Archive

Tag Archives: Friends are precious!

Banda Aceh mengalami gempa besar lagi dan berpotensi tsunami hanya beberapa hari yang lalu dan saat ini gempa susulan masih kerap terjadi dengan intensitas yang lebih kecil. Aku baru mengetahui kabar itu  kira-kira empat jam setelahnya. Awalnya pesan singkat dari sepupuku yang bertanya dimana posisiku, apakah masih di Banda Aceh? Kelak aku bersyukur saat itu aku enggak menjawab dengan lelucon atau becanda hanya merasa aneh tiba-tiba dicek seperti itu. Kejanggalan kedua, sebuah pesan dari kolegaku yang bertanya apakah Pak Fulan, vendor kami di Aceh baik-baik saja. Seketika kuhubungi Pak Fulan namun tidak berhasil.  Aku berpaling ke teman-teman yang duduk di belakangku dan barulah semuanya terjawab. Ada gempa besar lagi di Aceh. Duh.

Aku memang belum lama kembali dari Banda Aceh.  Seperti biasa hanya sedikit yang tahu kemana aku pergi dan lebih sedikit lagi yang tahu aku udah balik atau belum. Bukan, bukan karena enggak mau berbagi oleh-oleh seperti lazimnya orang Indonesia, hanya karena menganggapnya enggak penting aja buat orang-orang untuk menerima informasi kemana, dengan siapa atau kapan pergi, kapan pulang ketika aku travelling. Buatku paling penting ngasih tahu keluarga inti saja. Dulu aku lebih santai, mau pergi, pergi saja, enggak kasih tau siapa-siapa. Saat itu bisa saja semua orang berpikir aku tenang-tenang di Jakarta misalnya, padahal aku lagi di negeri jiran selama beberapa hari dan enggak ada yang tahu. Namun seiring dengan semakin seringnya perjalanan terutama karena pekerjaan, rasanya enggak fair juga kalau enggak ngasih tahu keluarga inti karena aku bagian tanggung jawab mereka. Maka pesan dari sepupu yang mengkhawatirkanku tadi terjadi sebab Read More

Kangen menulis, menulis apa saja seperti kecerobohan seseorang yang menumpahkan beras di hari hujan sehingga jejaknya terbaca olehku, atau kabut yang sedang menyelimuti tempat tinggalku saat ini, sehingga menyisakan pemandangan serupa misteri, bulan purnama, kabut dan rumah yang terpencil, atau menulis memori kecil seperti ini;  seseorang di pinggir terminal keberangkatan internasional yang berseru padaku, “I’ll be back, take care!” dan sampai kini aku enggak tahu kapan ia akan datang kembali, dan sayangnya itu bukan adegan sepasang kekasih. Sebab jika sepasang kekasih, yang berseru tak akan sambil berlari dan yang diseru enggak cuma meringis sambil bergegas kembali ke tengah kota sebelum disergap kemacetan yang khas, yah maksudku barangkali adegannya lebih heboh lagi dan aku nggak akan cerita di halaman ini haha.

Atau memori kecil lainnya, seseorang yang berjanji akan menemukanku di Facebook sebagai ungkapan entah apa, mungkin karena ia telah merasa aku bantu dan ingin tetap terhubung meski koordinat kami bergeser terus, ketika pada akhirnya aku yang “menemukannya”, sengaja aku menyisakan ruang baginya untuk minta di-add, praktis seperti ia yang menemukanku seperti janjinya dulu. Permintaan yang agak istimewa mengingat, sebenarnya ia tidak seperti manusia lain yang sering buka aplikasi itu, namun ya begitulah Facebook menyediakan dirinya sebagai benang agar kami tetap terhubung setidaknya untuk menyambung silaturahmi, dulu kami kolega kini kami berteman, lebih personal.

Hal-hal kecil seperti itu, sesungguhnya sukses membuatku merasa bahagia. Bahagia kecil-kecilan dan kalau lagi senang dengan royal akan kubagi pada kalian lewat tulisan. Kelak pas lagi “bener” mungkin nyesal, ih nulis apa sih dulu haha… Intinya gini, mungkin aku ini lebih sensitif atau memang sudah selayaknya demikian jika mengalami hal-hal seperti itu atau enaknya ditulis ketika tersentuh, enak gila, hadeh apaan sih haha.. Banyak hal-hal kecil yang seringkali terjadi begitu saja pas aku jalan dengan teman, kolega atau sekadar kenalan yang barangkali luput dari mereka, enggak disengaja tapi berbekas di hati.  Aku rasa semua juga pernah mengalaminya.

Hal-hal seperti itu biasanya kuendapkan dalam hati, dan ada masanya tiba-tiba teringat, seperti misalnya saat adzan magrib ditengah kemacetan otomatis akan mengingatkan aku pada kejadian kecil akhir tahun lalu di Jakarta. Saat itu aku dan kolegaku, seorang warganegara Jepang sedang terjebak macet parah,  rasanya kami sudah stuck satu jam lebih namun masih jauh dari tujuan berikutnya. Mendadak ia membuka jendela mobil. Ia berkata, “Dimana suara yang biasanya terdengar jam segini.” Read More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 420 other followers