Membaca tulisan Veronica Colondam di website Kick Andy tentang putus sekolah, ternyata negara sekaya Norwegia pun dipusingkan oleh permasalahan ini. Jika di Indonesia yang jelas tak semakmur Norwegia penyebabnya adalah faktor ekonomi sementara di Norwegia disebabkan karena tidak lagi merasa pendidikan itu adalah hal yang penting. Tanpa pendidikan tinggi mereka dapat menikmati kehidupan yang layak, bahkan tanpa bekerja pun mereka masih menerima santunan dari pemerintah sebesar tiga puluh juta rupiah perbulan! Angka tersebut menunjukkan biaya hidup minimum di sana atau pendapatan orang yang paling miskin di Norwegia.
Kebalikan dari Norwegia, dari tiga juta anak Indonesia yang putus sekolah kebanyakan memendam keinginan kuat untuk terus melanjutkan pendidikan. Tujuan utamanya jelas untuk meningkatkan taraf hidup. Pendidikan adalah akses untuk keluar dari kemiskinan. Namun apa daya pendidikan di Indonesia ternyata tidak bebas sekat meski konon kabarnya sekolah-sekolah negeri telah digratiskan pemerintah. Sekat yang jadi persoalan bisa muncul dari pihak mana saja, dari penyedia jasa pendidikan atau pihak murid atau bahkan dari kondisi geografis. Apakah pendidikan formal di daerah yang terisolir bisa di-customize? Itu adalah pertanyaan yang terus ada di dalam benak saya. Kenyataan di lapangan memberitahukan pada saya pendidikan di Indonesia tidak bisa digeneralisasikan, jika dipaksakan pendidikan di daerah terisolir akan jadi dinosaurus. Punah begitu saja. Memang ada partisipasi NGO untuk menyediakan tenaga pendidik berkualitas, tetapi tentu belum bisa memenuhi kebutuhan seluruh pelosok negeri.
Mengenai sistem pendidikan sendiri, dengan senang hati saya akan mereferensikan film animasi The Wall yang dibuat pada tahun 1982 oleh grup rock progressive Pink Floyd yang memberikan gambaran yang sangat jelas, sejernih kristal. Film ini didasarkan pada album dengan nama yang sama yang dirilis pada 1979. Namun tuanya angka tahun ini tidak menjadikan pesan yang disampaikan menjadi usang.
Y.A.
*Judul adalah salah satu judul lagu dalam album The Wall.