dan tentang Jakarta (lagi).

Di suatu pagi menjelang siang yang serba tergesa, saya melompat ke dalam taksi biru. Dari luar mobil nampak baru, tapi berdebu dan tak mulus-mulus amat. Sudah standarnya pengemudi mengucapkan salam, selamat pagi dan menanyakan tujuan, dan sudah standar saya sesudah menyebutkan tujuan, saya menjelaskan rute yang ingin saya ambil. Saya paham siang itu Jakarta sedang macet di mana-mana, saya lagi malas naik ojek, apalagi busway yang saat itu masih kekurangan kapasitasnya. Konsekuensinya mungkin terpaksa lewat jalur tak biasa. Salah satunya lewat tengah-tengah pekuburan umum. Rupanya rute ini menarik bagi pak sopir, sebab ia tidak tahu sebelumnya. Sementara saya sudah sering, sering pula berkali-kali meminta maaf pada ahli kubur yang berbaring di sana, masih tega-teganya mengganggu peristirahatan mereka dengan melintas tergesa-gesa.

Walhasil kami jadi bercakap-cakap, perbincangan tentang rute beralih ke topik lainnya. Keseringan naik taksi, saya jadi malas bertanya asal muasal seseorang menjadi pengemudi, berapa lama ia sudah bawa taksi dan sebagainya. Saya aja penumpangnya malas, apalagi sopir-sopir taksi yang ditanya. Bayangkan, kalau sehari ia bisa mengangkut 20 tamu dan ke-20 orang ini menanyakan hal yang sama (meski konteksnya untuk menunjukkan simpati atau basa basi), dalam seminggu bisa bawa taksi 4 kali, dalam satu bulan berapa kali ia akan menjawab hal yang sama, dan dalam satu tahun mungkin berkurang kewarasannya. Read More

Lomo (14), Lorez (17), Gaby Neli (11) dan Patrice (11) adalah anak-anak dari Desa Ngora Nale yang menunjukkan padaku dan seorang temanku, jalan menuju ke Kawah Wawomudha (1.549mdpl) pada bulan Juni 2011 yang lalu. Kawah Wawomudha adalah sebuah kawah muda yang terbentuk dari hasil erupsi di tahun 2001.

Konon, pada saat erupsi tersebut terbentuklah tiga buah danau di dalam kawah, dua danau berwarna hijau seperti daun dan sebuah danau lainnya berwarna merah seperti darah. Aku tertarik untuk mengunjungi kawah tersebut. Pada saat aku berkunjung ke sana, satu danau sudah tidak nampak, aku hanya melihat dua danau dan keduanya telah berubah menjadi berwarna kuning.

Read More

Hanya melihat sekilas foto yang baru diposting semalam oleh seorang teman photographer di Facebook, aku langsung mengenali lokasi foto itu diambil: Pulau Moyo. Pulau yang dulunya aku dengar mengisolasi diri dan hanya menerima tamu-tamu eklusif yang mendambakan privacy, sementara untuk kasta paria, menjauhlah, begitu pesannya. Lantas aku tergelitik untuk menulis pengalamanku sendiri.

Terdorong dengan rasa ingin tahu, mengapa orang-orang sekelas Lady Di dan Mick Jagger sudi antri dan membuang langkah ke Moyo, aku menunggu kesempatan untuk ke sana. Kesempatan itu kemudian datang beberapa kali dalam wujud penawaran untuk berlayar dari Mataram hingga Labuan Bajo, dan singgah di beberapa pulau kecil di antara keduanya, termasuk pulau Moyo. Kita tidak akan menginap di pulau, kapal hanya akan singgah beberapa jam untuk memuaskan hasrat berenang dan menjelajah sebagian pulau dalam kurun waktu yang singkat tersebut. Menarik sih, cuma kesempatan akan tinggal kesempatan kalau aku tidak siap, aku tak bisa sediakan waktu. Tuan besar yang bernama waktu itu tidak pernah bersedia menyesuaikan dirinya, aku lah yang harus bersedia menyesuaikan diri, bagaimana pun caranya.

Lantas datanglah keberuntungan itu di bulan November 2012, sepulang dari misi sosial kecil-kecilan di pulau Sumbawa, aku dan teman-temanku berduabelas langsung menyeberang ke utara Sumbawa Besar, ke Pulau Moyo! Read More

Sebelum benar-benar paham tentang makna patriarkat dan matriarkat, maskulin dan feminin, gender dan hal-hal seputar itu (dan rasanya sampai kini masih banyak yang belum kupahami), yang kupahami adalah kaum pria di keluargaku cenderung memiliki posisi lebih istimewa dari kaum wanita. Hal pertama yang membuka wawasanku adalah tulisan di buku catatan sekolah milik tanteku, adik ibuku yang paling bungsu. Saat itu aku baru masuk sekolah dasar, sedang senang-senangnya membaca, apalagi mencuri baca buku-buku “orang besar”, seperti catatan tanteku yang saat itu masih kuliah atau membaca majalah Gadis miliknya. Di buku catatannya ia menuliskan namanya dan menambahkan nama kakekku di belakangnya. Pertanyaannya, mengapa bukan nama nenekku? Toh kakekku sudah meninggal dunia. Apakah harus begitu?

Platform-ku saat itu adalah: orang tuaku tidak menunjukkan secara demonstratif mengenai keistimewaan para pria di keluarga kami dan cenderung bersikap egaliter. Orang tua juga tidak menonjolkan apa bedanya pria dan wanita, walaupun dari kecil kami sudah diajarkan mengenai perbedaannya secara fisik, tapi tidak kemudian menjadikan perbedaan maskulin dan feminin itu menjelma dalam benda-benda praktis yang kami pakai atau kenal dalam hidup sehari-hari. Tidak ada biru adalah warna maskulin, Read More

Di kota Solo, rasanya waktu berhenti, terutama jika kita berada di tempat-tempat yang diwariskan oleh masa lalu. Gedung, istana, alun-alun dan perkampungan yang rasanya diam di tempat tidak mengikuti trend, tapi terus berjalan mengiringi sejarah-sejarah baru yang diciptakan setiap hari. Setia, pelan dan elegan karena pamor masa lalu. Misterius dalam keindahan dan diamnya.

Silakan dinikmati, hasil jepretan saat berlibur ke Solo, tahun 2011

This slideshow requires JavaScript.

Setelah satu bulan tenang sentosa ditandai dengan jam biologis saya yang kembali normal (dalam arti tidur malam, bangun pagi, bukan nocturnal), kemudian tibalah waktunya kembali ke Jakarta karena satu dua hal yang terkait dengan hajat hidup. Sebelumnya klien mengabarkan akan tiba di Jakarta sehari setelah kedatangan saya, beliau juga mengirimkan jadwal meeting untuk beberapa hari, seperti biasa dibuat sangat padat, tanpa jeda, bahkan untuk sekadar makan siang. Payahnya, saya dengar, Jakarta mulai sering hujan dan di beberapa jalan mulai dilanda banjir.

Pesawat yang saya tumpangi, mendarat di siang hari, di sepanjang jalan, betapa sering peringatan kenakan sabuk pengaman dikeluarkan karena deretan awan tebal, menghadang, nyaris di sepanjang perjalanan. Untungnya tidak hujan, jadi mood saya lebih baik. Untung tidak macet, karena saya bela-belain melipir lewat lingkar luar barat yang sesungguhnya adalah semelipir-melipirnya jalur dari yang semestinya.

Agak nervous, membayangkan kesibukan beberapa hari ke depan di saat ketidakpastian cuaca. Dan ketidakpastian itu segera berupa menjadi kepastian: banjir di mana-mana, banjir besar dan menghambat aktivitas normal, melumpuhkan transportasi, ekonomi dan sebagainya.

Sempat merasa menyesal, mencabut diri dari zona nyaman dan mencebur dalam kegalauan tingkat tinggi Read More

Senangnya memiliki teman-teman yang memiliki hobi blusukan, baik blusukan ke daerah banjir sampai ke lokasi yang rasanya nggak sampai-sampai perginya dan “blar!!” begitu tiba kita dihadapkan pada kejutan visual dan sebagainya.

Teman-teman jenis inilah yang mengajak aku blusukan sampai ke Tanjung Kait, Mauk, Tangerang malam-malam untuk merayakan pergantian tahun baru Imlek di klenteng Tjo Soe Kong. Berbaur dengan beberapa jenis etnis, menikmati sajian bubur kacang ijo dan ketan hitam di salah satu sudut klenteng, yang memang disediakan oleh pengurus. Didakwa dari media, mungkin karena kelihatan asyik main kamera dan nggak ikut sembayang.

Secara keseluruhan, aku senang dengan perayaan Imlek di Tjo Soe Kong, sederhana tidak mengintimidasi. Kami bebas berbaur dengan semua orang, masih bisa ngobrol dengan koko-koko dan cici yang menjelaskan tentang klenteng tersebut bahkan becanda-becanda, mengolok wajah kami yang berminyak ketika masing-masing ingin difoto disebelah lilin gede. Selamat tahun baru koko dan cici, semoga tahun ini lebih gemilang!

Dan inilah beberapa barbuk hasil blusukan kemarin di-up load sambil mengucapkan terimakasih pada kakak Garmin yang sukses mengantarkan kami, pergi dan pulang.  Read More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 421 other followers