Kota Tua Surabaya Sekedip Mata
Banyak cerita dibalik simbol kota Surabaya yang berupa ikan Sura dan Buaya. Salah satu yang terkenal tentang pertarungan ikan Sura dan Buaya diceritakan oleh LCR. Breeman seorang pimpinan Nutspaarbank di Surabaya pada tahun 1918. Pada akhirnya, pemerintah berusaha menetapkan milestone yang diakui sebagai hari resmi kelahiran Surabaya, yaitu 31 Mei 1293.
Demikian sekilat cerita tentang Surabaya.
This slideshow requires JavaScript.
Ke Tanah Marapu
Hai!
Setelah lama tak punya kesempatan untuk up date, hari ini aku kembali untuk kebaikan (halah!). Ceritanya, lagi-lagi aku menemukan diriku “duduk” diantara teman-temanku di komunitas 1N3B, yang belum tahu apa itu 1N3B, kau bisa cek di sini, atau singkatnya 1N3B adalah singkatan dari 1 Nusa 1 Bangsa 1 Bahasa 1 Bumi, yaitu kumpulan orang-orang seide yang diawali dari teman-teman di milis Pangrango yang bergerak dibidang pendidikan, khususnya untuk membebaskan anak-anak Indonesia di daerah terisolir dari sekat-sekat yang menghalangi mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Di posting sebelum ini, aku udah sempat menuliskan sedikit rencana progam kami di tahun 2010, apalagi kalau bukan ingin mendirikan rumah baca, memperkenalkan pendidikan sains di alam terbuka, menanamkan kecintaan pada lingkungan hidup dan berupaya memperkenalkan hidup sehat serta mengurangi sedikit beban kesehatan masyarakat, hmm… istilah lazimnya adalah bikin penyuluhan kesehatan dan balai pengobatan gratis.
)
Rencananya, kami, insyaAllah akan menuju tanah Marapu di tengah-tengah savana, daerah semi ringkai tropika (semi arid) yang kekurangan air, sehingga untuk melaksanakan tradisi kami, yaitu belajar mengetahui prinsip roket air mungkin akan sulit dilaksanakan, dan anak-anak mungkin lebih senang belajar termodinamika, misalnya dengan membuat es krim putar… m e s k i p u n juga agak sulit mengingat bahan dasar es putar mungkin sulit ditemukan di sana. Tetapi menurut Fedi, salah satu penggerak 1N3B, “Bayangkan, betapa bahagianya nak-anak yang tinggal di daerah sepanas itu ketika melihat es krim!” . Bagi kami, senyum anak-anak itu bak oase di tengah gurun pasir yang bermunculan dihati akibat kehidupan kota yang sedemikian kerasnya (beneran ini
). Well, tanpa dua permainan itu, masih banyak alternatif untuk permainan dan belajar sains di alam terbuka untuk anak-anak.
Bulan Juli 2010, insyaAllah pada saat itu, volunteer kami siap bergerak ke sana, berbondong-bondong seperti kafilah siap menempuh perjalanan melalui udara dan laut, sebagian besar akan bergerak dari Jakarta menuju Waingapu, sebelum dilanjutkan menuju desa Ngadulanggi, kecamatan Nggaha Oriangu, di Sumba Timur tempat seluruh kegiatan yang aku sebutkan di atas akan dilaksanakan.
Saat ini, kami membuka pintu lebar-lebar untuk sahabat 1N3B yang berminat menjadi volunteer terutama bagi para dokter. Syaratnya tidak berat, sehat jasmani dan rohani sudah mutlak, memiliki misi dan visi yang sama itu harus, bersedia bekerja keras, itu sudah. Sementara syarat yang lain adalah bersedia membiayai perjalanan masing-masing. Berminat? Layangkan profil dan sedikit “love letter” pada kami melalui email satun3b(at)gmail.com.
Ehm, kalau kau nggak ingin jadi volunteer tapi ingin jadi donatur saja juga bisa kok, silahkan baca tulisan yang ini ya supaya nggak salah, sayangkan kalau sumbanganmu nyasar nggak tentu rimbanya. Bagaimana kalau belum bisa donasi dalam bentuk fisik dan materi? Mudah, doakan saja kami agar berhasil dan selamat. Terimakasih kawan.
Hugs!
-Agoy Yoga-
Bagi Buku – Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri – Tempat Penerimaan Buku 2010
Sahabat 1N3B yang tercinta,
Tahun lalu ketika kami bertekad mendirikan rumah baca di desa Madobag, Mentawai, kami membuat target untuk mengumpulkan 1.000 buku dalam jangka waktu kurang lebih tiga bulan. Pada awalnya kami cukup was-was karena sampai bulan kedua, jumlah buku yang terkumpul masih jauh dari harapan. Baru pada akhir tenggat waktu yang diberikan, berangsur-angsur buku-buku yang kami perlukan datang. Sungguh lega rasanya.
Pada akhirnya kami berhasil mengumpulkan 1552 buku atau 1401 judul buku untuk rumah baca Tuddukat, demikian nama rumah baca di desa Madobag tersebut Bisa dikatakan sebagian besar buku-buku tersebut adalah sumbangan dari donatur dan hanya 281 buku yang sengaja kami beli, semata untuk melengkapi koleksi agar sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan oleh masyarakat desa Madobag.
Untuk tahun ini sekali lagi, kami sampaikan kriteria buku sumbangan yang dibutuhkan:
- Buku pelajaran Sekolah Dasar untuk kelas 1 sampai 6, sesuai kurikulum yang sedang berlaku
- Buku pemberdayaan masyarakat ( buku pertanian, peternakan)
- Buku pengetahuan umum (kamus, ensiklopedia, buku sejarah umum, buku kesehatan)
- Buku agama
- Buku ketrampilan untuk anak-anak
- Buku ketrampilan untuk ibu-ibu
- Buku cerita anak-anak
- Buku pendidikan untuk anak usia dini
- Atlas
Dan peta dinding yang menggambarkan Indonesia dan dunia.
Kepada sahabat 1N3B yang ingin menyumbangkan buku, disarankan agar menyumbangkannya dalam kondisi sudah disampul dengan menggunakan plastik bening. Hal ini akan sangat membantu kami.
Berikut lokasi drop box buku, ada beberapa tambahan point yang diharap bisa mempermudah sahabat:-
Jakarta Pusat
Sita
Wisma GKBI
Jl. Jend. Sudirman Kav. 28
HP 081389639889
Jakarta Selatan
Susan
Graha Parama Lt. 2
Jl. KH A. Dahlan No. 69a-b
HP 081331002998
Taufan * hanya saat akhir pekan
Jl Warung Silah, GG Haji Sa’aman Rt 003 Rw 04 no 68
Cipedak 12630
HP 0811987944
Anna Oesmani
Komplek Timah no. 1
Jl. RS Fatmawati
Bogor
Adit
Jl. Ardio putran no. 54
Bogor Tengah
Bogor 16124
HP 08561478863
Bekasi
Agli
Jl.P.Kalimantan Raya No.17 Rt.003 Rw.016
Aren Jaya
Bekasi Timur.14111
Jawa barat
HP 08567186745
Bandung
Emma
Jl. Cukang Kawung 210
HP 08156209699
Yogjakarta
Yoyon
Jl. Sawitsari 208, Miliran
HP 081586195707
Jika sahabat kemudian bertanya, jadi berapakah target buku untuk tahun ini? Jawabnya untuk satu rumah baca, targetnya paling sedikit memiliki 1000 buku. Kemudian pertanyaannya adalah, sudahkah sahabat mulai bergerak? Ayo tunggu apalagi?
Curhat Tentang Buku
Dulu ketika masih kecil, aku sering sekali berangan-angan untuk memiliki perpustakaan sendiri kelak ketika sudah besar, ketika sudah memiliki penghasilan sendiri yang bisa ku-share dengan siapa saja yang ingin membaca koleksiku. Tentu itu didasari oleh rasa cinta pada buku yang sudah tumbuh saat itu. Rasa cinta yang tumbuh karena melalui buku, kakiku bisa melangkah kemana-mana, dengan buku penglihatanku bisa memandang kepenjuru dunia bahkan terbukalah jendela semesta, jadi bagiku buku adalah jendela dan pintu ke semesta, bahkan mesin waktu yang siap membawaku berkelana ke masa lalu maupun menerawang ke masa yang akan datang dan aku ingin orang lain juga merasakannya.
Barangkali rasa cinta itulah yang kemudian tanpa sadar membawaku pada situasi yang kualami sekarang. Dimana aku aktif dalam beberapa kegiatan yang tanpa kusadari tidak jauh-jauh dari buku. Setelah kegiatan komunitas 1N3B mendirikan Rumah Baca dan pengenalan sains di alam terbuka, di desa Madobag, Mentawai beberapa waktu lalu. Lagi-lagi aku menemukan aku terlibat di kegiatan yang nyaris serupa meski tujuan utama kegiatan kali ini adalah trauma healing, pasca gempa Jawa Barat.
Kali ini dengan beberapa anggota komunitas 1N3B bekerja sama dengan komunitas 1001 Buku dan beberapa komunitas lainnya (termasuk didalamnya ibu rumah tangga, pekerja sosial, traveller, penggemar photography dan sebagainya) yang menyebut komunitas baru ini sebagai komunitas Merah Putih, aku turut mempersiapkan pendirian Pojok Belajar dan kegiatan utamanya sendiri berupa trauma healing yang kebanyakan kegiatannya berupa kegiatan gerak dan bermain. Ketika mempersiapkan Pojok Belajar itulah, aku dan beberapa teman yang juga terlibat di kegiatan sebelumnya di Madobag, makin menyadari betapa kami sangat menikmati kegiatan kami seputar penyortiran buku, pembelian buku-buku baru, penyampulan, pencatatan dan packing buku-buku untuk anak-anak Sekolah Dasar tersebut. Betapa tidak, kami kerap menemukan buku-buku, komik-komik yang kami akrabi di masa lalu yang bisa membuat kami histeris. Memang sih beberapa buku atau komik masih bisa ditemukan di toko buku bekas, tapi ketika menemukannya di antara tumpukan buku sumbangan yang berdebu dan berbau apek disaat persiapan yang biasanya dekat dengan hari H, maka spontan itulah reaksi kami. Read more…
Sate Klopo

Menurut Suparto Brata, seorang penulis dari Surabaya, istilah “Ondomohen” tidak memiliki padanan kata dalam bahasa Belanda atau pun Bahasa Jawa. Jika kau bertanya pada Google, dalam beberapa detik akan muncul beberapa kata yang terkait dengan “Ondomohen”. Kata yang paling kerap adalah “sate klopo” atau sate kelapa, selanjutnya “Jalan Walikota Mustajab”.
Yang pertama adalah sate daging sapi berbalut parutan kelapa berbumbu gurih yang dijual Ibu Asih di mulut gang Ondomohen Magersari II, Surabaya. Yang kedua, adalah nama lain dari Ondomohen, ya Ondomohen adalah sebuah jalan di Surabaya, jalan ini sangat teduh karena pohon besar yang tumbuh di kanan kirinya.
Oke, tentang sate klopo aka sate Ondomohen, sate ini empuk, karena diolah dulu sebelum dibakar. Racikan saus kacang dan bumbu kelapanya sungguh pas membuat rasanya bertahan lama dilidah dan memorimu akan terus mengingat kelezatannya. Selain sate daging sapi, kalau kau termasuk pemberani, tak ada salahnya mencoba sate sumsum, usus, hingga ginjal sapi. Mmmm….
Jangan khawatir akan kerusakan pada kantongmu, sebab satu tusuk sate daging sapi hanya Rp. 1.400,00 dan sedikit lebih mahal untuk sate sumsum.
Satu yang kau perlu tahu, tempat kuliner ini sangatlah sederhana, di atas trotoar Ondomohen. Bu Asih tak menyediakan kursi dan meja yang cantik, cukup bangku kayu seadanya, di samping antrian pembeli yang terlihat berjubel diantara asap pembakaran. Pengalaman ini makin menambah nikmat dan membuatmu kembali dan kembali lagi, untuk sebuah alternatif menu sarapan di kota Hiu dan Buaya.
Sementara ini, selamat menikmati fotonya dulu Cak dan Ning* yang terhormat.
-Surabaya, 27 September 2009-
*Cak dan Ning panggilan khas di Surabaya, seperti Abang dan None di Jakarta.
I am Back!
Wuih, udah lama nggak nulis, kangen juga. Jadi, this is it, waktunya untuk memulai kembali. Menulis lagi, pelan-pelan nggak ngoyo, asal rutin dan “sehat”. Untuk itu aku mesti berterimakasih pada beberapa teman yang sudah menghasut aku untuk menulis lagi di blog. Donny Verdian , Jumria Rahman dan Lia Christie salah tiganya. Thanks guys, juga untuk yang namanya tidak kusebutkan di sini, kalau kalian merasa sudah pernah mengingatkanku, percayalah aku senang sekali dan berterimakasih untuk itu.
Sebetulnya, aku tidak berhenti menulis begitu saja. Ada beberapa tulisan yang kubuat tapi aku nggak sreg untuk menerbitkannya, meski di blog pribadi sekali pun, meski di notes FB– situs yang paling kuakrabi saat ini. Mungkin kalau menulis status yang seenaknya sendiri itu termasuk microblogging, maka itulah yang kulakukan saat ini. Silahturahmiku di dunia maya, kuperpanjang dengan meng-up date status, lebih cepat dan mudah dibanding membuat sebuah tulisan. Selain itu, respon yang timbul lebih cepat, padahal banyak komentar dan status yang nggak essential sih. Karena kemudahan ini, aku jadi merasa makin dekat dengan kawan-kawan di FB list dan merasa seolah terjadi interaksi dan komunikasi langsung, seperti halnya fasilitas sms. Read more…
Pulang
Aku Bekerja Maka Aku Ada
I work, therefore I am…
Most of us will say, we work to make a living. Actually working is not only survival game. It can improve ones dignity by self realization (identity). It shapes who we are and the way we are perceived by others, yet most of all, the ‘rules’ of our work do have a powerful impact on the way we understand and give meaning to events shaping our lives and the lives of others.
For Moslem, talking about working is not only related to “dunya” or about living in the world but it is also about the day after (akhirah). It is emphasized to keep working, while one is over then start with another job. Working is a way to achieve the God’s love and this is a way to ”jannah” (heaven). It only happens if we are professional, “ikhlas” (it is only for God), to be honest and objective in every way, highly ethic, and obey the “syariah” (the Moslem rule*…in simple way*).
Labora Ergo Sum reflects a Moslem way… Let’s start our work today with a simple pray to God…Bismillahirrahmannirrahiim…
Uneg-Uneg Belaka
Entah mengapa saya hanya bisa merasa kasihan dengan orang-orang yang physical oriented. Maksudnya orang-orang ini pintar, bisa mengaitkan segala sesuatu yang ujung-ujungnya jadi membahas kondisi fisik. Contohnya nih, ketika enak-enak ngobrol tentang buku, tiba-tiba gak ada angin gak ada hujan, tau-tau aja jadi membahas body teman diskusinya yang kerempeng kayak papan tripleks, atau lagi bahas gambar tiba-tiba terdistraksi dengan mengomentari jari jemari lawan bicaranya yang montok-montok misalnya. Ujung-ujungnya gampang diduga, cela mencela.
Barangkali kaum ini melupakan bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, sementara bawah sadar mereka terus menerus mencari manusia yang secara fisik sempurna mempesona. Perlu diingatkan kalau pencarian mereka bakal sia-sia. Katakan secara fisik nampaknya mempesona, tapi apakah penglihatan mereka bisa menembus setiap jengkal otot, daging, pembuluh darah dan organ-organ di dalam wadah yang cantik atau rupawan itu? Apakah penglihatan mereka bisa melihat hati yang cantik, atau pemikiran cemerlang di dalam wadag yang akhirnya sama-sama menjadi debu? Hmm.. rupanya bagi orang-orang yang phyisical oriented, wadah, sampul, lebih jadi prioritas mereka alih-alih content-nya. Meski naif kalau menyamaratakan, setidaknya ini adalah kecenderungan yang paling gampang diamati.
Entah ini menarik atau tidak faktanya, bagian tubuh yang paling sering dikomentari adalah wajah, perut, kaki, lengan dan resam tubuh secara keseluruhan, ini berlaku untuk wanita, sebaliknya resam tubuh pria secara keseluruhan, perut rata dan dada bidang jauh lebih menarik bagi kaum hawa. Seorang gadis yang gemuk akan “termaafkan” jika berwajah cantik. Seorang pria dengan resam tubuh yang menarik akan termaafkan, jika wajahnya pas-pasan. Tentu ini sangat subyektif dan hanya hasil dari diskusi-diskusi ringan di sela jedah dengan teman-teman di sekitar saya, tanpa didukung riset serius, apalagi melibatkan sponsor. Anda boleh berpendapat yang lain. Read more…
SocialVibe