Buku Catatan Perjalanan Yang Kubaca di 2011

Buku Catatan Perjalanan Yang Kubaca di 2011

Dalam beberapa bulan ini enggak sengaja, aku membaca beberapa buku catatan perjalanan. Beberapa diantaranya sudah kutulis catatannya di blog ini, yang lainnya belum sempat. Ini dia list-nya barangkali berguna untukmu:

  1. Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah – Agustinus Wibowo, mengisahkan suka duka perjalanan penulis ke negara-negara yang namanya berakhiran dengan kata “stan”. Perjalanan ini menguak tentang garis batas yang membedakan nasib manusia di negara-negara yang pernah bersentuhan dengan Sovyet dan mengingatkan garis batas yang selalu kita bawa kemana kita pergi yaitu tubuh kita sendiri. Yang menarik Agustinus melakukan perjalanan ala backpacker dan benar-benar berbaur dengan penduduk setempat, sebagai upayanya untuk mengurai garis batas antara dunia yang dibawanya dan dunia baru yang disentuhnya. Jenis petualangan seperti ini selalu mendebarkan bagiku.
  2. Ekspedisi Jejak Peradaban NTT – Laporan Jurnalistik Kompas. Buku ini aku temukan di Toko Buku Uranus, Surabaya, tepat sehari sebelum aku memulai perjalanan menyusuri Flores via overland, dimulai dari Maumere diakhiri di Taman Nasional Komodo. Oleh karena laporan jurnalistik maka informasi yang dibagi, ditulis dalam format seperti yang kau jumpai ketika membaca koran. Informatif dan faktual karena didasarkan data-data. Yang disajikan adalah tentang kekayaan budaya, menumbuhkan intelektualitas, keindahan alam, ekonomi kemasyarakatan, sosok manusia dan foto-foto yang menggambarkan keindahan NTT baik NTT yang di Flores, Sumba, Soe, Alor maupun NTT yang berada di daratan Timor. Satu hal yang jadi catatan penting dalam buku ini adalah masalah kemiskinan dan ketertinggalan propinsi NTT.
  3. Meraba Indonesia Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara – Ahmad Yunus. Penulis buku ini, Ahmad Yunus adalah seorang wartawan, berdua dengan rekannya seorang wartawan senior Farid Gaban mereka menyusuri pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Indonesia dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi. Perjalanan dimulai dari Jakarta pada Juni 2009 dan berakhir di Jakarta pada April 2010. Aku suka cara Ahmad Yunus menuturkan kisah perjalanannya, orang menyebutnya gaya penulisan jurnalisme sastrawi, cerita antara kesenangan dan kegetiran yang mereka alami teranyam elok.
  4. Wind Rider Menyerempet Bahaya Demi Perdamaian Dunia – Jeffrey Polnaja. Buku ini catatan perjalanan Jeffrey Polnaja seorang pengusaha, penggemar motor besar sebagai orang Indonesia pertama yang keliling dunia dengan motor (besar) seorang diri. Perjalanannya ditempuh dalam waktu 2 tahun 7 bulan. Ia berhasil mengunjungi 72 negara di 3 benua dan kembali ke Indonesia dengan selamat. Meski relatif termasuk perjalanan yang lebih mewah dari apa yang dilakukan oleh Agustinus Wibowo, Ahmad Yunus dan Farid Gaban, namun tantangan yang dihadapinya tak kalah menantang. Bagaimana Jeffrey Polnaja mengatasi setiap hambatan dalam perjalanannya menurutku adalah hal yang paling menarik dari buku ini.
  5. Kedai 1001 Mimpi – Valiant Budi. Sebenarnya agak memaksa memasukkan buku ini dalam kategori buku catatan perjalanan, namun aku mengapreasiasi sekali apa yang dilakukan oleh Valiant Budi aka Vabyo yang menuliskan kehidupannya ketika menjadi barista di Arab Saudi. Semua itu berawal dari ambisinya menulis buku travel dari negeri 1001 mimpi namun dengan cara menjalani kehidupan di sana membaur dengan segenap aspek kehidupannya. Kesempatan itu datang ketika ia diterima bekerja di salah satu jaringan kedai kopi internasional kemudian segala ambisi itu berubah menjadi upaya untuk segera kembali ke tanah air.  Read the rest of this entry

Perfect Day

Perfect Day

Apakah hari yang sempurna itu? Mungkin engkau memaknainya dengan menghabiskan sepanjang hari bersama keluarga, mungkin juga engkau memaknainya dengan hari ketika kau diwisuda, ketika menikah dan beribu-ribu kemungkinan lainnya. Dua belas tahun yang lalu aku pernah memiliki sebuah hari yang sempurna. Dimulai dengan kesibukan luar biasa di kota M dan diakhiri dengan chilling time usai maghrib, duduk berdua dengan seseorang yang dulu kerap memanggilku “Adik” atau sesekali ia juga memanggilku “Gadis”, meski aku tak pernah merasa aku gadisnya. Aku terlalu mengagumi kebebasan dan melihat dunia luas membentang, agak sulit mencerna kata-kata semacam itu dengan serius. Setidaknya saat itu. Read the rest of this entry

Ride for Peace, Petualangan yang Sarat Inspirasi

Ride for Peace, Petualangan yang Sarat Inspirasi

The road may end, but not our spirit of adventure, brotherhood, and peace. — Jeffrey Polnaja

Aku pernah melihat Jeffrey Polnaja saat tampil di Kick Andy (lho nonton TV? Iya pas lagi nggak di rumah), sebelumnya aku udah baca-baca petualangan beliau ini di website-nya dan media massa. Kang JJ — kok JJ bukan JP? Lagian aku sok akrab yeah? Jadi JJ itu nama panggilan, kepanjangan dari Jurig Jalanan, dari namanya pasti sekilat kamu tahu kira-kira manusia macam apa beliau ini, benar, tukang jalanan. Kang JJ adalah orang Indonesia pertama yang keliling dunia dengan motor besar berpetualang selama dua tahun, ke 72 negara melampaui target awal 45 negara.  Hebatnya, petualangan itu dilakukan seorang diri. Dalam beberapa kesempatan selain dapat suguhan pemandangan alam yang indah dan keramahan penduduk setempat, beberapa kali Kang JJ juga mengalami peristiwa mendebarkan yang bisa berujung hilangnya nyawa, namun pada akhirnya ia berhasil menuntaskan perjalanan dan kembali dengan selamat ke Indonesia.

Enggak diragukan, he is somebody (pastinya) dan ada rasa ingin tahu yang belum tuntas, media TV dan media massa nggak menyajikan kisah petualangannya dengan detil. Maka ketika aku menemukan buku petualangan Kang JJ, “Wind Rider Menyerempet Bahaya Demi Perdamaian Dunia” dipajang di salah satu toko Eiger, langsung saja kubeli. Karyawan toko itu langung nyeletuk, “Di Gramedia nggak ada lho, Mbak.” Entah valid atau nggak infonya, aku memang belum pernah lihat buku ini di toko buku lain. Setelah aku cek di FB Wind Rider Story, buku itu juga bisa diperoleh via toko buku on line.

Tentang petualangan selengkapnya silakan dibaca sendiri bisa di bukunya. Di sini aku hanya akan membuat beberapa catatan yang menarik pikiranku tentang perjalanan ‘Ride for Peace” ini. Read the rest of this entry

Unessential Things: Traveler’s Life Cycle

Unessential Things: Traveler’s Life Cycle

Berkeliling dunia dengan motor bukan hal yang asing di telingaku. Bukan berarti aku seorang rider yang sudah melakukan petualangan seru dengan motor, tidak. Aku punya kolega asal UK berkewarganegaraan Amerika yang telah melakukannya bertahun-tahun, jumlah negara yang dijelajahi melampaui angka seratus, semuanya menggunakan sebuah motor HD.  Sekarang ia pensiun sebagai pejalan.

Ia memutuskan memusatkan perhatiannya untuk membangun keluarga baru di Indonesia. Membeli beberapa properti di Bali dan di Bandung untuk mengembangkan bisnis hotel kecil-kecilan, bisnis yang enggak jauh-jauh dari kegemarannya: melakukan perjalanan. Saat ini, sehari-hari ia masih bekerja di sebuah world class company milik orang Indonesia asli, sambil menunggu masa pensiunnya yang tinggal beberapa tahun lagi.

Di dalam The Alchemist, Santiago berhenti berkelana ketika sudah menemukan harta karunnya. Kurasa ia pun sudah menemukan harta karunnya seperti Santiago. Pertanyaanku, apakah untuk selamanya?

*** Read the rest of this entry

Aku dan Jakarta

Aku dan Jakarta

Tiga bulan yang lalu adalah tepat 10 tahun aku menjadi bagian dari kaum urban di Ibukota. Rasanya biasa-biasa saja sih. Tidak menyangka bakal selama ini. Tahun pertama tinggal di Jakarta, aku berpikir akan menetap paling lama tiga tahun karena waktu itu aku ingin sekolah lagi entah dimana, yang jelas enggak di Jakarta. Di tahun kedua, aku berpikir akan menetap paling lama dua tahun, selebihnya aku bakal tinggal berpindah-pindah di seantero Indonesia (atau mungkin di luar negeri) alasan pastinya lupa, mungkin karena saat itu aku dekat dengan seseorang yang pekerjaannya berpindah-pindah minimal dua tahun sekali. Waktu bergulir. Hidup tak pernah statis. Di tahun ke-lima, aku masih tetap di Jakarta, belum pindah kemana-mana, aku masih dekat dengan seseorang itu yang sudah berpindah ke beberapa kota. Selain itu persamaannya adalah, dalam kurun waktu lima tahun itu, tak pernah terbersit sedikit pun untuk menetap permanen dan menghabiskan masa tua di Jakarta. Dan perasaan itu masih sama sampai sekarang. Tak pernah sedikit pun aku merasa menjadi warga Jakarta, meski setidaknya setiap tahun aku menghabiskan minimal 9 bulan di kota ini.

Hubunganku dan Jakarta bukan seperti relasi sepasang kekasih. Tinggal di sini seperti antara butuh dan tidak. Tidak ada yang benar-benar bisa mengikatku untuk tinggal permanen di Jakarta dan pada dasarnya aku sendiri bukan orang yang gemar terikat atau terpatok pada sesuatu, meski bisa saja di masa yang akan datang aku berubah. Masih manusia ini. Mungkin saja sih.  Read the rest of this entry

Sekilat Tentang Investasi

Sekilat Tentang Investasi

Saat ini semua tahu suku bunga bank untuk tabungan dan deposito sangat tidak menarik, belum lagi masyarakat dihadang oleh inflasi. Maka satu-satunya jalan adalah melawan inflasi itu dengan melakukan investasi. Lho apakah deposito bukan investasi? Nah itu dia, saat ini bisa disebut saat kematian deposito, bunganya tidak seberapa, ada inflasi yang menghadang dan jangan lupa itu juga masih dipotong pajak.

Bagaimana caranya menjadi investor? Bukannya itu mainan orang-orang kaya semata? Investasi bukan hanya milik orang kaya, kawan. Jika anda belum bisa mendirikan bisnis sendiri, anda bisa memanfaatkan instrumen keuangan untuk investasi. Ada investasi yang hanya membutuhkan beberapa ratus ribu rupiah. Misalnya Reksadana, bisa dibeli dengan 500 ribu rupiah saja.  Meski investasi tersebut relatif kecil, jangan lupa bahwa semua investasi memiliki faktor resiko. Hukum yang berlaku masih tetap, high risk high return, low risk low return. Namun jika kreatif dan inovatif siapa tahu, anda bisa menciptakan bisnis yang low risk high return. Saat ini kreativitas dan inovasi penting sekali, saking pentingnya sampai ada yang menyebutkan Innovate or die! Serem. :p Disisi lain, ketika berhadapan dengan bisnis yang low risk high return, anda mesti waspada. Jangan mudah percaya.

Read the rest of this entry

Kita Akan Tembus Satu Sekat Lagi!

Kita Akan Tembus Satu Sekat Lagi!

Satu lagi proyek sosial bersama komunitas 1N3B. Komunitas yang terbuka bagi siapa saja, bergerak di bidang pendidikan dan kegiatan melek buku untuk anak-anak di kawasan terpencil di Indonesia. Moga-moga teman-teman berkenan menyebarluaskan informasi ini ke jejaring yang dimiliki. Terimakasih sebelumnya.

Salam hormat,

Y.A.

Kegiatan 1N3B di Ds. Ngadulanggi Kab. Sumba Timur

pada tanggal 28 Juli – 1 Agustus 2010

Foto: Ayie

BAGI BUKU | BAGI ILMU | UNTUK ANAK NEGERI 2011

Sahabat 1N3B yang tercinta,

Dari hari kehari secara kasat mata terlihat bahwasanya pendidikan di Indonesia makin ke langit bukan makin ke Bumi. Pendidikan masih tersekat-sekat baik oleh sekat geografis, suku, agama, ras dan sosial. Pendidikan menjadi demikian ekslusifnya lebih-lebih di kawasan yang terpencil.

Padahal pendidikan adalah kunci utama bagi mayoritas rakyat Indonesia agar terbebas dari kemiskinan. Padahal kita belum lagi mengkaitkannya dengan persoalan-persoalan lain yang termasuk dalam lingkaran setan persoalan-persoalan global seperti persoalan energi, air, makanan, lingkungan, terorisme dan perang, penyakit, demokrasi dan populasi.

Ini adalah keprihatinan yang dalam dan keprihatinan ini sudah menjadi keprihatinan kolektif.

Berangkat dari hal ini, kami merasa masih harus bergerak untuk membuka sekat-sekat tersebut sedikit demi sedikit sesuai dengan kekuatan kami, tentu dengan keyakinan bahwa gerakan ini akan selalu didukung dengan sepenuh hati oleh Sahabat-Sahabat 1N3B seperti sebelum-sebelumnya.

Pada tahun 2011 ini, kami berencana membuka satu lagi sekat pendidikan di kawasan terpencil. Tim kecil kami sekarang tengah berusaha menentukan daerah sasaran. Gerakan kami masih bersetia pada gerakan pendidikan dan melek buku. Read the rest of this entry

Kesempatan Mendirikan Sawung Baca Anak di Tungkal Selatan, Pariaman

Kesempatan Mendirikan Sawung Baca Anak di Tungkal Selatan, Pariaman

Saya telah berjanji untuk membantu sahabat saya yang bergiat di Lembaga Perlindungan Anak Sumatra Barat, Muharman Imoe yang akan mendirikan Sawung Baca Anak di desa Tungkal Selatan, Kecamatan Pariaman Utara yang berjarak sekitar 10km atau 30 menit dari kota Pariaman. Sebuah kota di Sumatra Barat yang ditopang sebagian besar dari hasil pertanian dan perkebunan seperti coklat, kelapa dan tanaman keras lainnya. Tentu saya akan bantu sebisanya, salah satunya dengan membagi rencana baik ini kepada teman-teman yang lain, yang saya harap bisa menyampaikannya ke lingkaran pertemanan yang lebih luas lagi. Jaman dulu cara penyampaian informasi ini disebut gethok tular, jaman sekarang kita mengenal istilah words of mouth, yang akan saya bagi adalah demikian…

Progam Sawung Baca Anak memiliki semangat sebagai media yang menjadi implementasi pemenuhan hak anak berbasiskan masyarakat. Konsepnya adalah mendirikan suatu ruang yang dapat diakses oleh anak-anak dan orang dewasa di sekitar Sawung Baca tersebut. Didalamnya akan disediakan fasilitas bacaan anak dan peralatan yang menunjang kegiatan berlatih ketrampilan sederhana yang rencananya akan diadakan setiap bulan.

sawung baca anak dapat dimaknai sebagai media berkumpul dan bertemunya anak-anak untuk mencari, memberi informasi tentang berbagai hal yang berguna bagi pengembangan sikap dan nilai-nilai kehidupan anak kelak… Read the rest of this entry

Bermain-main Perspektif

Bermain-main Perspektif

Ada dua tipe orang yang aku kenal dalam konteks produsen (atau investor) dan konsumen. Sebagian diantara kita menghasilkan sesuatu (produsen) yang dikonsumsi oleh yang lain (konsumen). Faktanya lebih banyak konsumen dari produsen, itu benar. Begitulah aturan mainnya. Dalam keseharian, aku masih lebih banyak menjadi konsumen, mengeluarkan uang untuk mendapatkan barang atau jasa yang aku butuhkan. Kerap jengkel juga karena kadang harus mengeluarkan uang untuk sesuatu yang kadang bisa kita hasilkan sendiri.

Ketika mulai berbicara tentang mengeluarkan uang, kita bisa bermain-main tentang perspektif di sini. Konsumen jelas mengeluarkan uang untuk produk yang diinginkan. Produsen juga mengeluarkan uang untuk menghasilkan produk atau jasa yang di-delivery ke kita. Bedanya, produsen menggunakan uang itu untuk men-generate uang yang lebih besar lagi. Jika seseorang yang berjiwa produsen membeli suatu barang, ia akan melihat peluang mendapatkan value lebih dari aset yang dimilikinya itu.  Proses menghasilkan value inilah yang disebut kegiatan wirausaha.

Mari kita coba dengan contoh nyata. Read the rest of this entry