Archive

Tag Archives: Urban

Tiga bulan yang lalu adalah tepat 10 tahun aku menjadi bagian dari kaum urban di Ibukota. Rasanya biasa-biasa saja sih. Tidak menyangka bakal selama ini. Tahun pertama tinggal di Jakarta, aku berpikir akan menetap paling lama tiga tahun karena waktu itu aku ingin sekolah lagi entah dimana, yang jelas enggak di Jakarta. Di tahun kedua, aku berpikir akan menetap paling lama dua tahun, selebihnya aku bakal tinggal berpindah-pindah di seantero Indonesia (atau mungkin di luar negeri) alasan pastinya lupa, mungkin karena saat itu aku dekat dengan seseorang yang pekerjaannya berpindah-pindah minimal dua tahun sekali. Waktu bergulir. Hidup tak pernah statis. Di tahun ke-lima, aku masih tetap di Jakarta, belum pindah kemana-mana, aku masih dekat dengan seseorang itu yang sudah berpindah ke beberapa kota. Selain itu persamaannya adalah, dalam kurun waktu lima tahun itu, tak pernah terbersit sedikit pun untuk menetap permanen dan menghabiskan masa tua di Jakarta. Dan perasaan itu masih sama sampai sekarang. Tak pernah sedikit pun aku merasa menjadi warga Jakarta, meski setidaknya setiap tahun aku menghabiskan minimal 9 bulan di kota ini.

Hubunganku dan Jakarta bukan seperti relasi sepasang kekasih. Tinggal di sini seperti antara butuh dan tidak. Tidak ada yang benar-benar bisa mengikatku untuk tinggal permanen di Jakarta dan pada dasarnya aku sendiri bukan orang yang gemar terikat atau terpatok pada sesuatu, meski bisa saja di masa yang akan datang aku berubah. Masih manusia ini. Mungkin saja sih.  Read More

Lari kota Jakarta lupa kaki yang luka

Mengejek langkah kura kura

Ingin sesuatu tak ingat bebanmu

Atau itu ulahmu kota

(Iwan Fals – Berkacalah Jakarta)

Beberapa hari ini, hujan rajin menyapa Jakarta setiap pagi. Jakarta adalah kota yang rentan, menyebutnya sekali barangkali kau akan langsung menyambar kata “macet”, praktis sekurang-kurangnya di kepala atau di hati. Kenyataannya memang demikian. Jakarta yang pada Oktober 2010 dihuni oleh 8 juta jiwa seolah menuju kematiannya. Makin hari kondisi tak nyaman makin parah, jalanan macet di mana-mana. Jika kau menyebutkan macet sebagai alasan keterlambatan, itu sudah tak laku lagi, Bung! Sebab semua orang mengalaminya. Terlambat, terlambat saja. Ruang hijau makin berkurang dan tak tahu bagaimana rencananya. Sementara polusi di darat, air dan udara tak jua dipertemukan dengan solusi dan langkah-langkah yang jelas untuk mengatasi, parahnya lagi untuk urusan ini jakarta juara ketiga di dunia, serius, padahal Jakarta enggak jauh dari Kalimantan, salah satu paru-paru dunia. Belum lagi soal banjir yang rajin bertandang dan seiring dengan perubahan iklim global yang luar biasa, rasanya ia bakal makin rajin hadir.

Barangkali yang sehari-hari tak pernah turun ke jalanan dan tinggal di selatan Jakarta tak terlalu merasakan sesak dan rusaknya kota ini, sebab di sana masih tersisa ruang hijau yang cukup lega yang bisa ditebus dengan harga yang luar biasa, namun dengarlah jutaan warga dan pendatang yang setiap hari memenuhi Jakarta, betapa mereka masih mengeluh tentang kondisi ini, padahal s-i-a-p-a  s-u-r-u-h  d-a-t-a-n-g ke Jakarta? Read More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 420 other followers