dan tentang Jakarta (lagi).
Di suatu pagi menjelang siang yang serba tergesa, saya melompat ke dalam taksi biru. Dari luar mobil nampak baru, tapi berdebu dan tak mulus-mulus amat. Sudah standarnya pengemudi mengucapkan salam, selamat pagi dan menanyakan tujuan, dan sudah standar saya sesudah menyebutkan tujuan, saya menjelaskan rute yang ingin saya ambil. Saya paham siang itu Jakarta sedang macet di mana-mana, saya lagi malas naik ojek, apalagi busway yang saat itu masih kekurangan kapasitasnya. Konsekuensinya mungkin terpaksa lewat jalur tak biasa. Salah satunya lewat tengah-tengah pekuburan umum. Rupanya rute ini menarik bagi pak sopir, sebab ia tidak tahu sebelumnya. Sementara saya sudah sering, sering pula berkali-kali meminta maaf pada ahli kubur yang berbaring di sana, masih tega-teganya mengganggu peristirahatan mereka dengan melintas tergesa-gesa.
Walhasil kami jadi bercakap-cakap, perbincangan tentang rute beralih ke topik lainnya. Keseringan naik taksi, saya jadi malas bertanya asal muasal seseorang menjadi pengemudi, berapa lama ia sudah bawa taksi dan sebagainya. Saya aja penumpangnya malas, apalagi sopir-sopir taksi yang ditanya. Bayangkan, kalau sehari ia bisa mengangkut 20 tamu dan ke-20 orang ini menanyakan hal yang sama (meski konteksnya untuk menunjukkan simpati atau basa basi), dalam seminggu bisa bawa taksi 4 kali, dalam satu bulan berapa kali ia akan menjawab hal yang sama, dan dalam satu tahun mungkin berkurang kewarasannya. Read More

