Tag Archives: Life

Sebab Sesekali Hidup Perlu Berjarak

Sebab Sesekali Hidup Perlu Berjarak

Jika kota Jakarta ini bisa engkau letakkan di atas meja, lantas engkau pandangi sedemikian rupa. Niscaya kau akan bersyukur karena pada akhirnya memiliki penglihatan yang jelas terhadap kota yang makin tua ini, yang dalam banyak hal mudah sekali baginya mencabut energi dan pikiran negatifmu keluar. Namun anehnya tak kunjung kau tinggalkan.

Jika kehidupanmu sehari-hari bisa engkau letakkan di dalam kotak televisi, lantas engkau bisa menontonnya adegan demi adegan, episode demi episode kehidupanmu. Barangkali kau akan bersyukur karena mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini sengaja diendapkan hanya agar kehidupan berlanjut, berganti babak untuk sebuah kebahagiaan meski kadang semu.

Yup, sebenarnya sederhana saja. Yang kita perlukan hanya menepi sejenak. Membuat jarak yang cukup untuk melihat segala hal dengan jelas. Seperti yang kita lakukan ketika memasang lukisan di dinding. Kita selalu butuh mundur beberapa langkah untuk memastikan lukisan itu tak tergantung miring.

Jadi? Mengapa tidak mulai berkemas, menentukan koordinat dan waktu yang tepat untuk menciptakan jarak pandang yang bagus. Namun berhati-hatilah, jarak yang tercipta bisa jadi permanen, menjauhkan yang dulu dekat atau kebalikannya, mendekatkan yang dulu berjarak atau bisa jadi tidak mengubah apa-apa.

I am off to…

Y.A.

Malu Mengeluh

Malu Mengeluh

Anak Kampung Tarung, Sumba - 2001Hari menjelang pagi ketika saya mulai berbaring, sambil lalu saya melirik telpon genggam dan terkaget-kaget karena jadwal meeting 7 jam 30 menit lagi telah terpampang, padahal belum lagi beristirahat. Oh my Lord, life is a joke. Hidup serasa seperti sebuah lelucon. Dikejar-kejar waktu yang terus bergulir, berputar dan sesekali menghempaskan saya pada kenyataan. Banyak, banyak hal-hal yang direncanakan tapi tak kunjung tercapai. Ibaratnya pejalan, belum lagi mencapai tujuan malah terdampar entah di mana. Saya ingat seorang kawan yang bijak mengatakan bukan tujuan akhir dari perjalanan itu yang terpenting. “Nah, lantas apa?” sergah saya. Ia melanjutkan, “Justru yang terpenting perjalanannya, bukankah kita kerap memperoleh banyak hal ketika dalam perjalanan bukan saat mencapai tujuannya dan kadang tersesat akan membuat kita lebih memahami arti perjalanan itu sendiri.”

Saya diam sejenak dan merasa seperti tersiram air es dari kepala hingga ke hati. Kiranya pengertian ini yang mencerahkan dan menyelamatkan sisa hari yang saya miliki saat itu. Setelah sempat terhempas, datanglah gelombang yang mengangkat balik mengarahkan biduk yang saya tumpangi ke lautan yang lebih tenang, mengalir dan memberikan harapan. Sejatinya setiap yang menghargai hidup tentu tak kan lepas dari harapan. Barangkali beberapa di antara kita sudah tak berani bermimpi, tapi tetaplah menjaga harapan sekecil apa pun sebab itu wujud dari penghargaan atas hidup itu sendiri, kalau pun masih takut untuk memupuk harapan, saran saya hanya satu, lakukan apa yang harus engkau lakukan sebaik mungkin demi Dzat Allah yang menciptakanmu, kerjakan segalanya sebaik yang bisa engkau kerjakan. Selebihnya serahkan pada Yang Maha Kuasa.  Ia tak pernah tidur.  Read the rest of this entry