Sekarang aku berusaha untuk melakukan perjalanan, bukan sekadar perjalanan (travel for purposes). Mungkin saja pergeseran ini disebabkan waktu, sejalan dengan usia yang nggak lagi muda, meski masih bebas seperti dulu kala. Di masa lalu, aku kerap bertindak impulsif. Tiba-tiba menemukan diriku di dalam sebuah perjalanan, dan bertanya-tanya sampai kapan kebiasaan itu akan berakhir. Saat-saat sekarang, terkadang aku masih juga terheran-heran, menemukan diriku kembali dalam perjalanan, meski kali ini kebanyakan sambil membawa “purposes” tadi. Misalnya, perjalanan ke Sumbawa bulan November 2012.
Sumbawa, Tana Samawa bukan daerah yang asing bagiku. Tahun 2006, 2007 aku lumayan kerap ditugaskan ke sana. Biasanya untuk kegiatan FS (Feasibility Study) atau untuk mengontrol konstruksi yang sedang kami kerjakan. Tentu saja, travelling jenis ini tergolong sebagai travel for purpose, sebab ini business trip. Sebagai karyawan, kita tak ubahnya tentara-tentara bagi perusahaan, kemana mereka menugaskan, mesti siap dan mau. Aku ingat, pertama kali menginjakkan kaki ke Tana Samawa, saat itu aku sedang dalam proses recovery. Departemen kami sangat efisien–untuk mengganti kalimat kekurangan orang, hanya terdiri dari empat orang, tiga orang diantaranya tukang insinyur, hanya dua orang tukang insinyur yang pernah belajar ilmu bangunan, salah satunya aku. Maka si bos, tega-tegaan mengutusku ke sana, ia memfasilitasiku dengan pesawat yang bisa mendarat di air, dari Mataram ke Sumbawa. Dengan cara berjalan yang masih tertatih, aku tiba di sebuah site pertambangan. Itu dulu. Dulu sekali dan rasanya nggak perlu disinggung lebih jauh, karena yang aku ingin ceritakan terjadi di tahun 2012.
Tujuh tahun setelah perjalanan itu, aku menemukan diriku bersama teman-teman sedang menuju sebuah desa terpencil di Sumbawa. Kami berlimabelas, ada yang terbang dari Jakarta, Kalimantan, seorang kawan menemani kami sejak dari Mataram dan lima orang lainnya (termasuk yang nyetir) dari Sumbawa Besar. Latar belakang kami beragam, mulai dari produser film, pegawai negeri, konsultan, pendidik, mahasiswa, karyawan swasta dan sebagainya.
Tujuan kami adalah Desa Kelawis, Kecamatan Orong Telu, NTB. Read More

