Archive

Tag Archives: Investasi

Saat ini semua tahu suku bunga bank untuk tabungan dan deposito sangat tidak menarik, belum lagi masyarakat dihadang oleh inflasi. Maka satu-satunya jalan adalah melawan inflasi itu dengan melakukan investasi. Lho apakah deposito bukan investasi? Nah itu dia, saat ini bisa disebut saat kematian deposito, bunganya tidak seberapa, ada inflasi yang menghadang dan jangan lupa itu juga masih dipotong pajak.

Bagaimana caranya menjadi investor? Bukannya itu mainan orang-orang kaya semata? Investasi bukan hanya milik orang kaya, kawan. Jika anda belum bisa mendirikan bisnis sendiri, anda bisa memanfaatkan instrumen keuangan untuk investasi. Ada investasi yang hanya membutuhkan beberapa ratus ribu rupiah. Misalnya Reksadana, bisa dibeli dengan 500 ribu rupiah saja.  Meski investasi tersebut relatif kecil, jangan lupa bahwa semua investasi memiliki faktor resiko. Hukum yang berlaku masih tetap, high risk high return, low risk low return. Namun jika kreatif dan inovatif siapa tahu, anda bisa menciptakan bisnis yang low risk high return. Saat ini kreativitas dan inovasi penting sekali, saking pentingnya sampai ada yang menyebutkan Innovate or die! Serem. :p Disisi lain, ketika berhadapan dengan bisnis yang low risk high return, anda mesti waspada. Jangan mudah percaya.

Read More

Dari menonton film-film Hollywood saya kemudian tahu, rata-rata keluarga menengah di Amerika memiliki perencanaan keuangan jangka panjang yang meng-cover terutama biaya pendidikan anak hingga jenjang yang bisa mereka raih, risk management dan persiapan masa pensiun. Rata-rata mereka telah melakukan investasi rutin dengan memiliki saham misalnya dan membatasi tabungan hanya untuk keperluan jangka pendek dan dana darurat. Sehingga mereka tidak bisa seenaknya dalam berbelanja, memutuskan jumlah anak dan tanggungan, nikah, cerai dan sebagainya.

Hal yang jamak di sana (Amerika Serikat)  itu ternyata belum umum di Indonesia. Di sini, kebanyakan dari lajang yang telah memiliki penghasilan sendiri atau keluarga di Indonesia mengandalkan naluri atau insting ketika berbicara tentang keuangan. Untuk tujuan ekonomi yang ingin dicapai seperti misalnya biaya nikah, jalan-jalan, DP rumah, naik haji dan sebagainya kebanyakan hanya mengandalkan tabungan, hibah dari orang tua (enggak asyik banget) atau yang agak canggih mulai menabung logam mulia (LM). Di sini orang mudah jadi konsumtif, relatif tanpa perhitungan ketika memutuskan jumlah anak (biasanya mengandalkan alasan, rejeki anak ada masing-masing), kawin eh nikah, cerai dan sebagainya.

Hayo siapa yang belum pernah mendengar keluhan ini?

“Tabungan segitu-segitu saja, DP rumah susah dipenuhi.”

“Ongkos haji naik terus, susah dikejar.”

“Boro-boro nikah, tabungan aja kagak ada.”

“Boro-boro nabung, buat sehari-hari saja udah pas!”

Pasti udah pada sering dengar kan? Kalau belum dengar, hidupmu kurang asyik, bro!  ;) Read More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 420 other followers