Kalau kamu menyebut tulisan ini lanjutan dari tulisan yang ini, boleh-boleh saja. Aku ingin membuat catatan ketika singgah di Tana Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan meski hanya sekejap. Benar-benar sekejap sebab tak habis sepeminuman kopi ketika berada di sana tepat di hari kedua Januari 2011.
Pagi itu dengan sedikit tergesa aku, Rina dan pak Asdar yang membawa mobil bergegas dari Tanjung Bira ke Tana Beru. Tujuanku untuk mendapatkan foto matahari terbit di sana. Di perjalanan aku teringat adalah Ijul aka Yulia Widiati yang memberiku ide untuk singgah ke kedua tempat itu. Ia hanya memberikan kata kunci: Bira dan Tana Beru, selebihnya aku bertanya-tanya dan googling. Ia pernah singgah di Bira sebab kapten kapal yang membawanya berlayar ketika masih menjalankan tugas sebagai dokter dulu berasal dari Bira dan pernah tinggal beberapa hari di Tana Beru di rumah temannya. Bira dan Beru jika dilafalkan seperti seirama selaras dan kenyataannya memang demikian. Bira adalah tempat pelaut-pelaut tangguh dilahirkan dan Beru adalah tempat di mana kapal-kapal yang kuat dibangun, Pinisi–yang kemudian hari ditulis sebagai Phinisi untuk memudahkan lidah yang terbiasa berbicara dalam bahasa Inggris melafalkannya sebelum kapal Phinisi Nusantara berlayar menuju Vancouver tahun 1986. Read the rest of this entry