Kisah dari Madobak

2009 June 28
by agoyyoga

4568_100234663776_571953776_1837605_1827491_n (1)

Saya baru merelease tiga tulisan di web resmi komunitas 1N3B. Tiga tulisan itu adalah sebuah prolog untuk kisah-kisah perjalanan yang akan kami terbitkan bertahap, kisah dr. Anto, salah satu anggota tim kesehatan 1N3B dan sebuah tulisan tentang kegiatan bermain roket air yang ditulis dalam bahasa Inggris.

Seusainya misi di desa Madobak, bukan berarti kami lantas tenang. Masih banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Termasuk diantaranya laporan pertanggungjawaban dan dokumentasi kegiatan. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana kami, komunitas 1N3B dan sahabat-sahabatnya berupaya untuk terus sevisi, sejalan, meniti perjalanan panjang untuk memberikan jendela dunia bagi anak-anak di desa terisolir.

Nanti, pada tanggal 17 Agustus 2009 kami berencana meluncurkan DVD yang berisi dokumentasi kegiatan kami ini. Berminat? Tertarik? Tunggu tanggal mainnya. Tetaplah bersama kami, bagi yang memiliki akun di Facebook, bergabunglah dalam cause dan group 1N3B agar tidak ketinggalan berita-berita terbaru dari komunitas kami.

Sokola Binatang-Binatang

2009 June 24
by agoyyoga

Dalam sebuah diskusi singkat disebuah pelatihan, terlontar sebuah metafora “sekolah kebun binatang” untuk menggambarkan betapa buruknya pola pendidikan yang berlaku di Indonesia. Betapa selama ini kebanyakan lembaga pendidikan di Indonesia cenderung lebih menekankan pada pengembangan otak kiri yang dikenal sebagai bagian otak yang berfungsi untuk pemikiran logis. Betapa pendidikan yang mendorong kreativitas terabaikan begitu lama.

Apa sih sekolah binatang-binatang atau sekolah kebun binatang? Sebuah sekolah sama halnya dengan sebuah kebun binatang yang berisi berbagai jenis hewan. Ada “harimau”, “burung”, “ikan”, “itik”, “domba”, dan sebagainya yang bersekolah lantas masak iya sih, pola pendidikan dan target tiap “binatang” bisa disamaratakan? Apa hasilnya kalau ikan dipaksa terbang dan burung dipaksa berenang? Kura-kura dipaksa berlari melawan kuda? Apakah dengan sayapnya yang kokoh seekor elang bisa menyaingi ikan nemo di dalam air? Sebaliknya apakah nemo bisa terbang setinggi elang? Nah, sudah dapat maknanya kan? Silahkan diartikan untuk banyak hal yang terkait dengan bagaimana bangsa kita telah dididik selama ini. ;)

Hmmm.. rambut boleh sama-sama hitam, tapi isi kepala berbeda. Saya jadi mencoba membayangkan apa jadinya seorang Einstein yang begitu jenius dan disebut kejeniusannya tersebut hanya menggunakan kurang dari 10% kapasitas otaknya ketika kecil dipaksa untuk menjadi penyanyi misalnya, atau seorang Affandi dipaksa untuk jadi seorang teknisi, alih-alih memperdalam seni lukis. Mungkin kita tak pernah mengenal nama mereka ya?

Sesungguhnya saya tidak menampik teori yang mengatakan bahwasanya manusia berpotensi mengembangkan kedua belahan otaknya dengan sama baik dan sama hebat, dan mengagumi Leonardo Da Vinci yang terbukti mampu mengembangkan kemampuan logika dan kreatifnya dengan seimbang. Alangkah prihatinnya saya karena hal yang baik ini belumlah nampak diaplikasikan dalam pola pendidikan yang umum di negara kita ini.

Alhamdulillah, ternyata banyak yang merasa prihatin dengan kondisi ini sehingga beliau-beliau yang memiliki kelebihan dan kesempatan yang lebih baik “memberontak” dan memberikan alternatif. Sebutlah sekolah-sekolah khusus seperti sekolah-sekolah alam yang mulai mudah ditemukan, sampai konsep home schooling yang mulai akrab ditelinga kita. Tapiii…(lagi-lagi terpaksa menggunakan kata “tapi”),  sedihnya semua yang saya sebutkan masih eklusif.

Kerisauan ini saya sebutkan di akun Facebook saya. Betapa bahagianya saya ketika beberapa teman menanggapi secara serius, kebanyakan beliau-beliau ini adalah para orang tua yang pernah dilanda kebingungan dalam memikirkan pendidikan yang terbaik bagi putra-putrinya, dan betapa bahagianya ketika salah satu teman optimis akan adanya perubahan yang lebih baik dalam dunia pendidikan dengan mengatakan gerakan alternatif tersebut seperti wombat yang terus menggali…

Enak dan Enak Sekali

2009 June 18
by agoyyoga

Kalau di keyakinan yang saya anut, yang dimaksud dengan rejeki itu adalah apa-apa yang sampai di mulut kita untuk dimakan atau sesuatu yang bisa kita kenakan, atau sesuatu yang bisa dipakai untuk menolong orang lain, alias beramal. Barangkali itulah sebabnya saya sebisa mungkin berusaha tidak mengeluarkan kalimat yang buruk tentang makanan, sehingga dalam kamus kuliner saya hanya mengenal dua istilah: enak dan enak sekali. Saya nggak bisa bilang jijik demi melihat makanan yang sedang disuap oleh seseorang yang mungkin secara visual kurang elok. Sebab nggak mungkin saya mengata-ngatai rejeki orang itu menjijikkan, sedang rejekinya bersumber dari yang maha memberi hidup, saya sendiri tidak punya kemampuan memberi orang rejeki, orang apa-apa yang ada di diri saya ini semuanya serba lewat, serba mampir, hanya dititipi oleh yang punya hidup. Berhubung saya juga tak bisa memilih titipan apa yang sebaiknya dititipkan Gusti Allah pada diri saya, maka selagi bisa, saya usahakan untuk mengeluarkan kalimat-kalimat yang baik-baik saja dan berusaha merasakan semuanya dengan perasaan yang baik dan positif.

Meski, terus terang saya juga belum mengetest keabsahan dua istilah ini (enak dan enak sekali) pada diri saya sendiri. Siapa yang tahu reaksi paling alami yang bakal saya sajikan, bila tahu-tahu saya disodori belalang goreng misalnya. Apakah kemudian saya mengerenyit sambil bilang uenaaaakkk…, padahal di dalam hati bingung dengan rasanya. Nggak tahu.

Saya sebetulnya penasaran juga dengan reaksi pertama saya bila disodori ulat sagu yang putih montok-montok, seperti bayi dibedong itu, yang katanya mesti dimakan hidup-hidup, yang kalau digigit rasanya seperti menggigit buntalan mayonaise, yang maknyuss, cairan enaknya muncrat sampai ke langit-langit rongga mulut. Apakah saya akan bilang wah sepertinya enak, tapi no thanks saya geli atau lebih baik diam saja ya. Lantas apa hak saya untuk merasa geli pada ciptaan Tuhan yang sama dengan yang menciptakan saya? Beruntung saya diciptakan dalam bentuk ciptaannya yang konon kabarnya paling sempurna, lantas kalau nasib mengatakan saya diciptakan sebagai bagian koloni ulat sagu, apa yang kemudian ada di benak saya? Akan berkurangkah rasa syukur dan keimanan saya saat ini?

Ah jadi melantur kemana-mana, ini toh hanya kontemplasi tidak bermutu yang hadir begitu saja hanya karena seringnya saya meyaksikan orang-orang yang bisa mengatakan jijik pada makanan yang ada dihadapannya. Risih mendengarnya, padahal bagi sebagian orang yang lain, yang mungkin juga masih orang tuanya, sanak kadang, atau bahkan pacarnya, mereka tenang-tenang saja menikmati makanan itu tanpa ada perasaan jijik dan bahkan bersyukur karena bisa menikmati rejeki itu. Kalau dipikir-pikir, masak tega sih, mengucapkan jijik pada makanan yang temanmu sendiri sedang mengunyah dan menelannya? Padahal yang ditelannya bukan bangkai busuk. Ah, nggak mengerti saya dengan sifat-sifat manusia. Ah kok saya ini kayak yang bukan manusia, hehehe…. :)

Basbang

2009 June 17
by agoyyoga

Ini postingan yang nggak penting-penting amat, Cuma sekadar melemaskan jari-jari yang sudah lama nggak dipakai ngeblog, lantas dipakai apa? Hayah, nggak penting dijelaskan kali ya, intinya nggak dipakai untuk nge blog tapi dipakai untuk urusan lain termasuk kalau kepepet dipakai untuk ngupil heheheh Mbak Tanti kalau baca pasti manyun deh. :D

Ternyata saya kuat hiatus sebulan tanpa blog, meski nggak benar-benar hiatus, karena sesekali masih nulis komentar meski irit banget di satu dua blog yang bisa diisengin (termasuk blog-nya si Kakak yang satu ini), beberapa kali masih bisa iseng-iseng nulis apa yang ada di pikiran saya di Facebook, meski beberapa minggu ini saya betul-betul  terserang kebosanan total. Saking bosannya, mau tulis apa juga nggak tahu, padahal urusan nulis mestinya ya tinggal ketik-ketik terus beres kan, nggak usah repot-repot mesti pakai referensi kalau lagi malas. Tapi ya itu tadi saya betul-betul nggak nafsu, bahasa Jawanya, loose the appetite. Bukan, bukan lagi kena sindrom writer’s block ya, soalnya jadi writer aja belum, kok bisa-bisanya meng-klaim udah kena writer’s block segala. :D

Yang namanya malas dan hiatus, kemudian jadi bersahabat akrab. Lantas sebulanan saya habiskan waktu saya untuk membaca, eh nggak juga lho ternyata. Saya lebih sering jalan-jalan, menghabiskan waktu dengan teman di dunia nyata. Energi dan waktu saya terkuras untuk anjang sana dan anjang sini. Walhasil kemudian saya mulai merasakan butuh dukungan tenaga super dari Superman, atau kalau Superman sedang dinas, boleh deh sama oom Batman, kalau misalnya mau menyumbangkan energi supernya juga. D’oh jadi nglantur ya, mungkin ini pengaruh obat-obatan yang belakangan harus saya asup, karena dalam kenyataannya tidak ada Superman dan Batman yang bisa membagi energi super mereka, yang ada hanyalah saya yang lagi tepar kehabisan energi dan ditugaskan dokter untuk tidur, bangun, makan dan tidur lagi. Istilah kerennya fatigue, istilah saya,  kedodoran.

Terus sebulan hiatus hasilnya apa? Hiks, nggak ada, selain merasa terjebak di dunia yang penuh dengan berita-berita yang bikin neg, sembari ingatan ini melintasi waktu ke masa Pak Harto masih berkuasa yang rasa-rasanya jaman itu kok kurang berita amat ya, dibanding masa kini, apa karena ada departemen penerangan yang sudah “menerangkan” segala hal hingga nggak perlu diwartakan lagi, atau memang dulu dunia lebih sederhana, entah. Duh senangnya jadi wartawan masa kini yang mudah dapat berita, mau yang bombastis sampai yang gak seru dan basbang, semuanya ada, kayak nano-nano. Rame! Dan dari kejauhan saya bisa berkosentrasi “menikmati” kasus yang cocok, daripada mengikuti semua berita tapi rasanya hambar. Nah apa pula maksudnya ini?  Ya sudahlah, cukup deh olahraga jari untuk hari ini. Sampai bertemu lagi.  :)

 

 

 

*Basbang itu maksudnya “Basi Banget”.

Waktunya Beraksi!

2009 May 18
by agoyyoga

Sahabat 1N3B yang tercinta, saat ini 17 volunteer 1N3B tengah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan panjang yang akan bermula dari subuh nanti hingga tanggal 25 Mei 2009, menuju Siberut hingga kembali lagi ke Jakarta. Ke-17 volunteer tersebut adalah: Uju Ayie aka Fahri Zulverdie, Undix aka Sri Setyoko, Tyty Candra, Titi Oengoe, Taufan, Piter, Ovie, Erin, Arin, Mutia, Hendi, Risna, Arry, CT aka Charlie Tendean, Fedi, Anto dan Hendra. Dengan menyesal saya tak bisa mengikuti perjalanan ini dikarenakan keharusan untuk “terbang” ke kota lain yang amat jauh dari Mentawai.  Sedih memang, hingga awalnya saya perlu mengulangi kalimat milik Langit Merah, tokoh yang ditulis Bubin Lantang, yaitu bahwasanya hidup bukan tentang apa yang kau inginkan dan apa yang tidak kau inginkan, semata-mata untuk menentramkan hati saya. Maka disinilah saya sekarang, hendak menyambut awal perjalanan teman-teman saya, teman-teman anda juga para sahabat 1N3B, menuju Siberut di Mentawai sana.  Dan kira-kira apa yang akan dilakukan tim volunteer ini di sana? Inilah jadwal kegiatan tim 1N3B yang ke Siberut. read more…

Terpilin-pilin!

2009 May 9
by agoyyoga

 Waktu melayang begitu cepat, tegas, tanpa kompromi meninggalkan saya yang tergopah-gopoh mengejar ketinggalan. Rasanya baru kemarin tahun baru, baru kemarin saya mempresentasikan “what to do” untuk tahun ini, tahu-tahu kwarter pertama lewat, bahkan kwarter kedua pun nyaris pergi juga. Rasanya tak ada ruang yang tersisa untuk menghela nafas panjang dan membiarkan badan ini diam sebentar saja. Rasanya tak elok, duduk diam dan melamun, ketika ada kesempatan duduk diam, saya akan memilih untuk mengistirahatkan badan, memeluk guling dan tidur. Rasanya seperti berlari, usai satu kegiatan berganti ke kegiatan yang lain, dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain, membiarkan otak terus bekerja dan menyeret badan ini dari satu tempat ke tempat lain dan selalu bergulat dengan skala-skala prioritas, dan mengorbankan satu dua hal untuk mencapai tujuan-tujuan. Hingga mendadak pagi ini saya bangun, dan menemukan hari ini sejatinya tidak ada jadwal yang fixed. Semuanya baru rencana dan tentative. Hura!

Langsung membayangkan untuk nge-blog, menulis, blog walking, membaca buku-buku yang tertunda, makan siang dan berleha-leha. Atau rasanya nyaman betul, kalau menambah jam tidur, atau mungkin sore-sore nanti berenang, atau sebentar lagi melatih beberapa gerakan Yoga, yang belakangan ini nyaris tak pernah lagi saya lakukan karena berbagai alasan, yang intinya sebetulnya adalah malas karena tak punya waktu, eh atau tak punya waktu karena malas?

Baru sebentar berbaring-baring, sambil menikmati udara pagi yang sejuk. Mendadak saya ingat, dengan beberapa presentasi yang mesti saya siapkan,  karena minggu depan, saya punya dua sessi membagi ilmu di kantor,  sementara itu ada sebuah proses kerja baru yang mesti saya otak-atik, dan harus ada progressnya minggu depan, dan ada beberapa pekerjaan yang mesti digarap. Saya lupa pulak, membawa pulang buku referensi materi presentasi saya. Arrrggh… mendadak saya merasa mesti bergegas.

Mau tak mau beranjak dari kamar tidur, mulai berpikir memastikan agenda hari ini, membuat tujuan-tujuan kecil, berpikir tentang pembagian tenaga untuk urusan domestik yang nggak bisa diremehkan macam, bebenah rumah, memastikan pakaian kotor kembali bersih, dan sebagainya hingga urusan “luar negeri”, memastikan jam berapa nanti saya harus mulai mengerjakan presentasi untuk minggu depan, mencoret agenda yang nggak perlu, dan memastikan janji dengan teman. Ketika masih dipusingkan dengan rencana hari ini, malah timbul keinginan kuat untuk menulis di AOE, yang sudah saya telantarkan cukup lama, tanpa tahu harus menulis apa, benar-benar tuna ide.

Aplikasi Words terbuka begitu saja, blank, dan saya kembali ke tempat tidur, leyeh-leyeh, berusaha mencari ide.  Rasanya sulit sekali, mengalihkan pikiran di kepala yang dipenuhi dengan hal-hal teknikal, urusan kantor dan “kegiatan ekstrakurikuler” ke mode yang kerap saya pakai ketika berlatih menulis di blog seperti dulu. Pemikiran tentang hal-hal yang saya sebutkan terasa seperti terpilin-pilin di kepala, kejar-mengejar.  Saya teringat,  setiap dini hari, saat mulai rebah beristirahat, di saat sekeliling saya begitu sunyi, mendadak pikiran yang terpilin-pilin itu menjadi sangat bising. Begitu bisingnya hingga saya mesti bilang, “Cukup!”  pada diri sendiri.  Kemana ide-ide untuk berkompletasi yang dulu kerap muncul? Mata mulai “berat”, hingga saya putuskan menulis entry ini saja dengan ditemani lagu-lagu rock and roll. Benar-benar tulisan remeh temeh, serpihan tak penting dari kebingungan saya pagi ini. Di luar matahari beranjak, udara masih sejuk, angin menerpa wajah saya, sepoi-sepoi dan membuat kantuk makin meraja. Oahemm…  Zzzz…..

528*

2009 April 23
tags:
by agoyyoga

528? Iya betul, bukan angka yang lain. Ini adalah jumlah buku yang sudah diterima oleh 1N3B sampai pukul 23 April 2009 pukul 16:43:52. Buku tersebut sebagian besar berupa buku pelajaran untuk siswa sekolah dasar, khususnya untuk kelas 1,2 dan 5. Selebihnya berupa buku untuk pra sekolah, referensi, kamus, buku pelajaran agama, buku motivasi hingga cerita sejarah. Buku yang paling tua berasal dari tahun 1973, jadi umurnya kira-kira 36 tahun. Untungnya masih layak dibaca, dan isinya masih bisa mengikuti jaman, sebab ini adalah buku cerita, yang berjudul “Bebek yang Pandai Menari.” Selengkapnya dapat dilihat di link berikut.

Sabtu, Minggu tanggal 18 dan 19 April 2009, kami melakukan kegiatan penyampulan dan pelabelan buku. Hampir 80% dari buku-buku tersebut adalah buku-buku bekas. Pada saat mengecek kondisi buku-buku pelajaran bekas, kami baru tersadar, bahwa sekarang, buku pelajaran juga berfungsi sebagai buku tugas. Sebetulnya kami sudah kerap mendengar keluhan seperti ini dari “kiri-kanan”, tapi tak urung terkejut juga. read more…

Scuba…Nggak…Scuba…Nggak…

2009 April 15
by agoyyoga

*Berhenti menghitung kancing baju*

Sudah lama, saya jadi silent reader diblog Mas Iman yang satu ini. Ya, Dunia Laut, One Earth One Ocean! Saya terpukau dengan keindahan dunia bawah laut yang ditulis oleh Mas Iman. Ternyata banyak sekali spot penyelaman yang luar biasa indah di Indonesia, selama ini yang saya tahu hanya beberapa nama besar seperti Wakatobi, Alor, atau Raja Ampat di dekat Sorong sana. Itu juga tahunya dari buku atau majalah, atau adik saya yang pernah tinggal cukup lama di Kalabahi, Alor.  Hiks, makin “menyelam” di blog mas Iman, saya merasa jadi makin bodoh, ternyata pengetahuan saya tentang laut Indonesia masih secuil. read more…

Up Date Jumlah Sumbangan Buku Rumba Siberut

2009 April 14
by agoyyoga

Atas partisipasi sahabat sekalian, maka pada saat entry ini ditulis, telah terkumpul sejumlah 160 buku, dengan berbagai kategori. Masih ratusan lagi yang kami butuhkan dan tenggat telah membayang. Tapi kami yakin jumlah ini masih akan bertambah terus dari waktu ke waktu. Bagi yang ingin berpartisipasi, silahkan segera menghubungi tim 1N3B yang terdekat dengan anda:

Jakarta Selatan

* Titiek oeNGoe – 08121212118 – Jl. Kampung Utan No. 15 Rt 015 Rw 05 Cilandak Marinir (seberang Mal Cilandak, sebelah HERO Cilandak)

* Imelda Suryaningsih – 08129029188 – Majalah Reader’s Digest, Gd. Femina, Jl. HR. Rasuna Said Kav. B32-33

* Susan – 081331002998 / 021-97587983 – Pundee Associates, Graha Parama Lt. 2, Jl. KH. Achmad Dahlan No. 69 a-b

* Ery – 08158365680 – Jl Teuku Nyak Arief, Ruko Simprug Galeri Blok F No 10 Kebayoran Lama

Jakarta Utara

* Andrew – 0818720196 / 021-92861616 / 021-64712553 – Jl. Pademangan I Raya No.1

Jakarta Barat read more…

Bualan Siang Siang

2009 April 6
by agoyyoga

Apa gunanya single shot espresso bagi saya? Tentu selain kafein yang saya butuhkan, kopi pekat hitam, yang habis sekali teguk itu, bisa menghaturkan teman baru, kekaguman barista (atas kebodohan saya) dan kejengkelan. Jengkel? Ya, kalau pas lagi “mupeng” kafein dosis tinggi * seperti saat menulis entry ini, tapi lambung lagi gak bersahabat, gimana saya nggak jengkel?

Lambung ini merongrong saya sejak semalam, barangkali karena belakangan ini saya lebih sering mengasup vitamin C cair, jus buah dan susu dibanding air putih dan barangkali ia, menagih nasi yang terakhir saya makan kamis siang minggu lalu. Tunggu, ini bukan karena diet!

Tak urung siang ini saya putuskan memesan nasi dan duuh.. betapa kangennya saya dengan tahu tempe goreng, mungkin lambung Indonesia saya bakal lebih damai.

Ngomong-ngomong, entry ini nggak penting banget, tapi lanjut aja ya, karena kok mendadak saya tertarik dengan istilah saya sendiri, “lambung Indonesia”. Hmm, mungkin lebih enak disebut “perut Indonesia” begitu kali? Sebetulnya, lambung saya bisa menerima makanan apa saja asal halal, nggak beracun, dan nggak ada mental block untuk menelannya. Alhamdulillah, saya tak memiliki alergi terhadap makanan tertentu. Mau disuguhi makanan ala Eropa, Asia atau Arab-araban, hayo saja, cuma saya belum se-ekstrim mereka yang bisa mengudap aneka serangga goreng atau menyantap mata kambing bulat-bulat (mata kakap saja nggak tega, apalagi mata indah seekor kambing), kalau nggak tersedia masakan Indonesia, nggak jadi masalah. Nggak seperti teman saya, yang udah jauh-jauh datang ke Bandung, menempuh perjalanan dengan kapal laut dan pesawat udara, plus jalan darat, tapi rela berkeliling Bandung demi mencari rumah makan Padang! Pokoknya harus Padang! Saya yang menemaninya waktu itu terpaksa menelan ludah setiap kali melihat restoran masakan Sunda, sedang pak sopir yang mengantar kami, rautnya kayak yang bilang, “Capek deh!”. (Ehm, peace ya! :) ) read more…