Jika kota Jakarta ini bisa engkau letakkan di atas meja, lantas engkau pandangi sedemikian rupa. Niscaya kau akan bersyukur karena pada akhirnya memiliki penglihatan yang jelas terhadap kota yang makin tua ini, yang dalam banyak hal mudah sekali baginya mencabut energi dan pikiran negatifmu keluar. Namun anehnya tak kunjung kau tinggalkan.
Jika kehidupanmu sehari-hari bisa engkau letakkan di dalam kotak televisi, lantas engkau bisa menontonnya adegan demi adegan, episode demi episode kehidupanmu. Barangkali kau akan bersyukur karena mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini sengaja diendapkan hanya agar kehidupan berlanjut, berganti babak untuk sebuah kebahagiaan meski kadang semu.
Yup, sebenarnya sederhana saja. Yang kita perlukan hanya menepi sejenak. Membuat jarak yang cukup untuk melihat segala hal dengan jelas. Seperti yang kita lakukan ketika memasang lukisan di dinding. Kita selalu butuh mundur beberapa langkah untuk memastikan lukisan itu tak tergantung miring.
Jadi? Mengapa tidak mulai berkemas, menentukan koordinat dan waktu yang tepat untuk menciptakan jarak pandang yang bagus. Namun berhati-hatilah, jarak yang tercipta bisa jadi permanen, menjauhkan yang dulu dekat atau kebalikannya, mendekatkan yang dulu berjarak atau bisa jadi tidak mengubah apa-apa.
I am off to…
Y.A.

