Tiga bulan yang lalu adalah tepat 10 tahun aku menjadi bagian dari kaum urban di Ibukota. Rasanya biasa-biasa saja sih. Tidak menyangka bakal selama ini. Tahun pertama tinggal di Jakarta, aku berpikir akan menetap paling lama tiga tahun karena waktu itu aku ingin sekolah lagi entah dimana, yang jelas enggak di Jakarta. Di tahun kedua, aku berpikir akan menetap paling lama dua tahun, selebihnya aku bakal tinggal berpindah-pindah di seantero Indonesia (atau mungkin di luar negeri) alasan pastinya lupa, mungkin karena saat itu aku dekat dengan seseorang yang pekerjaannya berpindah-pindah minimal dua tahun sekali. Waktu bergulir. Hidup tak pernah statis. Di tahun ke-lima, aku masih tetap di Jakarta, belum pindah kemana-mana, aku masih dekat dengan seseorang itu yang sudah berpindah ke beberapa kota. Selain itu persamaannya adalah, dalam kurun waktu lima tahun itu, tak pernah terbersit sedikit pun untuk menetap permanen dan menghabiskan masa tua di Jakarta. Dan perasaan itu masih sama sampai sekarang. Tak pernah sedikit pun aku merasa menjadi warga Jakarta, meski setidaknya setiap tahun aku menghabiskan minimal 9 bulan di kota ini.
Hubunganku dan Jakarta bukan seperti relasi sepasang kekasih. Tinggal di sini seperti antara butuh dan tidak. Tidak ada yang benar-benar bisa mengikatku untuk tinggal permanen di Jakarta dan pada dasarnya aku sendiri bukan orang yang gemar terikat atau terpatok pada sesuatu, meski bisa saja di masa yang akan datang aku berubah. Masih manusia ini. Mungkin saja sih. Read More