Curhat Tentang Buku

November 23, 2009 agoyyoga 13 comments

Dulu ketika masih kecil, aku sering sekali berangan-angan untuk memiliki perpustakaan sendiri kelak ketika sudah besar, ketika sudah memiliki penghasilan sendiri yang bisa ku-share dengan siapa saja yang ingin membaca koleksiku. Tentu itu didasari oleh rasa cinta pada buku yang sudah tumbuh saat itu. Rasa cinta yang tumbuh karena melalui buku, kakiku bisa melangkah kemana-mana, dengan buku penglihatanku bisa memandang kepenjuru dunia bahkan terbukalah jendela semesta, jadi bagiku buku adalah jendela dan pintu ke semesta, bahkan mesin waktu yang siap membawaku berkelana ke masa lalu maupun menerawang ke masa yang akan datang dan aku ingin orang lain juga merasakannya.

Barangkali rasa cinta itulah yang kemudian tanpa sadar membawaku pada situasi yang kualami sekarang. Dimana aku aktif dalam beberapa kegiatan yang tanpa kusadari tidak jauh-jauh dari buku. Setelah kegiatan komunitas 1N3B  mendirikan Rumah Baca dan pengenalan sains di alam terbuka, di desa Madobag, Mentawai beberapa waktu lalu. Lagi-lagi aku menemukan aku terlibat di kegiatan yang nyaris serupa meski tujuan utama kegiatan kali ini adalah trauma healing, pasca gempa Jawa Barat.

Kali ini dengan beberapa anggota komunitas 1N3B bekerja sama dengan komunitas 1001 Buku dan beberapa komunitas lainnya (termasuk didalamnya ibu rumah tangga, pekerja sosial, traveller, penggemar photography dan sebagainya) yang menyebut komunitas baru ini sebagai komunitas Merah Putih, aku turut mempersiapkan pendirian Pojok Belajar dan kegiatan utamanya sendiri berupa trauma healing yang kebanyakan kegiatannya berupa kegiatan gerak dan bermain. Ketika mempersiapkan Pojok Belajar itulah, aku dan beberapa teman yang juga terlibat di kegiatan sebelumnya di Madobag, makin menyadari betapa kami sangat menikmati kegiatan kami seputar penyortiran buku, pembelian buku-buku baru, penyampulan, pencatatan dan packing buku-buku untuk anak-anak Sekolah Dasar tersebut. Betapa tidak, kami kerap menemukan buku-buku, komik-komik yang kami akrabi di masa lalu yang bisa membuat kami histeris. Memang sih beberapa buku atau komik masih bisa ditemukan di toko buku bekas, tapi ketika menemukannya di antara tumpukan buku sumbangan yang berdebu dan berbau apek disaat persiapan yang biasanya dekat dengan hari H, maka spontan itulah reaksi kami. Read more…

Sate Klopo

November 16, 2009 agoyyoga 4 comments

7021_1229847219243_1020967295_737603_611081_n

Menurut Suparto Brata, seorang penulis dari Surabaya, istilah “Ondomohen” tidak memiliki padanan kata dalam bahasa Belanda atau pun Bahasa Jawa. Jika kau bertanya pada Google, dalam beberapa detik akan muncul beberapa kata yang terkait dengan “Ondomohen”. Kata yang paling kerap adalah “sate klopo” atau sate kelapa, selanjutnya “Jalan Walikota Mustajab”.

Yang pertama adalah sate daging sapi berbalut parutan kelapa berbumbu gurih yang dijual Ibu Asih di mulut gang Ondomohen Magersari II, Surabaya. Yang kedua, adalah nama lain dari Ondomohen, ya Ondomohen adalah sebuah jalan di Surabaya, jalan ini sangat teduh karena pohon besar yang tumbuh di kanan kirinya.

Oke, tentang sate klopo aka sate Ondomohen, sate ini empuk, karena diolah dulu sebelum dibakar. Racikan saus kacang dan bumbu kelapanya sungguh pas membuat rasanya bertahan lama dilidah dan memorimu akan terus mengingat kelezatannya. Selain sate daging sapi, kalau kau termasuk pemberani, tak ada salahnya mencoba sate sumsum, usus, hingga ginjal sapi. Mmmm….

Jangan khawatir akan kerusakan pada kantongmu, sebab satu tusuk sate daging sapi hanya Rp. 1.400,00 dan sedikit lebih mahal untuk sate sumsum.

Satu yang kau perlu tahu, tempat kuliner ini sangatlah sederhana, di atas trotoar Ondomohen. Bu Asih tak menyediakan kursi dan meja yang cantik, cukup bangku kayu seadanya, di samping antrian pembeli yang terlihat berjubel diantara asap pembakaran. Pengalaman ini makin menambah nikmat dan membuatmu kembali dan kembali lagi, untuk sebuah alternatif menu sarapan di kota Hiu dan Buaya.

Sementara ini, selamat menikmati fotonya dulu Cak dan Ning* yang terhormat. :)

-Surabaya, 27 September 2009-

*Cak dan Ning panggilan khas di Surabaya, seperti Abang dan None di Jakarta.

Categories: Jalan-Jalan Tags: , ,

I am Back!

October 31, 2009 agoyyoga 5 comments

Wuih, udah lama nggak nulis, kangen juga.  Jadi, this is it, waktunya untuk memulai kembali. Menulis lagi, pelan-pelan nggak ngoyo, asal rutin dan “sehat”. Untuk itu aku mesti berterimakasih pada beberapa teman yang sudah menghasut aku untuk menulis lagi di blog. Donny Verdian , Jumria Rahman dan Lia Christie salah tiganya. Thanks guys, juga untuk yang namanya tidak kusebutkan di sini, kalau kalian merasa sudah pernah mengingatkanku, percayalah aku senang sekali dan berterimakasih untuk itu.

Sebetulnya, aku tidak berhenti menulis begitu saja. Ada beberapa tulisan yang kubuat tapi aku nggak sreg untuk menerbitkannya, meski di blog pribadi sekali pun, meski di notes FB– situs yang paling kuakrabi saat ini. Mungkin kalau menulis status yang seenaknya sendiri itu termasuk microblogging, maka itulah yang kulakukan saat ini. Silahturahmiku di dunia maya, kuperpanjang dengan meng-up date status, lebih cepat dan mudah dibanding membuat sebuah tulisan. Selain itu, respon yang timbul lebih cepat, padahal banyak komentar dan status yang nggak essential sih. Karena kemudahan ini, aku jadi merasa makin dekat dengan kawan-kawan di FB list dan merasa seolah terjadi interaksi dan komunikasi langsung, seperti halnya fasilitas sms. Read more…

Pulang

August 23, 2009 agoyyoga 8 comments
Dalam Quran ada pertanyaan sederhana, fa aina tadzhabun, kalian ini mau berangkat ke mana? Ibrahim, menjawab, inni dzahibun ila rabbi sayahdin, aku sedang pergi menuju Tuhanku, pastilah Ia memberikan petunjuk kepadaku. Dan Rasulullah Muhammad, Saw memberikan sekerat peta, mutu qabla antamutu, matilah kamu sebelum mati.
Apa daya, safar yang nampaknya mudah dan sangat jelas arahannya, ternyata tak semudah itu ditempuh. Ketika hendak berangkat, ada rumah kita yang paling berat kita tinggalkan, berupa ego. Kepentingan-kepentingan keakuan kita, nampak jelas, meski dalam konteks beribadah, bahkan dalam berdoa, kerap tanpa disadari menggunakan kata perintah. Dan siapakah yang diperintah?
Pun ketika telah lolos dari rumah ego, tak berarti ia lenyap selamanya. Ego akan senantiasa menyergap, menelikung, terutama disaat paling rawan dalam hidup, di titik nadir, kehadirannya akan sangat jelas, mencemooh sekaligus menggoda dan bagaimana bisa berjumpa denganNya? Bagaimana bisa pulang? Akankah kematian tinggal kematian jasmani belaka, al mawt al thabi’i, kembali padaNya secara terpaksa, suka atau tidak suka dan bukan al mawt al iradiy, sebagaimana halnya bunyi sekerat peta Rasulullah Saw, yang mengisyaratkan dua kematian dalam kehidupan, mati dalam keinginan dan mati secara fisik.
Dalam Quran ada pertanyaan sederhana, fa aina tadzhabûn, kalian ini mau berangkat ke mana? Ibrahim, menjawab, innî dzâhibun ilâ rabbî sayahdîn, aku sedang pergi menuju Tuhanku, pastilah Ia memberikan petunjuk kepadaku. Dan Rasulullah Muhammad, Saw memberikan sekerat peta pada kami, mûtû qabla antamûtû, matilah kamu sebelum mati.
Apa daya, safar yang nampaknya mudah dan sangat jelas arahannya, ternyata tak semudah itu ditempuh. Ketika hendak berangkat, ada rumah kita yang paling berat kita tinggalkan, berupa ego. Kepentingan-kepentingan keakuan kita, nampak jelas, meski dalam konteks beribadah, bahkan dalam berdoa, kerap tanpa disadari menggunakan kata perintah. Dan siapakah yang diperintah?
Pun ketika telah lolos dari rumah ego, tak berarti ia lenyap selamanya. Ego akan senantiasa menyergap, menelikung, terutama disaat paling rawan dalam hidup, di titik nadir, kehadirannya akan sangat jelas, mencemooh sekaligus menggoda dan bagaimana bisa berjumpa denganNya? Bagaimana bisa pulang? Akankah kematian tinggal kematian jasmani belaka, al mawt al thâbi’i, kembali padaNya secara terpaksa, suka atau tidak suka dan bukan al mawt al irâdiy, sebagaimana halnya bunyi sekerat peta Rasulullah Saw, yang mengisyaratkan dua kematian dalam kehidupan, mati dalam keinginan dan mati secara fisik.
-Y.A., Jakarta, 23 Agustus 2009-
Categories: Makna

Aku Bekerja Maka Aku Ada

August 10, 2009 agoyyoga 6 comments

I work, therefore I am…

Most of us will say, we work to make a living. Actually working is not only survival game. It can improve ones dignity by self realization (identity). It shapes who we are and the way we are perceived by others, yet most of all, the ‘rules’ of our work do have a powerful impact on the way we understand and give meaning to events shaping our lives and the lives of others.
For Moslem, talking about working is not only related to “dunya” or about living in the world  but it is also about the day after (akhirah). It is emphasized to keep working, while one is over then start with another job. Working is a way to achieve the God’s love and this is a way to ”jannah” (heaven). It only happens if we are professional, “ikhlas” (it is only for God), to be honest and objective in every way, highly ethic, and obey the “syariah” (the Moslem rule*…in simple way*).
Labora Ergo Sum reflects a Moslem way… Let’s start our work today with a simple pray to God…Bismillahirrahmannirrahiim…

Read more…

Categories: Makna Tags: ,

Lantak

July 9, 2009 agoyyoga 5 comments

Adakah perdamaian sejati tanpa banyak cing cong dan nyaris tanpa gesekan? Jika kau jawab, “Ada!”, maka tempat itu ada di sini. Tempat aku, saudara-saudaraku, orang tua, kakek nenek dan seluruh keluarga besarku tinggal. Aku dan keluargaku selalu berdamai, kami tak pernah bertengkar, tak pernah berebut apa pun. Keluarga kami, makin lama, makin banyak, beranak pinak dan menghalalkan perkawinan antar saudara. Ruang yang kami tempati tak pernah bertambah, meski begitu kami tak pernah merasa sesak, apalagi berebut pangan. Rejeki selalu ada, kami tak mengenal kata kurus, kering kerontang. Mungkin kau bertanya, bagaimana dengan privacy? Aku katakan saja padamu, itu persoalan yang sepele. Hidup ditengah keluarga besar, dan terkadang ada sanak kadang yang berkunjung atau bahkan menetap,  membuat kami memiliki ceruk rahasia masing-masing, ditempat yang tak terduga. Aku sendiri punya ceruk itu. Tempat di mana aku bisa mengawasi seluruh pergerakan di rumah kami, termasuk gerak-gerik seseorang yang istimewa, yang menjadikan kalimat di awal paragraf ini ada.

Ia tergolong istimewa, entah berasal dari mana, tak seorang pun tahu. Ia diam saja, tak pernah berkata apa-apa pada kami. Ia datang suatu siang, di hari pertama tahun baru, kira-kira dua tahun lalu. Awalnya ia berdua, dengan adiknya. Itu dugaanku semata, karena mereka nyaris mirip satu sama lain, tapi tak mirip sungguh. Aku hanya menduga, karena aku tak pernah bertanya, keluargaku juga tak pernah bertanya, karena rumah kami terbuka untuk siapa saja yang membutuhkan, prinsip kami sangat sederhana, rumah ini rejeki dariNya, tak secuilpun kami merasa memilikinya. Kalaupun diambil kembali olehNya, kami tak akan bersedu sedan, karena kami bisa melanjutkan hidup kami di tempat yang baru, dan lagi-lagi itu akan terjadi atas kebaikanNya. Oleh karena itu, kami tak pernah mengeluh dan terganggu dengan kehadiran siapa pun yang sebenarnya hanya mempersempit ruang gerak kami, termasuk dia. Read more…

Categories: Cerita, Fiksi, The Flat Stories

Uneg-Uneg Belaka

July 7, 2009 agoyyoga 6 comments

Entah mengapa saya hanya bisa merasa kasihan dengan orang-orang yang physical oriented. Maksudnya orang-orang ini pintar, bisa mengaitkan segala sesuatu yang ujung-ujungnya jadi membahas kondisi fisik. Contohnya nih, ketika enak-enak ngobrol tentang buku, tiba-tiba gak ada angin gak ada hujan, tau-tau aja jadi membahas body teman diskusinya yang kerempeng kayak papan tripleks, atau lagi bahas gambar tiba-tiba terdistraksi dengan mengomentari jari jemari lawan bicaranya yang montok-montok misalnya. Ujung-ujungnya gampang diduga, cela mencela.

Barangkali kaum ini melupakan bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, sementara bawah sadar mereka terus menerus mencari manusia yang secara fisik sempurna mempesona. Perlu diingatkan kalau pencarian mereka bakal sia-sia. Katakan secara fisik nampaknya mempesona, tapi apakah penglihatan mereka bisa menembus setiap jengkal otot, daging, pembuluh darah dan organ-organ di dalam wadah yang cantik atau rupawan itu? Apakah penglihatan mereka bisa melihat hati yang cantik, atau pemikiran cemerlang di dalam wadag yang akhirnya sama-sama menjadi debu? Hmm.. rupanya bagi orang-orang yang phyisical oriented,  wadah, sampul, lebih jadi prioritas mereka alih-alih content-nya. Meski naif kalau menyamaratakan, setidaknya ini adalah kecenderungan yang paling gampang diamati.

Entah ini menarik atau tidak faktanya, bagian tubuh yang paling sering dikomentari adalah wajah, perut, kaki, lengan dan  resam tubuh secara keseluruhan, ini berlaku untuk wanita, sebaliknya resam tubuh pria secara keseluruhan, perut rata dan dada bidang jauh lebih menarik bagi kaum hawa. Seorang gadis yang gemuk akan “termaafkan” jika berwajah cantik. Seorang pria dengan resam tubuh yang menarik akan termaafkan, jika wajahnya pas-pasan. Tentu ini sangat subyektif dan hanya hasil dari diskusi-diskusi ringan di sela jedah dengan teman-teman di sekitar saya, tanpa didukung riset serius, apalagi melibatkan sponsor. Anda boleh berpendapat yang lain. Read more…

Kisah dari Madobak

June 28, 2009 agoyyoga 6 comments

4568_100234663776_571953776_1837605_1827491_n (1)

Saya baru merelease tiga tulisan di web resmi komunitas 1N3B. Tiga tulisan itu adalah sebuah prolog untuk kisah-kisah perjalanan yang akan kami terbitkan bertahap, kisah dr. Anto, salah satu anggota tim kesehatan 1N3B dan sebuah tulisan tentang kegiatan bermain roket air yang ditulis dalam bahasa Inggris.

Seusainya misi di desa Madobak, bukan berarti kami lantas tenang. Masih banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Termasuk diantaranya laporan pertanggungjawaban dan dokumentasi kegiatan. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana kami, komunitas 1N3B dan sahabat-sahabatnya berupaya untuk terus sevisi, sejalan, meniti perjalanan panjang untuk memberikan jendela dunia bagi anak-anak di desa terisolir.

Nanti, pada tanggal 17 Agustus 2009 kami berencana meluncurkan DVD yang berisi dokumentasi kegiatan kami ini. Berminat? Tertarik? Tunggu tanggal mainnya. Tetaplah bersama kami, bagi yang memiliki akun di Facebook, bergabunglah dalam cause dan group 1N3B agar tidak ketinggalan berita-berita terbaru dari komunitas kami.

Categories: 1N3B

Sokola Binatang-Binatang

June 24, 2009 agoyyoga 3 comments

Dalam sebuah diskusi singkat disebuah pelatihan, terlontar sebuah metafora “sekolah kebun binatang” untuk menggambarkan betapa buruknya pola pendidikan yang berlaku di Indonesia. Betapa selama ini kebanyakan lembaga pendidikan di Indonesia cenderung lebih menekankan pada pengembangan otak kiri yang dikenal sebagai bagian otak yang berfungsi untuk pemikiran logis. Betapa pendidikan yang mendorong kreativitas terabaikan begitu lama.

Apa sih sekolah binatang-binatang atau sekolah kebun binatang? Sebuah sekolah sama halnya dengan sebuah kebun binatang yang berisi berbagai jenis hewan. Ada “harimau”, “burung”, “ikan”, “itik”, “domba”, dan sebagainya yang bersekolah lantas masak iya sih, pola pendidikan dan target tiap “binatang” bisa disamaratakan? Apa hasilnya kalau ikan dipaksa terbang dan burung dipaksa berenang? Kura-kura dipaksa berlari melawan kuda? Apakah dengan sayapnya yang kokoh seekor elang bisa menyaingi ikan nemo di dalam air? Sebaliknya apakah nemo bisa terbang setinggi elang? Nah, sudah dapat maknanya kan? Silahkan diartikan untuk banyak hal yang terkait dengan bagaimana bangsa kita telah dididik selama ini. ;)

Hmmm.. rambut boleh sama-sama hitam, tapi isi kepala berbeda. Saya jadi mencoba membayangkan apa jadinya seorang Einstein yang begitu jenius dan disebut kejeniusannya tersebut hanya menggunakan kurang dari 10% kapasitas otaknya ketika kecil dipaksa untuk menjadi penyanyi misalnya, atau seorang Affandi dipaksa untuk jadi seorang teknisi, alih-alih memperdalam seni lukis. Mungkin kita tak pernah mengenal nama mereka ya?

Sesungguhnya saya tidak menampik teori yang mengatakan bahwasanya manusia berpotensi mengembangkan kedua belahan otaknya dengan sama baik dan sama hebat, dan mengagumi Leonardo Da Vinci yang terbukti mampu mengembangkan kemampuan logika dan kreatifnya dengan seimbang. Alangkah prihatinnya saya karena hal yang baik ini belumlah nampak diaplikasikan dalam pola pendidikan yang umum di negara kita ini.

Alhamdulillah, ternyata banyak yang merasa prihatin dengan kondisi ini sehingga beliau-beliau yang memiliki kelebihan dan kesempatan yang lebih baik “memberontak” dan memberikan alternatif. Sebutlah sekolah-sekolah khusus seperti sekolah-sekolah alam yang mulai mudah ditemukan, sampai konsep home schooling yang mulai akrab ditelinga kita. Tapiii…(lagi-lagi terpaksa menggunakan kata “tapi”),  sedihnya semua yang saya sebutkan masih eklusif.

Kerisauan ini saya sebutkan di akun Facebook saya. Betapa bahagianya saya ketika beberapa teman menanggapi secara serius, kebanyakan beliau-beliau ini adalah para orang tua yang pernah dilanda kebingungan dalam memikirkan pendidikan yang terbaik bagi putra-putrinya, dan betapa bahagianya ketika salah satu teman optimis akan adanya perubahan yang lebih baik dalam dunia pendidikan dengan mengatakan gerakan alternatif tersebut seperti wombat yang terus menggali…

Categories: Aksi

Enak dan Enak Sekali

June 18, 2009 agoyyoga 12 comments

Kalau di keyakinan yang saya anut, yang dimaksud dengan rejeki itu adalah apa-apa yang sampai di mulut kita untuk dimakan atau sesuatu yang bisa kita kenakan, atau sesuatu yang bisa dipakai untuk menolong orang lain, alias beramal. Barangkali itulah sebabnya saya sebisa mungkin berusaha tidak mengeluarkan kalimat yang buruk tentang makanan, sehingga dalam kamus kuliner saya hanya mengenal dua istilah: enak dan enak sekali. Saya nggak bisa bilang jijik demi melihat makanan yang sedang disuap oleh seseorang yang mungkin secara visual kurang elok. Sebab nggak mungkin saya mengata-ngatai rejeki orang itu menjijikkan, sedang rejekinya bersumber dari yang maha memberi hidup, saya sendiri tidak punya kemampuan memberi orang rejeki, orang apa-apa yang ada di diri saya ini semuanya serba lewat, serba mampir, hanya dititipi oleh yang punya hidup. Berhubung saya juga tak bisa memilih titipan apa yang sebaiknya dititipkan Gusti Allah pada diri saya, maka selagi bisa, saya usahakan untuk mengeluarkan kalimat-kalimat yang baik-baik saja dan berusaha merasakan semuanya dengan perasaan yang baik dan positif.

Meski, terus terang saya juga belum mengetest keabsahan dua istilah ini (enak dan enak sekali) pada diri saya sendiri. Siapa yang tahu reaksi paling alami yang bakal saya sajikan, bila tahu-tahu saya disodori belalang goreng misalnya. Apakah kemudian saya mengerenyit sambil bilang uenaaaakkk…, padahal di dalam hati bingung dengan rasanya. Nggak tahu.

Saya sebetulnya penasaran juga dengan reaksi pertama saya bila disodori ulat sagu yang putih montok-montok, seperti bayi dibedong itu, yang katanya mesti dimakan hidup-hidup, yang kalau digigit rasanya seperti menggigit buntalan mayonaise, yang maknyuss, cairan enaknya muncrat sampai ke langit-langit rongga mulut. Apakah saya akan bilang wah sepertinya enak, tapi no thanks saya geli atau lebih baik diam saja ya. Lantas apa hak saya untuk merasa geli pada ciptaan Tuhan yang sama dengan yang menciptakan saya? Beruntung saya diciptakan dalam bentuk ciptaannya yang konon kabarnya paling sempurna, lantas kalau nasib mengatakan saya diciptakan sebagai bagian koloni ulat sagu, apa yang kemudian ada di benak saya? Akan berkurangkah rasa syukur dan keimanan saya saat ini?

Ah jadi melantur kemana-mana, ini toh hanya kontemplasi tidak bermutu yang hadir begitu saja hanya karena seringnya saya meyaksikan orang-orang yang bisa mengatakan jijik pada makanan yang ada dihadapannya. Risih mendengarnya, padahal bagi sebagian orang yang lain, yang mungkin juga masih orang tuanya, sanak kadang, atau bahkan pacarnya, mereka tenang-tenang saja menikmati makanan itu tanpa ada perasaan jijik dan bahkan bersyukur karena bisa menikmati rejeki itu. Kalau dipikir-pikir, masak tega sih, mengucapkan jijik pada makanan yang temanmu sendiri sedang mengunyah dan menelannya? Padahal yang ditelannya bukan bangkai busuk. Ah, nggak mengerti saya dengan sifat-sifat manusia. Ah kok saya ini kayak yang bukan manusia, hehehe…. :)

Categories: Cerita, The Flat Stories