dan tentang Jakarta (lagi)
.
Saya pernah naik taksi yang pengemudinya ternyata seorang dosen yang sedang mengambil S3. Ia menjadi sopir taksi untuk melengkapi penelitiannya di bidang transportasi, walhasil selama perjalanan saya mendapat kuliah transportasi sambil sesekali jatuh tertidur. Kalau dapat sopir taksi yang rada centil dan tanya-tanya status saya, saya pasti jadi berbohong. Pernah juga dapat sopir perempuan yang sangat sopan dan pelayanannya baik sekali, dia bahkan khawatir saya kehujanan saat turun, namanya enggak usah saya sebut, asalnya dari Cileungsi. Kebanyakan orang menjadi sopir taksi karena kepepet. Apapun taksinya, siapapun pengemudinya, bagi saya mutu pelayanannya hanya punya dua kemungkinan: jelek atau baik dan itu ditentukan paling sedikit dari pengemudinya; brengsek atau tidak brengsek.

Pelayanan yang jelek misalnya kalau bahasa tubuh pengemudi menunjukkan ketidakikhlasan ketika mengantar ke tujuan. Biasanya karena mafhum jarak tempuhnya pendek sementara barangkali ia berharap jarak jauh. Yang lainnya lagi, kurang mengerti jalanan, benar-benar enggak mengerti atau dibuat-buat agar mendapat selisih argo yang lebih besar. Pengemudi yang enggak tepat sasaran, maksudnya di saat saya tidak ingin ngobrol dan sudah memberi tanda, si pengemudi tak mau tahu dan terus saja berbicara. Kesal, kan.
Pelayanan yang jelek juga ditunjukkan dari kondisi taksi yang kurang terawat interiornya kotor (biasanya penumpang sebelumnya suka menyelipkan tissue bekas di pegangan pintu dan pengemudi tidak atau belum membersihkannya) dan yang paling parah jika taksinya apek karena bau keringat yang tak sedap, maaf, meski bau keringat barangkali menunjukkan si pengemudi telah bekerja keras sepanjang hari namun agak susah menerima cobaan ini dan celakanya kita baru tahu saat sudah terlanjur duduk. Entah siapa yang paling diuji dengan bau badan yang tak sedap, pengemudi atau penumpangnya. Kalau sudah kepepet, biasanya saya beralasan ada bau bensin masuk ruangan, sehingga bisa membuka jendela tanpa membuat pengemudi tersinggung.
Kemudian seperti apa pelayanan yang baik, rasanya tak perlu saya uraikan panjang lebar. Yang pasti pelayanan yang baik akan bikin penumpangnya happy dan bisa-bisa berlanjut jadi berlangganan (begitu juga dengan ojek, kawan saya tadi selalu punya ojek berlangganan). Nah, kalau lagi dapat taksi yang nyaman dan pengemudinya kelihatan baik, saya enggak segan mengajak ngobrol duluan. Setelah beberapa pertanyaan basa-basi, biasanya saya bisa menyimpulkan pengemudi tersebut enak diajak ngobrol atau sebaliknya. Jika sebaliknya, saya tidak akan meneruskan percakapan dan berharap lekas tiba ke tujuan.
Beberapa hari yang lalu, saya menggunakan jasa taksi warna putih favorit saya dari bandara menuju rumah. Jangan ditiru, karena sangat letih, saya tertidur sepanjang jalan. Satu jam dari bandara, saya terbangun karena merasa kami keseringan berhenti karena macet. Rupanya kami melewati jalan yang digunakan untuk pengajian habib-habib. Satu jalur jalan ditutup untuk parkir kendaraan, akibatnya menjelang tengah malam itu kendaraan antre lebih dari satu kilometer. Read More