29 Okt 2011 diulang 30 Okt 2011, twitter-ku:
Sedang mencari foster untuk merawat kucing yg terluka lehernya karena dijerat orang tdk bertanggungjawab. Hanya utk 2 minggu. Jakarta only.
Seorang sahabat memintaku untuk merawat seekor kucing korban kekerasan manusia selama dua minggu. Sayang permohonan itu tidak dapat kukabulkan. Situasiku sedang tidak memungkin. Ada dua hal yang tak perlu kuceritakan di sini yang menjadikanku tidak memenuhi syarat menjadi volunteer. Setelah menyampaikan situasiku, persoalan tidak lantas selesai begitu saja. Setelahnya kesibukan mencari foster dadakan ini jadi agendaku sejak dini hari kemarin.
Aku prihatin dengan kondisi kucing kampung berkelamin jantan yang telah dijerat lehernya entah oleh siapa. Manusia itu begitu kejam, ia menjerat leher si kucing dengan karet gelang hingga terluka dan lama kelamaan daging lehernya berkurang hingga satu sentimeter. Miris banget. Sekarang kucing tak bernama ini sudah dirawat dan diobati oleh dokter. Namun persoalan tak selesai sampai di situ. Kucing ini ditemukan begitu saja, tak ada yang memiliki. Siapa yang bakal memastikan ia diobati tiap hari hingga sembuh?
Sebenarnya bukan hanya si jantan ini saja yang sedang dicarikan perawat. Ada seekor lagi yang kakinya mengalami luka bakar. Entah apa sebabnya hingga kakinya terbakar, mungkin bukan karena kesengajaan, mungkin saja terjadi ketika kucing liar ini keluyuran dan sialnya ia terkena api dari kompor warung-warung di pasar, siapa tahu bisa saja itu benar terjadi. Kucing ini lebih muda, sudah dirawat dokter dan beruntungnya ia karena sahabatku mau menampung. Sayangnya ia tak bisa menampung satu kucing lagi karena sudah ada kucing lain yang dirawatnya.
Bersama kucing-kucing yang malang ini juga ditemukan satu lagi kucing yang jauh lebih menggenaskan nasibnya. Secara fisik nampak baik-baik saja tak ada tanda kerusakan. Namun ternyata ia sudah tak memiliki gusi. Entah kemalangan apa yang menimpanya. Kondisinya sudah sangat lemah ketika ditemukan dan menurut dokter harapan hidupnya kecil sehingga akhirnya diputuskan untuk melakukan euthanasia terhadapnya.
Oya, sebelumnya aku ceritakan, menjadi perawat kucing ini seperti menjadi perawat bayi, bedanya engkau tak perlu menyuapi atau menyusuinya. Ia bisa makan sendiri selama kau sediakan makanan. Kau perlu memastikan kebersihannya setelah pup atau pipis, memastikan kandang tempat tidurnya bersih dan memastikan ia bisa bermain sehingga secara psikis ia juga bahagia. Karena dititipi, engkau juga harus bertanggung jawab menjaganya agar tidak terlalu bebas mengeksplorasi tempat tinggalnya yang baru lantas hilang begitu saja. Untuk itu kami perlu memastikan tempat merawat kucing ini bisa memenuhi kebutuhan kucing lahir bathin. Ini serius.
Satu hal lagi yang ada di kepalaku selain berusaha mendapatkan perawat kucing, adalah kenyataan bahwa banyak manusia yang tidak memiliki sensitifitas terhadap binatang. Aku enggak mengajak semua orang menyayangi binatang, hanya ingin mengajak berempati sedikit dengan mencoba melihat dari sudut pandang si binatang. Mereka ini juga makhluk hidup, butuh kasih sayang dan kehidupan yang baik dan sejahtera. Jangan melulu menyakiti atau bahkan membunuh mereka karena si manusia tidak melihat kegunaannya sedikit pun binatang-binatang ini terhadap mereka. Satu contoh, aku pernah baca seseorang memiliki kuda berharga jutaan, suatu ketika binatang ini patah kakinya, lantas sang pemilik memutuskan untuk membunuhnya. Teman si pemilik yang menceritakan hal ini di twitter kepada follower-nya bertanya tanpa bermaksud mencari jawaban, apakah lantas hal ini disebut kejam?
Bagaimana jika dianalogikan, kuda itu adalah karyawanmu atau anak angkatmu atau anak saudaramu yang kau ambil dan kau biayai untuk keperluanmu entah apa. Suatu ketika anak ini sakit, kedepannya kau tak melihat benefit yang kau harapkan dari kejadian ini. Apakah lantas kau akan membunuhnya saat itu juga? Jangan protes analogi ini berlebihan. Jika cerita tentang kuda itu benar, maka si pemilik kuda itu telah “menjadi Tuhan” atas kudanya. Apa haknya untuk melakukan perbuatan itu? Apa haknya atas kehidupan yang hanya Dia semata yang menciptakannya?
Satu hal yang aku yakini, bagaimana cara manusia memperlakukan binatang dapat menjadi indikasi bagaimana ia memperlakukan manusia lainnya terutama dalam kaitannya memperlakukan individu-individu yang tidak memberikan keuntungan secara langsung baginya. Tanpa banyak bicara, dengan sekali klik aku putuskan untuk berhenti mengikuti si pemilik akun twitter tersebut.
Baiknya kuakhiri tulisan curhat ini sekarang, aku masih harus mencari solusi untuk kucing yang kuceritakan tadi. Yang bersedia merawat bisa kirim pesan di blog ini atau mentions aku di twitter.
Y.A.