangan yang Sarat Inspirasi

Ride for Peace, Petualangan yang Sarat Inspirasi

The road may end, but not our spirit of adventure, brotherhood, and peace. — Jeffrey Polnaja

Aku pernah melihat Jeffrey Polnaja saat tampil di Kick Andy (lho nonton TV? Iya pas lagi nggak di rumah), sebelumnya aku udah baca-baca petualangan beliau ini di website-nya dan media massa. Kang JJ — kok JJ bukan JP? Lagian aku sok akrab yeah? Jadi JJ itu nama panggilan, kepanjangan dari Jurig Jalanan, dari namanya pasti sekilat kamu tahu kira-kira manusia macam apa beliau ini, benar, tukang jalanan. Kang JJ adalah orang Indonesia pertama yang keliling dunia dengan motor besar berpetualang selama dua tahun, ke 72 negara melampaui target awal 45 negara.  Hebatnya, petualangan itu dilakukan seorang diri. Dalam beberapa kesempatan selain dapat suguhan pemandangan alam yang indah dan keramahan penduduk setempat, beberapa kali Kang JJ juga mengalami peristiwa mendebarkan yang bisa berujung hilangnya nyawa, namun pada akhirnya ia berhasil menuntaskan perjalanan dan kembali dengan selamat ke Indonesia.

Enggak diragukan, he is somebody (pastinya) dan ada rasa ingin tahu yang belum tuntas, media TV dan media massa nggak menyajikan kisah petualangannya dengan detil. Maka ketika aku menemukan buku petualangan Kang JJ, “Wind Rider Menyerempet Bahaya Demi Perdamaian Dunia” dipajang di salah satu toko Eiger, langsung saja kubeli. Karyawan toko itu langung nyeletuk, “Di Gramedia nggak ada lho, Mbak.” Entah valid atau nggak infonya, aku memang belum pernah lihat buku ini di toko buku lain. Setelah aku cek di FB Wind Rider Story, buku itu juga bisa diperoleh via toko buku on line.

Tentang petualangan selengkapnya silakan dibaca sendiri bisa di bukunya. Di sini aku hanya akan membuat beberapa catatan yang menarik pikiranku tentang perjalanan ‘Ride for Peace” ini. Read the rest of this entry

Unessential Things: Traveler’s Life Cycle

Unessential Things: Traveler’s Life Cycle

Berkeliling dunia dengan motor bukan hal yang asing di telingaku. Bukan berarti aku seorang rider yang sudah melakukan petualangan seru dengan motor, tidak. Aku punya kolega asal UK berkewarganegaraan Amerika yang telah melakukannya bertahun-tahun, jumlah negara yang dijelajahi melampaui angka seratus, semuanya menggunakan sebuah motor HD.  Sekarang ia pensiun sebagai pejalan.

Ia memutuskan memusatkan perhatiannya untuk membangun keluarga baru di Indonesia. Membeli beberapa properti di Bali dan di Bandung untuk mengembangkan bisnis hotel kecil-kecilan, bisnis yang enggak jauh-jauh dari kegemarannya: melakukan perjalanan. Saat ini, sehari-hari ia masih bekerja di sebuah world class company milik orang Indonesia asli, sambil menunggu masa pensiunnya yang tinggal beberapa tahun lagi.

Di dalam The Alchemist, Santiago berhenti berkelana ketika sudah menemukan harta karunnya. Kurasa ia pun sudah menemukan harta karunnya seperti Santiago. Pertanyaanku, apakah untuk selamanya?

*** Read the rest of this entry

Incip-Incip Melon di Bhakti Alam

Incip-Incip Melon di Bhakti Alam

Adalah adikku awalnya yang menelponku suatu pagi, bertanya kapan aku akan ke Surabaya, ia ingin menunjukkan perkebunan yang dikelola secara profesional di daerah Pasuruan dalihnya ia ingin mengajak kami sekeluarga makan durian di kebunnya langsung. Tentu saja ajakan ini tak kutolak, meski tak bisa langsung kupenuhi.

Singkat cerita beberapa minggu kemudian aku menyetir mobil yang meluncur tenang menuju Pasuruan. Dari Surabaya lewat tol sampai sekitar Porong. Jalan tol yang dulu mulus membentang antara Surabaya dan Gempol, terputus di Porong karena munculnya “Kuala Lumpur” di Porong. Tiba di Porong untuk menuju daerah Malang atau Pasuruan jika melewati jalan yang biasa mesti belok kanan, namun kali ini aku belok kiri terus belok ke kanan, masuk ke desa yang masih bagian dari Tanggulangin untuk mencoba jalan alternatif yang lebih sepi. Jalan ini membawaku keluar di jalan tol yang terpotong, sudah dekat daerah Gempol.

Di persimpangan pasar Pasuruan aku mengarahkan mobil ke kiri, jika ke kanan kita akan menuju kota Malang. Setelah melewati sebuah sekolah kejuruan di kiri jalan, lantas ada pertigaan besar, untuk menuju perkebunan itu aku harus belok kanan. Jalan besar berubah menjadi lebih sempit, volume lalu lintas sedikit berkurang, jalan mulai berkelok dan rasanya makin naik. Di kiri jalan terlihat hamparan sawah dan gunung di kejauhan, entah gunung apa. Sementara di bagian kanan berselang seling bengkel kerja, pabrik kecil dan rumah penduduk. Kira-kira tiga kilometer kemudian terlihat penanda kebun yang kami tuju, tak jauh dari situ ada sebuah gerbang terbuka lebar dan satpam berbaju putih biru yang menjaga. Aku masuk dan parkir. Areal ini terlihat kerontang, tak banyak pohon. Aku diam, menurunkan sedikit ekspetasi-ku. Read the rest of this entry

Berkelindan

Berkelindan

Entah mengapa dalam setiap perjalanan, selalu saja ada hal yang membuat aku berkelindan dengan tempat atau orang yang kujumpai di perjalanan tersebut. Seperti misalnya belum lama ini aku melewati kota Ende di Flores. Bisa dikatakan aku hanya sepeminuman teh di sana, mengelilingi kota ini sebentar sambil mencari rumah makan untuk makan siang.

Yang membedakan kota ini dengan kota lain di Flores yang aku singgahi adalah jumlah masjid yang relatif banyak, bahkan ada satu jalan yang dinamai jalan Masjid, tidak jauh dari jalan itu, ada sebuah rumah yang dulu pernah ditempati oleh Bung Karno saat diasingkan ke sana pada 1934-1938.

Setelah makan siang, aku menyempatkan mampir ke rumah kuno tersebut. Aku berkeliling sendiri di situs yang tak terlalu luas itu, mengamati arsitekturnya. Satu-satunya penjaga di sana adalah seorang pemuda yang kira-kira berusia 30 tahun. Aku lupa mencatat namanya, dalam perjalanan kali ini salah satu hal yang agak kusesali adalah soal catat mencatat. Banyak orang baru yang aku jumpai sebagian besar aku catat namanya, sebagian aku hafal, dan sisanya lupa. Aku juga tak sempat bertanya banyak soal rumah ini dan sejarahnya, sebab ia sedang sibuk memandu tiga tamu dari Surabaya yang datang lebih dulu.

Saat aku usai berkeliling dan hendak numpang sholat, ia malah menyarankan agar aku sholat di mushola dekat situ sebab ia harus bergegas pulang untuk urusan keluarga jadi rumah itu akan ia kunci. Padahal hari masih siang, senja masih berjam-jam lagi, bisa jadi ada pengunjung lain yang datang dari jauh sepertiku dan mungkin ia kecewa. Read the rest of this entry

Get Lost

Get Lost

Hoah! Tulisan ini dibuat untuk mengalihkan perhatian dari hawa dingin. Yup,  saat menuliskan ini, saya sedang berada di sebuah kota di timur Indonesia yang terletak di ketinggian sekitar 1.200 m dari permukaan laut. Entah berapa derajat suhu saat ini,  saya enggak tahu (rasanya lebih dingin dari AC yang diset 18 Celcius), GPS saya sedang tidak berfungsi dan tak berminat mencari tahu sebab tujuannya adalah get loss lost! And tonight I am totally lost, enggak nemu tempat makan yang secara teknis bisa mengakomodasi kebutuhan saya. Bahasa lainnya, enggak nemu resto yang memasak makanan halal minimal sea food misalnya. Ya iyalah kota ini di pegunungan.

Well, untung masih ada kopi tubruk, biskuit marie dan popmie (penulisan diurut berdasarkan skala prioritas) untuk mengganjal perut, sebelum matahari muncul besok jadi saya bisa mencari restoran Padang. Hayah, kalau diingat-ingat “dari Sabang sampai Merauke” makannya: nasi Padang. Aman. ;)

Tadinya saya sudah masuk ke sebuah resto kecil milik penduduk setempat. Ada sepasang bule duduk di meja dekat jendela. Selisih satu meja dari mereka duduk beberapa pria. Kalau dari wajah, kulit, rambut dan bahasa yang mereka pakai, bisa dipastikan mereka penduduk pulau ini. Satu atau dua orang, wajahnya tampak familiar, belakangan saya ingat, kami bertemu pagi hari tadi di sebuah desa yang saya kunjungi. Ia guide pasangan bule yang duduk di meja dekat jendela itu. Orangnya ramah ia menyapa saya duluan. Tak lama kemudian, seorang Nona (begitu kata ganti untuk kakak perempuan di sini) meletakkan menu di depan saya. Halaman awal isinya melulu tentang minuman. Saya tahu pasti minuman apa yang bakal saya pesan.

Kemudian saya mulai membuka halaman berikutnya, langsung terbaca: pork. Hayah. Kelihatannya saya tak bisa makan di situ. Sepintas saya baca ada menu sayur-mayur, tapi ketika saya tanyakan pada si Nona, apakah alat masak yang digunakan untuk memasak dipisah antara menu halal dan tidak, ternyata jawabannya tidak. Jadi akhirnya saya hanya memesan kopi tubruk segelas. Tanpa gula, pastinya.

Sambil menikmati kopi itu, saya teringat pengalaman tahun lalu ketika akan ke desa Ngadulanggi – Sumba bersama teman-teman di komunitas 1N3B. Read the rest of this entry

Biz Meets Pleasure, Kerja Sambil Jalan-Jalan.

Biz Meets Pleasure, Kerja Sambil Jalan-Jalan.

Salah satu penghambat untuk travelling (selain dana) adalah pekerjaan yang tak bisa seenak perut ditinggalkan. Maka bersyukurlah bagi siapa yang memiliki pekerjaan yang memungkinkan untuk bepergian dan tidak monoton tinggal di kantor melulu sehingga mendapatkan business and pleasure sekaligus.

Ada beberapa profesi yang umum di Indonesia yang bisa mengakomodasi mereka yang punya hobi travelling;-

Flight Attendant dan Pilot, enggak hanya bepergian antar kota di dalam negeri, dua profesi ini bisa membawa mereka ke luar negeri. Meski ada beberapa maskapai yang agak “pelit” pada karyawannya sehingga enggak memberi kesempatan pramugari atau pramugara untuk menjelajah kota yang disinggahi, tapi tetap saja stempel di paspor mereka bertambah. Profesi yang nyaris sejenis dengan flight attendant dan pilot adalah nahkoda kapal dan ABK-nya, sopir dan kenek bus antar kota atau sopir truk dan keneknya yang mengirim barang antar kota atau  antar pulau, sopir mobil travel antar kota dan yang paling wah, adalah mereka yang bekerja di kapal pesiar karena sudah pasti melewati rute-rute plesiran.

Guide dan penerjemah atau kadang guide yang memiliki kemampuan berbahasa tertentu sudah pasti melakukan perjalanan dan mendapat bayaran yang relevan dengan pelayanan yang mereka berikan. Kadang diperjalanan saya menemukan guru atau dosen sekolah perhotelan atau pariwisata yang merangkap menjadi sopir, guide dan penerjemah sekaligus tapi bayarannya sih cuma satu. :)

Karyawan NGO,  volunteer, UN dsb, karena proyek-proyek mereka lebih banyak di daerah pelosok atau daerah yang sedang mengalami bencana tak ayal mereka mengirimkan staff atau tenaga volunteer ke lokasi-lokasi tersebut. Mereka bisa tinggal dalam hitungan hari hingga tahunan dengan cuti secara periodik. Kebanyakan daerah pelosok memiliki situasi yang menarik dan alam yang khas jadi kalau yang bisa menikmati bakal merasa seperti berlibur saja. Demikian halnya dengan yang bekerja di pertambangan. Malah rata-rata karyawan di oil and gas company memiliki jadwal dua minggu kerja dan dua minggu libur, yang mana memberi kesempatan luas mereka untuk melihat-lihat daerah lain, beruntung lagi yang cuti dibayar dan bebas menentukan liburan sekali setahun dan dibayari oleh kantor. Hmm….

Beberapa profesi kantoran (swasta maupun PNS) seperti business development, konsultan, auditor, spesialis tertentu (dokter PTT, penyelam, film maker, fotografer, penulis perjalanan) dan sebagainya juga berkesempatan bepergian untuk bisnis dan dibayar atau menerima bayaran atas jasa mereka dan biasanya end up dengan sedikit keluhan tentang nombok untuk beli oleh-oleh.

Selain itu ada juga mereka yang memilih profesi atau bisnis yang memungkinkan mereka bepergian sambil bekerja. Pada umumnya mereka telah memiliki bisnis sendiri yang relatif telah mapan atau bisnis mereka bisa diakses dari mana saja. Biasanya internet memiliki peranan penting. Sebutan kerennya untuk tipe ini adalah Digital Nomad. Menarik.

Selain profesi-profesi tersebut di atas, ada lagi satu  profesi yang memungkinkan jalan-jalan dan mendapat bayaran ruarrr biasa. Mau? Jadilah anggota DPR. :) )

Ok deh, selamat subuh!

Y.A.