Pramoedya Ananta Toer mengatakan,” Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Diperlukan keberanian ketika bekerja untuk keabadian, paling kecil untuk mulai menyatakan pikiran dan yang tervital memutuskan apa yang hendak ditulis: soal kebenaran atau kebohongan. Hal ini juga berlaku di ranah blog. Ranah yang konon kadar personal-nya lebih kental. Kerap seorang blogger menuliskan, “Blog, blog gue, suka-suka gue nulis apa.” Sekadar untuk mengingatkan pembacanya mengenai sifatnya yang personal atau singkatnya, baca saja tak usah protes meski yang disampaikan hanya kebohongan belaka. Pembaca yang pintar akan segera mencium kebohongan, pembaca yang enggak pintar, ya wassalam. Dalam hal ini moralitas penulisnya yang menentukan, menulis adalah soal laku moral juga, sesederhana apa pun tulisan itu harus menyampaikan kebenaran (paling “remeh” misalnya mencantumkan asal usul-nya bila hasil mengutip suatu sumber).
Menulis itu bukan melulu hal-hal yang sophisticated, topik yang melangit dan rumit. Menulis juga bicara tentang kesederhanaan, dimulai dari menulis apa-apa yang benar-benar dikuasai, bisa jadi hanya peristiwa kecil sambil lalu yang terjadi di sekitarmu atau bahkan tentang dirimu sendiri (urusan ada yang baca atau tidak itu urusan setelahnya, bukan?
). Namun harus dipahami meski seorang blogger belum tentu seorang jurnalis atau penulis profesional, sesederhana apa pun yang akan ditulis, hendaknya dimengerti dengan baik, harus melakukan riset–menulis dan membaca dua hal yang tak terpisah, melakukan observasi jika diperlukan, melakukan verifikasi, menuangkan kejujuran dan izin jika hendak mengutip. Singkatnya dalam menulis ada dua syarat sederhana, yaitu harus tahu betul apa yang ditulis dan harus berani.
mulailah menulis!
Y.A.