I am Back!

October 31, 2009

Wuih, udah lama nggak nulis, kangen juga.  Jadi, this is it, waktunya untuk memulai kembali. Menulis lagi, pelan-pelan nggak ngoyo, asal rutin dan “sehat”. Untuk itu aku mesti berterimakasih pada beberapa teman yang sudah menghasut aku untuk menulis lagi di blog. Donny Verdian , Jumria Rahman dan Lia Christie salah tiganya. Thanks guys, juga untuk yang namanya tidak kusebutkan di sini, kalau kalian merasa sudah pernah mengingatkanku, percayalah aku senang sekali dan berterimakasih untuk itu.

Sebetulnya, aku tidak berhenti menulis begitu saja. Ada beberapa tulisan yang kubuat tapi aku nggak sreg untuk menerbitkannya, meski di blog pribadi sekali pun, meski di notes FB– situs yang paling kuakrabi saat ini. Mungkin kalau menulis status yang seenaknya sendiri itu termasuk microblogging, maka itulah yang kulakukan saat ini. Silahturahmiku di dunia maya, kuperpanjang dengan meng-up date status, lebih cepat dan mudah dibanding membuat sebuah tulisan. Selain itu, respon yang timbul lebih cepat, padahal banyak komentar dan status yang nggak essential sih. Karena kemudahan ini, aku jadi merasa makin dekat dengan kawan-kawan di FB list dan merasa seolah terjadi interaksi dan komunikasi langsung, seperti halnya fasilitas sms. Read the rest of this entry »

Pulang

August 23, 2009

Dalam Quran ada pertanyaan sederhana, fa aina tadzhabun, kalian ini mau berangkat ke mana? Ibrahim, menjawab, inni dzahibun ila rabbi sayahdin, aku sedang pergi menuju Tuhanku, pastilah Ia memberikan petunjuk kepadaku. Dan Rasulullah Muhammad, Saw memberikan sekerat peta, mutu qabla antamutu, matilah kamu sebelum mati.
Apa daya, safar yang nampaknya mudah dan sangat jelas arahannya, ternyata tak semudah itu ditempuh. Ketika hendak berangkat, ada rumah kita yang paling berat kita tinggalkan, berupa ego. Kepentingan-kepentingan keakuan kita, nampak jelas, meski dalam konteks beribadah, bahkan dalam berdoa, kerap tanpa disadari menggunakan kata perintah. Dan siapakah yang diperintah?
Pun ketika telah lolos dari rumah ego, tak berarti ia lenyap selamanya. Ego akan senantiasa menyergap, menelikung, terutama disaat paling rawan dalam hidup, di titik nadir, kehadirannya akan sangat jelas, mencemooh sekaligus menggoda dan bagaimana bisa berjumpa denganNya? Bagaimana bisa pulang? Akankah kematian tinggal kematian jasmani belaka, al mawt al thabi’i, kembali padaNya secara terpaksa, suka atau tidak suka dan bukan al mawt al iradiy, sebagaimana halnya bunyi sekerat peta Rasulullah Saw, yang mengisyaratkan dua kematian dalam kehidupan, mati dalam keinginan dan mati secara fisik.
Dalam Quran ada pertanyaan sederhana, fa aina tadzhabûn, kalian ini mau berangkat ke mana? Ibrahim, menjawab, innî dzâhibun ilâ rabbî sayahdîn, aku sedang pergi menuju Tuhanku, pastilah Ia memberikan petunjuk kepadaku. Dan Rasulullah Muhammad, Saw memberikan sekerat peta pada kami, mûtû qabla antamûtû, matilah kamu sebelum mati.
Apa daya, safar yang nampaknya mudah dan sangat jelas arahannya, ternyata tak semudah itu ditempuh. Ketika hendak berangkat, ada rumah kita yang paling berat kita tinggalkan, berupa ego. Kepentingan-kepentingan keakuan kita, nampak jelas, meski dalam konteks beribadah, bahkan dalam berdoa, kerap tanpa disadari menggunakan kata perintah. Dan siapakah yang diperintah?
Pun ketika telah lolos dari rumah ego, tak berarti ia lenyap selamanya. Ego akan senantiasa menyergap, menelikung, terutama disaat paling rawan dalam hidup, di titik nadir, kehadirannya akan sangat jelas, mencemooh sekaligus menggoda dan bagaimana bisa berjumpa denganNya? Bagaimana bisa pulang? Akankah kematian tinggal kematian jasmani belaka, al mawt al thâbi’i, kembali padaNya secara terpaksa, suka atau tidak suka dan bukan al mawt al irâdiy, sebagaimana halnya bunyi sekerat peta Rasulullah Saw, yang mengisyaratkan dua kematian dalam kehidupan, mati dalam keinginan dan mati secara fisik.
-Y.A., Jakarta, 23 Agustus 2009-

Aku Bekerja Maka Aku Ada

August 10, 2009

I work, therefore I am…

Most of us will say, we work to make a living. Actually working is not only survival game. It can improve ones dignity by self realization (identity). It shapes who we are and the way we are perceived by others, yet most of all, the ‘rules’ of our work do have a powerful impact on the way we understand and give meaning to events shaping our lives and the lives of others.
For Moslem, talking about working is not only related to “dunya” or about living in the world  but it is also about the day after (akhirah). It is emphasized to keep working, while one is over then start with another job. Working is a way to achieve the God’s love and this is a way to ”jannah” (heaven). It only happens if we are professional, “ikhlas” (it is only for God), to be honest and objective in every way, highly ethic, and obey the “syariah” (the Moslem rule*…in simple way*).
Labora Ergo Sum reflects a Moslem way… Let’s start our work today with a simple pray to God…Bismillahirrahmannirrahiim…

Read the rest of this entry »

Lantak

July 9, 2009

Adakah perdamaian sejati tanpa banyak cing cong dan nyaris tanpa gesekan? Jika kau jawab, “Ada!”, maka tempat itu ada di sini. Tempat aku, saudara-saudaraku, orang tua, kakek nenek dan seluruh keluarga besarku tinggal. Aku dan keluargaku selalu berdamai, kami tak pernah bertengkar, tak pernah berebut apa pun. Keluarga kami, makin lama, makin banyak, beranak pinak dan menghalalkan perkawinan antar saudara. Ruang yang kami tempati tak pernah bertambah, meski begitu kami tak pernah merasa sesak, apalagi berebut pangan. Rejeki selalu ada, kami tak mengenal kata kurus, kering kerontang. Mungkin kau bertanya, bagaimana dengan privacy? Aku katakan saja padamu, itu persoalan yang sepele. Hidup ditengah keluarga besar, dan terkadang ada sanak kadang yang berkunjung atau bahkan menetap,  membuat kami memiliki ceruk rahasia masing-masing, ditempat yang tak terduga. Aku sendiri punya ceruk itu. Tempat di mana aku bisa mengawasi seluruh pergerakan di rumah kami, termasuk gerak-gerik seseorang yang istimewa, yang menjadikan kalimat di awal paragraf ini ada.

Ia tergolong istimewa, entah berasal dari mana, tak seorang pun tahu. Ia diam saja, tak pernah berkata apa-apa pada kami. Ia datang suatu siang, di hari pertama tahun baru, kira-kira dua tahun lalu. Awalnya ia berdua, dengan adiknya. Itu dugaanku semata, karena mereka nyaris mirip satu sama lain, tapi tak mirip sungguh. Aku hanya menduga, karena aku tak pernah bertanya, keluargaku juga tak pernah bertanya, karena rumah kami terbuka untuk siapa saja yang membutuhkan, prinsip kami sangat sederhana, rumah ini rejeki dariNya, tak secuilpun kami merasa memilikinya. Kalaupun diambil kembali olehNya, kami tak akan bersedu sedan, karena kami bisa melanjutkan hidup kami di tempat yang baru, dan lagi-lagi itu akan terjadi atas kebaikanNya. Oleh karena itu, kami tak pernah mengeluh dan terganggu dengan kehadiran siapa pun yang sebenarnya hanya mempersempit ruang gerak kami, termasuk dia. Read the rest of this entry »

Uneg-Uneg Belaka

July 7, 2009

Entah mengapa saya hanya bisa merasa kasihan dengan orang-orang yang physical oriented. Maksudnya orang-orang ini pintar, bisa mengaitkan segala sesuatu yang ujung-ujungnya jadi membahas kondisi fisik. Contohnya nih, ketika enak-enak ngobrol tentang buku, tiba-tiba gak ada angin gak ada hujan, tau-tau aja jadi membahas body teman diskusinya yang kerempeng kayak papan tripleks, atau lagi bahas gambar tiba-tiba terdistraksi dengan mengomentari jari jemari lawan bicaranya yang montok-montok misalnya. Ujung-ujungnya gampang diduga, cela mencela.

Barangkali kaum ini melupakan bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, sementara bawah sadar mereka terus menerus mencari manusia yang secara fisik sempurna mempesona. Perlu diingatkan kalau pencarian mereka bakal sia-sia. Katakan secara fisik nampaknya mempesona, tapi apakah penglihatan mereka bisa menembus setiap jengkal otot, daging, pembuluh darah dan organ-organ di dalam wadah yang cantik atau rupawan itu? Apakah penglihatan mereka bisa melihat hati yang cantik, atau pemikiran cemerlang di dalam wadag yang akhirnya sama-sama menjadi debu? Hmm.. rupanya bagi orang-orang yang phyisical oriented,  wadah, sampul, lebih jadi prioritas mereka alih-alih content-nya. Meski naif kalau menyamaratakan, setidaknya ini adalah kecenderungan yang paling gampang diamati.

Entah ini menarik atau tidak faktanya, bagian tubuh yang paling sering dikomentari adalah wajah, perut, kaki, lengan dan  resam tubuh secara keseluruhan, ini berlaku untuk wanita, sebaliknya resam tubuh pria secara keseluruhan, perut rata dan dada bidang jauh lebih menarik bagi kaum hawa. Seorang gadis yang gemuk akan “termaafkan” jika berwajah cantik. Seorang pria dengan resam tubuh yang menarik akan termaafkan, jika wajahnya pas-pasan. Tentu ini sangat subyektif dan hanya hasil dari diskusi-diskusi ringan di sela jedah dengan teman-teman di sekitar saya, tanpa didukung riset serius, apalagi melibatkan sponsor. Anda boleh berpendapat yang lain. Read the rest of this entry »

Kisah dari Madobak

June 28, 2009

4568_100234663776_571953776_1837605_1827491_n (1)

Saya baru merelease tiga tulisan di web resmi komunitas 1N3B. Tiga tulisan itu adalah sebuah prolog untuk kisah-kisah perjalanan yang akan kami terbitkan bertahap, kisah dr. Anto, salah satu anggota tim kesehatan 1N3B dan sebuah tulisan tentang kegiatan bermain roket air yang ditulis dalam bahasa Inggris.

Seusainya misi di desa Madobak, bukan berarti kami lantas tenang. Masih banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Termasuk diantaranya laporan pertanggungjawaban dan dokumentasi kegiatan. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana kami, komunitas 1N3B dan sahabat-sahabatnya berupaya untuk terus sevisi, sejalan, meniti perjalanan panjang untuk memberikan jendela dunia bagi anak-anak di desa terisolir.

Nanti, pada tanggal 17 Agustus 2009 kami berencana meluncurkan DVD yang berisi dokumentasi kegiatan kami ini. Berminat? Tertarik? Tunggu tanggal mainnya. Tetaplah bersama kami, bagi yang memiliki akun di Facebook, bergabunglah dalam cause dan group 1N3B agar tidak ketinggalan berita-berita terbaru dari komunitas kami.

Dalam sebuah diskusi singkat disebuah pelatihan, terlontar sebuah metafora “sekolah kebun binatang” untuk menggambarkan betapa buruknya pola pendidikan yang berlaku di Indonesia. Betapa selama ini kebanyakan lembaga pendidikan di Indonesia cenderung lebih menekankan pada pengembangan otak kiri yang dikenal sebagai bagian otak yang berfungsi untuk pemikiran logis. Betapa pendidikan yang mendorong kreativitas terabaikan begitu lama.

Apa sih sekolah binatang-binatang atau sekolah kebun binatang? Sebuah sekolah sama halnya dengan sebuah kebun binatang yang berisi berbagai jenis hewan. Ada “harimau”, “burung”, “ikan”, “itik”, “domba”, dan sebagainya yang bersekolah lantas masak iya sih, pola pendidikan dan target tiap “binatang” bisa disamaratakan? Apa hasilnya kalau ikan dipaksa terbang dan burung dipaksa berenang? Kura-kura dipaksa berlari melawan kuda? Apakah dengan sayapnya yang kokoh seekor elang bisa menyaingi ikan nemo di dalam air? Sebaliknya apakah nemo bisa terbang setinggi elang? Nah, sudah dapat maknanya kan? Silahkan diartikan untuk banyak hal yang terkait dengan bagaimana bangsa kita telah dididik selama ini. ;)

Hmmm.. rambut boleh sama-sama hitam, tapi isi kepala berbeda. Saya jadi mencoba membayangkan apa jadinya seorang Einstein yang begitu jenius dan disebut kejeniusannya tersebut hanya menggunakan kurang dari 10% kapasitas otaknya ketika kecil dipaksa untuk menjadi penyanyi misalnya, atau seorang Affandi dipaksa untuk jadi seorang teknisi, alih-alih memperdalam seni lukis. Mungkin kita tak pernah mengenal nama mereka ya?

Sesungguhnya saya tidak menampik teori yang mengatakan bahwasanya manusia berpotensi mengembangkan kedua belahan otaknya dengan sama baik dan sama hebat, dan mengagumi Leonardo Da Vinci yang terbukti mampu mengembangkan kemampuan logika dan kreatifnya dengan seimbang. Alangkah prihatinnya saya karena hal yang baik ini belumlah nampak diaplikasikan dalam pola pendidikan yang umum di negara kita ini.

Alhamdulillah, ternyata banyak yang merasa prihatin dengan kondisi ini sehingga beliau-beliau yang memiliki kelebihan dan kesempatan yang lebih baik “memberontak” dan memberikan alternatif. Sebutlah sekolah-sekolah khusus seperti sekolah-sekolah alam yang mulai mudah ditemukan, sampai konsep home schooling yang mulai akrab ditelinga kita. Tapiii…(lagi-lagi terpaksa menggunakan kata “tapi”),  sedihnya semua yang saya sebutkan masih eklusif.

Kerisauan ini saya sebutkan di akun Facebook saya. Betapa bahagianya saya ketika beberapa teman menanggapi secara serius, kebanyakan beliau-beliau ini adalah para orang tua yang pernah dilanda kebingungan dalam memikirkan pendidikan yang terbaik bagi putra-putrinya, dan betapa bahagianya ketika salah satu teman optimis akan adanya perubahan yang lebih baik dalam dunia pendidikan dengan mengatakan gerakan alternatif tersebut seperti wombat yang terus menggali…

Enak dan Enak Sekali

June 18, 2009

Kalau di keyakinan yang saya anut, yang dimaksud dengan rejeki itu adalah apa-apa yang sampai di mulut kita untuk dimakan atau sesuatu yang bisa kita kenakan, atau sesuatu yang bisa dipakai untuk menolong orang lain, alias beramal. Barangkali itulah sebabnya saya sebisa mungkin berusaha tidak mengeluarkan kalimat yang buruk tentang makanan, sehingga dalam kamus kuliner saya hanya mengenal dua istilah: enak dan enak sekali. Saya nggak bisa bilang jijik demi melihat makanan yang sedang disuap oleh seseorang yang mungkin secara visual kurang elok. Sebab nggak mungkin saya mengata-ngatai rejeki orang itu menjijikkan, sedang rejekinya bersumber dari yang maha memberi hidup, saya sendiri tidak punya kemampuan memberi orang rejeki, orang apa-apa yang ada di diri saya ini semuanya serba lewat, serba mampir, hanya dititipi oleh yang punya hidup. Berhubung saya juga tak bisa memilih titipan apa yang sebaiknya dititipkan Gusti Allah pada diri saya, maka selagi bisa, saya usahakan untuk mengeluarkan kalimat-kalimat yang baik-baik saja dan berusaha merasakan semuanya dengan perasaan yang baik dan positif.

Meski, terus terang saya juga belum mengetest keabsahan dua istilah ini (enak dan enak sekali) pada diri saya sendiri. Siapa yang tahu reaksi paling alami yang bakal saya sajikan, bila tahu-tahu saya disodori belalang goreng misalnya. Apakah kemudian saya mengerenyit sambil bilang uenaaaakkk…, padahal di dalam hati bingung dengan rasanya. Nggak tahu.

Saya sebetulnya penasaran juga dengan reaksi pertama saya bila disodori ulat sagu yang putih montok-montok, seperti bayi dibedong itu, yang katanya mesti dimakan hidup-hidup, yang kalau digigit rasanya seperti menggigit buntalan mayonaise, yang maknyuss, cairan enaknya muncrat sampai ke langit-langit rongga mulut. Apakah saya akan bilang wah sepertinya enak, tapi no thanks saya geli atau lebih baik diam saja ya. Lantas apa hak saya untuk merasa geli pada ciptaan Tuhan yang sama dengan yang menciptakan saya? Beruntung saya diciptakan dalam bentuk ciptaannya yang konon kabarnya paling sempurna, lantas kalau nasib mengatakan saya diciptakan sebagai bagian koloni ulat sagu, apa yang kemudian ada di benak saya? Akan berkurangkah rasa syukur dan keimanan saya saat ini?

Ah jadi melantur kemana-mana, ini toh hanya kontemplasi tidak bermutu yang hadir begitu saja hanya karena seringnya saya meyaksikan orang-orang yang bisa mengatakan jijik pada makanan yang ada dihadapannya. Risih mendengarnya, padahal bagi sebagian orang yang lain, yang mungkin juga masih orang tuanya, sanak kadang, atau bahkan pacarnya, mereka tenang-tenang saja menikmati makanan itu tanpa ada perasaan jijik dan bahkan bersyukur karena bisa menikmati rejeki itu. Kalau dipikir-pikir, masak tega sih, mengucapkan jijik pada makanan yang temanmu sendiri sedang mengunyah dan menelannya? Padahal yang ditelannya bukan bangkai busuk. Ah, nggak mengerti saya dengan sifat-sifat manusia. Ah kok saya ini kayak yang bukan manusia, hehehe…. :)

Basbang

June 17, 2009

Ini postingan yang nggak penting-penting amat, Cuma sekadar melemaskan jari-jari yang sudah lama nggak dipakai ngeblog, lantas dipakai apa? Hayah, nggak penting dijelaskan kali ya, intinya nggak dipakai untuk nge blog tapi dipakai untuk urusan lain termasuk kalau kepepet dipakai untuk ngupil heheheh Mbak Tanti kalau baca pasti manyun deh. :D

Ternyata saya kuat hiatus sebulan tanpa blog, meski nggak benar-benar hiatus, karena sesekali masih nulis komentar meski irit banget di satu dua blog yang bisa diisengin (termasuk blog-nya si Kakak yang satu ini), beberapa kali masih bisa iseng-iseng nulis apa yang ada di pikiran saya di Facebook, meski beberapa minggu ini saya betul-betul  terserang kebosanan total. Saking bosannya, mau tulis apa juga nggak tahu, padahal urusan nulis mestinya ya tinggal ketik-ketik terus beres kan, nggak usah repot-repot mesti pakai referensi kalau lagi malas. Tapi ya itu tadi saya betul-betul nggak nafsu, bahasa Jawanya, loose the appetite. Bukan, bukan lagi kena sindrom writer’s block ya, soalnya jadi writer aja belum, kok bisa-bisanya meng-klaim udah kena writer’s block segala. :D

Yang namanya malas dan hiatus, kemudian jadi bersahabat akrab. Lantas sebulanan saya habiskan waktu saya untuk membaca, eh nggak juga lho ternyata. Saya lebih sering jalan-jalan, menghabiskan waktu dengan teman di dunia nyata. Energi dan waktu saya terkuras untuk anjang sana dan anjang sini. Walhasil kemudian saya mulai merasakan butuh dukungan tenaga super dari Superman, atau kalau Superman sedang dinas, boleh deh sama oom Batman, kalau misalnya mau menyumbangkan energi supernya juga. D’oh jadi nglantur ya, mungkin ini pengaruh obat-obatan yang belakangan harus saya asup, karena dalam kenyataannya tidak ada Superman dan Batman yang bisa membagi energi super mereka, yang ada hanyalah saya yang lagi tepar kehabisan energi dan ditugaskan dokter untuk tidur, bangun, makan dan tidur lagi. Istilah kerennya fatigue, istilah saya,  kedodoran.

Terus sebulan hiatus hasilnya apa? Hiks, nggak ada, selain merasa terjebak di dunia yang penuh dengan berita-berita yang bikin neg, sembari ingatan ini melintasi waktu ke masa Pak Harto masih berkuasa yang rasa-rasanya jaman itu kok kurang berita amat ya, dibanding masa kini, apa karena ada departemen penerangan yang sudah “menerangkan” segala hal hingga nggak perlu diwartakan lagi, atau memang dulu dunia lebih sederhana, entah. Duh senangnya jadi wartawan masa kini yang mudah dapat berita, mau yang bombastis sampai yang gak seru dan basbang, semuanya ada, kayak nano-nano. Rame! Dan dari kejauhan saya bisa berkosentrasi “menikmati” kasus yang cocok, daripada mengikuti semua berita tapi rasanya hambar. Nah apa pula maksudnya ini?  Ya sudahlah, cukup deh olahraga jari untuk hari ini. Sampai bertemu lagi.  :)

 

 

 

*Basbang itu maksudnya “Basi Banget”.

Waktunya Beraksi!

May 18, 2009

Sahabat 1N3B yang tercinta, saat ini 17 volunteer 1N3B tengah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan panjang yang akan bermula dari subuh nanti hingga tanggal 25 Mei 2009, menuju Siberut hingga kembali lagi ke Jakarta. Ke-17 volunteer tersebut adalah: Uju Ayie aka Fahri Zulverdie, Undix aka Sri Setyoko, Tyty Candra, Titi Oengoe, Taufan, Piter, Ovie, Erin, Arin, Mutia, Hendi, Risna, Arry, CT aka Charlie Tendean, Fedi, Anto dan Hendra. Dengan menyesal saya tak bisa mengikuti perjalanan ini dikarenakan keharusan untuk “terbang” ke kota lain yang amat jauh dari Mentawai.  Sedih memang, hingga awalnya saya perlu mengulangi kalimat milik Langit Merah, tokoh yang ditulis Bubin Lantang, yaitu bahwasanya hidup bukan tentang apa yang kau inginkan dan apa yang tidak kau inginkan, semata-mata untuk menentramkan hati saya. Maka disinilah saya sekarang, hendak menyambut awal perjalanan teman-teman saya, teman-teman anda juga para sahabat 1N3B, menuju Siberut di Mentawai sana.  Dan kira-kira apa yang akan dilakukan tim volunteer ini di sana? Inilah jadwal kegiatan tim 1N3B yang ke Siberut. Read the rest of this entry »