Archive

Tag Archives: Minimalis

Untuk setiap kenyamanan ada harga yang harus dibayar, bukan hanya senilai intrinsik yang dikeluarkan atas benda itu namun juga opportunity cost dan hidden cost untuk memperolehnya. Hidden cost ini berimbas pada orang lain dan tanpa disadari membebani negara berkembang. Orang barat memiliki istilah yang dikenal dengan singkatan SEP (Somebody Else’s Problem atau Someone Else’s Problem).

Douglas Adams, melalui karakternya Ford Prefect dalam buku ketiga The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy series, Life, the Universe and Everything mencoba memberikan pengertian kira-kira SEP adalah sesuatu yang tidak bisa kita lihat atau tak kita lihat atau otak kita tak membiar kita melihatnya sebab kita berpikir hal ini adalah urusan orang lain, Somebody Else’s Problem. Otak mengeditnya agar keluar, seperti titik buta (blind spot). Ketika engkau melihatnya secara langsung, engkau tetap tidak akan melihatnya kecuali engkau tahu secara persis apa yang dimaksud. Kemungkinan engkau baru melihatnya ketika mengerling dengan menggunakan sudut mata. Read More

Walk the talk, menjalankan apa yang sudah saya tuliskan.  Saat liburan Imlek kemarin saya sempatkan membuka lemari pakaian, mengeluarkan seluruh isinya dan kebingungan sendiri. Seorang teman yang sedang on line jelang tengah malam bertanya, mengapa bingung? Saya bilang, saya bingung karena mengapa bisa begitu banyak jumlah pakaian yang saya miliki –untuk ukuran saya, padahal enggak punya hobi belanja (selain buku) dan pergi ke mall–kata teman yang lain, memangnya kamu beli baju di mall? :D

Kalau dipikir-pikir manusia itu penimbun enggak ada bedanya dengan burung yang tiap kali pulang ke sarangnya membawa sesuatu. Hampir sepuluh tahun yang lalu saya mengawali hidup di kota ini dengan serba minimalis. Hanya membawa sekitar lima eksemplar buku, sebelas lembar baju, beberapa kaset yang saya sukai dan meninggalkan semua sisa baju, buku, kaset, CD dan koleksi lainnya yang saya tekuni sejak di bangku sekolah di kota sebelumnya. Sekarang benda-benda itu berlipat puluhan bahkan ratusan kali. Read More

Saya punya waktu sekitar sepuluh menit untuk menulis sebelum bergerak ke agenda berikutnya. Ini masih ada kaitannya dengan gaya hidup minimalis yang saya post kemarin sore. Sebetulnya saya sudah berusaha menerapkan pola hidup ini sejak saya menyadari, saya kerap berpindah tempat dan bepergian. Jadi sebisa mungkin saya hanya membeli benda-benda yang saya butuhkan fungsinya.  Seumpama benda itu tidak bisa saya pakai lagi atau sewaktu-waktu harus saya tinggalkan, saya tidak akan merasa keberatan atau penyesalan yang dalam. Namun khusus untuk buku, saya sadar betul, berat untuk tidak posesif, apalagi kalau buku tersebut sangat saya butuhkan dan punya nilai sejarah yang berarti, lebih-lebih jika ada tulisan tangan penulisnya. Apa boleh buat dalam pola hidup minimalis ini termasuk kelemahan. Ok, pelan-pelan saja memikirkan buku ini.

Begini, ada beberapa benda yang paling kita butuhkan sehari-hari. Kita sebut saja essential things. Kita coba berlatih untuk mengenali benda-benda ini dan seberapa besar sebenarnya kebutuhan kita. Coba kita mulai dari benda-benda paling basic yang kita butuhkan untuk pergi bekerja.

  1. Baju kerja, saya membutuhkan beberapa baju kerja yang bisa digunakan untuk di luar dan di dalam ruangan untuk lima hari kerja, katakanlah butuh dua set maka saya butuh sekitar sepuluh pasang baju kerja, tentu nggak harus ada sepuluh pasang sebab pada dasarnya bisa dipadupadankan. Barangkali saya hanya butuh lima atau tujuh pasang baju kerja.
  2. Sepatu kerja, saya membutuhkan sepatu yang bisa saya pakai untuk ke lapangan itu berarti sebuah boot coklat yang saya miliki sudah cukup, dua sepatu lagi satu berwarna hitam dan satu lagi berwarna coklat atau cream sudah cukup untuk keperluan sehari-hari ke kantor.
  3. Tas kerja, saya membutuhkan tas yang kira-kira matching dengan baju dan sepatu yang saya kenakan. Basically saya hanya membutuhkan dua buah tas dengan warna sesuai dengan sepatu yang saya miliki. Read More

Di blog saya yang lain, saya pernah post Tolstoy’s Rules. Tolstoy membuat aturan untuk dirinya sendiri yang menurut saya, beberapa diantaranya cukup bagus untuk dijalankan. Diantara aturan-aturan tersebut, saya paling tertarik dengan aturan yang ini: Always live less expensively than you might. Change nothing in your style of living even if you become ten times richer.

Kurang lebih maksudnya begini, selalu hidup lebih sederhana dari yang anda bisa dan jangan ubah gaya hidupmu walaupun anda sepuluh kali lebih kaya. Nah, ini baru tantangan asyik. Sebab pada dasarnya manusia itu punya sifat serba kurang, tak pernah puas yang bisa jadi pedang makan tuan.

Di satu sisi, bagus jika tujuannya untuk berkarya semaksimal mungkin, di sisi lainnya hal ini merepotkan, sebab menjebak manusia tak pernah puas dengan kenikmatan yang telah digenggam dan menuntut lebih, lebih dan lebih lagi. Paling apes kalau terjebak hidup di dunia lain, seolah-olah telah mencapai gaya hidup tertentu padahal seharusnya belum. Disebut belum sebab gaya hidup itu dicapai dengan menggunakan hutang. Jadi semuanya ilusi yang nyata adalah tagihan tiap bulan. Lagi-lagi kita jadi berbicara tentang persepsi, cara pandang. Read More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 420 other followers