Want-to-Go 2012

Want-to-Go 2012

Orang-orang bermimpi namun hanya beberapa yang kemudian terjaga dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Kalimat ini terjemahan bebas dari versi aslinya yang berbahasa Inggris. Jika engkau merasa tertampar, Itu artinya engkau masih bermimpi, masih tidur. Berbicara tentang mimpi, aku menemukan artikel di The New York Times yang memberikan rekomendasi pada pembacanya 45 tujuan untuk pejalan di 2012. Sayangnya sama sekali enggak menyebutkan Indonesia. Padahal Indonesia punya banyak tempat yang cantik. Kalau ingat gencarnya kampanye Komodo dan rekomendasi NYT ini kira-kira apa yang terpikir olehmu? Ah sudahlah. Sudah bukan rahasia lagi kalau banyak hal-hal yang kurang tepat di negeri ini lagipula rekomendasi NYT bukan berarti harus jadi patokan mutlak biarpun NYT tergolong media yang banyak dibaca orang.

Kalau dulu aku pernah menulis sekilas tentang 1001 Places to Visit Before I Die dan kemudian iseng-iseng aku kaitkan dengan mimpi jalan-jalan di 2012, huh aku jadi rada galau. Bukan, aku enggak bermaksud membatasi mimpi dan membatasi diri namun kenyataannya di 2012 ini kosentrasiku mesti dijauhkan sedikit dari jalanan. Tapiii… mimpi saja bolehlah, sambil bermimpi sambil bersiap-siap menghadapi mimpi yang jadi kenyataan. Jadi kalau ditanya apa daftar want-to-go-ku di tahun 2012, dengan ringan aku akan menyebut…. (aku sudah menyebutnya dalam hati). Kira-kira apa hayo? ;)

Aku menyebutkan dua-tiga kota, Read the rest of this entry

Bertemu Sunyi di Tana Beru

Bertemu Sunyi di Tana Beru

Kalau kamu menyebut tulisan ini lanjutan dari tulisan yang ini, boleh-boleh saja. Aku ingin membuat catatan ketika singgah di Tana Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan meski hanya sekejap. Benar-benar sekejap sebab tak habis sepeminuman kopi ketika berada di sana tepat di hari kedua Januari 2011.

Pagi itu dengan sedikit tergesa aku, Rina dan pak Asdar yang membawa mobil bergegas dari Tanjung Bira ke Tana Beru. Tujuanku untuk mendapatkan foto matahari terbit di sana. Di perjalanan aku teringat adalah Ijul aka Yulia Widiati yang memberiku ide untuk singgah ke kedua tempat itu. Ia hanya memberikan kata kunci: Bira dan Tana Beru, selebihnya aku bertanya-tanya dan googling. Ia pernah singgah di Bira sebab kapten kapal yang membawanya berlayar ketika masih menjalankan tugas sebagai dokter dulu berasal dari Bira dan pernah tinggal beberapa hari di Tana Beru di rumah temannya. Bira dan Beru jika dilafalkan seperti seirama selaras dan kenyataannya memang demikian. Bira adalah tempat pelaut-pelaut tangguh dilahirkan dan Beru adalah tempat di mana kapal-kapal yang kuat dibangun, Pinisi–yang kemudian hari ditulis sebagai Phinisi untuk memudahkan lidah yang terbiasa berbicara dalam bahasa Inggris melafalkannya sebelum kapal Phinisi Nusantara berlayar menuju Vancouver tahun 1986.  Read the rest of this entry

Tersesat Di Suatu Minggu Siang

Tersesat Di Suatu Minggu Siang

Aku baru membayar lunas hutang kepenatanku beberapa minggu terakhir ini. Perjalanan tanpa jeda memang menyegarkan jiwa namun tak otomatis mengurangi kepenatan sebab meski perjalanan santai-santai untuk mengisi liburan tetap saja melibatkan “muscle work”, katakanlah berkendara duabelas  jam lebih meski tak memegang kendali tetap saja butuh diganjar relaksasi setelahnya atau kegiatan jalan-jalan santai bersama keluarga lima jam lebih tanpa jeda di taman ternyata tetap menuntut istirahat.

Siang ini matahari sedikit meredup, mungkin bersiap-siap menyambut Imlek esok. Di sekitar tempat tinggalku yang terdengar hanya kicau burung, kalau dicermati dari bunyinya rasanya lebih dari lima jenis, seru. Sementara lamat-lamat entah dari masjid atau mushola mana ada suara orang mengaji yang sebentar kemudian selesai dan akhirnya hanya terdengar kicau burung-burung saja.

Sempurna untuk bersantai, meditasi, semedi atau apalah. Jadi aku nyalakan saja lilin dan membakar essential oil beraroma melati dan mulai terbersit keinginan menulis. Aku sedikit terganggu dengan keinginan yang muncul. Di saat tenang begini yang kurang satu, kehadiran orang tuaku. Rasanya bakal lebih asyik jika ada beliau berdua di sekitarku. Tak perlu ditingkah dengan percakapan, cukup hadir, ada, dengan aktivitas masing-masing itu sudah lebih dari cukup. Begitulah manusia, kepalanya tak henti dipenuhi dengan keinginan-keinginan meski hanya secuil. Baiknya dihapus saja keinginan yang satu itu sebelum secara impulsive aku membeli tiket dan terbang ke kediaman orang tuaku.  Read the rest of this entry

Mencari Sunyi di Tanjung Bira

Mencari Sunyi di Tanjung Bira

Lao Tzu menyebutkan seorang pejalan yang baik tidak memiliki rencana yang pasti dan tidak terlalu memikirkan tujuan akhir perjalanannya. Tanpa bermaksud mengatakan aku adalah seorang pejalan yang baik, namun dalam beberapa perjalanan aku sama sekali tidak memiliki rencana yang benar-benar pasti tentang tujuan-tujuanku, bahkan mengenai waktunya. Semuanya kubiarkan mengalir begitu saja, aku memanjakan otak kananku. Travel-mate-ku lebih parah lagi, ia tidak pernah dipusingkan dengan itinerary ketika berlibur.

Dua tahun lalu kami melakukan perjalanan bersama-sama. Di akhir tahun yang hectic itu, aku menemukan perjalanan bisnisku berakhir di kota Makasar. Aku masih enggan kembali ke Jakarta. Ada libur tahun baru dan tanggal merah karena wiken yang patut dimaksimalkan. Singkat cerita travel-mate-ku, Rina,  menyusul ke Makasar, kami berencana mengeksplor Tanjung Bira yang terletak di salah satu  ”kaki” pulau Sulawesi.

Perjalanan ini samasekali bukan liburan tahun baru. Aku tidak merayakan tahun baru, begitu juga Rina, kami hanya berminat pada perjalanan dan payahnya kami kemudian sadar di akhir tahun seperti itu harga kamar penginapan melonjak berkali lipat seenak perut pemiliknya ketika tiba di sana. :)

***

Read the rest of this entry

Memoriae

Memoriae

Matahari yang bersembunyi dari pagi tiba-tiba hadir. Lewat kisi-kisi jendela sinarnya yang lembut menghambur masuk, membuat pola seperti kisi-kisi itu sendiri. Aku menyukainya. Aku jadi teringat ketika masih tinggal di rumah besar milik almarhum Nenekku, saat masih berusia lima atau enam tahun. Tiap jam empat sore, aku biasanya menjelajah rumah dan halaman nenekku, banyak hal yang selalu bisa kuamati, seperti bekicot yang sedang merayap pelan-pelan, mulai dari yang kecil sampai yang besar, anak kucing yang sedang menyusu induknya di garasi kayu, segala tanaman yang ada atau bebatuan yang dihampar di halaman yang luas yang kerap membuatku terantuk dan berdarah.

Di jam-jam itu ada satu ruangan yang kerap kudatangi, yaitu ruangan besar beratap genteng tempat cuci dan penyimpanan sepatu, di situ ada jemuran baju untuk hari hujan dan sumur yang tak boleh kudekati jika sendirian. Genteng yang tak terlalu rapat menyisakan celah cahaya. Saat jam-jam tertentu seperti sore hari sinar matahari yang menerobos masuk membuat pola-pola geometris di dinding yang dicat putih. Dalam keremangan ruangan, pola-pola sinar matahari membangkitkan suasana dramatis yang menghangatkan hati dan kenangan itu terbawa hingga kini.

Aku menandai, saat pola-pola cahaya matahari makin redup, bersamaan dengan itu terdengar suara-suara dari dapur, bunyi air dituang dan sekejap kemudian tercium aroma kopi panas di udara. Tak lama kemudian Nenek akan memanggilku untuk membawakan satu mug kopi ke kamar nenek buyutku. Aku akan mendekat, sambil menghirup aroma kopi yang harum dalam-dalam. Seperti biasa Nenekku menyiapkan dua gelas dan satu mug kopi tubruk. Dua gelas untuk dirinya sendiri dan abangnya yang kerap bertandang di pagi dan sore hari untuk minum kopi bersama dan satu mug untuk nenek buyutku, mertua beliau, kakekku sudah lama berpulang saat itu. Di rumah itu, tak ada yang menikmati kopi sedisiplin beliau bertiga. Aku yang kerap mengikuti kemana nenek pergi yang kadang-kadang turut menyesap kopinya. Lama-lama, nenek hanya perlu menyiapkan satu gelas dan satu mug, kemudian akhirnya hanya satu gelas untuk dirinya sendiri.  Read the rest of this entry

Horas

Horas

Ditemani bunyi takbir di luar sana aku masih merasa belum bisa pergi tidur meski mata sudah memberi kode untuk beristirahat. Penyebabnya sebuah email yang masuk tadi pagi di salah satu milis yang aku ikuti benar-benar membuatku merasa sangat menyesal. Apa sebab? Adalah seorang anak berusia enam tahun yang baru-baru ini telah berpulang ke haribaanNya.

Ia yatim piatu yang ditinggal mama papanya sejak bayi dan tinggal dengan oom tante-nya. Biar sudah berumur enam tahun, tapi badannya kurus. Hanya 14kg. Diduga ia mengalami gangguan gizi. Badannya seperti tidak terawat.

Singkat cerita si anak yang diduga berkebutuhan khusus ini, terpaksa dirawat di rumah sakit dengan kondisi seluruh badan memar begitu pula kepalanya, Ia menderita perdarahan otak.

Pengakuan keluarga Ia nakal, suka jatuh dan membenturkan badannya sendiri.  Karena kondisinya ia harus masuk ICU. Pihak keluarga ingin membawanya pulang berkali-kali karena tak memiliki biaya, namun pihak RS tak mengijinkan karena kondisi si anak. Tak seorang pun menemaninya selama di ICU. Ia menyambut Malaikat maut seorang diri.

Ketika hanya tinggal jasad, masih saja tak ada seorangpun dari keluarganya yang datang mengurus bahkan sampai berhari-hari. Pihak RS terpaksa “meneror”. Baru mereka datang dan mengatakan akan menjemput jenazah kalau ada duit!

Sigh!

Berkali-kali aku harus berhenti membaca email itu, memastikan agar aku enggak salah baca. Lama-lama aku betul-betul berhenti membaca, karena sudah enggak tahan dan merasa sangat menyesal. Sangat menysal karena baru tahu kejadian itu tadi.

Kami di milis tersebut merasa terpukul, bersedih, emosional kolektif. Sampai aku menuliskan kisah ini, teman-teman di milis masih berusaha mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada anak ini dan aku yakin kami semua berharap Ia bukan korban kekerasan. Aku berdoa sungguh-sungguh untuk hal ini.

Aku sadar benar, doaku ini adalah tameng untuk kebenaran yang tidak kuharap. Ibaratnya menggenggam peti pandora yang terbuka, aku masih sibuk merogoh-rogoh dasarnya untuk memastikan sebuah harapan. Namun untuk apa harapan itu? Sekadar untuk menghibur yang hidup? Sekadar mengurangi rasa bersalahku? Apakah dengan berharap sebenarnya aku malah memupuk ego?

Harapan itu tidak akan menghidupkannya. Harapan itu tidak akan mengembalikan kasih sayang yang luput dari hidupnya dulu. Saat ini kepergiannya justru yang terbaik. Menyelesaikan penderitaannya dan mempertemukannya lebih cepat dengan kedua orang tuanya. Begitu barangkali aturan main di dunia itu.

Dan yang paling penting lagi adalah mencari kebenaran, apa yang menimpa Ia bisa juga menimpa anak yang lain dengan tangan algojo yang sama. Sungguh tak habis pikir tapi nyata, kebanyakan orang yang terdekat dengan korban biasanya malah yang melakukan kekerasan. Padahal mereka seharusnya melindungi.

Saat ini jasad si anak masih berdiam di kamar mayat RS tersebut. Ada kewajiban bersama yang harus ditunaikan, segera. Apakah yang hidup ini tak bisa membuat perjalanannya paripurna?

Y.A.

Dicari Perawat Kucing Untuk 2 Minggu Lokasi Jakarta

Dicari Perawat Kucing Untuk 2 Minggu Lokasi Jakarta

29 Okt 2011 diulang 30 Okt 2011, twitter-ku:

Sedang mencari foster untuk merawat kucing yg terluka lehernya karena dijerat orang tdk bertanggungjawab. Hanya utk 2 minggu. Jakarta only.

Seorang sahabat memintaku untuk merawat seekor kucing korban kekerasan manusia selama dua minggu. Sayang permohonan itu tidak dapat kukabulkan. Situasiku sedang tidak memungkin. Ada dua hal yang tak perlu kuceritakan di sini yang menjadikanku tidak memenuhi syarat menjadi volunteer. Setelah menyampaikan situasiku, persoalan tidak lantas selesai begitu saja. Setelahnya kesibukan mencari foster dadakan ini jadi agendaku sejak dini hari kemarin.

Aku prihatin dengan kondisi kucing kampung berkelamin jantan yang telah dijerat lehernya entah oleh siapa. Manusia itu begitu kejam, ia menjerat leher si kucing dengan karet gelang hingga terluka dan lama kelamaan daging lehernya berkurang hingga satu sentimeter. Miris banget. Sekarang kucing tak bernama ini sudah dirawat dan diobati oleh dokter. Namun persoalan tak selesai sampai di situ. Kucing ini ditemukan begitu saja, tak ada yang memiliki. Siapa yang bakal memastikan ia diobati tiap hari hingga sembuh?

Sebenarnya bukan hanya si jantan ini saja yang sedang dicarikan perawat. Ada seekor lagi yang kakinya mengalami luka bakar. Entah apa sebabnya hingga kakinya terbakar, mungkin bukan karena kesengajaan, mungkin saja terjadi ketika kucing liar ini keluyuran dan sialnya ia terkena api dari kompor warung-warung di pasar, siapa tahu bisa saja itu benar terjadi. Kucing ini lebih muda, sudah dirawat dokter dan beruntungnya ia karena sahabatku mau menampung. Sayangnya ia tak bisa menampung satu kucing lagi karena sudah ada kucing lain yang dirawatnya.

Bersama kucing-kucing yang malang ini juga ditemukan satu lagi kucing yang jauh lebih menggenaskan nasibnya. Secara fisik nampak baik-baik saja tak ada tanda kerusakan. Namun ternyata ia sudah tak memiliki gusi. Entah kemalangan apa yang menimpanya. Kondisinya sudah sangat lemah ketika ditemukan dan menurut dokter harapan hidupnya kecil sehingga akhirnya diputuskan untuk melakukan euthanasia terhadapnya.

Oya, sebelumnya aku ceritakan, menjadi perawat kucing ini seperti menjadi perawat bayi, bedanya engkau tak perlu menyuapi atau menyusuinya. Ia bisa makan sendiri selama kau sediakan makanan. Kau perlu memastikan kebersihannya setelah pup atau pipis, memastikan kandang tempat tidurnya bersih dan memastikan ia bisa bermain sehingga secara psikis ia juga bahagia. Karena dititipi, engkau juga harus bertanggung jawab menjaganya agar tidak terlalu bebas mengeksplorasi tempat tinggalnya yang baru lantas hilang begitu saja. Untuk itu kami perlu memastikan tempat merawat kucing ini bisa memenuhi kebutuhan kucing lahir bathin. Ini serius.

Satu hal lagi yang ada di kepalaku selain berusaha mendapatkan perawat kucing, adalah kenyataan bahwa banyak manusia yang tidak memiliki sensitifitas terhadap binatang. Aku enggak mengajak semua orang menyayangi binatang, hanya ingin mengajak berempati sedikit dengan mencoba melihat dari sudut pandang si binatang. Mereka ini juga makhluk hidup, butuh kasih sayang dan kehidupan yang baik dan sejahtera. Jangan melulu menyakiti atau bahkan membunuh mereka karena si manusia tidak melihat kegunaannya sedikit pun binatang-binatang ini terhadap mereka. Satu contoh, aku pernah baca seseorang memiliki kuda berharga jutaan, suatu ketika binatang ini patah kakinya, lantas sang pemilik memutuskan untuk membunuhnya. Teman si pemilik yang menceritakan hal ini  di twitter kepada follower-nya bertanya tanpa bermaksud mencari jawaban, apakah lantas hal ini disebut kejam?

Bagaimana jika dianalogikan, kuda itu adalah karyawanmu atau anak angkatmu atau anak saudaramu yang kau ambil dan kau biayai untuk keperluanmu entah apa. Suatu ketika anak ini sakit, kedepannya kau tak melihat benefit yang kau harapkan dari kejadian ini. Apakah lantas kau akan membunuhnya saat itu juga? Jangan protes analogi ini berlebihan. Jika cerita tentang kuda itu benar, maka si pemilik kuda itu telah “menjadi Tuhan” atas kudanya. Apa haknya untuk melakukan perbuatan itu? Apa haknya atas kehidupan yang hanya Dia semata yang menciptakannya?

Satu hal yang aku yakini, bagaimana cara manusia memperlakukan binatang dapat menjadi indikasi bagaimana ia memperlakukan manusia lainnya terutama dalam kaitannya memperlakukan individu-individu yang tidak memberikan keuntungan secara langsung baginya. Tanpa banyak bicara, dengan sekali klik aku putuskan untuk berhenti mengikuti si pemilik akun twitter tersebut.

Baiknya kuakhiri tulisan curhat ini sekarang, aku masih harus mencari solusi untuk kucing yang kuceritakan tadi. Yang bersedia merawat bisa kirim pesan di blog ini atau mentions aku di twitter.

Y.A.

AgoyYoga & Blog

AgoyYoga & Blog

Hari ini hari Blogger Nasional. Aku jadi ingat, ada beberapa blog yang sudah pernah kulahirkan (halah), kalau dihitung-hitung rasanya ada enam atau tujuh. Hanya dua-tiga blog yang masih aku maintain dan hanya satu blog yang masih kerap di update. Bukan alasan waktu, hanya alasan interest. Interest manusia bukan makhluk yang statis kan?

Diakui trend juga sudah bergeser. Banyak blog tetangga yang dibiarkan ditumbuhi rumput liar. Banyak pemilik blog yang sudah malu dengan sebutan blogger, karena mungkin sudah enggak pernah meng-update blognya. Karena kepraktisannya banyak blogger yang beralih ke micro blogging activities. Dulu ada plurk namun keberadaannya tergusur social media yang lebih happening, seperti Facebook dan Twitter. Dua media ini disukai, sebab menawarkan kepraktisan ditengah-tengah kesibukan blogger.

Mengapa aku masih update beberapa blog di saat yang lain sudah mulai “pergi”? Sebab blog memberikan ruang untuk “bernafas”. Aku enggak terlalu peduli apakah tulisan-tulisan ini dibaca oleh orang lain atau tidak terus terang aku sendiri nyaris tidak pernah blog walking. Jika dibaca dan bermanfaat tentu disyukuri. Namun aku enggak berharap banyak sebab itu tadi fungsi blog bagiku sudah bergeser menjadi media untuk relaksasi sendiri. Sederhana saja. Ya ini semacam pembuktian teori Maslow, seorang pemusik bermain musik, pelukis melukis, penulis menulis, jika ingin benar-benar berdamai dengan jiwanya. Kira-kira semacam itu lah.

Sampai kapan akan menulis blog? Entahlah. Sepanjang aku masih suka menulis dan berinteraksi rasanya masih akan menulis blog atau sepanjang aku belum menemukan mainan baru yang cocok untuk relaksasi bathin, mungkin blog akan terus jadi bagian hidupku.  Banyak hal yang kudapat dari aktivitas nge-Blog. Jejaring, teman baru, dunia yang luas dan terpenting semuanya memperkaya hidupku. Untuk itu aku merasa bersyukur dan patut rasanya mengucap Selamat Hari Blogger bagi kawan-kawan para blogger tentunya.

Tabik!

 

Y.A.

 

Sumur

Sumur

Anger dwells only in the bosom of fools. – Albert Einstein

Anomali adalah Jakarta, Jumat malam tanpa macet meski baru disiram hujan. Anomali adalah hari itu hari biasa, lazimnya hari-hari yang lain namun tak sengaja kau melihat seseorang yang sudah berabad-abad tak diketahui keberadaannya. Aku mengalami keduanya. Aku senang untuk anomali yang pertama dan terheran-heran pada diri sendiri atas persimpangan koordinat, ruang dan waktu yang tak disengaja dengan seseorang itu, sebab ternyata yang muncul bukan kegembiraan namun rasa marah meski hanya sekian detik.

Kupikir aku sudah tidak punya rasa marah atas kejadian bertahun lalu. Kupikir aku sudah memaafkan dan melupakan semuanya. Kupikir waktu menyembuhkan. Ternyata aku kecolongan.

Aku tidak tahu telah menyimpan rasa marah itu di dalam bawah sadarku. Atas kejadian ini, iseng-iseng aku mengingat satu demi satu orang-orang dan hal-hal yang tidak mengenakkan, yang sempat membuatku marah di masa lampau. Hasilnya sungguh mengejutkan, ketika aku berpikir aku adalah orang yang berbahagia karena merasa tidak menyimpan marah dihati ternyata aku menemukan daftar rahasia yang memuat rasa marah dengan kadar berbeda-beda. Rasanya seperti menimba air di sumur dalam, tak nampak isinya namun ada airnya. Astaga, apa-apaan ini.

Ternyata memang benar, memaafkan adalah pekerjaan yang berat, yang lebih berat lagi adalah mengikhlaskannya. Kejujuran pada diri sendiri membantu mengeluarkan amarah yang diendapkan ke dasar gunung es, alam bawah sadar kita. Tugas selanjutnya adalah menghancurkan sedimen marah. Entah bagaimana caranya, mungkin dzikir dan sholat bisa membantu, ada saran?

 

Y.A.

 

 

 

Traveler’s Luck

Traveler’s Luck

Mei 1997.

Ketika ferry yang kutumpangi mulai bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan Lembar, aku mulai beringsut ke dek atas. Kulihat orang-orang mulai menggelar tikar menutupi lantai yang terkena tumpahan minyak lantas rebah di atasnya dan bersiap-siap tidur, sebagian yang lain masih bercakap-cakap menikmati kesuksesan mereka mengokupasi kursi-kursi kapal yang jumlahnya tak sebanding dengan jumlah penumpang. Mungkin saja kapal ini overload, tapi apa daya aku sudah di tengah lautan ketika menyadarinya.

Angin malam yang bertiup, menyodorkan beraneka bau, bau baju yang apek, bau minyak yang khas, bau tembakau terbakar, entah bau apalagi dan bau pesing! Tak satu pun yang bergeming. Olala sungguh kuat hidung manusia-manusia itu. Terasa getir. Aku memutuskan berjalan ke arah haluan, meneliti sambil lalu, mencari kemungkinan di mana aku bisa meletakkan setidaknya pantatku saja sampai subuh. Oh ya, malam itu aku dalam perjalanan menyeberangi Selat Lombok dengan tujuan pelabuhan Padang Bai di Bali.

Di haluan kapal ternyata setali tiga uang, baunya juga sama. Di lantai, di kursi penumpang, semua tempat sudah diokupasi. Ada secuil lantai yang berminyak yang kosong, sayangnya aku tak punya secuil alas untuk sekadar duduk di situ. Aku putuskan berjalan ke sisi kiri kapal, agak gelap dan kosong! Aku seorang diri saja di sana.  Agak janggal tapi seorang diri di situ rasanya lebih nyaman, udaranya lebih segar dan yang lebih penting ada tempat duduk kosong. Aku enggak hanya bisa meletakkan pantatku, tapi bisa berbaring kalau mau.

Memandangi laut yang nampak hanya hitam di mana-mana, langit juga sedang tak berbintang, agak mendung. Angin agak kencang dan mulai dingin.  Aku menaikkan kerah jaket menyembunyikan leherku dari terpaan angin, merasa agak menyesal tak membawa scarf kesayangan untuk penutup kepala, aku belum berhijab waktu itu. Kemudian ketika aku mulai menikmati situasiku,  satu-satunya bunyi yang kudengar hanya suara mesin kapal. Aku memutuskan menulis jurnal perjalananku hari itu. Read the rest of this entry