Archive

Tag Archives: Menulis

Pramoedya Ananta Toer mengatakan,” Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Diperlukan keberanian ketika bekerja untuk keabadian, paling kecil untuk mulai menyatakan pikiran dan yang tervital memutuskan apa yang hendak ditulis: soal kebenaran atau kebohongan. Hal ini juga berlaku di ranah blog. Ranah yang konon kadar personal-nya lebih kental. Kerap seorang blogger menuliskan, “Blog, blog gue, suka-suka gue nulis apa.” Sekadar untuk mengingatkan pembacanya mengenai sifatnya yang personal atau singkatnya, baca saja tak usah protes meski yang disampaikan hanya kebohongan belaka. Pembaca yang pintar akan segera mencium kebohongan, pembaca yang enggak pintar, ya wassalam. Dalam hal ini moralitas penulisnya yang menentukan, menulis adalah soal laku moral juga, sesederhana apa pun tulisan itu harus menyampaikan kebenaran (paling “remeh” misalnya mencantumkan asal usul-nya bila hasil mengutip suatu sumber).

Menulis itu bukan melulu hal-hal yang sophisticated, topik yang melangit dan rumit. Menulis juga bicara tentang kesederhanaan, dimulai dari menulis apa-apa yang benar-benar dikuasai, bisa jadi hanya peristiwa kecil sambil lalu yang terjadi di sekitarmu atau bahkan tentang dirimu sendiri (urusan ada yang baca atau tidak itu urusan setelahnya, bukan? ;) ). Namun harus dipahami meski seorang blogger belum tentu seorang jurnalis atau penulis profesional, sesederhana apa pun yang akan ditulis, hendaknya dimengerti dengan baik, harus melakukan riset–menulis dan membaca dua hal yang tak terpisah, melakukan observasi jika diperlukan, melakukan verifikasi, menuangkan kejujuran dan izin jika hendak mengutip. Singkatnya dalam menulis ada dua syarat sederhana, yaitu harus tahu betul apa yang ditulis dan harus berani.

mulailah menulis!

Y.A.

The first key to writing is… to write, not to think!

~ Finding Forrester

 

Hari minggu sore kemarin, saya menulis di Twitter dan di status FB himbauan untuk menulis satu hari satu. Himbauan ini terutama untuk teman-teman yang menulis untuk hobi bukan untuk profesi atau bisnis, para blogger misalnya. Tak harus di post setiap hari, seminggu sekali no problem, yang penting adalah proses menulis itu dijalankan rutin. Syukur-syukur jika bisa posting satu tulisan di blog setiap hari. Ketika malamnya saya bertemu beberapa teman yang memiliki website, saya utarakan kembali himbauan saya itu.

Seperti biasa reaksi yang saya terima beragam, ada yang berniat untuk memulai menulis lagi, ada yang mengeluh dengan alasan beragam, misalnya kendala waktu, mood yang tak kunjung tiba, ide yang tak muncul dan sebagainya.

Saya menyadari, kita semua memiliki kepentingan dan kesibukan masing-masing. Saya sendiri baru bisa menulis lebih “kencang” ketika tak lagi disekap di ruang meeting dan kelas hingga larut malam. Namun, dalam kondisi seperti itu misalnya atau ketika sedang mobile, saya upayakan untuk tetap mencatat ide-ide di buku notes kecil yang selalu saya bawa atau di fasilitas notes di telpon genggam saya.

Di saat yang tepat dan situasinya memungkinkan raw material tadi baru dijadikan sebuah tulisan. Kalau sudah dapat klik-nya, sekali duduk bisa melahirkan beberapa tulisan. Beberapa teman juga seperti itu, begitu duduk dan mulai menulis,  mungkin bisa mengeluarkan 4-5 topik yang berbeda. Hal ini lumrah. Pendiri situs Mashable.com diawal kelahirannya dulu bisa melahirkan rata-rata tujuh artikel perhari, saat itu tahun 2005 Pete Cashmore masih berusia 19 tahun dan masih bersekolah. Dalam perkembangannya ketika Mashable.com sudah jadi raksasa ia dibantu oleh staf-nya dan sekarang ia mesti membagi waktunya antara Skotlandia, San Fransisco dan New York seiring dengan perkembangan Mashable.com. Read More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 420 other followers