Archive

Tag Archives: taksi

dan tentang Jakarta (lagi).

Di suatu pagi menjelang siang yang serba tergesa, saya melompat ke dalam taksi biru. Dari luar mobil nampak baru, tapi berdebu dan tak mulus-mulus amat. Sudah standarnya pengemudi mengucapkan salam, selamat pagi dan menanyakan tujuan, dan sudah standar saya sesudah menyebutkan tujuan, saya menjelaskan rute yang ingin saya ambil. Saya paham siang itu Jakarta sedang macet di mana-mana, saya lagi malas naik ojek, apalagi busway yang saat itu masih kekurangan kapasitasnya. Konsekuensinya mungkin terpaksa lewat jalur tak biasa. Salah satunya lewat tengah-tengah pekuburan umum. Rupanya rute ini menarik bagi pak sopir, sebab ia tidak tahu sebelumnya. Sementara saya sudah sering, sering pula berkali-kali meminta maaf pada ahli kubur yang berbaring di sana, masih tega-teganya mengganggu peristirahatan mereka dengan melintas tergesa-gesa.

Walhasil kami jadi bercakap-cakap, perbincangan tentang rute beralih ke topik lainnya. Keseringan naik taksi, saya jadi malas bertanya asal muasal seseorang menjadi pengemudi, berapa lama ia sudah bawa taksi dan sebagainya. Saya aja penumpangnya malas, apalagi sopir-sopir taksi yang ditanya. Bayangkan, kalau sehari ia bisa mengangkut 20 tamu dan ke-20 orang ini menanyakan hal yang sama (meski konteksnya untuk menunjukkan simpati atau basa basi), dalam seminggu bisa bawa taksi 4 kali, dalam satu bulan berapa kali ia akan menjawab hal yang sama, dan dalam satu tahun mungkin berkurang kewarasannya. Read More

dan tentang Jakarta (lagi)

.

Saya pernah naik taksi yang pengemudinya ternyata seorang dosen yang sedang mengambil S3. Ia menjadi sopir taksi untuk melengkapi penelitiannya di bidang transportasi, walhasil selama perjalanan saya mendapat kuliah transportasi sambil sesekali jatuh tertidur. Kalau dapat sopir taksi yang rada centil dan tanya-tanya status saya, saya pasti jadi berbohong. Pernah juga dapat sopir perempuan yang sangat sopan dan pelayanannya baik sekali, dia bahkan khawatir saya kehujanan saat turun, namanya enggak usah saya sebut, asalnya dari Cileungsi. Kebanyakan orang menjadi sopir taksi karena kepepet. Apapun taksinya, siapapun pengemudinya,  bagi saya mutu pelayanannya hanya punya dua kemungkinan: jelek atau baik dan itu ditentukan paling sedikit dari pengemudinya; brengsek atau tidak brengsek.

Pelayanan yang jelek misalnya kalau bahasa tubuh pengemudi menunjukkan ketidakikhlasan ketika mengantar ke tujuan. Biasanya karena mafhum jarak tempuhnya pendek sementara barangkali ia berharap jarak jauh. Yang lainnya lagi, kurang mengerti jalanan, benar-benar enggak mengerti atau dibuat-buat agar mendapat selisih argo yang lebih besar. Pengemudi yang enggak tepat sasaran, maksudnya di saat saya tidak ingin ngobrol dan sudah memberi tanda, si pengemudi tak mau tahu dan terus saja berbicara. Kesal, kan.

Pelayanan yang jelek juga ditunjukkan dari kondisi taksi yang kurang terawat interiornya kotor (biasanya penumpang sebelumnya suka menyelipkan tissue bekas di pegangan pintu dan pengemudi tidak atau belum membersihkannya) dan yang paling parah jika taksinya apek karena bau keringat yang tak sedap, maaf, meski bau keringat barangkali menunjukkan si pengemudi telah bekerja keras sepanjang hari namun agak susah menerima cobaan ini dan celakanya kita baru tahu saat sudah terlanjur duduk. Entah siapa yang paling diuji dengan  bau badan yang tak sedap, pengemudi atau penumpangnya.  Kalau sudah kepepet, biasanya saya beralasan ada bau bensin masuk ruangan,  sehingga bisa membuka jendela tanpa membuat pengemudi tersinggung.

Kemudian seperti apa pelayanan yang baik, rasanya tak perlu saya uraikan panjang lebar. Yang pasti pelayanan yang baik akan bikin penumpangnya happy dan bisa-bisa berlanjut jadi berlangganan (begitu juga dengan ojek, kawan saya tadi selalu punya ojek berlangganan). Nah, kalau lagi dapat taksi yang nyaman dan pengemudinya kelihatan baik, saya enggak segan mengajak ngobrol duluan. Setelah beberapa pertanyaan basa-basi, biasanya saya bisa menyimpulkan pengemudi tersebut enak diajak ngobrol atau sebaliknya. Jika sebaliknya,  saya tidak akan meneruskan percakapan dan berharap lekas tiba ke tujuan.

Beberapa hari yang lalu, saya menggunakan jasa taksi warna putih favorit saya dari bandara menuju rumah. Jangan ditiru, karena sangat letih,  saya tertidur sepanjang jalan. Satu jam dari bandara, saya terbangun karena merasa kami keseringan berhenti karena macet. Rupanya kami melewati jalan yang digunakan untuk pengajian habib-habib. Satu jalur jalan ditutup untuk parkir kendaraan, akibatnya menjelang tengah malam itu kendaraan antre lebih dari satu kilometer. Read More

dan tentang Jakarta (Lagi)

.

Seorang teman yang bertahun-tahun tinggal di luar negeri akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia dan menetap di Jakarta sejak dua tahun lalu. Ia pernah berkata demikian;

“Senjataku ada dua, Say.”

“Ojek dan Tolak Angin”

“Lho, kok?”

“Iya, ojek buat kemana-mana, terus balik ke rumah masuk angin kan, langsung minum Tolak Angin deh.”

“Hahaha..!”

Pilihannya benar. Di Jakarta yang rawan macet, paling masuk akal bepergian naik ojek. Ojek sampai saat ini memang yang tercepat. Pilihan lainnya Trans Jakarta karena punya jalur sendiri, tapi hanya melayani rute terbatas dan enggak seluwes ojek. Kalau mau lebih private dan nyaman silahkan mengarungi kemacetan Jakarta dengan naik kendaraan sendiri yang ber-ac atau naik taksi. Andalan saya adalah taksi warna putih yang harganya kompetitif melawan taksi biru. Yang warna biru hanya saya pakai untuk menempuh rute pendek atau menuju bandara. Lebih mahal, namun tidak membuat saya berjudi dengan waktu.

Ngomong-ngomong, saya jadi sadar, saya lebih sering kemana-mana naik taksi terus naik Trans Jakarta terus naik ojek (tanpa minum Tolak Angin), penyebabnya: Jakarta makin macet, angkutan umum yang lainnya kurang memadai. Keseringan naik taksi sebetulnya enggak bagus untuk kesehatan. Iya betul, untuk kesehatan kantong. Namun karena memerlukan kenyamanan dan keamanannya, bagaimana lagi? Ada harga ada jasa. Dan saya belum memiliki rencana untuk pindah dari Jakarta dalam waktu dekat ini.

Berdua dengan pengemudi dalam taksi mau enggak mau mesti berkomunikasi, paling minim saat menyebutkan tujuan dan ketika meminta berhenti diakhir perjalanan dan paling sering jadi sasaran curcol mereka. Banyak cerita seru dari yang saru sampai yang seram. Profesi unik yang nampaknya tidak membosankan sebab selalu bertemu orang baru nyaris sepanjang hari hampir setiap hari. Bayangkan potensi kekuatan yang dimiliki pengemudi taksi untuk menyebarkan pesan dan membangun jejaring. Situs http://www.ted.com pernah membuat eksperimen komunikasi dengan melibatkan sejumlah pengemudi taksi di Brazil. Idenya untuk menyebarluaskan informasi tentang ide yang dibawa situs tersebut kepada warga Buenos Aires  dan sukses. Di Indonesia tak jarang pengemudi taksi merangkap jadi agen asuransi misalnya dan jangan-jangan mereka juga membawa pesan berbayar seperti yang kerap kita jumpai di twitter. We never know.

Pagi!

Y.A.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 420 other followers