Banda Aceh mengalami gempa besar lagi dan berpotensi tsunami hanya beberapa hari yang lalu dan saat ini gempa susulan masih kerap terjadi dengan intensitas yang lebih kecil. Aku baru mengetahui kabar itu kira-kira empat jam setelahnya. Awalnya pesan singkat dari sepupuku yang bertanya dimana posisiku, apakah masih di Banda Aceh? Kelak aku bersyukur saat itu aku enggak menjawab dengan lelucon atau becanda hanya merasa aneh tiba-tiba dicek seperti itu. Kejanggalan kedua, sebuah pesan dari kolegaku yang bertanya apakah Pak Fulan, vendor kami di Aceh baik-baik saja. Seketika kuhubungi Pak Fulan namun tidak berhasil. Aku berpaling ke teman-teman yang duduk di belakangku dan barulah semuanya terjawab. Ada gempa besar lagi di Aceh. Duh.
Aku memang belum lama kembali dari Banda Aceh. Seperti biasa hanya sedikit yang tahu kemana aku pergi dan lebih sedikit lagi yang tahu aku udah balik atau belum. Bukan, bukan karena enggak mau berbagi oleh-oleh seperti lazimnya orang Indonesia, hanya karena menganggapnya enggak penting aja buat orang-orang untuk menerima informasi kemana, dengan siapa atau kapan pergi, kapan pulang ketika aku travelling. Buatku paling penting ngasih tahu keluarga inti saja. Dulu aku lebih santai, mau pergi, pergi saja, enggak kasih tau siapa-siapa. Saat itu bisa saja semua orang berpikir aku tenang-tenang di Jakarta misalnya, padahal aku lagi di negeri jiran selama beberapa hari dan enggak ada yang tahu. Namun seiring dengan semakin seringnya perjalanan terutama karena pekerjaan, rasanya enggak fair juga kalau enggak ngasih tahu keluarga inti karena aku bagian tanggung jawab mereka. Maka pesan dari sepupu yang mengkhawatirkanku tadi terjadi sebab Read More