Archive

Tutur

Duluuu, ada saat si tukang masih sering menulis di blog pribadi yang berbahasa Inggris, salah satu pengunjung yang paling rajin beberapa kali berkomentar kalau beliau menjunjung tinggi kebebasan di ranah blog dan terserah kalau misalnya si tukang ini mau menuliskan sesuatu yang narsis tentang dirinya sendiri, cuma menurutnya itu lebih tepat diletakkan di halaman “about”.  Yang dimaksud dengan narsis itu salah satunya adalah cerita tentang pekerjaannya sebagai tukang, dulu.

Sebelum ia melanjutkan tuturnya, si tukang teringat, Pak Nelson Mandela pernah berkata, ” After climbing a great hill, one only finds that, there are many more hills to climb”. Ia jadi tersenyum sendiri. ia ingat, di blognya yang berbahasa Inggris itu, ia pernah menulis singkat begini:-

Postcard from Kuala Kencana  Read More

Apakah hari yang sempurna itu? Mungkin engkau memaknainya dengan menghabiskan sepanjang hari bersama keluarga, mungkin juga engkau memaknainya dengan hari ketika kau diwisuda, ketika menikah dan beribu-ribu kemungkinan lainnya. Dua belas tahun yang lalu aku pernah memiliki sebuah hari yang sempurna. Dimulai dengan kesibukan luar biasa di kota M dan diakhiri dengan chilling time usai maghrib, duduk berdua dengan seseorang yang dulu kerap memanggilku “Adik” atau sesekali ia juga memanggilku “Gadis”, meski aku tak pernah merasa aku gadisnya. Aku terlalu mengagumi kebebasan dan melihat dunia luas membentang, agak sulit mencerna kata-kata semacam itu dengan serius. Setidaknya saat itu. Read More


Namanya hanya terdiri dari dua kata, laiknya sebagian besar nama orang. Nama itu utuh, kata pertama melengkapi kata kedua begitu sebaliknya, sehingga seseorang tak bisa mengatakan bahwa namanya adalah nama depan semua, namanya terdiri dari dua nama seperti misalnya David Hendra atau Arman Jack atau siapalah. Barangkali dulu, ketika orang tuanya memberi nama, mereka bermaksud agar ia kelak menerbitkan petunjuk di hati bagi orang-orang di sekitarnya sehingga begitulah, ia menyandang namanya sekarang, nama sederhana yang sarat makna. Tak salah orang tuanya memberi nama, sebab setidaknya aku sendiri yang bisa membenarkannya.

Ia kakak kelasku, tiga tahun di atasku. Dulu aku lebih sering melihatnya berjalan sendirian atau duduk sendirian di kampus. Kadang kulihat ia disekitar plaza, tempat kosong di antara kelas-kelas, tempat kami biasa menanti kuliah atau melintas di kantin besar (lagi-lagi sendirian) tempat dimana aku biasa menghabiskan waktu dengan teman-teman berbagai jurusan berdiskusi, berbincang apa saja, atau sekadar duduk-duduk sambil menikmati jajanan yang ada. Begitulah yang kuingat, ia selalu terlihat sendirian meski ia bukan penyendiri, kawan-kawannya banyak. Barangkali itu yang membuatnya nampak berbeda dengan teman-teman yang lain. Kemudian bagaimana kami menjadi kenal dan akrab, aku sungguh lupa sebabnya. Sebagian besar teman-teman akrabnya juga teman-temanku, memang saat kuliah dulu aku kerap bergaul dengan siapapun, tak peduli angkatan tahun berapa dan dari jurusan apa dan menganut paham apa. Tak ayal temanku banyak sekali dan tak pernah merasa sendirian dan kesepian. Mereka sendiri juga sepertinya tak rela meninggalkanku sendirian tanpa gangguan. Sudah biasa misalnya saat sedang berdiam membaca buku di salah satu sudut tiba-tiba ada yang mengacak-acak rambutku atau menutup mataku dari belakang, atau saat kuliah disusul seorang kakak kelas hanya untuk curhat tentang gebetannya sehingga aku jengah melihat tatapan dosen dan teman sekelas yang jelas-jelas tahu, kakak kelas itu tidak sedang mengambil mata kuliah ini. Mungkin karena aku sendiri yang selalu terlihat easy going, gembira dan sportif, sehingga mereka selalu gatal untuk “menggangguku”. Kupikir demikian halnya dengan ia. Tahu-tahu kami akrab begitu saja, sudah seperti kakak adik.

Read More

Adakah perdamaian sejati tanpa banyak cing cong dan nyaris tanpa gesekan? Jika kau jawab, “Ada!”, maka tempat itu ada di sini. Tempat aku, saudara-saudaraku, orang tua, kakek nenek dan seluruh keluarga besarku tinggal. Aku dan keluargaku selalu berdamai, kami tak pernah bertengkar, tak pernah berebut apa pun. Keluarga kami, makin lama, makin banyak, beranak pinak dan menghalalkan perkawinan antar saudara. Ruang yang kami tempati tak pernah bertambah, meski begitu kami tak pernah merasa sesak, apalagi berebut pangan. Rejeki selalu ada, kami tak mengenal kata kurus, kering kerontang. Mungkin kau bertanya, bagaimana dengan privacy? Aku katakan saja padamu, itu persoalan yang sepele. Hidup ditengah keluarga besar, dan terkadang ada sanak kadang yang berkunjung atau bahkan menetap,  membuat kami memiliki ceruk rahasia masing-masing, ditempat yang tak terduga. Aku sendiri punya ceruk itu. Tempat di mana aku bisa mengawasi seluruh pergerakan di rumah kami, termasuk gerak-gerik seseorang yang istimewa, yang menjadikan kalimat di awal paragraf ini ada.

Ia tergolong istimewa, entah berasal dari mana, tak seorang pun tahu. Ia diam saja, tak pernah berkata apa-apa pada kami. Ia datang suatu siang, di hari pertama tahun baru, kira-kira dua tahun lalu. Awalnya ia berdua, dengan adiknya. Itu dugaanku semata, karena mereka nyaris mirip satu sama lain, tapi tak mirip sungguh. Aku hanya menduga, karena aku tak pernah bertanya, keluargaku juga tak pernah bertanya, karena rumah kami terbuka untuk siapa saja yang membutuhkan, prinsip kami sangat sederhana, rumah ini rejeki dariNya, tak secuilpun kami merasa memilikinya. Kalaupun diambil kembali olehNya, kami tak akan bersedu sedan, karena kami bisa melanjutkan hidup kami di tempat yang baru, dan lagi-lagi itu akan terjadi atas kebaikanNya. Oleh karena itu, kami tak pernah mengeluh dan terganggu dengan kehadiran siapa pun yang sebenarnya hanya mempersempit ruang gerak kami, termasuk dia. Read More

*Berhenti menghitung kancing baju*

Sudah lama, saya jadi silent reader diblog Mas Iman yang satu ini. Ya, Dunia Laut, One Earth One Ocean! Saya terpukau dengan keindahan dunia bawah laut yang ditulis oleh Mas Iman. Ternyata banyak sekali spot penyelaman yang luar biasa indah di Indonesia, selama ini yang saya tahu hanya beberapa nama besar seperti Wakatobi, Alor, atau Raja Ampat di dekat Sorong sana. Itu juga tahunya dari buku atau majalah, atau adik saya yang pernah tinggal cukup lama di Kalabahi, Alor.  Hiks, makin “menyelam” di blog mas Iman, saya merasa jadi makin bodoh, ternyata pengetahuan saya tentang laut Indonesia masih secuil. Read More

Apa gunanya single shot espresso bagi saya? Tentu selain kafein yang saya butuhkan, kopi pekat hitam, yang habis sekali teguk itu, bisa menghaturkan teman baru, kekaguman barista (atas kebodohan saya) dan kejengkelan. Jengkel? Ya, kalau pas lagi “mupeng” kafein dosis tinggi * seperti saat menulis entry ini, tapi lambung lagi gak bersahabat, gimana saya nggak jengkel?

Lambung ini merongrong saya sejak semalam, barangkali karena belakangan ini saya lebih sering mengasup vitamin C cair, jus buah dan susu dibanding air putih dan barangkali ia, menagih nasi yang terakhir saya makan kamis siang minggu lalu. Tunggu, ini bukan karena diet!

Tak urung siang ini saya putuskan memesan nasi dan duuh.. betapa kangennya saya dengan tahu tempe goreng, mungkin lambung Indonesia saya bakal lebih damai.

Ngomong-ngomong, entry ini nggak penting banget, tapi lanjut aja ya, karena kok mendadak saya tertarik dengan istilah saya sendiri, “lambung Indonesia”. Hmm, mungkin lebih enak disebut “perut Indonesia” begitu kali? Sebetulnya, lambung saya bisa menerima makanan apa saja asal halal, nggak beracun, dan nggak ada mental block untuk menelannya. Alhamdulillah, saya tak memiliki alergi terhadap makanan tertentu. Mau disuguhi makanan ala Eropa, Asia atau Arab-araban, hayo saja, cuma saya belum se-ekstrim mereka yang bisa mengudap aneka serangga goreng atau menyantap mata kambing bulat-bulat (mata kakap saja nggak tega, apalagi mata indah seekor kambing), kalau nggak tersedia masakan Indonesia, nggak jadi masalah. Nggak seperti teman saya, yang udah jauh-jauh datang ke Bandung, menempuh perjalanan dengan kapal laut dan pesawat udara, plus jalan darat, tapi rela berkeliling Bandung demi mencari rumah makan Padang! Pokoknya harus Padang! Saya yang menemaninya waktu itu terpaksa menelan ludah setiap kali melihat restoran masakan Sunda, sedang pak sopir yang mengantar kami, rautnya kayak yang bilang, “Capek deh!”. (Ehm, peace ya! :) ) Read More

senduu-w

Nggak sekali ini, waktu terasa seperti terbang melayang dan terasa tak sabar menunggu aku yang sedang tertatih-tatih, berusaha menyelesaikan semua agenda. Tahu-tahu sudah Minggu. Tahunya, setelah aku panik karena bangun kesiangan dan merasa kemarin itu Senin. Setelah diam sesaat, baru ngeh kalau masih Minggu. Terus tidur lagi? Nggak sih, setelahnya aku memilih berbaring diam. Meneruskan moment of silent, sambil memperhatikan cahaya matahari yang menerobos dari celah jendela. Menikmati berisik-berisik didepan flat yang makin hari kerap terdengar, sejalan dengan pembangunan rumah di lahan kosong depan flat. Mengingat-ingat, kapan terakhir kali suara biola dari rumah sebelah terdengar. Rasanya sudah lama, dan itu karena aku yang jarang berada di flat pada jam latihan biola tersebut. Read More

kisah-langit-merah_ya_w

Hidup bukan hanya untuk diratapi! Hidup untuk dijalani, seberapa pun besarnya tantangan menghadang, seberapa pun besarnya perjuangan harus ditempuh! Hidup bukan tentang apa yang kau inginkan dan apa yang tidak kau inginkan!

- Bubin Lantang, Kisah Langit Merah Keberanian Untuk Terus Melangkah-

 

Kisah Langit Merah telah menjadi buku favoritku sejak aku membacanya bulan lalu. Buku ini penanda kembalinya Bubin Lantang, seorang penulis yang kukenal tahunan lampau dari tidur panjangnya. Mungkin kalian pernah mengenal serial Anak-Anak Mama Alin, nah Kisah Langit Merah ditulis oleh orang yang sama.

Kisah Langit Merah, menceritakan seorang pemuda bernama Langit Merah. Suka duka dan prinsip hidupnya sarat dengan hal-hal yang kukenal dekat dan belum lagi menjauh dari hidupku sendiri, yang tak tahu akan mengalir kemana. Tak pelak, isi buku ini membekas dalam dan pipiku basah begitu saja pada penghujung buku.

Sebagaimana ia, aku pun merasa hidup memang indah, tetapi tak mudah dalam arti yang sebenar-benarnya. Kalimat-kalimatnya membungkam mulutku rapat, mengunci lidah hingga kelu, menyodok rongga dada hingga sesak tak bersisa. Menyentil dan membuatku merinding, bagaimana tidak, aku, aku begitu mengenal kalimat ini, kalimat yang kucamkan bertahun-tahun didalam kepala dan hatiku, jauh  sebelum aku membacanya di novel ini; bahwa hidup mesti dijalani dengan apa yang ada, bukan dengan apa yang seharusnya ada. Itu nasehat seorang Ibu pada anaknya, aku, yang dipandangnya kerap menuntut pada hidupku sendiri. Barangkali Ibuku telah lupa, tetapi ucapan beliau telah menyelamatkanku berkali-kali. Betapa kelindan ini menyesakkan, menyodorkan realita hidup dimasa lalu yang membayangi petualanganku, dan membuka wacana  tentang sungai kehidupan yang telah menghanyutkanku hingga tiba pada saat ini, detik ini ketika aku menuliskan kalimat ini. Read More

Disampul kantong kertas tipis putih itu tertulis:

 

KOFFIE FABRIEK AROMA

BANDOENG

 

Lantas dibagian bawahnya tertulis pula:


Maoe minoem koffie selamanja enak?

 

Aromanja dan rasanja tetep, kaloe ini Koffie soeda di boeka dari kantongnja harep di pindahken di stofles atawa blik jang tertoetoep rapet.

 

Djangan tinggal

                                   di kantong!

 

Hari-hari ini saya ditemani kopi Aroma, berganti-ganti antara Robusta dan Arabika, mengalahkan simpanan kopi-kopi lama. Saya mesti berterimakasih pada DM, yang sudah mau saya repoti, memaksa ia keluar dari sarangnya yang nyaman menuju jalan Banceuy 51, tempat fabriek Aroma berada dan membeli dua jenis kopi yang saya pesan. Hanya dua jenis, karena memang hanya ada dua jenis kopi yang disediakan toko sederhana yang kata Mas Toni mempraktekkan bisnis yang arif, dimana pemiliknya Pak Widya Pratama yang dosen di Unpad menerapkan falsafah bisnis yang menjunjung tinggi integritas, kejujuran, keadilan, kesederhanaan. Saya nggak tahu apakah DM sempat ngobrol dengan Pak Widya atau tidak, kalau sempat barangkali ia akan berpendapat yang sama.

kopi-aroma-1

Soal rasa, jangan ditanya, saya cuma bisa bilang sedap sekali. Kopinya tak terlalu asam, sangat ringan dibanding Arabika dari Toraja yang kerap saya minum. Konon kopi ini cocok untuk teman-teman yang lambungnya sensitif, karena tingkat keasamannya memang rendah. Bisa demikian karena kopi Arabika yang sampai ditangan pembeli berasal dari komposisi 99% biji kopi yang telah disimpan hingga 8 tahun dicampur dengan 1% Arabika yang berusia 32 tahun, sedangkan Robusta disimpan antara 2 hingga 5 tahun. Lamanya penyimpanan inilah yang kabarnya menyebabkan derajat keasaman kopi Aroma berkurang.  

Cobalah sesekali, jika ingin menikmati rasa kopi yang otentik, jangan pakai gula. Atau jika yakin dengan kondisi perut dan nggak sensitif terhadap kafein, cobalah cara saya, hirup aroma kopinya, buat satu cangkir kecil kopi pekat tanpa gula, lantas teguk dengan sepenuh hati. Hmm.. surga kecil! Hehehe… :D

Kalau diminta menggambarkan diri saya seperti apa, mungkin yang bakalan terpikir pertama kali adalah, saya lebih suka mengerjakan hal-hal yang nggak wajib lebih dulu daripada hal-hal yang wajib, sama nggak? Jadi nggak heran, kalau dulu saya kerap menggunakan SKS (Sistem Kebut Semalam), ketika menghadapi ujian, atau mengerjakan tugas pokok jelang dead line. Tapi, jawaban paling jujur ini nggak bakal bocor, kalau nggak saya ceritakan. Sebab, begitu menyadari kekurangan saya yang satu itu, saya berusaha mengatasinya dengan segala cara. Herannya, jelang detik-detik yang menegangkan, justru saya bisa mengerjakan tugas lain dengan lebih produktif, sebelum benar-benar mengerjakan kewajiban saya yang utama. Seperti malam ini, kepala saya kok malah ngajak bikin tulisan iseng.

Idenya sudah mengambang dikepala sejak dua tiga hari lalu, ketika salah teman saya memampang satu video dari YouTube. Saya suka banget dengan rekaman itu, maka nggak ragu-ragu saya tekan opsi like di-posting teman tersebut. Isinya rekaman permainan gitar Rama Claproth yang menurut saya, stunning, sangat indah. Dan lagu yang dimainkan adalah Indonesia Raya. Kalau ingin menyaksikan, klik langsung di link ini ya. Saking cantiknya, sampai ada yang bilang, Rama yang asli Indonesia ini bermain bak Jimi Hendrix, dan teman yang post di YouTube bilang ” I bleed for Merah Putih”.

rama-claproth_indonesia-raya-anthem-in-blues-w Read More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 428 other followers